Langit kelabu memayungi kota, mengaburkan batas antara senja dan malam. Hujan yang turun sejak sore belum juga reda, membasahi jalanan yang lengang. Di dalam sebuah kedai kopi kecil di sudut kota, aku duduk sendirian di dekat jendela, ditemani secangkir cappuccino yang mulai mendingin. Aroma kopi dan suara gemericik hujan menjadi latar belakang sempurna untuk sebuah kenangan yang tiba-tiba menyeruak.
November selalu menjadi bulan yang sulit bagiku. Terlalu banyak kenangan yang tak bisa kuhindari, terutama kenangan tentang dia—mantan pacarku, Nadira.
Aku masih ingat kali pertama kami bertemu, juga di sebuah akhir November, lima tahun yang lalu. Hujan waktu itu tak jauh berbeda dengan hujan hari ini—lebat, dingin, dan penuh dengan aroma nostalgia yang anehnya justru baru terasa sekarang. Nadira, dengan mantel hujan kuningnya, berdiri di halte bus, mencoba melindungi buku-buku di pelukannya dari percikan air. Saat itulah aku menawarkan payung yang sebenarnya juga tak cukup besar untuk dua orang. Aku hanya berpikir, setidaknya aku bisa melindungi sebagian kecil dari dunianya yang tampak begitu rapuh.
“Aku suka hujan, tapi benci basah,” katanya waktu itu, sembari tersenyum. Aku hanya tertawa kecil, mencoba menahan gugup karena senyum itu membuat dunia seakan berhenti sesaat. Dari pertemuan sederhana itu, hubungan kami dimulai.
Aku menyesap kopiku perlahan, mencoba menghangatkan dada yang entah kenapa terasa dingin. Di luar, jalanan semakin sepi, hanya sesekali terlihat seseorang berlari kecil dengan payungnya, mencoba menghindari hujan yang semakin deras. Dalam bayanganku, Nadira muncul lagi, kali ini dengan rambut panjangnya yang basah terkena hujan. Aku teringat bagaimana dia selalu bilang bahwa hujan adalah simfoni alam, melodi yang mengingatkan kita pada perasaan-perasaan yang sering kita abaikan.
Setahun setelah pertemuan pertama itu, kami kembali ke halte yang sama untuk merayakan hari jadi kami. Nadira membawakanku sebuah buku puisi dengan pembatas berbentuk daun maple kering. Dia bilang, “Hujan itu seperti puisi. Tidak semua orang bisa menikmatinya, tapi kalau kamu tahu cara mendengar, kamu akan menemukan keindahannya.” Aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya waktu itu, tapi aku mengangguk saja, seperti seorang murid yang patuh pada gurunya. Begitulah Nadira, selalu memandang dunia dengan cara yang berbeda. Dia adalah angin lembut yang menyegarkan, tetapi sekaligus membawa gelisah yang samar.
Namun, seperti halnya hujan yang turun lalu reda, hubungan kami pun akhirnya harus berhenti. Aku masih ingat hari itu, sebuah sore di bulan November, seperti hari ini. Kami duduk di bangku taman, di bawah pohon yang daun-daunnya sudah hampir habis digugurkan angin. Nadira menatapku dengan mata cokelatnya yang penuh dengan rasa yang tak bisa kujelaskan. Dia menggenggam tanganku, lalu berkata, “Kita harus berhenti di sini.”
Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya menatapnya, mencoba mencari penjelasan di balik senyum pahit yang menghias wajahnya. “Kenapa?” tanyaku akhirnya, suaraku hampir berbisik.
“Aku ingin pergi,” jawabnya singkat. Nadira selalu seperti itu, tidak pernah bertele-tele. Dia hanya memberiku satu alasan yang bagiku terasa absurd saat itu—dia ingin mencari makna hidupnya sendiri, sesuatu yang tak bisa dia temukan jika tetap bersamaku. Aku ingin marah, ingin membujuknya untuk tinggal, tapi aku tahu itu hanya akan membuatnya semakin menjauh.
Hujan hari itu menjadi saksi perpisahan kami. Aku masih bisa mengingat betapa dinginnya angin yang menerpa wajahku saat dia pergi, berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Aku duduk di bangku itu selama berjam-jam, berharap dia akan kembali. Tapi dia tidak pernah kembali.
Aku meneguk sisa cappuccino yang kini sudah benar-benar dingin. Di luar, hujan masih turun, membasahi jalanan yang kini hanya diterangi lampu-lampu jalan. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyerang. Lima tahun telah berlalu sejak hari itu, tapi kenangan tentang Nadira tetap tinggal di sudut hatiku, seperti puisi yang tak pernah selesai ditulis.
Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia menemukan apa yang dia cari? Apakah dia masih mencintai hujan, atau mungkin dia sudah melupakan semuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung di benakku, tanpa jawaban.
Hujan di luar semakin deras, seperti menolak berhenti. Aku mengeluarkan ponselku, membuka galeri, dan mencari-cari foto lama. Foto terakhir kami bersama—aku dan Nadira di depan sebuah danau kecil, dengan latar belakang pepohonan yang mulai meranggas. Aku tersenyum pahit, menyadari betapa cepatnya waktu berlalu.
Di layar ponselku, notifikasi pesan muncul. Sebuah nama yang tak asing lagi: Nadira. Aku terdiam, membaca pesan singkat itu dengan hati yang berdebar.
“Hujan di akhir November selalu mengingatkanku padamu. Apa kabar?”
Jantungku seperti berhenti sejenak. Aku menatap pesan itu, tak tahu harus merespons apa. Di luar, hujan terus turun, membawa serta harapan dan keraguan yang entah kapan akan reda.