*KETIKA RASA ITU PERNAH ADA...
hadir begitu saja,,tanpa aba- aba.
kau yang..memulai nya,
sedang aku hanya mengikuti alur nya..
hingga saat aku hanyut terlalu jauh,
dalam gelombang asmara mu..
kau melepaskan kayuh mu..hingga terombang ambing biduk ku arungi..tanpa nahkoda..
lalu,,hancur terhempas..dan terburai dalam arus yang sangat deras..
tak ada yang dapat ku rasakan selain sakit.
aku patah..aku hancur terbelah..*
Aku mengetuk- ngetuk kan ujung pulpen ku pada meja,,lalu menghela nafas panjang.
Kututup buku diary ku..lalu aku menunduk kan kepalaku pada meja tempat aku menulis..dengan tangan yang berlipat sebagai alas pada dahi ku.
rasa ingin menangis masih ada..
pedih dihati masih ku rasa
Ini masih terlalu pagi...
Seketika itu pula aku mengingat sesuatu yang seharusnya terlupakan saja di hidup ku...
Kejadian semalam begitu sangat memalukan.
hmmmm...aku menghela nafas,,,sembari duduk di tepi jendela kamar yang sengaja terbuka lebar,membiarkan angin pagi menembus malu di ruang sempit kamar ku.
lamunan ku terbang mengingat deretan kejadian semalam...
malam itu....
"des..pulang kerja ntar di jemput g?"
tanya tian padaku sepuluh menit menjelang pulang...
Tian adalah teman kantor ku yang setahun terakhir ini cukup dekat denganku..
Mungkin karena tian adalah sosok yang menurut ku adalah lelaki lembut ,perhatian dan menyenang kan.
Kami cukup dekat,hingga teman kantor pun sering beranggapan aku dan Tian memiliki hubungan pacaran.
pernah ada yang bertanya,,
"Desi dan Tian jadian ya??"
atau "Desi dan Tian pacaran kok gak ada pajak jadian nya"
bahkan sempat ada yang nanya,,
"Desi sama Tian kapan nih undangan nya di bagi?"
Semua pertanyaan- pertanyaan tersebut selalu kami tanggapi dengan senyum dan dibalas dengan candaan..
Sebenar nya rasa itu ada,,akan tetapi sengaja aku hindari..tak pernah kufikirkan,
mungkin Tian pun sama,,kami murni tak ada hubungan..
tapi sikap Tian selalu membuat ku berbunga- bunga..
perhatian nya,,sikap dan cara dia memandangku membuat aku selalu merasa seperti sedang di cintai.
Aku mengakui..bahwa aku sedang main hati..aku terbawa suasana yang diciptakan Tian..aku terbawa perasaan. dan terjebak dalan rasa cinta sendiri.
terkadang ingin sekali aku mengungkap nya..mengatakan nya dengan lantang..bahwa aku telah jatuh cinta.
Tetapi ada rasa takut,aku tak berani menerima kenyataan kalau ternyata Tian tak memiliki rasa apa-apa.
aku memilih untuk bungkam..memendam nya sedalam mungkin.bahkan aku telah melupakan nya.menganggap semua nya biasa- biasa saja.
Dan malam itu,, Tian begitu terlihat berbeda...
"Des,pulang ini di jemput gak??"
tanya Tian..
aku hanya menggeleng dan melanjut kan pekerjaan ku.
"Des...mau gak nemenin aku makan malam ini??"
tanya nya lagi.
aku masih tak menjawab...bingung dan bertanya- tanya..
"Des...aku nanya loch...kok diem aja??
kali ini Tian mendekatiku,menanti jawaban ku.
"tumben,,,"
Jwab ku ketus..
"ehmmm...ada yang mau aku bicarain..."
jawab nya lagi...kali ini dengan nada gugup.
Deggg..aku tersentak..seketika dada ku berdebar..
"oh...ya udah ga pa...mau kemana kita??"
jawab ku datar.
Malam itu,,,di tengah perjalanan aku kembali menanyakan perihal nya...namun tak da jawaban..
Tian tak mengeluarkan sepatah kata pun.
di sepanjang perjalanan kami sama- sama membisu dan kaku..tidak seperti biasa nya,yang selalu ada saja obrolan yang bisa kami diskusikan atau setidak nya saling melempar candaan.
