Esmeralda Scott seorang gadis asal Alaska yang harus pindah ke Eropa, karena masalah hak asuh dirinya. Disana ia dipertemukan kembali dengan ayah kandungnya yang telah bercerai dengan ibunya sewaktu ia masih kecil.
***
Tepat di bulan Desember, kota Bern, Swiss salju mulai menutupi kota. Esmeralda yang sedang berada di halte bus kembali mengeratkan sweater di tubuhnya. Ia melirik kanan kiri berharap bus segera tiba di halte itu.
Dan beberapa kali ia mendesah kecewa lantaran bus yang ia tunggu-tunggu tak kunjung menampakan diri,
"Mungkin sebentar lagi akan turun badai salju!" Batinnya sambil melirik ke atas yang dipenuhi salju putih yang bertebaran. Esmeralda menurunkan pandangannya, menatap mobil yang berhenti di hadapannya disusul seorang pria separuh baya yang keluar dari mobil tersebut,
"Seharusnya kau menelpon ayah untuk dijemput daripada kedinginan di luar sini!" Ujar Alan yang merupakan ayah kandung Esmeralda,
"Aku pikir ayah sedang sibuk mengurus pasien ayah, makanya aku tidak menelpon lagi pula bus sebentar lagi akan datang" sahut Esmeralda, "tapi bukan berati kau tidak boleh menelpon ayah, atau kau bisa menelpon kakakmu untuk minta jemput!" Balas Alan,
Esmeralda mendiam tak menyahut dan memilih masuk kedalam mobil, Alan hanya bisa menipiskan bibirnya melihat reaksi putrinya ketika membahas sang kakak tiri.
Setelah melewati perjalanan yang dipenuhi kecanggungan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah mansion.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Setelah mengakhiri pembicaraannya ditelpon, Alan menatap lurus Esmeralda yang baru turun dari mobil, "Esmeralda, ayah--"
"Pergilah!" Potong Esmeralda yang langsung berlari masuk ke dalam mansion, Alan menatap lekat kepergian Esmeralda rasa sesak muncul didadanya, "tidak, aku tidak boleh merasakan kesedihan! Kesedihannya membuatku menjadi lemah" Ia kembali menatap mansionnya dan pergi begitu saja.
San tanpa disadari Alan, sedari tadi Esmeralda yang sedang menatap luar balkon, ia hanya diam menatap mobil yang perlahan menjauh dan tak terlihat lagi, "kau bodoh berharap dia tidak pergi!" Gumam Esmeralda.
Malam harinya, Esmeralda yang tidak bisa tidur karena suara aneh yang berasal dari luar balkonnya, dengan perasaan was-was ketika ia sudah berada didekat pintu balkon, Esmeralda menarik nafas dengan gerakan cepat ia membuka pintu balkon,
Esmeralda begitu terkejut ketika mendapati yang berada di depan pintu balkonnya adalah seorang lelaki yang dalam keadaan kacau belum lagi beberapa luka yang mengeluarkan banyak darah.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Esmeralda dengan khawatir, karena tidak sahutan membuat Esmeralda semakin panik, ia ingin pergi meminta pertolongan namun tangannya langsung dicekal lelaki itu.
"Aku.. mo.. hon to.. long aku" ujar lelaki itu dengan tersendat-sendat.
"Iya, akan kupangggilan seseorang. Tunggu disini!" Ketika Esmeralda ingin pergi, lagi-lagi tangannya kembali di tahan lelaki itu.
"Ak.. u han..ya bu.. tuh darah"
Esmeralda menatap bingung, hingga ia sadar bahwa lelaki di hadapannya ini seorang Vampire. Dilihat dari warna iris matanya yang merah menyala dan taring yang muncul dimulutnya.
Esmeralda mengigit bibirnya, ia bingung harus bagaimana hingga ia memantapkan dirinya dan menjongkokkan tubuhnya di hadapan lelaki itu, perlahan ia menyodorkan lehernya kemulut lelaki itu.
Tanpa diduga lelaki itu malah memeluknya, perasaan aneh dirasakan Esmeralda, ia merasa seperti pasangan mesum apalagi endusan yang diberikan lelaki itu membuatnya geli.
