Adellia kini duduk di kelas 9 SMP. Hidupnya yang ceria selama ini dipenuhi oleh persahabatan yang ia jalin sejak SD bersama Laily, teman terbaiknya. Laily selalu menjadi tempat Adellia berbagi cerita dan melewati segala hal. Namun, sejak masuk SMP, ada satu sosok yang mulai menggeser keseimbangan itu—Tari. Mereka bertemu di awal kelas 8, dan Tari langsung menunjukkan sifat posesif yang membuat Laily merasa tidak nyaman. Meski Adellia tetap menganggap Laily sahabat sejatinya, kehadiran Tari mulai menciptakan bayangan gelap dalam hubungan mereka.
Awal Kecemburuan
Di suatu pagi yang hangat, Adellia dan teman-temannya—Laily, Rani, Aywa, dan Shyllea—berkumpul di taman belakang sekolah. Mereka tertawa mendengar cerita konyol dari Rani tentang guru olahraga yang terpeleset saat mengejar bola di lapangan.
"Bayangkan wajahnya saat itu! Aku sampai harus menahan tawa supaya nggak dihukum!" kata Rani, membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.
Di sela kegembiraan itu, Tari muncul dengan wajah datar. Dia tidak tertawa, tidak tersenyum, hanya memandang dingin ke arah Laily yang duduk paling dekat dengan Adellia.
"Adellia," panggil Tari tiba-tiba. "Aku mau ngomong sebentar. Bisa?"
Adellia menoleh, bingung. "Apa sekarang, Tari? Lagi seru ngobrol sama mereka nih."
Tari menatapnya tajam. "Sebentar aja, penting."
Dengan ragu, Adellia berdiri dan mengikuti Tari menjauh dari kelompoknya. Laily hanya diam, mengamati dengan perasaan campur aduk. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Tari sejak awal, tetapi Adellia selalu membela Tari dan mengatakan bahwa dia hanya butuh waktu untuk beradaptasi.
"Ada apa, Tari?" tanya Adellia setelah mereka cukup jauh.
"Aku cuma mau bilang, aku merasa kamu mulai menjauh dariku. Kamu selalu sibuk sama mereka, terutama Laily," kata Tari dengan nada dingin.
Adellia mengernyit. "Tari, mereka teman-temanku juga, sama seperti kamu."
Tari tersenyum kecil, tapi senyumnya terasa dingin. "Ya, tapi aku ingin lebih dari itu. Aku ingin jadi satu-satunya yang benar-benar kamu percaya. Laily nggak sebaik yang kamu pikir, Dell."
Adellia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata Tari mulai terasa mengganggu, tetapi dia tidak ingin menyakiti perasaannya.
Bayangan Gelap yang Mulai Tampak
Hari demi hari, Tari semakin sering mendekati Adellia, memisahkannya dari kelompoknya, terutama Laily. Tari mulai membisikkan hal-hal buruk tentang Laily di telinga Adellia.
"Kamu tahu nggak, aku dengar Laily sering ngomongin kamu di belakang," kata Tari suatu kali. "Dia bilang kamu terlalu sibuk cari perhatian teman-teman lain."
Adellia menggeleng. "Nggak mungkin, Tari. Laily nggak seperti itu."
Tapi benih keraguan itu mulai tertanam. Adellia, yang tadinya yakin pada Laily, mulai merasakan ada jarak yang tak kasat mata. Sementara itu, Laily menyadari perubahan pada Adellia. Dia mencoba berbicara, tetapi Adellia selalu menghindar atau terkesan sibuk dengan Tari.
"Ada apa sih, Dell? Akhir-akhir ini kamu kayak menjauh," tanya Laily suatu hari.
"Enggak kok, Ly. Aku cuma sibuk aja," jawab Adellia singkat.
Namun, Laily tahu itu bukan alasan sebenarnya. Tari berhasil membuat Adellia perlahan menjauh darinya, dan itu membuat Laily merasa terasing.
