Malam itu, hujan deras mengguyur Desa Kenanga. Petir menyambar tanpa henti, menerangi langit kelam. Lisa, seorang mahasiswa, baru saja tiba di sebuah penginapan tua untuk menenangkan diri dari tekanan tugas kuliah. Penginapan itu bernama Griya Senja, bangunan tua yang terlihat rapuh namun masih berdiri kokoh di tengah kegelapan.
“Maaf, kamar yang tersisa hanya kamar nomor 13,” ujar petugas resepsionis, seorang pria tua dengan mata sayu. Lisa sempat ragu. Angka 13 sering diasosiasikan dengan hal-hal menyeramkan. Namun, lelah setelah perjalanan panjang, ia menerima kunci itu.
Kamar nomor 13 terletak di ujung lorong. Lorong itu gelap dan dingin, meskipun lampu-lampu kecil berusaha menerangi. Lisa membuka pintu kamar. Interiornya sederhana—sebuah ranjang kayu, meja kecil, dan cermin besar di sudut ruangan. Udara di dalam kamar terasa pengap, seperti tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
Setelah mengganti pakaian, Lisa duduk di ranjang sambil memandangi cermin besar itu. Aneh, pikirnya, karena bayangan di cermin tampak samar, seperti ada kabut tipis yang menyelimutinya. Ia mengabaikan perasaan itu dan memutuskan untuk tidur.
Namun, belum lama ia terlelap, suara berderak terdengar dari arah cermin. Lisa terbangun. Cermin itu tampak bergoyang sedikit, meskipun tidak ada angin sama sekali. Lisa memberanikan diri mendekat. Ia melihat bayangannya sendiri, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mata di bayangan itu menatapnya tajam, penuh kebencian.
Lisa mundur perlahan. "Hanya ilusi," bisiknya, mencoba menenangkan diri. Namun, bayangan di cermin itu tiba-tiba tersenyum. Senyum yang bukan miliknya. Senyum lebar dengan gigi-gigi runcing yang membuat bulu kuduknya meremang.
Lisa berteriak dan berlari ke pintu, tetapi pintu itu tidak bisa dibuka. Suara tawa menyeramkan bergema di seluruh kamar. Dari balik cermin, sesosok bayangan hitam merangkak keluar. Sosok itu menyerupai dirinya, tapi tubuhnya hitam pekat, matanya berkilau merah darah.
"Kenapa kau masuk ke kamarku?" tanya sosok itu dengan suara parau, terdengar seperti berasal dari dalam sumur yang dalam. Lisa menangis ketakutan, mencoba memohon ampun, tapi sosok itu terus mendekat.
Paginya, petugas resepsionis menemukan kamar nomor 13 kosong. Tidak ada tanda-tanda Lisa di dalam kamar, hanya cermin besar yang pecah menjadi serpihan kecil. Desas-desus mengatakan bahwa siapa pun yang menginap di kamar itu akan lenyap tanpa jejak, dan bayangannya akan tetap tinggal di dalam cermin sebagai pengganti.
Sejak malam itu, kamar nomor 13 di Griya Senja ditutup untuk selamanya. Namun, ada yang bersumpah bahwa jika kau berjalan di lorong gelap penginapan itu, kau masih bisa mendengar suara tawa dari balik pintu yang terkunci.