Hari itu, Kaiden, Azel, Karin, dan Nadia pergi belanja bulanan. Tugasnya sederhana: beli makanan secukupnya. Tapi, kalau empat orang ini udah kumpul, semuanya jadi berantakan.
Begitu sampai di supermarket, Azel langsung rebutan trolley sama Kaiden.
“Gue yang dorong! Gue jago nge-drift!” seru Azel.
Kaiden melotot. “Loe mah nge-driftin trolley, ujung-ujungnya kita yang ganti barang rusak.”
“Tenang aja, Kaiden. Gue udah pro!” Azel meluncur dengan trolley sambil berdiri di atasnya. Seketika, dia menabrak rak mie instan. Semua mie jatuh berhamburan.
“AZEL!” teriak Karin sambil mencoba nyembunyiin muka.
Nadia malah santai sambil ngambil satu bungkus mie yang jatuh. “Lumayan, gratis,” katanya sambil masukin ke trolley.
Petugas supermarket mulai mendekat, tapi mereka pura-pura nggak tahu apa-apa. “Ayo, cepet kabur ke lorong lain!” bisik Kaiden sambil mendorong trolley yang udah penuh mie.
Sampai di lorong camilan, drama baru dimulai. Nadia pengen beli keripik diskon, sementara Azel ngotot pengen cokelat mahal.
“Cokelat ini tuh premium, Nad. Lo nggak ngerti, ya? Kalau makan ini, otak lo langsung pinter,” kata Azel sok pintar.
Nadia melipat tangan. “Kalau otak lo pinter, lo nggak bakal nabrak rak mie tadi.”
Karin yang dari tadi diem, tiba-tiba ikutan. “Udah, kita beli dua-duanya aja!” Tapi karena trolley udah penuh, Karin mulai lempar-lempar barang yang nggak penting keluar trolley. Termasuk saus sambal favorit Kaiden.
“HEY! Itu saus gue!” Kaiden teriak sambil mencoba ngambil lagi.
Pertengkaran kecil mereka dihentikan oleh suara dari belakang. “Permisi, kalian ganggu pelanggan lain.” Petugas supermarket berdiri dengan muka datar, sambil melipat tangan.
“Ganggu? Siapa yang ganggu? Kami cuma…” Azel mencoba alasan, tapi trolley mereka yang penuh barang jatuh, bikin suasana tambah kacau.
Petugas itu menghela napas panjang. “Silakan bayar barang kalian dan keluar.”
Setelah membayar, mereka keluar dengan trolley yang isinya cuma setengah karena banyak barang terpaksa ditinggal. Di parkiran, mereka malah ketawa ngakak mengingat kejadian di dalam.
“Belanja doang bisa se-chaos ini. Gue heran sama kita,” ujar Karin sambil masih ketawa.
“Yaelah, ini kan seru. Next time kita ke supermarket lain aja. Biar mereka nggak inget muka kita,” kata Azel santai.
Kaiden cuma bisa geleng-geleng. “Loe pada emang nggak ada obat.”
Dan begitulah mereka pulang dengan trolley kosong, tapi penuh cerita konyol.