Tak beberapa kemudian rasa geli itu berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun, dan perlahan pula rasa pusing menghantam kepala Esmeralda sampai kegelapan merengut kesadarannya.
***
Sebuah sinar mentari perlahan mulai mengusik tidur Esmeralda, ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dan baru ia sadar kalau ia sepanjang malam berada di balkon. Dan baru ia sadari juga bahwa ada lelaki tadi malam diatas tubuhnya.
Esmeralda terlihat bingung dalam hati ia berkata, "kenapa lelaki itu baik-baik saja terkena sinar matahari? Bukannya Vampire itu takut cahaya?" Ia menggelengkan kepalanya bingung.
Perlahan ia menyingkirkan tubuh lelaki itu dari atasnya, karena tidak tega membiarkan lelaki itu diluar ia berusaha mengangkat tubuh lelaki itu dan meletakannya perlahan di kasurnya.
Ketika Esmeralda teringat luka yang ada ditubuh lelaki itu, ia segera mengambil kotak P3K-nya, ia semakin heran ketika melihat luka yang ada ditubuh lelaki itu sudah sembuh tanpa jejak sedikitpun.
"Apa karena meminum darahku lukanya langsung sembuh? Atau dia setengah Vampire? Atau dia-- ehh tunggu bukannya dia meminum darahku. Apa aku akan berubah menjadi Vampire juga?"
Tak mau ambil pusing Esmeralda langsung membuka laptopnya dan mencari beberapa artikel tentang Vampire, "kenapa disini tertulis Vampire takut cahaya? Tapi lelaki tadi baik-baik saja terkena cahaya" tanya Esmeralda heran,
"Itu karena apa yang kalian tulis tentang kami tidaklah benar!"
Esmeralda terkejut, ketika mengetahui bahwa lelaki tadi sudah sadar, "kapan kau sadar?"
"Baru saja!"
Esmeralda kembali memasang sikap was-was, karena ia yakin lelaki dihadapannya ini pasti akan bertindak macam-macam.
"Tenanglah, aku tidak mungkin akan membunuh orang yang sudah menyelamatkan hidupku!" Ujar lelaki itu seperti tau apa yang dipikirkan Esmeralda. "Siapa namamu?",
"Sean.. Sean Hernandez, kau?"
"Esmeralda Scott!"
***
Suasana meja makan hening, tidak ada yang berusaha mencairkan suasana hingga Belinda--ibu tiri Esmeralda memecahkan suasana, "Esmeralda, ada apa dengan lehermu?"
Semua orang langsung menatap kearah Esmeralda, "hanya luka kecil" sahut Esmeralda.
"Apa tadi malam ada seseorang yang masuk kekamarmu?" Tanya Ansell--kakak tiri Esmeralda,
"Tidak ada!"
Tanpa disadari Esmeralda, sedari tadi Alan menatapnya dengan penuh kecurigaan, "apa itu gigitan Vampire? Dan apa yang Es sembunyikan?" Batin Alan yang terus mengawasi gerak-gerik Esmeralda,
Setelah sesi sarapan pagi, Esmeralda segera berangkat ke kampusnya. Dikampusnya ia termasuk kedalam mahasiswi yang berprestasi tapi terlalu penyendiri.
Esmeralda memang tidak pandai berteman makanya ia lebih memilih mengasingkan diri dari teman-teman sekelasnya.
Ketika waktu istirahat makan siang, seperti biasa Esmeralda pergi menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku di perpustakaan kampusnya, suasana perpustakaan yang sunyi dan tenang membuatnya selalu betah berada disana.
"Aku tidak tau kalau kau juga berada dikampus ini!"
Esmeralda sedikitpun tidak berniat menoleh kebelakang, karena ia tau siapa pemilik suara itu, ya.. Sean Hernandez!.
"Bukannya aku sudah mengatakan akan tutup mulut akan kejadian semalam! Kenapa kau masih ingin mengawasiku?" Tanya Esmeralda,
"Sudah kubilang aku harus aku harus mengawasimu demi menjaga identitasku sebagai Vampire!"
Esmeralda mengangkat sebelah alis dan bertanya sekali lagi, "kalau kau takut rahasiamu terbongkar, kenapa kau meminta darah padaku? Dan kenapa kau malah berada dibalkonku?"
