"Tangga Kata Menuju Gila"
Ari duduk sendiri di sudut ruangan kecil yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas-kertas penuh coretan. Lampu meja yang redup memantulkan bayangannya di dinding, membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Wajahnya yang tirus dan suram tak pernah lepas dari ekspresi cemas, seolah-olah hidupnya hanya berputar di sekitar kata-kata dan imajinasi yang membelenggunya.
Sejak muda, Ari telah menyadari bahwa dunia di luar sana terasa begitu asing baginya. Ketika teman-temannya sibuk dengan dunia mereka—dengan hubungan, pekerjaan, atau sekadar bersenang-senang—Ari merasa dirinya terasingkan. Ia menemukan kenyamanan dalam menulis, dalam menciptakan dunia yang hanya ia pahami. Kata-kata adalah temannya, puisi-puisi adalah pelipur lara. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin sedikit orang yang memberikan perhatian pada karya-karyanya. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang ingin tahu.
Ari tidak peduli. Ia percaya bahwa kata-kata adalah cara terbaik untuk menggambarkan dunia yang ada di dalam dirinya. Setiap tulisan adalah langkah kecil menuju pemahaman dirinya sendiri, meskipun terkadang ia merasa semakin jauh dari kenyataan. Hari demi hari, ia menulis, membaca, dan berimajinasi, tenggelam dalam karya-karyanya.
Namun, ada hari-hari tertentu ketika ia merasa cemas. Ketika malam datang dan sepi mulai menguasai rumah kecilnya yang sunyi, Ari merasa seperti seseorang yang terjebak di dalam labirin pikirannya sendiri, tak bisa keluar. "Apakah ada yang akan membaca ini?" pikirnya. "Apakah ada yang akan peduli?"
Pencarian yang Tak Pernah Berujung
Satu sore, Ari memutuskan untuk mencari inspirasi. Sudah lama ia merasa karyanya stagnan, tak ada perkembangan. Puisi-puisi yang dulu terasa hidup kini tampak seperti bayangan dari dirinya yang lalu. Ia merasa terjebak dalam dunia imajinasinya sendiri. Ia memutuskan untuk keluar dari dunia kata-katanya dan mencari sesuatu yang lebih. Sesuatu yang mungkin bisa membangkitkan semangatnya.
Ari keluar dari rumah, melangkah ke jalan yang masih basah setelah hujan. Udara dingin menggigit kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Ia ingin menemukan sesuatu—entah itu inspirasi, atau mungkin hanya sekadar perasaan bahwa ada yang peduli.
Setelah berjalan beberapa lama, ia tiba di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan yang ramai. Kedai itu penuh dengan orang-orang yang sibuk bercakap-cakap, tertawa, atau sekadar menikmati secangkir kopi. Ari duduk di sudut ruangan, memilih meja yang agak tersembunyi, seolah ia ingin mengamati dunia tanpa benar-benar ikut terlibat di dalamnya.
Dari tempat duduknya, Ari melihat sekelompok orang berbicara tentang buku terbaru yang sedang populer. Mereka membicarakan penulis-penulis yang kini sedang naik daun, karya-karya mereka yang banyak diminati. Ari merasa ada sesuatu yang tertinggal dalam dirinya. Ia merasa seperti orang asing yang tak punya tempat di dunia ini.
Setelah beberapa lama, seorang barista muda datang dan menaruh secangkir kopi di meja Ari. "Untuk Anda, Pak," katanya dengan senyuman ramah.
Ari mengangguk pelan, mengambil secangkir kopi itu, dan menatap permukaannya. Sesuatu yang tiba-tiba mengganggu pikirannya—sebuah pertanyaan yang tak bisa ia hindari: "Apakah ini semua sia-sia?"
Ia menatap keluar jendela, memandang kehidupan yang berjalan di sekitarnya. Mereka tertawa, berbicara, dan menikmati hidup. Sementara ia, Ari, hanya terperangkap dalam kata-katanya sendiri. Kata-kata yang tidak ada yang peduli.
Tapi, saat itulah ia menyadari sesuatu. Ia tidak menulis untuk mendapatkan pengakuan atau pujian. Ia menulis karena itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap hidup. Karena di dunia yang tak pernah peduli ini, hanya kata-kata yang membuatnya merasa ada. Mungkin, kata-kata itu tidak akan pernah dikenal banyak orang. Mungkin, karyanya tidak akan pernah diterima atau dihargai. Tapi selama ia masih bisa menulis, ia masih bisa bertahan.
Kembali ke Rumah
Ari kembali ke rumah dengan kepala yang lebih ringan. Secangkir kopi yang kini sudah habis, seakan memberikan jawaban atas keraguan-keraguannya. Ia tidak perlu mengandalkan dunia luar untuk membuktikan bahwa ia berarti. Ia tahu, bahwa dalam setiap kata yang ia tulis, ada bagian dari dirinya yang akan selalu hidup.
Ketika ia duduk di meja kerjanya lagi, menatap selembar kertas kosong, ia merasa lebih kuat. Ia mulai menulis, bukan karena ia ingin dikenal, tetapi karena menulis adalah bagian dari dirinya. Ia menulis untuk dirinya sendiri, untuk jiwanya yang terkadang rapuh dan penuh keraguan. Tidak peduli apakah ada yang membaca atau tidak, tidak peduli apakah dunia akan peduli. Yang penting baginya adalah setiap kata yang keluar dari tangannya itu adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan.
Dengan perlahan, Ari mulai menulis puisi pertama yang ia buat setelah kembali dari kedai kopi itu. Kata-kata itu mengalir dengan bebas, tanpa beban. Seperti hujan yang turun dengan tenang di atas bumi, kata-kata itu memberikan kedamaian dalam hatinya.
Malam itu, Ari menyadari bahwa meskipun tidak ada yang melirik karyanya, meskipun tidak ada yang mengapresiasi, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Ia memiliki kata-kata, dan itu sudah cukup. Tidak ada yang lebih berharga dari itu.
Penutup
Keesokan harinya, saat matahari terbit dan dunia kembali berjalan, Ari duduk di mejanya dengan secangkir kopi di tangan. Ia menatap layar laptopnya, di mana karyanya tertera. Tidak ada komentar, tidak ada pujian, hanya tulisan kosong yang menunggu untuk dibaca.
Namun, di dalam dirinya, ia tahu bahwa perjuangannya belum berakhir. Ia akan terus menulis, terus melangkah, meskipun hanya kata-kata yang mendengarnya. Karena kadang, yang kita butuhkan untuk bertahan hanyalah satu langkah kecil menuju impian, sekecil apapun itu.
Ari tahu, tangga yang ia bangun dari kata-kata itu mungkin tidak akan pernah mencapai puncaknya. Tapi, setidaknya ia tahu satu hal: ia tidak akan pernah menyerah.
.
.
.
.
.
.
.
. Bro.....