(Rumah tua di tengah hutan, hujan deras, dan suasana malam yang gelap tanpa listrik.)
Malam itu, Lara terpaksa menginap di rumah tua keluarganya yang terletak jauh dari desa. Rumah itu sudah lama tak berpenghuni sejak kematian misterius neneknya sepuluh tahun lalu. Namun, ia tak punya pilihan lain karena badai besar membuat jalan ke kota terputus.
Lara menutup pintu dengan tergesa-gesa, menghalau dingin dan angin yang terus meronta. Di ruang tengah, hanya ada satu lilin kecil yang menyala, memancarkan cahaya redup.
Rumah itu terasa… hidup. Setiap langkah Lara bergema, dan suara angin yang menyusup melalui celah dinding terdengar seperti bisikan pelan.
Saat ia berjalan menuju ruang tamu, matanya tertumbuk pada cermin besar yang menempel di dinding. Cermin itu tampak seperti baru dibersihkan, meski seluruh rumah penuh debu. Ia merasa tak nyaman melihat pantulannya sendiri yang samar karena cahaya lilin.
Tiba-tiba, suara seperti langkah kaki terdengar dari lantai atas.
---
Lara mendongak, menatap tangga yang menuju lantai atas. Hatinya berdegup kencang. Ia tahu ia datang sendirian, tetapi suara itu terdengar nyata. Langkah-langkah itu berat, seperti seseorang sedang menyeret sesuatu.
“Siapa di sana?” serunya, mencoba terdengar tegas.
Tak ada jawaban. Hanya suara hujan deras di luar yang menemani kesunyiannya. Namun, langkah itu berhenti tepat di ujung tangga.
Dengan lilin di tangan, Lara memutuskan untuk naik ke atas. Setiap anak tangga berderit di bawah kakinya, membuat tubuhnya semakin tegang.
Ketika ia sampai di ujung tangga, koridor gelap itu terasa seperti lorong tak berujung. Di salah satu kamar, pintu terlihat setengah terbuka.
Ia melangkah masuk. Di dalam kamar itu, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di sudut ruangan, berdiri sesosok bayangan hitam, membelakanginya. Tubuhnya membungkuk, dan rambut panjangnya terurai hingga ke lantai.
“Permisi…” bisik Lara, nyaris tak bersuara.
Bayangan itu bergerak perlahan. Tubuhnya berbalik, tetapi wajahnya tak terlihat jelas. Ia hanya menatap Lara dengan kepala yang miring ke satu sisi, seperti sedang mengamati mangsanya.
Seketika, lampu lilin padam. Lara menjerit.
---
Dalam kegelapan, Lara meraba-raba untuk keluar dari kamar. Saat ia berlari menuruni tangga, suara langkah berat kembali terdengar, kali ini mengikuti di belakangnya.
Tok… tok… tok.
Namun suara itu bukan dari kaki. Seperti ada sesuatu yang menyeret dirinya di sepanjang lantai.
Di ruang tengah, lilin kembali menyala entah bagaimana, dan cermin besar itu menarik perhatiannya. Ia melihat pantulan dirinya, tetapi ada sesuatu yang aneh.
Pantulan itu bergerak lebih lambat, seperti sedang mengejek gerakannya. Wajahnya di dalam cermin terlihat pucat, dengan mata hitam pekat yang meneteskan darah.
“Jangan lari…” suara itu terdengar dari dalam cermin, lirih, seperti desahan angin.
Lara mencoba mengalihkan pandangan, tetapi ia merasa tubuhnya tak bisa bergerak. Pantulan itu tiba-tiba tersenyum lebar, menunjukkan gigi-gigi tajam yang meneteskan darah.
Lara berteriak, tetapi suara itu terpantul kembali dari dalam cermin, berubah menjadi tawa histeris.
---
Cermin itu mulai bergetar, dan dari permukaannya muncul tangan hitam panjang yang menyeret dirinya ke dalam. Lara melawan, mencoba meraih apa pun yang ada di dekatnya, tetapi kekuatannya tak sebanding.
Ketika tubuhnya hampir sepenuhnya ditelan cermin, ia mendengar suara lirih neneknya, “Kau sudah diperingatkan… Jangan pernah kembali.”
Di sisi lain cermin, Lara terbangun di ruangan gelap yang penuh dengan suara bisikan. Ia melihat bayangan dirinya berdiri di luar cermin, menatapnya dengan senyuman keji.
Bayangan itu berbalik, melangkah menjauh, membawa lilin terakhir yang menyala. Lara ditinggalkan dalam kegelapan abadi, dikelilingi oleh bayangan-bayangan lain yang meratap pelan, meminta tolong.
---
TAMAT