Hujan deras mengguyur kota, membasahi jalanan dan membunyikan atap rumah. Di balik jendela kamarnya, Anya menatap kosong ke luar. Hujan di luar seakan menjadi cerminan dari badai yang tengah berkecamuk di hatinya.
Hubungannya dengan Bagas, yang dulu begitu indah, kini telah hancur berkeping-keping. Pertengkaran hebat beberapa hari lalu masih terngiang di telinganya. Kata-kata kasar dan tuduhan saling melontarkan, menyisakan luka yang dalam.
Anya meremas selimut, mencoba menghangatkan diri dari dinginnya malam dan juga dari dinginnya kenyataan. Ia merasa seperti kapal kecil yang terombang-ambing di tengah badai. Setiap gelombang emosi yang datang menyeretnya semakin dalam ke jurang kesedihan.
Ingatannya melayang ke masa lalu, saat mereka pertama kali bertemu. Senyum Bagas yang hangat, tatapan matanya yang penuh cinta, semua terasa begitu nyata. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan.
"Kenapa harus seperti ini?" gumamnya lirih.
Anya mengambil buku diarynya dan mulai menulis. Tinta hitam mengalir di atas kertas putih, melukiskan segala perasaan yang sedang ia rasakan. Ia menulis tentang kekecewaan, kesedihan, dan juga harapan kecil yang masih tersisa di hatinya.
Malam semakin larut, hujan pun mulai reda. Anya memejamkan mata, mencoba mencari kedamaian dalam tidurnya. Namun, bayangan Bagas terus menghantuinya.