Kota yang Mekar
Aku berjalan di sepanjang kota, setiap langkahku membuat bunga-bunga di pinggir jalan bermekaran. Seakan menyambutku, warna-warni kelopak bunga itu menari di bawah sinar mentari pagi.
Aku memutuskan untuk singgah di sebuah kafe kecil. Aroma kopi dan suasana hangat menyambutku. Duduk di ujung ruangan, aku menikmati ketenangan sebelum seorang pelayan mendekat.
Harumi: "Mau pesan apa...?"
Suaranya terdengar pelan, tapi matanya membelalak saat melihatku. Wajahnya langsung memerah.
Harumi: "Kenapa... kenapa kamu ada di sini...?"
Ia tampak gugup, tangannya gemetar sedikit saat memegang buku catatan pesanan.
Aku tersenyum tipis, melihatnya yang terus memerah tanpa sebab yang jelas.
Aku: "Aku justru khawatir padamu. Wajahmu memerah... kau baik-baik saja?"
Harumi terdiam, mencoba menutupi wajahnya yang semakin merah dengan tangan.
Harumi: "A-aku... aku baik-baik saja... Kenapa kamu malah mengkhawatirkanku?"
Aku: "Itulah diriku."
Jawabanku singkat, namun cukup membuatnya terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Harumi berusaha menguasai dirinya.
Harumi: "Aku... aku cuma pelayan kafe biasa."
Aku menatapnya lembut.
Aku: "Kau seperti bunga yang indah. Sayang jika keindahanmu itu tersembunyi."
Ia terpaku, matanya membulat. Wajahnya semakin memerah.
Harumi: "Aku... aku bukan bunga... Aku hanya..."
Aku: "Bunga tetaplah bunga, seburuk apapun rupanya, keindahannya tak akan pudar."
Harumi tidak bisa membalas. Kata-kataku membuatnya bingung, tapi juga senang.
Harumi: "Aku... aku tidak secantik itu..."
Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Aku menatapnya dalam.
Aku: "Bunga yang menarik seperti dirimu pantas untuk diperhatikan. Siapa namamu?"
Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbisik:
Harumi: "Harumi..."
Aku: "Nama yang indah. Seindah pemiliknya."
Harumi menggigit bibir, berusaha menahan senyum.
Harumi: "Kamu... terlalu jujur..."
Aku: "Teruslah mekar, Harumi. Jangan biarkan keindahanmu layu."
Harumi menunduk, suaranya bergetar lagi.
Harumi: "Kenapa... kamu memperlakukan aku seperti ini?"
Aku: "Karena setiap bunga pantas untuk dihargai. Dan kau, Harumi, adalah bunga yang jarang ditemui."
Dia menatapku lama, seolah mencari jawaban dalam mataku. Ada sesuatu yang berubah di matanya—sebuah rasa penasaran.
Harumi: "Apa aku... benar-benar seindah itu?"
Aku: "Tentu saja. Bahkan bunga berduri pun memiliki kecantikan yang tak bisa diabaikan."
Harumi menghela napas, mencoba menenangkan dirinya.
Harumi: "Aku harus kembali bekerja..."
Aku: "Jangan lupa pesananku."
Ia tersenyum kecil.
Harumi: "Tentu... Aku akan buatkan tehmu."
Ketika ia kembali dengan segelas es teh, ia menatapku lama sebelum pergi. Aku memanggilnya kembali.
Aku: "Harumi, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Ia duduk di depanku, masih dengan wajah memerah.
Harumi: "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Aku: "Apa yang kau pikirkan tentang diriku? Aku selalu membuat bunga mekar, tapi aku tak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku."
Harumi terdiam, lalu menunduk.
Harumi: "Aku... Aku pikir kamu orang yang baik... tapi..."
Aku: "Tapi?"
Harumi: "Kamu terlihat seperti... seseorang yang terjebak dalam bayangannya sendiri."
Aku menatapnya, terkejut.
Aku: "Bayangan?"
Harumi: "Ya. Seperti ada sesuatu yang menahanmu untuk maju."
Aku tersenyum tipis.
Aku: "Matahari pun memiliki bayangan. Terima kasih sudah jujur padaku."
Harumi menggigit bibir, matanya penuh kejujuran.
Harumi: "Aku hanya ingin kamu tahu... bahwa ada seseorang yang melihatmu, di balik bayangan itu."
Aku tertawa pelan.
Aku: "Ternyata, ada bunga yang begitu menarik."
Ia tersenyum malu.
Harumi: "Aku bukan bunga... aku manusia."
Aku memandangnya dalam.
Aku: "Wanita sepertimu, Harumi... adalah bunga yang harus dirawat dengan hati-hati."
Dan di tengah keheningan itu, aku menyadari sesuatu. Mungkin, di antara bunga-bunga yang mekar, aku telah menemukan satu yang paling istimewa.