Sean tampak bingung menjawab apa, "kejadian semalam hanya ada sedikit kesalahan saja, lagipula kenapa kau dengan mudah memberikan darahmu padaku?"
"Itu juga ada sedikit kesalahan" balas Esmeralda.
Suasana langsung menjadi canggung keduanya diam membisu,
"Terima kasih atas apa yang kau lakukan tadi malam! Sebenarnya tadi malam aku diserang oleh sekawanan Vampire evol yang menginginkan darahku dan aku berusaha menghindari Dr. Evol, makanya terluka parah…
Aku tidak tau kenapa aku malah berlari kearah balkonmu!" Jelas Sean menarik perhatian Esmeralda, "kenapa Vampire menyerangmu? Bukanya kalian satu jenis kenapa saling menyerang?"
"Kami berbeda dengan Vampire evol!"
Esmeralda sedikit bingung, "apa itu Vampire evol?"
"Itu adalah Vampire yang berevolusi, mereka lebih kuat daripada Vampire berdarah murni sepertiku tapi mereka agak sedikit lemah ketika malam bulan purnama. Dan agar bisa menciptakan Vampire evol membutuhkan serum yang terbuat dari darah Vampire murni yang disebut serum VO3!...
Dan serum itu hanya bisa dibuat oleh Dr. Evol. Makanya Vampire berdarah murni harus bersembunyi demi mempertahankan kehidupan mereka!" Ujar Sean.
Dan Esmeralda akhirnya paham, ia sungguh berasa Dr. Evol yang disebutkan tadi sangatlah kejam. Hanya demi serum ia membunuh Vampire tidak bersalah, "apa Vampire evol itu berasal dari manusia biasa?"
Sean mengangguki perkataan Esmeralda dan berkata, "Vampire evol memang berasal dari manusia bisa yang berambisi memiliki kekuatan layaknya Vampire makanya mereka bisa bertahan lebih lama dibawah sinar matahari!"
"Tunggu Vampire lain tidak bisa terkena sinar matahari tapi kenapa kau bisa?"
"Mereka juga bisa terkena sinar matahari tapi tidak boleh lama, ibaratnya Vampire murni hanya bisa bertahan satu jam sedangkan Vampire evol lima jam, paham"
***
Setelah pulang kampus, Esmeralda terus memikirkan perkataan Sean tentang Vampire murni dan Vampire evol, "siapa sebenarnya Dr. Evol? Kenapa dia memiliki ide untuk membuat manusia menjadi Vampire?"
Karena terlalu larut dalam pikirannya tanpa sadar seseorang sedari tadi mengawasi Esmeralda.
"Permisi, apa anda Esmeralda Scott?"
Esmeralda menoleh kebelakang, "iya, itu saya! Ada apa?"
"Perkenalkan nama saya Aldera Smith! Saya ingin meminta sedikit bantuan dari anda!"
Esmeralda menatap waspada, "maaf saya tidak bisa membantu anda!", ketika Esmeralda ingin pergi, perempuan bernama Aldera itu kembali berkata, "bukankah luka dileher anda itu bekas gigitan Vampire berdarah murni!"
Esmeralda menghentikan langkahnya dan berbalik lagi menatap Aldera, "Who are you?"
Esmeralda terus mengawasi gerak-gerik Aldera yang santai dengan coffe-nya, "kau tidak perlu sewaspada itu padaku!" Ujar Aldera yang risih dengan tatapan Esmeralda, namun tak dihiraukan Esmeralda perkataannya.
Aldera menghela nafasnya, "baiklah.. saatnya kita serius! Aku seorang Vampire hybrid atau Vampire campuran yang selalu mengawasi Vampire berdarah murni untuk tidak menyakiti manusia, namun sepuluh tahunnya lalu kami sangat sulit menemukan keberadaan Vampire berdarah murni,
Setelah kami cari tau, rupanya ada organisasi manusia yang memburu para Vampire berdarah murni. Mereka akan mengambil darah para Vampire itu untuk dijadikan serum yang dinamakan serum VO3, untuk melindungi para Vampire berdarah murni kami berusaha mencari tau siapa identitas Dr. Evol, kami menemukan markas mereka dan kami mendapatkan Fotomu di laboratorium Dr. Evol!"
