Baik, kita lanjut!
---
Siska duduk di bangkunya dengan tangan menggenggam erat ujung meja. Ia tak mampu mengangkat wajah, apalagi bertemu pandang dengan Reza. Perasaannya campur aduk antara takut, malu, dan menyesal.
Sementara itu, Reza duduk di bangkunya di depan kelas. Dengan hati-hati, ia membuka surat itu di bawah meja, mencoba membaca isinya tanpa menarik perhatian orang lain.
---
Isi Surat:
“Reza, aku nggak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengatakan ini. Aku cuma ingin jujur, meskipun aku tahu mungkin aku nggak ada apa-apanya dibandingkan orang-orang di sekelilingmu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku kagum padamu—caramu tersenyum, memimpin, dan peduli pada orang lain. Maaf kalau ini membuatmu terganggu. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku.”
—Siska
---
Reza menatap surat itu lama. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya, tetapi ia menyembunyikannya dengan cepat. Ia melirik ke arah Siska, yang masih menunduk di tempatnya. Di dalam hatinya, ia sudah lama menyadari bahwa Siska berbeda. Gadis itu selalu terlihat sederhana, namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Reza penasaran.
Saat jam pelajaran selesai, Reza berdiri dan berjalan menuju bangku Siska.
“Siska,” panggilnya pelan.
Siska tersentak. Ia mendongak dengan wajah memerah. Semua teman-teman di sekitar mereka mulai menatap penasaran.
“Bisa bicara sebentar?” tanyanya, suaranya lembut.
---
Di koridor yang sepi, Siska berdiri di depan Reza, dengan kepala tertunduk. Ia tak berani menatap cowok itu langsung.
“Jadi… surat ini dari kamu?” tanya Reza sambil mengeluarkan suratnya.
Siska menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan.
Reza tersenyum. “Kenapa nggak bilang langsung? Aku nggak gigit, kok.”
Siska terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Aku nggak yakin kalau aku pantas. Kamu terlalu…”
“Berhenti berpikir seperti itu,” potong Reza. “Aku nggak peduli soal semua itu. Aku cuma mau tahu satu hal—apa kamu serius dengan apa yang kamu tulis?”
Siska menatapnya ragu, lalu mengangguk lagi.
Reza tersenyum lebih lebar kali ini. “Kalau begitu, aku mau kamu tahu satu hal juga. Aku juga suka sama kamu. Tapi aku nggak pernah tahu gimana cara ngomongnya.”
---
Setelah pengakuan itu, hubungan Siska dan Reza mulai berubah. Mereka tak langsung menjadi pasangan seperti yang diharapkan banyak orang, tetapi mereka mulai sering berbicara, bekerja sama di kegiatan sekolah, dan saling mengenal lebih dalam.
Di akhir tahun pelajaran, saat acara perpisahan, Reza memberanikan diri memegang tangan Siska di depan teman-temannya, seolah mengisyaratkan bahwa hubungan mereka telah berkembang ke arah yang lebih serius.
Siska tersenyum kecil, merasa bahwa keberaniannya menyampaikan surat itu telah membawa perubahan besar dalam hidupnya.
---
TAMAT
Kesimpulan
Cerita ini berakhir dengan manis, menampilkan keberanian Siska untuk menyatakan perasaannya dan bagaimana Reza merespons dengan cara yang membuat hubungan mereka tumbuh secara alami.
TERIMA KASIH KARENA TELAH MEMBACA🫶🏻