Bab 1: Perjanjian Tanpa Hati
Azenniya, wanita cantik berusia 27 tahun, melangkah ke dalam ruang pertemuan yang megah di lantai atas gedung pencakar langit milik Bryan Salvatore, sang CEO muda yang sukses. Namun, langkahnya tidak disambut oleh senyuman hangat atau pelukan penuh kasih sayang. Tidak ada sambutan penuh cinta, hanya tatapan dingin dari suaminya, Bryan.
Azenniya dan Bryan menikah dua tahun lalu, namun pernikahan mereka bukanlah sebuah cerita cinta. Itu adalah pernikahan kontrak yang disepakati kedua belah pihak demi kepentingan bisnis dan keluarga. Bryan membutuhkan istri untuk menjaga citra perusahaan, sementara Azenniya, yang berasal dari keluarga terhormat namun dililit masalah keuangan, membutuhkan perlindungan dan stabilitas. Mereka sepakat untuk hidup bersama, namun tanpa ada ikatan emosional yang mendalam. Bryan terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak pernah memberikan perhatian lebih kepada Azenniya. Ia lebih memilih terjebak dalam rutinitas dunia bisnis yang keras.
Pada malam itu, Azenniya hanya duduk di ruang makan besar, menatap kosong ke arah pemandangan kota yang indah. Bryan sudah pulang, tetapi hanya untuk melaksanakan kewajiban pernikahannya secara formal, dan tak lebih. Sementara itu, pikirannya tidak pernah jauh dari Lea, wanita yang sebenarnya ia cintai. Lea adalah rekan bisnis sekaligus selingkuhannya yang selalu ada ketika Bryan merasa kekosongan.
Bab 2: Cinta yang Terlarang
Lea, wanita yang mempesona dan cerdas, telah lama berada di sisi Bryan. Mereka bertemu dalam dunia bisnis, dan dari sana muncul benih-benih hubungan yang terlarang. Bryan merasa nyaman dengan Lea, karena ia mengerti dirinya lebih baik daripada siapapun. Lea adalah wanita yang bisa mengisi kekosongan hatinya, memberikan perhatian yang selama ini ia cari.
Sementara itu, Azenniya semakin merasa kehilangan. Ia tahu bahwa pernikahan ini tidak akan pernah lebih dari sekedar perjanjian bisnis. Bryan tidak peduli padanya, dan ia hanya menjadi pelengkap di dunia suaminya yang penuh dengan ambisi dan kesibukan. Lea sering datang ke rumah mereka, bahkan ke pertemuan bisnis, tanpa rasa malu. Bryan tak pernah berusaha menyembunyikan kedekatannya dengan Lea, dan Azenniya pun mulai merasakan ketidaknyamanan yang semakin dalam.
Bab 3: Puncak Keputusasaan
Azenniya tidak bisa lagi menahan perasaan kesepian dan dikhianati. Suaminya semakin hari semakin menjauh, dan Lea semakin dekat dengan Bryan. Meskipun ia tahu bahwa hubungan mereka hanyalah kontrak, Azenniya tak bisa menahan perasaan bahwa ada sesuatu yang lebih yang hilang—sesuatu yang tak pernah ia miliki dalam pernikahan ini.
Suatu hari, Azenniya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia berencana menemui Lea dan berbicara tentang hubungan mereka yang semakin rumit. Namun, saat ia mendekati apartemen mewah milik Lea, Azenniya melihat Bryan keluar dari sana dengan senyuman bahagia di wajahnya. Itu adalah momen yang menghancurkan hati Azenniya. Dia menyadari bahwa dirinya hanyalah bayangan dalam hidup Bryan—wanita yang tak pernah benar-benar dicintainya.
Azenniya pun kembali ke rumah, dengan keputusan yang telah bulat. Ia akan menuntut kebebasan dari pernikahan kontrak ini. Namun, hal itu tidak akan mudah. Bryan sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melindungi citra dan statusnya, sementara Azenniya kini bertekad untuk merebut kembali hidupnya.
Bab 4: Jalan Menuju Kebebasan
Keputusan untuk mengakhiri pernikahan ini tidak datang begitu saja. Azenniya tahu, Bryan akan berusaha keras untuk mempertahankan statusnya sebagai CEO yang tak tergoyahkan. Ia menyusun rencana dengan hati-hati, mencari cara untuk keluar dari cengkeraman perjanjian kontrak yang mengikat mereka.
Namun, semakin dalam Azenniya menggali, ia menyadari bahwa dia tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menemukan arti cinta yang sejati. Ia tahu bahwa pernikahan dengan Bryan mungkin tidak pernah menjadi kisah cinta yang indah, namun itu telah mengajarkannya banyak hal—termasuk pentingnya mengenal dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Azenniya memilih untuk pergi. Tidak ada lagi perasaan sakit hati yang menghantuinya. Ia belajar untuk merelakan Bryan dan Lea, serta membebaskan dirinya dari belenggu pernikahan kontrak yang tidak pernah memberinya kebahagiaan sejati.
Bryan mungkin akan tetap dengan Lea, dan Azenniya, meskipun terluka, akhirnya menemukan kekuatan untuk melangkah maju—mencari kebahagiaan yang lebih dari sekedar sebuah perjanjian tanpa cinta.
Akhir