Dengan sepeda motor nya kami melaju menembus angin malam menuju tempat yang dimaksut.
15 menit melaju,aku dan Tian tiba,
sepiring nasi goreng dan minuman ringan menemani kami malam itu..
"Eh,,,Tian mau ngomong apa..?"
ucap ku mengawali percakapan itu.
"Ehhhmmmmmmmmmm..."
terlihat sepertinya Tian sedang dalam gelisah.
aku menatap nya dengan bingung
"kamu kenapa??"
tanyaku sembari meneguk minuman di depan ku.
"Des...kamu tau kan,sekarang kondisi kantor semua berbicara tentang hubungan ini...??!"
"Hubungan apa...??"
Aku mengurungkan niat makan ku..seketika itu juga aku meletak kan kembali sendok yang telah terisi nasi dan hampir tiba di depan mulut ku.
"Des...aku mau kamu ju2r...aku mau tanya,,,sebenarnya hubungan kita ini apa..??!"
Ucapan Tian malam itu sentak membuat ku terdiam.
"Des..jawab??"
desak nya.
"Teman !!"
Jawabku sekenanya.
"Des,,,jawab denga ju2r...!!"
Tangan Tian tiba-tiba menggenggam kuat tangan ku dan menatap ku tajam...
Aku kaget...dan membalas tatapan itu.
"Tian...jujur...aku sayang kamu..dan aku ingin memiliki mu..."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan begitu lugas...tanpa rem dan sangat diluar dugaan ku.
Aku menunduk...malu sekali rasanya,dan sesekali ku coba untuk menatap mata itu..
Tatapan nya nanar...
"Des,,,,jujur ,,aku pun memiliki rasa yang sama...aku pun menyayangi mu..."
"aku nyaman bersama kamu"
"kamu baik,,lucu,,menyenangkan"
Senyum ku mengembang...seperti ada beban berat yang baru saja terlepas dari hatiku..
aku tak menyangka,,,cintaku tak bertepuk sebelah tangan..
aku membayang kan hari- hari akan sangat indah dan penuh semangat bersama Tian.
Tak kan ada malu- malu lagi ketika teman- teman menyindir kedekatan kami.
"Tapi des,,,aku minta maaf...,"
ucapan Tian membuatku bertanya- tanya.
ada apa??
firasat ku mendadak tidak enak.
hati ku berdebar.
aku menatap nya menunggu kelanjutan ucapan nya.
"Aku tidak bisa meninggalkan dinda,,,"
bagai petir yang menyambar...
senyum ku terhenti..berganti air mata.
tangis ku tumpah....aku gamang...hancur dan tak mampu berfikir lagi...
Dinda adalah kekasih nya yang pernah dia ceritakan kepada ku..
yang tak pernah ada kabar lagi setelah memutuskan untuk melanjut kan kuliah di luar kota.
aku fikir,,hubungan mereka telah usai..ternyata tidak..
"oh tuhan..betapa bodoh nya diriku.."
aku bergumam dalam hati sembari menutup muka ku dengan kedua telapak tangan ku
"kenapa harus ada kejujuran ini.."
aku mengutuk diriku sendiri.
Aku kembali memandang Tian..kali ini dengan sisa air mata yang telah ku seka.
"Lalu apa smua ni Tian..??..kenapa kau paksa aku untuk mengakui semua yang tak bisa kau mengerti...."
isak ku padanya
"Kenapa kau memaksa ku untuk jujur??"
"kenapa??"
"Des...tolong mengerti aku,,,aku tak bisa meninggalkan dinda..."
Tian mencoba meraih tangan ku,,
"Maaf kan aku..."
Tian memelas..
Aku menarik tangan ku,,lalu mengusap lagi air mata yang kembali terburai..
"Tian...terimakasih untuk malam yang telah kau ciptakan...ini benar- benar kejutan yang luar biasa"
"jauh dari perkiraan ku..sungguh malam yang memalukan untuk seorang perempuan...."
Tian mencoba menenangkan ku..dia meraih pundak ku.
aku beranjak dari tempat duduk ku.
lagi-lagi menyeka air mata yang seolah enggan berhenti.
"dan sungguh..aku tak ingin mengingat malam ini lagi..terlebih kamu...."
ucap terakhir ku pada tian...dan berlari...meninggal kan nya yg masih duduk terdiam...
****