Libur semester telah tiba, bersamaan dengan datangnya musim hujan. Pagi hariku ditemani mendung yang menyelimuti langit, tanda hujan akan tiba. Aku dan Kakak duduk di kursi bambu sembari menyantap kenikmatan kroket keju. Terlihat Ibu sedang bergegas jalan kaki menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Tak lama kemudian hujan pun turun, "Wah sudah gerimis tetapi Ibu belum pulang juga", ucapku. Mendung semakin menyelimuti langit, udara sejuk menyapa kami. Rintikan air hujan pun turun dan menari-nari dihalaman rumahku, awan terlihat seperti sedang manangis. Tiba-tiba Kakak bertanya "Ibu engga bawa payung ya?", sambil terlihat cemas. Aku segera memastikan payung yang ada, dan benar saja Ibu tidak membawa payung. Aku dan kakak segera menjemput Ibu.
Selama berjalan, air di selokan tampak penuh. Setelah sampai di pasar, para warga terlihat sedang berteduh, dan kami segera menghampiri Ibu. Hujan turun dengan sangat deras, syukurlah kami datang sebelum hujan deras. Tanpa diminta, banjir itu datang dengan sendirinya. Kami mengkhawatirkan barang-barang yang ada di rumah. Aku menatap langit, sambil berdoa semoga hujan cepat reda agar kami bisa segera pulang. Tak lama kemudian, hujan pun sudah sedikit reda, dan kami segera pulang. Setelah sampai rumah, air terlihat hanya menggenangi halaman rumah, syukurlah tidak sampai masuk ke dalam rumah karena bangunan rumah kami cukup tinggi.
Malam hari tiba, hanya terlihat rintikan gerimis hujan dan terdengar suara petir yang bergemuruh. Aku, Kakak, Ibu, dan Ayah duduk di ruang tamu sembari menikmati makan malam. "Pengumuman di group, pak kades merencanakan kegiatan gotong royong besok pagi", ucap Ayah. Ayah bercerita, "Ada beberapa sampah yang membutuhkan waktu lama daur ulangnya, kita sebagai masyarakat harus sebisa mungkin mengurangi pemakaiannya. Kakak bertanya kepada Ayah, "Sampah-sampah yang sudah terlanjur mencemari, solusinya bagaimana ya Yah?", ucapnya. Ayah menjawab "Kita harus berinisiatif membantu mendaur ulang, contohnya dibuat kerajinan dengan memanfaatkan barang-barang bekas", ucap Ayah. Ibu menambahkan, "Sebagai generasi muda, kalian harus lebih kritis dalam mensolusikan, apalagi sekarang sudah banyak media informasi seperti internet", saran Ibu.
Ke esokan harinya, Ayah dan para warga bergotong-royong membersihkan selokan, sungai, dan lingkungan sekitar. Aku dan teman-teman turut membantu memunguti sampah di lingkungan sekitar. Dari percakapan semalam, aku memiliki ide untuk mendaur ulang sampah. Banyak sampah botol-botol plastik yang aku temukan. Setelah kegiatan gotong royong selesai, sampah botol-botol plastik tadi aku bawa pulang ke rumah. "Bu, adik mau mendaur ulang sampah botol-botol ini", ucapku kepada Ibu. "Boleh aja nak, kamu mau bikin apa?", tanya Ibu. Kakak menanggapi pertanyaan itu, "Gimana dibuat jadi pot tanaman aja?, sarannya. "Wahh...boleh juga idenya Kak, aku setuju", jawabku.
Hujanpun tiba lagi, aku dan kakak duduk di ruang tamu sembari mencari inspirasi pot bunga dari sampah botol plastik. Ayah datang menghampiri kami "Kalian lagi ngapain?", tanya Ayah. Aku menyahut "Kami mau membuat pot bunga yah, dari sampah botol-botol plastik ini", jawabku. "Ayah boleh ikut bantu dong?", sahut Ayah. "Tentu saja yah", jawabku dan Kakak. Ayah memberi inspirasi, dan kami segera menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Keesokan harinya, pot bunga yang sudah jadi, kami letakkan di halaman rumah. Pot bunga dengan aneka warna yang beragam, membuat pandangan kami tertarik melihatnya.
Sebagai masyarakat penghasil sampah, kita juga harus memikirkan solusi untuk menguranginya. Jika tidak, akan berdampak pada lingkungan dan kenyamanan bersama. Kegiatan bergotong royong mengajarkan kita untuk membangun kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan. Sebagai generasi penerus, kita harus berpikir kritis dan harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik.