Langit pagi itu cerah, dan matahari yang baru saja muncul dari peraduannya memancarkan sinar lembut. Di tengah hiruk-pikuk sebuah kota kecil, Danu melangkah dengan tergesa-gesa. Jaket denimnya sedikit melonggar, membuat angin pagi mudah menyelinap ke tubuhnya. Di tangannya tergenggam sebuah map berisi dokumen penting. Ia harus segera sampai ke kantor untuk rapat pagi yang tak boleh dilewatkan.
Namun, takdir pagi itu punya rencana lain.
Ketika Danu memotong jalan menuju sebuah gang sempit, seseorang yang berjalan dari arah berlawanan tampak tidak memperhatikan langkahnya. Tubuh mereka bertabrakan, cukup keras hingga map yang Danu pegang terjatuh ke tanah, bersamaan dengan beberapa barang milik gadis itu.
“Oh, maaf!” seru gadis itu, suaranya lembut dan penuh penyesalan. Ia langsung berjongkok untuk membantu Danu mengumpulkan dokumen-dokumen yang berserakan.
“Tidak apa-apa,” jawab Danu singkat, meski ia sedikit kesal karena waktu semakin mendesak. Ia ikut berjongkok, matanya sesekali melirik wajah gadis itu. Wajah yang bersih, dengan sepasang mata bulat yang sedikit tergesa-gesa, membuat Danu sulit untuk benar-benar marah.
Ketika mereka selesai membereskan semuanya, gadis itu tersenyum kecil. “Maaf sekali lagi, saya terlalu terburu-buru.”
Danu mengangguk cepat dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia bahkan tidak sempat menanyakan nama gadis itu, karena pikirannya sudah penuh dengan rapat yang akan segera dimulai.
Namun, sesuatu yang tak ia sadari terjatuh dari tas kecil gadis itu. Sebuah saputangan putih dengan sulaman bunga mawar kecil di salah satu sudutnya kini tergeletak di trotoar. Danu yang tanpa sengaja menoleh ke belakang melihatnya dan berhenti sejenak.
“Hey!” Ia memanggil, tapi gadis itu sudah terlalu jauh.
Danu mendekati saputangan itu dan memungutnya. Sulamannya rapi, dan kainnya terlihat bersih meski sudah terjatuh di jalanan. Ada sesuatu yang membuat Danu tidak ingin membiarkannya begitu saja.
***
Hari berlalu, dan saputangan itu kini tersimpan rapi di meja kerja Danu. Ia bahkan tidak tahu mengapa masih menyimpannya. Rasanya seperti ada magnet yang membuatnya sulit membuang benda itu. Pikirannya terus memutar kembali kejadian saat ia bertabrakan dengan gadis itu. Senyumnya, suaranya, dan rasa bersalah yang terpancar dari wajahnya.
“Siapa ya dia?” gumam Danu sambil memandangi saputangan itu.
Danu mencoba mencari petunjuk. Ia membolak-balik saputangan itu, berharap ada nama, inisial, atau sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan pemiliknya. Tapi nihil. Saputangan itu hanyalah kain polos dengan sulaman sederhana.
Akhirnya, Danu memutuskan untuk membawa saputangan itu ke tempat kejadian, berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi.
***
Keesokan harinya, Danu berdiri di dekat gang sempit itu. Ia menunggu cukup lama, memperhatikan setiap wajah yang lewat. Namun, hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat, gadis itu tidak kunjung muncul.
“Kau mencari seseorang?” tanya seorang penjual kopi keliling yang kebetulan sedang mangkal di sana.
Danu tersenyum canggung. “Ah, iya, saya mencari seorang gadis yang kemarin tidak sengaja bertabrakan dengan saya di sini. Mungkin Bapak pernah melihatnya?”
Penjual itu menggeleng. “Banyak orang lewat sini setiap hari, Nak. Tapi coba saja besok, siapa tahu nasibmu baik.”
Danu menghela napas. Ia mengangguk dan berterima kasih sebelum melangkah pergi.
***
Hari-hari berlalu, dan Danu masih sering membawa saputangan itu kemanapun ia pergi, berharap bisa bertemu dengan gadis pemiliknya. Hingga pada suatu hari, saat ia sedang duduk di sebuah kafe kecil di dekat kantor, seseorang menepuk bahunya.
“Maaf, ini mungkin terdengar aneh, tapi… apakah saputangan itu milik saya?” suara lembut yang sama membuat Danu langsung menoleh.
Gadis itu berdiri di sana, mengenakan dress sederhana berwarna pastel, tampak ragu-ragu namun penuh harap.
“Ini?” Danu mengangkat saputangan itu. Ia hampir tidak percaya dengan keberuntungan ini.
Gadis itu mengangguk cepat. “Iya, itu milik saya. Saya sudah mencarinya ke mana-mana. Ternyata Anda yang menemukannya.”
Danu tersenyum kecil, lalu menyerahkan saputangan itu. “Sepertinya takdir ingin kita bertemu lagi.”
Wajah gadis itu memerah, membuatnya terlihat semakin manis. “Terima kasih. Saya benar-benar tidak menyangka bisa menemukannya lagi.”
“Senang bisa mengembalikannya,” kata Danu. Tapi, sebelum gadis itu pergi, ia menambahkan, “Tunggu. Saya bahkan belum tahu nama Anda.”
Gadis itu tersenyum, kali ini lebih lebar. “Rania. Nama saya Rania.”
“Danu,” jawab Danu, mengulurkan tangan.
Rania menyambut uluran tangannya dengan lembut. “Terima kasih, Danu.”
“Boleh saya traktir kopi sebagai permintaan maaf karena waktu itu saya tidak sengaja menabrak Anda?” tawar Danu, mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang tiba-tiba berpacu.
Rania tampak ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. “Baiklah, tapi hanya secangkir kopi.”
Danu tersenyum lega, walaupun mungkin pertemuan mereka hanya singkat namun sudah membuatnya cukup puas. Ia juga ingin mencari tahu kebenarannya sendiri alasan dibalik jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang, apakah pertanda sebuah cinta atau hanya perasaan gugup semata dan tidak lebih. Tapi yang pasti senyum gadis bernama Rania ini telah membuat hari itu sangat berbeda untuk Danu.