'Villa seram'
Mungkin begitulah gambaran sekolahku yang sudah lima minggu tak dipakai. Angin-angin seolah bernapas membuat sejuk makin segar. Angin itu pun seakan berbisik, 'Selamat datang kembali dipagi hariku.' Aku sendiri tak tahu apa maksudnya.
Sebenarnya, aku malas kembali kesekolah ini. Tempat dimana aku lebih sering sial daripada untung. Tiap hari selalu ada hal yang membuatku kesal, walau tak banyak juga kejadian yang bisa bikin aku tertawa sampai air mataku menetes.
"Tumben diem, biasanya rame."
Itu Titi. Hanya ku balas senyum pas-pasan. Ya... Biasanya aku langsung nyerocos panjang lebar kalau udah nyampe dikelas. Tapi hari ini, angin itu berhembus lagi membuatku ingin diam. Untungnya kelas ini sudah rapi. Kemarin aku dan tiga sobatku main, lalu sambil bercanda dan mainin alat pembersih, tak sadar kelasku jadi bersih benaran. Makasih ya, sobat.
Disisi kiri kelas, ada si Beo─ Julukan buat cowok super bawel : Rifky─ Biasalah, PRnya yang setumpuk itu, sekarang jadi tugas dadakan. Aku tahu selama lima minggu kemarin, dia nggak nyentuh buku pelajaran sedikitpun.
Dengar-dengar sih, dia lagi ngedalamin ilmu playboynya disalah satu alamat e-mail (PL@YBOYZ_ZON3@gmail.com). Dalam satu hari dia bisa menghabiskan sepuluh jam untuk ngadepin komputer. Semua yang diajarin di PL@YBOYZ_ZONE, dia praktekin sama cewek-cewek. (Bisa lewat internet atau langsung) Semua kata rayuan manisnya─ yang jelas gombal─ udah keluar, tapi nggak satupun cewek yang kecantol.
"Liburan yang asyik ya, Ki." Itu ledekanku.
Kalau suasana sepi dan aku sendiri seperti saat ini, aku bisa jadi orang─ yang dianggap orang─ gila. Nggak sadar, aku bisa-bisa ngomong sendiri. Temen-temenku sering bilang,
"Kayaknya kamu butuh psikolog deh, kalau nggak dirukiyah aja."
Ada juga yang bilang, "Kamu jangan ngebiarin diri kamu ngelamun panjang, kesurupan kamu. Lagian RSJ disini belum beres dibangun."
Atau yang ini, "Aku bersedia menemani kau kapanpun juga, kau itu temanku. Manalah aku tega melihat kau bicara sendiri didalam sepi. Sendiri pula kau, janganlah sobat!"
Tapi mau gimana lagi teman, ini aku adanya. Biarpun aku berada ditengah orang ngerumpi, tetap aja─ kadang─ pikiranku menerawang jauh entah kemana, ke alam mimpi kali.
Lamunanku biasanya jatuh pada sebuah masalah rumit, yaitu hidup. Aku sering ngelamunin segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan, kehidupan ataupun cinta. Semua itu berhubungan satu sama lain. Yang pertama jelas Tuhan. Tuhan menciptakan kehidupan, agar kehidupan ini terasa lebih 'sedap' Tuhan menambahkan cinta didalamnya. Dan sekarang, manusia juga selalu menambahkan 'cinta' dalam hidupnya. Kata orang hidup nggak akan bertahan tanpa cinta, benarkah? Aku sendiri belum tahu.
Tapi sayangnya, manusia menjadikan cinta sebagai berhala yang disembah setiap saat. Bahkan posisi utama Tuhan dihati manusia, sudah digeser oleh cinta. Memang benarkan? Manusia yang sibuk dengan cinta dunia akan lupa Tuhan. Aku nggak mau munafik, aku sendiri juga gitu, saat aku sedang berbahagia dengan cinta dunia, aku melupakan Tuhan. Jangankan berdoa, bersyukurpun mungkin sesekali. Tapi saat aku jatuh, setiap detik kupakai untuk meminta pada Tuhan. Betapa egoisnya aku.
Oh Tuhanku, tolong... Maafkan hamba Mu ini.
Aku nyesal, tapi aku selalu mengulanginya. Ya, mau gimana lagi, ini aku adanya. Aku masih menganggap segala kesalahanku adalah kenakalan bocah yang bisa dimaklumi Tuhan─ semoga.
"Woi, ngelamun deh!" kata Sita "Better, kamu ikut aku aja, aku punya gosipan yang asyik nih!"
Sita adalah sobatku yang tahu segala hal yang aku butuhkan. Ya, karena dia itu tukang gosip makanya ia cukup tahu banyak hal.
Sita lagi ngomongin Estry. Aku juga sempat dengar kabar kalau Estry jadian sama Azman. Padahal belum lama ini Azman lagi gencar-gencarnya PDKT sama Nida. Hal kayak gitu udah sering banget aku dengar.