Puncak Ketegangan
Suatu malam, Adellia bermimpi aneh. Dalam mimpinya, dia berada di tengah ruangan gelap, dikelilingi oleh bayangan yang tampak seperti Tari. Bayangan itu memanggil namanya berulang kali, dengan suara yang terdengar seperti bisikan tajam. Ketika dia mencoba berlari, bayangan itu menahannya.
"Kamu hanya milikku, Adellia," bisik bayangan itu.
Adellia terbangun dengan napas tersengal. Dia merasa tubuhnya dingin, dan suara itu masih terngiang di telinganya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya mimpi, tetapi firasat buruk mulai menghantui pikirannya.
Keesokan harinya, Tari mengajak Adellia untuk duduk bersama di perpustakaan. Dia tidak membiarkan Laily atau teman-teman lain bergabung.
"Aku cuma mau kamu tahu," kata Tari tiba-tiba. "Laily nggak pernah benar-benar tulus sama kamu. Dia hanya memanfaatkanmu supaya dia nggak kesepian."
Adellia tertegun. Kata-kata Tari terdengar begitu yakin, tetapi hatinya menolak untuk mempercayainya sepenuhnya. Namun, kehadiran Tari yang terus-menerus membuat pikirannya kacau.
Di sisi lain, Laily mulai merasa ada sesuatu yang tidak wajar dengan Tari. Dia merasa Tari memiliki obsesi berlebihan terhadap Adellia, dan itu mulai mengkhawatirkan.
Akhir yang Menakutkan
Pada suatu malam, Adellia menerima pesan aneh dari Tari.
"Datang ke taman belakang sekolah malam ini. Aku punya sesuatu yang penting untuk diperlihatkan."
Adellia, meski ragu, memutuskan untuk pergi. Dia merasa ini adalah kesempatan untuk menyelesaikan semua kebingungannya. Namun, ketika dia tiba di taman, suasana terasa mencekam. Taman yang biasanya tenang kini terasa dingin dan penuh dengan bayangan gelap.
Di tengah taman, Tari berdiri sendirian. Wajahnya terlihat pucat, tetapi senyumnya begitu lebar sehingga membuat Adellia merinding.
"Aku tahu kamu akan datang," kata Tari dengan suara yang terdengar aneh.
"Ada apa, Tari? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Adellia, mencoba menjaga suaranya tetap tenang.
Tari mendekat, matanya menatap tajam ke arah Adellia. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tahu satu hal. Kamu milikku, Dell. Bukan milik Laily, bukan milik siapa pun. Hanya aku."
Adellia mundur beberapa langkah, jantungnya berdetak kencang. "Apa maksudmu, Tari? Kamu nggak bisa ngomong seperti itu."
Tiba-tiba, Tari mengeluarkan sebuah buku harian dari tasnya. Buku itu berisi catatan-catatan aneh, penuh dengan nama Adellia yang ditulis berulang kali, diwarnai dengan coretan hitam. Ada foto-foto Adellia yang diambil tanpa sepengetahuannya, dan di salah satu halaman ada gambar Laily yang dicoret dengan tinta merah.
"Kamu nggak perlu lagi berteman dengan Laily," bisik Tari. "Aku akan memastikan dia nggak mengganggu kita lagi."
Adellia merasakan kengerian yang tak terlukiskan. Dia segera berlari meninggalkan Tari, tidak peduli dengan panggilannya yang semakin keras. Keesokan harinya, Laily tidak masuk sekolah. Ketika Adellia mencoba menghubunginya, tidak ada jawaban.
Sejak malam itu, Tari semakin mendekati Adellia. Dia selalu ada di mana pun Adellia berada, bahkan muncul di luar rumahnya tanpa pemberitahuan. Adellia merasa terperangkap, tidak tahu bagaimana cara keluar dari bayangan gelap yang kini menaungi hidupnya.
Sahabatnya yang dulu penuh tawa kini menjadi bayangan yang menghantui setiap langkahnya. Akhirnya, Adellia hanya bisa bertanya-tanya: apakah Tari benar-benar sahabat, atau ancaman yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan?