Dulu, senyummu adalah matahariku. Cahayanya menerangi hari-hariku yang kelabu, menghangatkan jiwaku yang dingin. Tapi kini, senyum itu sirna, seolah tertelan oleh badai yang menerjang hidup kita.
Aku masih ingat betul bagaimana pertama kali kita bertemu. Senyummu merekah seperti bunga matahari di pagi hari, membuatku terpana. Sejak saat itu, aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Kita menghabiskan banyak waktu bersama, tertawa, bercanda, dan saling berbagi mimpi.
Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu mulai berubah. Senyummu yang dulu cerah, kini terlihat redup. Tatapan matamu yang dulu penuh semangat, kini tampak kosong. Aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi, tapi kau selalu menghindar.
Hingga pada akhirnya, kau mengatakan kata-kata yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. "Aku tidak bisa bersamamu lagi," katamu dengan nada datar.
Aku mencoba memohon, mencoba meyakinkanmu bahwa aku masih mencintaimu. Tapi semua usahaku sia-sia. Kau tetap pada pendirianmu.
Sejak saat itu, hidupku terasa hampa. Aku seperti berjalan dalam kegelapan, tanpa tujuan. Aku terus bertanya-tanya, ke mana pergi senyummu? Mengapa kau tega meninggalkanku?
Aku mencoba mencari jawaban dalam buku-buku, lagu-lagu, dan film-film. Tapi semua itu tidak bisa menghapus rasa sakit di hatiku. Aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti kau akan kembali dan senyummu akan kembali menerangi hidupku.