Esmeralda bingung, mendadak kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan, yang pertama kenapa ada fotonya di laboratorium Dr. Evol? Kedua siapa sebenarnya Dr. Evol? Ketiga kenapa harus dirinya yang berurusan dengan monster itu?
Ia merasa kepalanya ingin pecah memikirkan hal ini, "jadi kau berpikir aku tau siapa Dr. Evol itu!", Aldera mengangguk sebagai jawaban,
"Sayang aku juga tidak tau tentang identitas Dr. Evol!" Ujar Esmeralda.
"Itu aneh, jika Dr. Evol tau siapa dirimu kenapa kau tidak tau siapa dirinya! Tunggu apa kau baru pulang kesini atau kau baru selesai sekolah jauh seperti itu?"
"Untuk pertanyaan apa aku baru pulang kesini, itu benar lebih tepatnya aku baru pulang beberapa minggu yang lalu setelah sembilan tahun berpisah dengan ayahku"
"Itu berati ad--"
Esmeralda mengangkat sebelah alis, dan turut menoleh kebelakang dimana arah pandang Aldera, namun tidak menemukan siapapun, "sia--"
"Sebaiknya aku pergi sekarang! Dan kau terus lari jangan menoleh kebelakang sedikitpun" Esmeralda masih diam ditempat lalu ia melirik kebelakang lagi dan tidak ada siapapun.
"Kenapa baru sekarang aku merasa diawasi!" Batin Esmeralda beranjak pergi.
***
Tak terasa satu bulan semenjak Esmeralda berbicara dengan Aldera dan hampir satu bulan juga ia tidak melihat batang hidung Sean. Tiga hari setelah ia bicara dengan Aldera, Sean datang ke kamar Esmeralda dan mengatakan semua tidak akan normal lagi.
Yang membuat Esmeralda bingung adalah apa yang dimaksud Sean? Ia merasa hidupnya normal-normal saja.
Malam harinya, Esmeralda kembali tidak bisa tidur. Perlahan-lahan ia menuruni tangga ingin ke dapur, ketika ia hampir sampai di dapur Esmeralda mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap.
"Dokter, kita harus segera melakukan tes padanya!"
Esmeralda tidak tau apa arah bicara dua orang itu tapi yang ia yakini salah satu orang yang sedang bercakap-cakap itu adalah ayahnya.
"Kau pikir aku mau melukai putriku hah! Tidak sampai kapanpun tidak sudah cukup aku mengorbankan diriku untuk serum ini, paham!"
"Tapi Dok, Esmeralda pernah digigit Vampire berdarah murni itu, ditambah lagi dia seorang Vampire hybrid yang langka sangat disayangkan jika kita tidak menggunakannya!"
Kaki Esmeralda mendadak lemas tak bertenaga, "apa Vampire hybrid, Aku? Tidak mungkin. Tidak mungkin aku seorang Vampire!" Ia masih tidak bisa mempercayai pendengarannya.
Ia segera bersembunyi dibalik tembok ketika dua orang itu keluar dari ruangan tersebut. Perlahan ia membuka pintu ruangan itu, Esmeralda sungguh tidak menyangka jika ayahnya lah Dr. Evol itu. Bagaimana tidak, dirungan itu tersusun begitu banyak serum yang dan sempel darah yang entahlah milik siapa.
Ketika sibuk menulusuri ruangan tersebut, mata Esmeralda langsung terpaku pada satu amplop yang berada dimeja kerja tersebut. Perlahan ia membuka amplop tersebut dan matanya membulat sempurna,
Isi amplop tersebut merupakan hasil tes darah milik ibunya yang merupakan seorang Vampire hybrid yang langka.
Air mata tidak bisa dibendung lagi, ia kembali mengingat bagaimana setiap malam ayah dan ibu yang sering bertengkar yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Jadi kau sudah mengetahuinya!"
Esmeralda mengangkat wajahnya menatap Ansell sang kakak tiri yang berdiri didepan pintu, "apa kau juga mengetahui hal ini?" Tanya Esmeralda menghapus air matanya,
Ansell hanya membalas dengan anggukan, sedangkan Esmeralda tidak tau harus bagaimana fakta yang menyakitkan ini membuatnya tak bisa berpikir lagi.
"Apa Dr. Evol adalah ayah?" Tanya Esmeralda lagi, Ansell tidak membalas yang bisa ditebak bahwa jawabannya 'iya'.
Esmeralda meremas kuat dadanya yang sakit seperti diremas oleh ribuan tangan, "kenapa ayah melakukan hal gila seperti itu dan apa alasan ayah menjadi pemburu Vampire dan-- dan"
Ansell merasa iba melihat betapa hancurnya Esmeralda, walaupun mereka bukan saudara kandung, Ansell membekap tubuh Esmeralda membiarkan gadis itu menangis menumpahkan seluruh rasa sakitnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Esmeralda mulai merasa tenang namun ia masih terlalu shock, apalagi ketika ia mengetahui alasan kenapa ayah dan ibunya bercerai.
"Apa kau merasa baik sekarang?" Tanya Ansell yang khawatir.
"Emm.. baik sekarang" Ansell tersenyum mendengar balasan dari Esmeralda, jujur Ansell baru kali ini bisa bicara panjang lebar dengan Esmeralda yang biasanya selalu menjauhinya.
"Ansell, apa kau tau dimana laboratoriumnya?"
"Laboratorium, ada dipinggiran kota. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin kesana"
Ansell menatap tidak percaya, "apa kau ingin dibunuh ayah? Kau tau kau itu Vampire hybrid jika mereka menangkapmu maka para Vampire evol itu semakin kuat!"
"Ayah tidak akan membunuhku! Lagipula aku ingin menyelamatkan seseorang!"
***
Dipinggiran kota Bern, di dalam hutan yang lebat terdapat sebuah gedung yang terbengkalai. Di dalam gedung tersebut terdapat banyak sell yang mengurung para Vampire berdarah murni.
Termasuk Sean yang dalam keadaan yang menyedihkan, ia hampir kehabisan darah ditambah luka-luka yang ia dapatkan ketika ingin melarikan diri.
Sean menyandarkan tubuhnya di dinding yang begitu dingin, setiap ia memejamkan matanya bayangan tentang Esmeralda muncul dikepalanya. Sean mentertawakan takdirnya yang jatuh cinta pada seorang gadis yang rupanya ayahnyalah yang membunuh para kawanannya.
Ya.. Sean sudah tau siapa sebenarnya Dr. Evol.
Bahkan Sean merasa bingung kenapa ia malah jatuh cinta pada gadis yang dengan sukarela memberikan darahnya kepada seorang Vampire yang tidak ia kenal.
Pertemuan singkat antara dirinya dan Esmeralda tidaklah berakhir pada sebuah perpisahan, bahkan jika boleh jujur Sean kini sedang merindukan rasa darah Esmeralda bahkan ia berharap Esmeralda sekali lagi menyelamatkan dirinya.
"Bagaimana rasa berada di dalam sana, Sean?"
Sean melirik kearah jendela kecil yang menampilkan seorang Vampire evol yang dulunya musuh Sean, "menyenangkan sekali, Hector. Apa kau mau bergabung?"
Lelaki bernama Hector itu langsung menggeram, "aku ingatkan Sean, kau itu hanya Vampire yang lemah bahkan sekarangpun aku bisa saja membunuhmu!" Ancam Hector yang memperlihatkan kuku runcingnya.
"Bunuhlah jika kau mampu!" Balas Sean demgan nada mengejek. Hector semakin geram dengan nada bicara Sean yang seakan-akan mengejeknya, "kau-- akhh!"
"Jadi memang benar jika langsung ditusuk kejantung lebih efektif!"
Sean terkejut melihat Esmeralda yang berada di depan pintu sellnya dengan sebuah busur ditangannya, "jadi kau memang betah di dalam sana?"
"Kenapa kau ada disini?"
Esmeralda mengangkat bahunya, "mungkin hanya mencek sebentar apa dugaanku benar kalau kau ada disini!"
"Lagi pula aku harus bertanggung jawab mengenai dirimu, bukan" sambung Esmeralda yang berada didepan Sean sekarang.
"Ap--"
"Minum darahku sekarang!"
Sean menelan saliva melihat sebuah pergelangan tangan dihadapannya. Rasanya seluruh jiwa Vampirenya memberontak ingin segera mencicipi hidangan yang ada didepan matanya.
