.
.
.
Mas Doni duduk di teras rumah kontrakannya yang sederhana. Baju kerjanya sudah lusuh, bercampur debu dari proyek bangunan tempat ia bekerja. Ia mengusap wajah yang penuh keringat, lalu meneguk air putih dari botol plastik. Hatinya lelah, bukan hanya karena tubuhnya yang dipaksa bekerja keras, tetapi juga karena satu hal yang terus menghantuinya—Ratna, istrinya.
Ratna, wanita yang ia cintai sepenuh hati, seolah tidak pernah puas dengan apa yang ia lakukan. Setiap hari, keluhan dari bibir Ratna menghujani telinganya. “Kapan kita pindah dari rumah kontrakan ini, Mas? Aku sudah muak dengan tempat sempit begini. Orang-orang di kampung pasti sudah ngegosipin kita!” atau “Mas, jangan lupa beli tas baru buat aku. Malu rasanya kalau pakai yang lama terus!”
Mas Doni hanya bisa mengangguk, menahan emosi yang meluap-luap di dadanya. Ia tahu ia belum mampu memberi lebih. Pekerjaannya sebagai buruh bangunan tidak menghasilkan banyak. Setiap sen yang ia dapatkan habis untuk kebutuhan sehari-hari.
.
.
.
Hari yang Sama, Cerita yang Sama
Sore itu, Ratna masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut. Di tangannya ada kantong belanja. Ia melempar kantong itu ke meja, membuat Doni yang sedang duduk di lantai terkejut.
“Mas, kamu tahu nggak tadi aku ketemu Bu Sari di pasar? Dia baru beli kalung emas buat istrinya! Lihat aku, Mas! Pakai baju yang itu-itu aja. Kamu kapan mau kayak dia, ha?” bentaknya dengan nada tajam.
Mas Doni diam sejenak, mengatur napasnya agar tidak terbakar emosi. “Na, aku tahu kamu ingin hidup lebih baik. Aku juga ingin. Tapi aku lagi berusaha. Apa kamu nggak lihat kerja keras aku tiap hari?”
“Kerja keras? Kalau cuma kerja keras tapi hasilnya nol besar, buat apa, Mas?” balas Ratna, tanpa sedikit pun memikirkan perasaan suaminya.
.
.
.
.
Letupan Emosi
Malam itu, setelah makan malam yang diisi dengan keheningan, Mas Doni memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati. Ia duduk di samping Ratna yang sedang menggulir layar ponselnya.
“Na, boleh aku ngomong?” tanyanya pelan.
“Ngomong aja, Mas, aku dengar,” jawab Ratna tanpa menoleh.
Mas Doni menarik napas panjang. “Aku tahu kamu nggak puas dengan hidup kita sekarang. Aku juga nggak puas. Aku ingin kamu bahagia. Tapi, apa kamu pernah sadar betapa kerasnya aku berjuang? Tiap pagi aku keluar sebelum matahari terbit. Siang bolong aku kerja di bawah panas matahari. Kadang aku pulang larut malam karena lembur. Itu semua aku lakukan bukan buat aku, Na. Tapi buat kamu.”
Ratna akhirnya meletakkan ponselnya. Ia menatap Doni dengan tatapan campur aduk.
“Tapi hasilnya mana, Mas? Aku cuma mau hidup enak. Apa itu terlalu sulit?” jawab Ratna, suaranya mulai melemah.
“Na,” suara Mas Doni serak. “Kalau kamu terus menuntut tanpa pernah menghargai usaha aku, aku rasa apa pun yang aku lakukan nggak akan pernah cukup.”
Ratna terdiam. Kata-kata suaminya menusuk hatinya. Namun, ia masih terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
.
.
.
.
Hikmah dari Pagi
Keesokan harinya, Ratna memutuskan untuk datang ke proyek tempat suaminya bekerja. Entah kenapa, ia merasa harus melihat sendiri apa yang Doni lakukan setiap hari. Sesampainya di sana, Ratna terpaku.
Ia melihat Doni mengangkat karung semen yang beratnya hampir 50 kilogram. Suaminya melakukannya berkali-kali, di bawah terik matahari yang menyengat. Bajunya basah kuyup oleh keringat, wajahnya penuh debu, tetapi ia tetap tersenyum sambil bercanda dengan rekan-rekannya.
Ratna merasa dadanya sesak. Tiba-tiba, ia teringat bagaimana ia sering mencaci Doni. Bagaimana ia menuntut hal-hal yang tidak sesuai dengan kemampuan suaminya. Semua itu terasa seperti tamparan keras baginya.
Saat Doni pulang malam itu, Ratna menyambutnya dengan segelas air hangat. Doni memandangnya dengan bingung.
“Ada apa, Na? Kok tumben baik banget?” tanyanya setengah bercanda.
Ratna tersenyum kecil, lalu menunduk. “Aku cuma ingin bilang… makasih, Mas. Makasih sudah kerja keras buat aku. Maaf kalau aku sering nggak sadar betapa berat perjuanganmu.”
Mas Doni tertegun. Ia tak pernah menyangka mendengar kata-kata itu dari istrinya. Air mata haru menggenang di matanya.
“Terima kasih, Na. Itu saja yang aku butuhkan,” jawabnya pelan.
Malam itu, mereka berbincang panjang. Ratna berjanji untuk lebih menghargai suaminya, dan Mas Doni pun merasa beban berat yang ia pikul selama ini sedikit berkurang.
.
.
.
.
Akhir Cerita
Hidup mereka memang tidak berubah drastis. Mas Doni masih bekerja sebagai buruh, dan Ratna masih belajar menerima kekurangan suaminya. Namun, satu hal yang pasti, mereka kini saling memahami dan menghargai, menjadikan cinta di antara mereka lebih kuat dari sebelumnya.