Malam itu, ruang makan mewah di rumah besar itu kembali sunyi. Lilin-lilin di atas meja memancarkan cahaya hangat, sementara makanan yang telah tertata rapi mulai dingin. Hana duduk di ujung meja panjang, mengenakan gaun sutra yang ia pilih khusus untuk malam ini. Ia melirik jam tangan berlian yang melingkar di pergelangan tangannya—pukul sembilan lewat lima belas menit.
Farel, suaminya, belum pulang. Lagi.
Hana menyesap sedikit anggur merah dari gelasnya, mencoba menenangkan kegelisahan yang mulai merambat di hatinya. Ini bukan kali pertama. Setiap malam, Farel selalu pulang larut dengan alasan rapat, pekerjaan yang menumpuk, atau acara bisnis yang tak bisa ditinggalkan. Awalnya, Hana mencoba memahami. Bagaimanapun, Farel adalah CEO dari perusahaan besar yang kesuksesannya memang membutuhkan pengorbanan. Tapi lama-lama, Hana merasa dirinya tak lebih dari sebuah pajangan di kehidupan Farel—indah, tetapi tak pernah benar-benar penting.
---
Beberapa jam kemudian, suara mesin mobil terdengar di halaman. Hana berdiri, berharap kali ini Farel akan memberi perhatian lebih. Namun saat pintu terbuka, pria itu masuk dengan raut wajah lelah dan segera melonggarkan dasinya tanpa melihat ke arah Hana.
“Kamu sudah makan?” Hana bertanya lembut, mencoba menyembunyikan kekecewaannya.
“Belum lapar,” jawab Farel singkat, berjalan melewatinya tanpa berhenti.
Hana mengepalkan tangannya. “Aku sudah menunggu sejak sore, Farel. Bisakah kita duduk bersama, hanya sebentar saja?”
Farel menoleh dengan ekspresi datar. “Hana, aku capek. Aku cuma mau istirahat.”
Tanpa menunggu balasan, Farel menghilang ke dalam kamar kerjanya, meninggalkan Hana berdiri di ruang makan yang dingin. Sekali lagi, ia merasa dirinya hanyalah bayangan yang tak terlihat di dunia Farel.
---
Keesokan harinya, Hana memutuskan untuk mengunjungi kafe kecil di pusat kota—tempat yang pernah menjadi favoritnya sebelum menikah dengan Farel. Ia duduk di sudut, memesan kopi, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan.
“Apa kabar, Hana?” Sebuah suara familiar membuatnya menoleh. Di sana berdiri Arman, teman lamanya dari masa kuliah. Senyumnya hangat, seperti dulu.
“Arman! Aku baik, lama nggak ketemu,” jawab Hana, meski suaranya terdengar sedikit ragu.
Mereka berbincang lama, mengenang masa-masa muda yang penuh tawa dan kebahagiaan. Arman mendengarkan setiap kata Hana dengan tatapan yang tulus, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan dari Farel. Saat mereka berpisah, Arman berkata, “Kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada.”
Kata-kata itu terngiang di kepala Hana sepanjang perjalanan pulang. Ia tak pernah merasa seberharga itu selama bertahun-tahun menikah.
---
Malamnya, Farel pulang lebih awal. Hana yang sedang duduk di ruang tamu nyaris tak percaya.
“Kamu nggak keluar malam ini?” tanya Hana dengan nada datar.
Farel duduk di sofa, memijat pelipisnya. “Aku pikir aku perlu istirahat.”
Hana tersenyum kecil, meski hatinya terasa getir. Ia mencoba memulai pembicaraan, menceritakan tentang harinya di kafe, tetapi Farel hanya menanggapinya dengan gumaman singkat. Hingga akhirnya, Hana memberanikan diri bertanya.
“Farel, kenapa kamu berubah? Apa aku nggak cukup penting buat kamu?”
Farel terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa menatap Hana. “Hana, ini bukan soal kamu. Ini soal pekerjaan. Aku harus fokus pada perusahaan.”
“Tapi aku istrimu, Farel. Bukankah aku juga bagian dari hidupmu?” Hana tak bisa menahan nada suaranya yang mulai bergetar.
“Aku nggak punya waktu untuk drama ini,” jawab Farel dingin, sebelum bangkit dan pergi ke kamar.
Hana duduk terpaku. Air mata yang ia tahan akhirnya mengalir. Malam itu, ia sadar bahwa cinta mereka tak lagi sama. Hana hanyalah istri yang terjebak di dalam pernikahan yang indah di luar, tetapi kosong di dalam.
---
Hari-hari berikutnya, Hana mulai memikirkan kata-kata Arman. Apakah ia layak bertahan dalam hubungan yang membuatnya merasa sendirian? Atau mungkin, ia harus mulai mencari kebahagiaannya sendiri?
Pada akhirnya, Hana menyadari bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya sebagai bayangan di dunia orang lain. Ia mengemas barang-barangnya, meninggalkan surat singkat di meja kerja Farel, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
"Farel, aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Jika kamu tak bisa melihatku, aku memilih untuk menemukan tempat di mana aku terlihat."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Hana merasa bebas.
Selesai.