"Apa yang kau lakukan?" Ujar Sean yang menyingkirkan pergelangan tangan Esmeralda.
"Jika kau tidak meminumnya maka kau akan mati kehausan walaupun meminum ribuan darah manusia!"
"Tunggu jangan bilang kau--"
"Vampire hybrid!"
***
Alan mondar-mandir diruangannya, ia bingung siapa yang membunuh Vampire evol-nya. Ia kembali menatap sebuah anak panah yang ditemukan menusuk setiap jantung Vampire ciptaannya.
Esmeralda
Setelah menatap begitu anak panah itu, nama 'Esmeralda' muncul dibenaknya, Alan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,
"Taro, periksa kamar Esmeralda. Apa dia ada di dalam kamarnya atau tidak?"
"Baik Tuan!"
Alan kembali menatap anak panah itu hingga handphonenya bergetar,
"Tuan tidak ada nona Esmeralda dikamarnya, begitu juga tuan Ansell!"
Alan langsung menggepak meja, "tutup seluruh pintu sekarang!"
Ditempat lain Esmeralda dan Sean masih berusaha menemukan jalan keluar hingga suara alarm gedung berbunyi, "sepertinya mereka menyadari keberadaan kita sekarang" ujar Sean yang melirik waspada.
"Itu mereka!"
Sean dengan cepat menarik tangan Esmeralda dan berlari, setelah merasa cukup aman mereka berdua memilih bersembunyi disebuah dinding.
"Sean apa kau tau dimana ruangan Dr. Evol?" Sean mengangguk dan bertanya kenapa.
"Kita akan kesana, ada yang harus kulakukan!"
"Kau tau itu terlalu berbahaya! Ditambah anak panahmu hanya tersisa lima dan peluruku hanya tersisa sepuluh, entah kita beruntung tidak dapat melawan Vampire evol yang menjaga ruangan itu!"
"Kurasa lima anak panah cukup dan jangan kau pikir aku hanya bisa menggunakan panah!" Ujar Esmeralda sambil menunjukan sebuah senjata,
"Sejak kapan kau punya pedang itu!"
Ditempat lain Alan terus mengetuk-getukan jarinya meja kayunya sambil berpikir sampai pintu ruangannya didobrak hingga hancur.
"Rupanya memang benar kau masih ada disini, Mr. Scott!"
Alan menyipitkan matanya dan berkata, "dimana Esmeralda?"
"Rupanya kau sudah mengetahuinya kalau putrimu juga turut adil dalam hal ini"
"Katakan di--"
Alan langsung menghindar ketika sebuah anak panah melesat hampir mengenainya, "udahku duga, ayah berbeda dari Vampire evol lainnya" ucap Esmeralda yang baru masuk.
"Jadi kau sudah mengetahuinya!"
"Kurasa aku memang berhak mengetahui segalanya" setelah mengatakan itu, tiba-tiba muncul pasukan yang bersenjata lengkap mengepung Alan, "apa-apaan ini?"
"Ayah tau, kalau para Vampire hybrid memiliki koneksi khusus di kepolisian"
"Itu berati An--"
"Aku memang terlibat dalam hal ini, ayah!" Ansell tiba-tiba muncul dibelakang Alan dan langsung menyuntik sesuatu ke Alan,
"Ap--"
"Kurasa sudah saatnya ayah kembali menjadi manusia lagi" tubuh Alan langsung jatuh kelantai dengan mulut yang dipenuhi busa.
Ketika mereka keluar dari gedung tersebut, Aldera yang sudah berada disana langsung memeluk Esmeralda, "sudahku duga kau pasti akan membantu kami!"
"Hey.. aku tidak sendirian, Sean dan kakakku juga membantu, bukan begitu?"
Ansell menatap Esmeralda, "kau bilang tadi kakak?"
Esmeralda mengangguk, "bukankah kau itu kakakku, kita satu ibu, bukan?"
Ansell merasa terharu, ia langsung memeluk tubuh Esmeralda dan dibalas oleh Esmeralda perlukan tersebut.
Adegan mengharukan itu terpaksa berhenti di karena deheman Aldera, "sekarang mari kita fokus pada masalah berikutnya!"
