Senja berganti malam, namun Yulianti tetap di tempatnya, duduk dengan pandangan kosong ke jalanan di depan rumah. Di tangannya tergenggam sebuah kain kecil yang pernah dijahitkan Clara untuknya, menjadi saksi bisu kerinduan yang tak pernah terjawab.
“Kak, sekarang Hari Ibu. Menurut kakak, Mama bakal tetap nungguin Kak Clara?” tanya Tipa pelan, suaranya nyaris berbisik.
Intan terdiam, tidak segera menjawab. Tatapannya menerawang jauh, menembus kegelapan yang mulai menyelimuti. Pikiran tentang Clara dan janji-janjinya memenuhi benaknya. Dengan perasaan berat, ia mengeluarkan ponsel dari saku. Jemarinya gemetar saat mengetik pesan untuk kakaknya.
“Kak Clara, Mama nunggu. Hari ini Hari Ibu. Pulanglah, Kak, walau cuma sebentar.”
Pesan itu terkirim, tetapi tidak ada balasan. Berkali-kali Intan mencoba menelepon, namun selalu berakhir di kotak suara. Hatinya mulai gundah, tetapi ia tidak menunjukkan rasa cemasnya di depan sang ibu.
Hari semakin larut, dan Yulianti tetap tidak mau makan. Sejak pagi, ia hanya duduk menunggu. Bahkan ketika Intan dan Tipa memaksanya untuk menyuap sedikit makanan, ia hanya menggelengkan kepala.
“Kalau Clara pulang, Mama makan,” katanya lirih, membuat hati kedua anaknya mencelos.
Di ruang tamu yang redup oleh cahaya lampu minyak, suasana semakin muram. Intan dan Tipa saling berpandangan, mencoba mencari cara untuk menghibur ibu mereka. Namun, tak ada kata-kata yang mampu menghapus kesedihan yang begitu dalam.
“Tipa, coba kamu bantu aku cari tahu tentang Kak Clara. Siapa tahu dia lagi sibuk atau ada halangan,” ujar Intan pelan.
Tipa hanya mengangguk, meskipun dalam hatinya ia tahu itu hanya usaha sia-sia. Clara sudah lama tidak memberi kabar, bahkan sejak menikah dan tinggal bersama suaminya yang kaya raya. Keluarga mereka yang serba kekurangan tak pernah berani bertanya atau mengunjungi Clara, merasa tak punya hak untuk mencampuri kehidupannya yang kini jauh lebih baik.
Sementara itu, jauh di sebuah rumah sakit, Clara terbaring lemah. Wajahnya pucat, tubuhnya dipenuhi selang infus dan alat bantu pernapasan. Penyakit yang selama ini disembunyikannya kambuh dengan ganas, membuatnya tak berdaya. Air matanya jatuh pelan, membasahi bantal tempat ia bersandar.
“Seandainya aku bisa pulang,” gumamnya lemah. Di sampingnya, suaminya hanya bisa menggenggam tangannya dengan cemas.
“Aku akan menelepon keluargamu,” ujar suaminya, berusaha memberikan solusi.
Clara menggeleng pelan, hampir tidak bertenaga. “Jangan... Mereka akan semakin khawatir. Biarkan mereka berpikir aku sibuk...”
Suaminya terdiam, meski hatinya tidak setuju. Ia tahu, di kampung, keluarga Clara pasti berpikir yang buruk-buruk. Dan memang benar, di rumah, Yulianti mengira Clara malu pulang setelah menjadi orang kaya, lupa akan keluarga yang dulu membesarkannya dalam kemiskinan.
“Mama, ayo makan dulu. Kak Clara pasti pulang kok, nanti malam atau besok,” bujuk Intan, mencoba menyemangati ibunya meski ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.
“Dia bilang mau pulang, tapi dia tidak datang-datang,” gumam Yulianti pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Air matanya mulai mengalir, membuat Intan dan Tipa semakin sedih.
Hari berlalu dengan lambat. Malam semakin larut, tetapi Yulianti tetap duduk di tempatnya. Hatinya penuh dengan harapan yang rapuh, namun ia tidak ingin menyerah.Bagaimanapun, ia percaya bahwa Clara pasti punya alasan untuk tidak pulang.
Beberapa hari berlalu, dan keadaan Clara mulai membaik. Meski dokter menyarankan istirahat total, ia tetap memaksa untuk pulang ke kampung halaman.
“Aku harus bertemu Mama,” ujarnya penuh tekad kepada suaminya.
Dengan kondisi yang belum pulih sepenuhnya, Clara dan suaminya menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke kampung halaman. Meski Hari Ibu sudah berlalu, baginya tidak ada kata terlambat untuk menunjukkan cinta kepada sang ibu.
Ketika Clara akhirnya tiba di depan rumah mereka, malam sudah larut. Ia melangkah dengan pelan, didukung oleh suaminya. Di ruang tamu, Yulianti masih duduk di tempat yang sama, menatap ke luar jendela dengan mata sendu.
“Mama...” suara Clara lirih memecah keheningan.
Yulianti tersentak. Matanya membelalak tak percaya. “Clara? Clara, kamu pulang?”
Clara tersenyum meski wajahnya masih lemah. “Maaf, Ma. Aku pulang terlambat.”
Tangis Yulianti pecah. Ia memeluk putrinya dengan erat, seolah tak ingin melepaskan lagi. Semua kesedihan, rindu, dan salah paham seketika luruh dalam pelukan itu.
“Kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Yulianti sambil membelai wajah Clara.
Clara mengangguk pelan. “Aku baik, Ma. Aku rindu Mama...”
Hari Ibu yang sudah lewat kini terasa seperti hari yang istimewa. Bagi mereka, tidak ada momen yang lebih berharga selain kebersamaan, meski harus menunggu begitu lama.