Langit senja mulai memudar menjadi gelap saat Rey duduk di tepi taman, menunggu Dira. Ia sudah biasa menunggu seperti ini—menunggu Dira bercerita tentang segala hal, dari masalah kecil hingga cerita cintanya yang tak pernah habis. Malam ini, Dira menelepon sambil menangis. Rey tak bertanya banyak, ia hanya berkata, "Datang saja, aku di sini."
Tak lama, Dira muncul dengan wajah sembab. Ia langsung duduk di sebelah Rey, tanpa berkata apa-apa. Setelah beberapa detik yang sunyi, ia mulai bercerita.
“Rey, kenapa sih cinta itu rumit banget? Aku kira Bima benar-benar suka sama aku. Tapi tadi aku lihat dia pergi sama cewek lain...” Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Rey menghela napas. Ini bukan pertama kalinya Dira terluka karena Bima, tapi Rey tahu, tugasnya bukan menghakimi. Tugasnya hanya mendengar.
“Dira,” Rey berkata lembut, “Kamu terlalu baik buat dia. Bima nggak pantas dapat perhatianmu.”
“Tapi aku suka dia, Rey,” Dira memotong. “Aku nggak bisa berhenti berharap.”
Rey diam. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di tenggorokan. Ia ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang lebih pantas untuk Dira—seseorang yang selalu ada, yang siap mendengar setiap cerita dan menampung setiap air matanya. Tapi Rey tahu, itu hanya akan terdengar klise.
Setelah beberapa saat, Dira menyandarkan kepala di bahu Rey. “Untung aku punya kamu, Rey. Kalau nggak, aku nggak tahu harus cerita ke siapa.”
Rey tersenyum pahit. “Aku selalu ada buat kamu.”
---
Hari berganti, bulan berlalu, tapi pola itu tak pernah berubah. Dira selalu datang kepada Rey ketika patah hati, dan Rey selalu ada untuknya. Sering kali Rey bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia harus bertahan dalam bayang-bayang perasaan ini. Ia ingin mengaku, tapi ia takut. Takut kehilangan Dira, takut merusak apa yang sudah mereka miliki.
Suatu malam, Rey akhirnya memutuskan untuk jujur. Ia mengajak Dira bertemu di tempat biasa, taman yang menjadi saksi dari semua cerita mereka.
“Dira, ada sesuatu yang ingin aku bilang,” Rey mulai, suaranya sedikit gemetar.
“Ada apa, Rey? Kamu kelihatan serius banget,” Dira menatapnya dengan mata penuh perhatian.
Rey menarik napas dalam-dalam. “Aku suka sama kamu, Dira. Dari dulu. Aku nggak tahu kapan mulai, tapi aku nggak bisa lagi pura-pura cuma teman.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Dira terdiam, menatap Rey dengan ekspresi campur aduk.
“Rey...” Ia akhirnya bicara, pelan. “Aku nggak tahu harus bilang apa. Kamu sahabat terbaikku. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi aku... aku nggak punya perasaan yang sama.”
Kata-kata itu seperti belati yang menusuk hati Rey. Namun, ia tersenyum. Senyuman kecil yang penuh kepedihan.
“Gak apa-apa, Dira. Aku cuma pengen kamu tahu. Itu aja.”
Dira menggenggam tangan Rey, mencoba memberikan penghiburan. Tapi Rey tahu, tak ada yang bisa menghapus rasa sakit itu.
Malam itu, Rey berjalan pulang dengan hati yang hancur. Ia tahu, persahabatan mereka tak akan pernah sama lagi. Tapi meski begitu, ia tetap bersyukur pernah menjadi seseorang yang selalu ada untuk Dira, meskipun tak pernah menjadi seseorang yang dipilihnya.
Selesai.