Ruangan yang redup yang memiliki khas yang tenang. Di ruangan itu ada seorang gadis yang sedang bermain game di komputernya. Jarinya yang bergerak terlatih di atas keyboard dan mouse, dan matanya yang bergerak-gerak tanpa lelah di depan layar yang bercahaya di ruang yang redup itu, dengan menggunakan earphone di kedua telinganya.
"Halo, Alina kamu bisa mendengarkan ku, kan? " ucap lelaki yang sedang bermain bersama Alina di komputer tersebut.
"Ya, aku bisa mendengar suara mu, Bastian."
"Maaf tadi aku tidak bisa mendengar suaramu, karena jaringanku terlalu buruk. Dan saat ini aku sudah mulai bosan, sebaiknya kita selesaikan permainan ini dengan cepat. 1...2...3... AYO SERANG!!! " Alina berteriak dengan semangat.
Hingga pada akhirnya mereka menyelesaikan permainan itu dan mereka yang telah
memenangkan permainan itu.
"Alina, Bastian. Aku off duluan, yah."
"Xavier, kamu kok tumben sekali off duluan. Ada masalah apa? Aku harap kamu menceritakan semua kepada kami dan aku harap kamu bisa mempercayai kami, " ucap Bastian yang terus merasa gelisah.
"Bastian benar, aku harap kamu benar-benar jujur dengan kita. Dan aku berharap minggu depan saat kita bertemu, kalian berdua menceritakan masalah kalian semua. Walaupun kita tak sedarah aku sudah menganggap kalian keluargaku."
Tak terasa hari berganti hari dengan cepat dan hingga pada akhirnya seminggu kemudian, pada hari ini juga meraka bertiga akan bertemu secara langsung dari sekian lama mereka hanya mendengar suara dari komputer dan kali ini kini mereka bisa bertemu secara langsung.
Matahari kali ini sangat terik di atas langit. Alina yang sedang menunggu kedatangan Xavier dan Bastian dengan santai dan tenang. Dia juga sedang menikmati minuman es yang ia pesan. Sedangkan Bastian yang tangannya sudah gatal dengan mengetuk meja dengan jarinya beberapa kali. Saat itu dengan tiba-tiba ada yang mengajak bicara dengan Bastian.
"Permisi, apa anda yang bernama Bastian yang bermain game Genshin Impact? "
"Kamu Xavier! Akhirnya kamu datang juga, sekarang tinggal tunggu Alina si bocah sialan itu," ucap Bastian dengan sangat kesal.
Saat itu Alina terkejut mendengar pembicaraan mereka dan sebenarnya Alina sudah lama berada di belakang duduk Bastian.
"Kalian Xavier dan Bastian, kan?!" Alina saat itu langsung memutar tubuhnya untuk melihat kearah mereka berdua.
Hingga pada akhirnya mereka bertemu dan saling bercerita dan tertawa, mereka bercerita dan tertawa sangat lama sekali. Dan pada akhirnya beberapa jam kemudian mereka tiba-tiba terdiam hening, menciptakan sedikit kecanggungan, dan sedikit keseriusan di situasi tersebut.
"Xavier apa kamu yakin tidak mau bercerita masalah mu dengan kita?" Bastian yang terus menangih masalah Xavier.
Dan saat itu juga tidak ada suara dan jawaban sedikitpun dari Xavier. Tentu saja itu membuat pertemuan mereka canggung lagi dan Alina langsung memecahkan kecanggungan tersebut.
"Baikalah sekarang aku paham. Sepertinya semua masalah tidak harus dibongkar. Bagaimana kalau kita berdoa di agama masing-masing saja untuk menyelesaikan masalah pribadi kita ?"
"Ide yang bagus Alina, kalau begitu aku pergi ke pura duluan nanti aku kesini lagi setelah beribadah." Bastian langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Aku juga pergi ke Kelenteng dulu nanti aku kesini lagi." Saat itu Alina langsung berdiri dari duduknya.
"Aku juga mau pergi ke gereja."
Hingga pada akhirnya mereka pergi ke tempat ibadah mereka masing-masing. Saat ini gereja dalam kondisi sunyi dan sepi sampai-sampai hanya ada suara nafas Xavier yang mengheningkan tempat itu.
"Ya Tuhan aku ingin engkau mencabut nyawaku secepat mungkin, aku sudah tidak kuat lagi dengan ujian yang engkau berikan. Aku tidak ingin temanku terlibat dengan masalahku. Aku harap mereka dilindungi olehmu dan bisa berumur panjang." Xavier memejamkan mata dengan telapak tangan yang memegang erat di depan dadanya.
Cahaya lilin yang menerangi ruangan itu dan asap tipis dengan bau dupa yang memenuhi rungan itu membuat ruangan itu damai dan tenang.
"Ya Tuhan sebenarnya hamba ingin menyerah tapi hamba masih memiliki tujuan hidup yang hamba belum selesaikan. Hamba ingin jalan yang engkau tunjukkan untuk menyelesaikan masalah ini semua, saya mohon Tuhan selesaikan masalah teman saya, dengan begitu saya bisa pergi dengan cepat." Alina terus berdoa dengan mata yang tertutup erat dan memegang telapak tangannya yang erat dengan beberapa dupa di antara kedua telapak tangannya yang tertutup rapat itu.
Sedangkan tempat pura yang saat ini sepi dan damai ini ada Bastian yang sedang berdoa dengan sangat tulus.
"Ya Tuhan hamba ingin sehat seperti mereka. Saya ingin terus bercerita dengan mereka, tertawa dengan mereka, dan tidak merasakan sakit lagi. Tapi jika ini sudah takdirku, saya berharap mereka tidak merasakan sakit seperti apa yang saya rasakan." Bastian yang terus berdoa dengan memejamkan mata dengan sangat tulus.