Langit senja terbakar jingga, memantulkan keremangan ke setiap sudut desa kecil yang tenang.
Aku duduk di beranda rumah, memandang siluet seorang pria yang berdiri tegap di bawah pohon tua di halaman.
Itu ayahku, dengan tubuh yang mulai membungkuk oleh waktu, tetapi sorot matanya masih menyimpan keteguhan yang sama seperti dulu.
Aku teringat masa kecilku, masa di mana aku berlari-lari kecil mengejar punggungnya di ladang.
Punggung itu tegap, membawa harapan yang tak pernah ia ucapkan, tetapi kurasakan dalam setiap tetes keringat yang membasahi bajunya. Ia tak pernah banyak bicara, tetapi setiap tindakannya adalah puisi diam yang penuh makna.
“Ayah, kenapa kau selalu pulang terlambat?” tanyaku suatu hari dengan nada kekanakan.
Ia tersenyum, lalu mengelus kepalaku. “Karena ayah ingin kau tak pernah merasa lapar.”
Aku tak mengerti waktu itu. Bagiku, dunia hanyalah tempat bermain, sementara ayah adalah seseorang yang selalu ada tanpa pernah kutahu seberapa keras ia berjuang agar aku tetap merasa nyaman.
Hari demi hari berlalu, aku tumbuh besar, dan jarak di antara kami semakin melebar. Aku memilih mengejar mimpi jauh dari rumah, sementara ia tetap di sini, menjaga tanah yang sama, menyiram pohon-pohon yang ia tanam dengan harapan sunyi.
Dalam surat-suratnya yang jarang kuterima, tak pernah ada keluhan, hanya doa yang ia tulis dengan kata-kata sederhana.
“Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan, Nak.”
Kini, aku kembali ke rumah setelah bertahun-tahun. Rambutnya telah memutih, kerutan di wajahnya semakin dalam.
Tetapi saat aku melihatnya berdiri di bawah pohon itu, bayangan masa kecilku seakan hadir kembali. Aku mendekatinya perlahan, langkahku terasa berat oleh penyesalan yang tak terucapkan.
“Ayah…”
Ia menoleh, tersenyum seperti dulu. Senyum itu hangat, tak pernah berubah.
“Kau sudah pulang,” katanya pelan, suaranya bergetar seperti daun yang ditiup angin.
Aku tak mampu menahan air mata. “Maaf, Ayah. Aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menengok ke belakang.”
Ia hanya mengangguk, seolah memaafkanku tanpa perlu mendengar alasan.
“Ayah selalu di sini,” katanya, memandang ladang yang mulai gelap. “Biar pun dunia mengejarmu, rumah ini tetap tempatmu kembali.”
Aku memeluknya, pelukan yang selama ini selalu kutahan, karena egoku, karena kesibukanku. Dalam keheningan itu, aku merasakan keteguhan yang sama seperti dulu, meskipun tubuhnya kini rapuh.
Langit senja semakin gelap, tapi hatiku terang. Aku tahu, di setiap bayangan yang ditinggalkan matahari, ada seorang ayah yang tak pernah lelah menjadi tempat berlindung, meski tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.