Di sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan lebat, terdapat sebuah rumah tua yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai tempat yang angker. Rumah itu telah lama kosong, dan sebagian orang berani mendekat hanya untuk melihat apa yang tersembunyi di dalamnya. Namun, tidak ada yang pernah benar-benar tahu siapa pemiliknya, karena mereka yang mencoba mencari tahu selalu menghilang tanpa jejak.
Pada suatu malam yang gelap, seorang pemuda bernama Bima yang baru saja pindah ke desa itu mendengar cerita tentang rumah tersebut. Ketertarikan yang menggebu akan misteri membuatnya memutuskan untuk mengunjungi rumah itu. Dengan langkah hati-hati, Bima mendekati rumah tua yang terlihat terabaikan, pintu depan sudah tidak terkunci.
Begitu melangkah masuk, udara dingin langsung menyambutnya. Bima menyalakan senter, menyoroti setiap sudut yang gelap. Rumah itu sunyi, dengan hanya suara langkah kakinya yang terdengar. Langit di luar mulai mendung, dan angin mulai bertiup kencang, menggoyangkan jendela yang rapuh.
Bima melangkah lebih dalam. Di ruang tengah, ia melihat sebuah cermin besar berdiri tegak di dinding, mencuri perhatian. Cermin itu terlihat sangat tua, dengan bingkai kayu yang telah dimakan waktu. Ada sesuatu yang aneh dengan cermin itu. Meskipun ruangan itu gelap, bayangannya di cermin tampak sangat terang, jauh lebih terang dari seharusnya.
Bima merasa gelisah, namun rasa penasaran membuatnya semakin dekat. Begitu wajahnya mendekatkan diri ke cermin, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Bayangannya di dalam cermin tidak bergerak sesuai dengan gerakannya. Cermin itu memantulkan gerakan yang sedikit lebih lambat, seolah ada sesuatu yang tidak wajar. Bima menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Namun, ia tidak bisa berpaling.
Tiba-tiba, bayangannya mulai tersenyum, meski Bima tidak melakukannya. Senyuman itu tidak ramah. Mata bayangannya mulai melotot, penuh dengan kebencian dan kegilaan. Bima merasa tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak. Matanya tertuju pada bayangan itu, yang semakin lama semakin jelas. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan mulai merasuki pikirannya. Ia merasakan ketakutan yang mendalam, seolah-olah bayangan itu bisa keluar dari cermin.
"Apa yang kau cari?" suara itu terdengar serak dan mengerikan, berasal dari dalam cermin. Bima hampir melompat ketakutan.
Bayangan itu kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Bima, lalu tertawa, suara yang bergema dalam telinganya. "Kau datang jauh-jauh hanya untuk melihat? Ini bukan tempat yang aman untukmu."
Bima mundur beberapa langkah, mencoba menjauh dari cermin, namun tubuhnya terasa terperangkap. Bayangan itu semakin besar, semakin nyata, dan tiba-tiba, tangan dari dalam cermin mencoba meraihnya. Bima terjatuh ke lantai, berusaha menghindar, namun bayangan itu semakin mendekat.
Dengan keberanian yang tersisa, Bima menjerit, berusaha melepaskan diri dari kekuatan yang menariknya ke dalam cermin. Tiba-tiba, semua berhenti. Cermin itu kembali menjadi biasa, seperti tidak ada yang terjadi. Bima mengusap wajahnya, merasa bingung dan ketakutan. Bayangannya kini terlihat normal, tidak ada yang aneh.
Namun, saat ia berbalik dan berlari keluar dari rumah, sesuatu yang menakutkan terjadi. Di dinding luar rumah, cermin yang sama kini tergantung. Cermin itu memantulkan wajah Bima dengan senyuman yang aneh, wajah yang bukan miliknya.
Ia pun sadar: ia tidak pernah benar-benar keluar dari rumah itu. Ia masih terjebak di dalam cermin, menjadi bagian dari misteri rumah tua yang tak terpecahkan.
---