Langit sore berwarna jingga, seolah Tuhan sedang melukis rindu di atas kanvas cakrawala. Aku berjalan perlahan di jalan kecil menuju rumah, membawa hati yang penuh beban, menembus aroma tanah basah setelah hujan. Di sepanjang perjalanan, bayangan wajahnya memenuhi pikiranku, wajah yang selalu kutinggalkan, tetapi tak pernah meninggalkan hatiku.
Ibu.
Dulu, aku berpikir bahwa dunia di luar sana lebih besar dari pelukanmu. Aku meninggalkan rumah dengan harapan mengejar impian, membawa keyakinan bahwa aku bisa berdiri sendiri.
Namun, dalam hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, aku justru merasa kehilangan. Dunia ini luas, tetapi terasa kosong. Tiap kali malam tiba dan kesunyian menggema, hatiku berteriak memanggil namamu, memohon kehangatan yang dulu begitu dekat, namun kini terasa jauh.
Aku teringat tanganmu yang kasar namun lembut, membelai rambutku saat aku kecil. Tangan yang sama yang membawakan makanan ke meja, membersihkan rumah, dan menenangkanku dari tangis tanpa alasan.
Ibu, betapa aku merindukan saat-saat sederhana itu, saat aku menjadi duniamu, dan kau menjadi segalanya bagiku.
Setiap langkahku membawa aku semakin dekat ke rumah kecil yang dulu aku anggap terlalu sempit untuk mimpiku. Kini, rumah itu seperti mercusuar, memanggilku untuk kembali pulang.
Aku melihatmu di depan pintu, berdiri dengan kain lusuh yang biasa kau kenakan. Wajahmu tak lagi secerah dulu, tapi sorot matamu masih sama, hangat dan penuh cinta.
“Ibu…” suaraku bergetar, terhenti di tenggorokan.
Kau tersenyum, senyum yang selalu menjadi tempatku pulang. “Kamu lapar, Nak? Ibu sudah masak makanan kesukaanmu.”
Air mata jatuh tanpa permisi. Dalam kesederhanaan itu, aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini menghantui. Kebahagiaan ternyata bukan di luar sana, bukan dalam keberhasilan atau harta yang aku kejar mati-matian.
Kebahagiaan adalah pulang ke pelukan ibu, ke tempat di mana cinta tak pernah meminta syarat.
Di meja makan, aku duduk di hadapannya.
Tangannya gemetar saat menyajikan makanan, tetapi senyumnya tak pernah pudar. Aku menatap kerutan di wajahnya, setiap garis adalah cerita tentang pengorbanan yang ia lakukan untukku.
“Ibu, maafkan aku,” bisikku.
Ia terdiam, lalu menggeleng lembut. “Kamu pulang, itu sudah cukup.”
Saat malam tiba, aku berbaring di kamar yang dulu menjadi tempatku bermimpi tentang dunia besar. Tapi malam ini, aku tak ingin pergi ke mana-mana.
Dunia besarku ternyata adalah di sini, bersama ibu.
Di luar, angin berbisik lembut, seolah mengucapkan selamat datang. Dan aku, untuk pertama kalinya, merasa utuh kembali.