Pacaran bukan hal yang asing lagi saat ini. Bocah TK aja udah kenal pacaran. Apalagi di kalangan remaja, pacaran udah kayak baju, yang kalau nggak punya dan nggak ganti-ganti, malu rasanya. Itu buat mereka dan kalian─ mungkin, tapi bagiku sama sekali nggak begitu.
Aku tegaskan sekali lagi ya, aku nggak mau munafik. Aku juga pernah ngerasain─ hal yang kata orang─ jatuh cinta. Aku mau disayang orang lain, aku juga mau punya orang yang bisa kusayangi. Singkatnya aku juga pengen tahu rasanya pacaran. Tapi kesempatan untuk itu nggak pernah datang padaku. Soalnya, aku sendiri nggak pernah berusaha cari pacar. Ngapain juga repot-repot cari pacar. Pacar dicari cinta monyet dapatnya.
Kayak cerita cinta temanku, Denis. Hebat lho, dia sudah bisa pacaran sejak kelas satu SD. Sampai saat ini ─dia udah kelas tiga SMA─ mungkin dia udah pacarin lebih dari dua puluh lima cewek. Buat para playboy dan playgirl itu sih belum apa-apa, yang nyebelin dari dia itu, soal ciuman. Dia ngaku, semua cewek yang dia pacarin cuma sekedar untuk tahu rasa bibirnya aja. Kurang ajar kan tuh anak! Padahal orang tuanya pengajar lho...
Ada juga kisah Rama, cowok imut ini selalu ditolak sama cewek-cewek yang dia tembak. Kata-kata penolakannya pedas-pedas lagi. Kasihan sih, padahal dia itu ganteng lho, baik lagi, pintar plus tajir juga. Tapi tetap nggak laku, tahu nggak gara-gara apa? Gara-gara BB nya yang tinggi. BB=Berat Badan. Badanya sama sekali nggak atletis, sayang ya...
Cerita lainnya dari Ika. Cewek yang ini terkenal banget matrenya. Tapi aku heran, cowok kok masih banyak yang mau ngantri jadi pacarnya. Padahal mereka tahu banget kalau si Ika itu matre. Kejadian lucu dibawa Dido. Seminggu lalu Dido jadian sama Ika, tapi Ika sama sekali nggak bisa morotin Dido, karena si Dido selalu morotin Ika lebih dulu.
Akhirnya Ika nggak tahan, putuslah mereka. Sebelum Ika meninggalkannya, Dido sempat berkata, "Makanya jangan jadi cewek matre, nggak enak kan diporotin. Sama, teman-teman gue juga nggak senang lo porotin." didepan orang banyak. Sampai sekarang, aku belum dengar dia PDKT lagi sama cowok lain. Kapok kali ya...
Masih banyak lagi cerita cinta teman-temanku yang lain. Oh iya, satu diantaranya cerita Rian. Dia sama sekali bukan playboy. Dia justru contoh pecinta sejati. Tahu nggak kenapa? Karena sampai saat ini dia masih ngejomlo padahal banyak cewek-cewek cakep ngantri pengen jadi permaisuri hatinya, tapi dia selalu nggak mau. Ngakunya sih dia masih cinta berat sama first lovenya, Dini yang dia pacari sejak kelas tiga SD, sekarang Dini berada jauh entah dimana, "Tapi akan selalu aku tunggu kembalinya Dini." Begitu sih katanya.
"Eh, diantara kita-kita, perasaan si Yuna deh sang HQJ." Sita membuyarkan pikiranku.
"Iya juga ya... Si Titi yang telmi sama Echa si kutu buku aja pernah pacaran." tambah Gita.
Dan Titi menggoda, "Tau tuh! Pacaran tuh enak lho, apalagi sama cowok romantis kayak Diki, aduh... Tiap hari disayang."
"Woi-woi, banggain Diki mulu, BT gue dengernya." Ledek Sita
"Ye... Sirik aja lo" balas Titi.
"Kalau Diki emang asyik orangnya, kasih gue aja, biar gue nggak ngejomlo trus Ti!" kataku.
"Enak aja lo! Kalau mau punya pacar cari dong, jangan gebetan sobat lo yang lo rebut. Selama gue masih senang sama boneka gue yang satu itu, gue nggak bakal lepasin dia"
"Makanya, lebih baik gue nggak nyari pacarkan? Biar cowok-cowok disekolah ini jadi mainan lo aja, nggak usah nyisain buat gue, makasih"
"Tapi Na, dengan adanya pacar, kamu bisa jauhin kebiasaan burukmu, yang suka ngelamun itu." kata Echa.
"Justru dengan punya pacar, gue bakal terus ngelamun. Kalau dia ada didekat gue, gue bakal ngebayangin dan lihatin wajahnya terus. Kalau dia nggak ada gue bakal was-was, khawatir dengan apa yang terjadi sama dia." aku jelaskan.
