Baik, kita lanjutkan!
---
Siska menggenggam surat itu erat-erat di balik meja. Tangannya dingin, berkeringat. Setiap detik terasa lambat, dan suara teman-temannya di kelas terdengar samar di telinganya. Ia berulang kali menatap Reza yang duduk di taman sekolah, berbincang dengan teman-temannya sambil tertawa.
“Kenapa nggak langsung aja, Sis?” bisik Sarah, sahabatnya, yang duduk di sebelahnya.
Siska menggeleng cepat. “Aku nggak berani…”
“Lalu mau sampai kapan? Kalau dia tahu dari orang lain, kamu bakal nyesel.”
Siska terdiam. Ia tahu Sarah benar, tetapi keberaniannya tak kunjung datang.
Ketika bel istirahat berbunyi, ia akhirnya mengambil keputusan. Siska menulis nama Reza di amplopnya, lalu menyelipkan surat itu di sela-sela buku yang sedang dibaca Reza, yang tertinggal di meja taman.
“Selesai!” bisik Siska sambil menarik napas lega. Tapi perasaan lega itu tak bertahan lama.
---
Saat Siska kembali ke kelas, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya mencelos. Di tengah keramaian kelas, salah satu teman Reza, Dimas, memegang surat itu sambil tertawa keras. “Wah, ada yang suka sama Reza nih! Ini surat cinta siapa, ya?”
Siska tertegun di pintu kelas, wajahnya memerah seketika. “Bagaimana bisa surat itu ada di tangan Dimas?” pikirnya panik.
Reza yang baru saja masuk kelas, tampak bingung melihat keramaian itu. “Apaan sih, Dim? Balikin surat itu.”
“Tunggu dulu, ini menarik!” ujar Dimas sambil membuka suratnya, meskipun Reza berusaha mencegah.
Namun sebelum Dimas sempat membaca lebih jauh, Reza berhasil merebut surat itu. Ia menatap Dimas tajam. “Jangan keterlaluan, Dim,” ucapnya dingin, sebelum melipat surat itu dan memasukkannya ke sakunya.
Siska yang masih berdiri di pintu merasa ingin menangis. Dia tak tahu apa yang akan dilakukan Reza terhadap surat itu.
---
Pertanyaan untuk Lanjutan
1. Apakah Reza akan membaca surat itu dan menyadari perasaan Siska?
2. Apakah Siska akan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?
3. Ataukah ada situasi lain yang membuat perasaan mereka semakin rumit?
Mari lanjutkan!