"Perasaan, gue pacaran nggak gitu-gitu amat" sambung Gita "Biasa-biasa aja!"
"Kalian belum kenal gue yang sebenarnya, gue yakin lo semua nggak tahu kalau gue senengnya banget sama puisi dan novel cinta. Kalian juga nggak tahu kan, gimana perasaan gue saat gue jatuh cinta sama cowok?"
"Lo pernah jatuh cinta?!" ucap mereka serentak.
Aku mengangguk, " Benerkan, lo pada nggak ada yang tahu." kujelaskan sedikit "Waktu gue lagi jatuh cinta sama seorang cowok, ekspresi gue nggak terlalu heboh kayak lo semua. Kalian lagi naksir cowok, dag dig dug dher deh langsung saltinglah, atau kayak si Echa yang dulu pingsan, gara-gara cowok yang dia taksir senyum sama dia, kalian juga gitu kan. Kalau gue, gue selalu coba tahan emosi gue, kalau ketemu dia, biasa-biasa aja, nggak ada perlakuan istimewa, makanya orang lain nggak ada yang tahu."
"Berapa kali lo ngerasain itu?"
"Sekali."
"Siapa orangnya?"
"Apa perlu kalian tahu?"
"Perlu banget! Ayo, siapa cowok itu?!"
"Sorry deh friends, gue belum bisa kasih tahu soal itu sekarang. Masalahnya, gue masih mikirin dia, ntar aja deh, kalau gue udah lupain dia" Hmm... Aku jadi merasa di interogasi gini.
"Kalau lo selalu mikirin dia, lo PDKT aja sama dia, siapa tahu dia ngerasain feel lo, terus dia juga suka. Bisa pacarankan."
"Nggak ah!"
"Lho, kenapa?"
"Ya...gue nggak mau aja pacaran"
"Tadi loe bilang jatuh cinta sama dia."
"Itu benar, gue emang sayang sama dia. Tapi kan cinta nggak harus memiliki. Cukup gue rasain, biar tuh cowok nggak tahu perasaan gue, yang penting gue tahu kalau gue sayang dia."
"Kamu hebat ya, Na. Nggak diperbudak asmara. Bisa nahan ego dan emosi disaat jatuh cinta."
"Tapi kenapa lo nggak mau pacaran?"
"Jangan-jangan lo diancam bonyok ya!"
"Atau lo udah punya pacar tempat lain?"
"Bukan karena itu, gue punya alasan pribadi yang gue pikir, kalian nggak perlu tahu."
"Payah lo! Aneh banget sih lo jadi orang"
"Ya... Gimana lagi, it's me girls!"
Aku rasa mereka lagi bingung sekarang. Biar aja deh, mereka masuk kedalam pikiran mereka masing-masing.
Alasan aku nggak mau pacaran, itu karena... karena... Aku udah dijodohin. Orang tuaku sih belum bilang soal itu, tapi aku sudah sering banget dengerin orang tuaku ngomongin hal itu.
Dan yang hebatnya lagi, orang yang mau dijodohin sama aku, adalah orang yang aku taksir sekarang. Namanya Reno. Temanku dari kecil. Dulu, dia pernah bilang suka sama aku, tapi aku nggak peduliin. Dia nggak marah atau kecewa. Sampai sekarang aku masih bersahabat dengannya.
Sebenarnya, setelah tahu kalau aku mau dijodohin sama Reno nanti, aku jadi nggak senang ketemu Reno. Tapi, aku kok sayang banget ya sama dia. Aku sendiri nggak ngerti yang aku mau saat ini, aku berharap bisa lupain Reno, aku juga mau perasaan sayangku ke dia cukup sebatas sahabat. Dan juga, aku nggak mau dijodohin sama Reno. Pokoknya nggak mau.
Hari gini main jodoh-jodohan, kolot banget deh. Cita-cita ku masih tinggi dan aku cuma mau menggapainya. Setelah aku berhasil dengan impianku itu, baru yang lain aku pikirkan.
Mereka bilang, pacaran itu sebagai hiburan. Tapi buat aku pacaran itu trik setan, biar aku lupa Tuhan. Kalau udah lupa, ntar Tuhan nggak ngerestuin aku ngejar cita-citaku. Gawatkan!
Ya, beginilah aku, dengan pikiran yang sok pemikir, dengan perasaan yang merasa penyayang dan jalan hidup yang aku sendiri tak memahaminya. Gimana mungkin, aku ngerti tantang kehidupan ini, kalau Tuhan tidak membuka misterinya.
Pemikiran yang sok tua ya... Mau gimana lagi, ini aku adanya... Dengan cinta dan kehidupan yang diberikan Tuhan.
~TAMAT~
Hallo, ini salah satu tulisan yang aku buat tahun 2011, semoga menginspirasi dan bermanfaat yaa,
Terima kasih buat yang sudah baca 💚