***
Ansell tiba-tiba memukul meja dengan keras hingga menciptakan suara yang nyaring, "tidak mungkin, Esmeralda katakan padaku apa benar kau sudah pernah digigit lelaki satu ini!" Ujar Ansell sambil menunjuk wajah Sean.
Ansell sungguh tidak bisa lagi mengendalikan emosinya sekarang, mendengar penjelasan Aldera membuat hatinya terasa terbakar.
Sedangkan Esmeralda menggaruk tekuknya dan berkata, "iya, tapi bukankah itu bukan masalah yang besar!"
"Bukan masalah besar, katamu!"
Aldera menggeleng kepalanya melihat kelakuan dua kakak beradik itu yang sama-sama keras kepala dan Sean memilih diam dan mendengarkan saja.
"Apa kalian sudah selesai beradu argumennya? Kalian bahkan sudah mirip dengan Tom and Jerry saja! Sama-sama tidak mau mengalah dan keras kepala" sindir Aldera langsung dapat tatapan dari berdua beradik itu.
"DIAM KAU!" Teriak mereka berdua bersamaan.
"Memangnya apa masalahnya, aku kan hanya perlu memberikan darahku kepada Sean jika ia membutuhkan, itu bukan masalah bagiku!"
"Justru itu masalahnya, Esmeralda! Seorang Vampire hybrid yang memberikan darahnya kepada Vampire berdarah murni, maka ia akan terikat dalam sebuah hubungan!" Jelas Ansell dengan berapi-api,
"Ibaratnya kalian sekarang sudah terikat pernikahan secara hukum alam, jadi tugasmu bukan hanya memberikan darah pada Sean, tapi juga sebagai pendamping hidup Sean!" Sambung Aldera, membuat Esmeralda terkejut,
"Itu berati…"
"Kau milikku, Esmeralda!"
***
After three months later…
Musim semi telah tiba di kota Bern, Swiss. Tak terasa tiga bulan sudah semanjak terbongkarnya kasus Dr. Evol, para Vampire evol diberikan serum khusus untuk kembali menjadi manusia.
Dan selama tiga bulan hubungan Esmeralda dan Ansell menguat. Beberapa bulan yang lalu mereka berdua sepakat akan tetap tinggal di Swiss dan akan menjemput Aria--ibu mereka untuk tinggal bersama.
Mengenai alasan kami seorang Vampire hybrid, itu karena ibu kami, dan alasan kenapa ayah mengatakan bahwa kak Ansell adalah kakak tiriku karena, sejak kecil kak Ansell sudah menunjukan tanda-tanda seorang Vampire hybrid,
Pertikai antara ayah ibuku dikarena itu, ayah ingin menjadikan kak Ansell uji coba serum dan ibu mentang hal itu hingga ibuku merencanakan pelarian untuk kak Ansell.
Kak Ansell di asuh oleh wanita Amerika, yaitu bibi Belinda. Bibi sama sekali tidak tau jika kak Ansell berasal dari keluarga Scott dan setelah kejadian itu bibi Belinda memutuskan akan pergi ke Amerika dan menjalani kehidupan yang baru.
Dan selama tiga bulan, Esmeralda harus menjadi tabung darah bagi Sean, membuat mereka berdua terikat dalam sebuah perasaan yang belum bisa diungkapkan.
Sekarang Esmeralda dan Sean sedang menikmati pemandangan Sunset dipinggir pantai. Canggung itulah yang terjadi diantara mereka berdua.
"Emm.. Esmeralda, minggu depan pernikahan Ansell dan Aldera kan?"
"Emm, apa kau akan datang?"
"Tentu saja!"
Kecanggungan kembali hadir, Sean merasakan debaran aneh yang bergemuru didadanya, ia menatap wajah Esmeralda yang terpejam. Esmeralda merasa ada yang memperhatikannya, ia lantas membuka matanya dan menatap Sean.
Pandangan mereka yang saling bertemu, hingga mereka memutuskan kontak mata mereka. Esmeralda merasa jantungnya berdebar-debar dan wajahnya memanas sama halnya dengan Sean.
"Esmeralda ada yang ingin kutanyakan!"
"Apa?" Sahut Esmeralda tanpa menatap wajah Sean,
"Umm.. aku sepertinya menyukaimu! Dan ap-- Esmeralda apa kau sakit?" Sean mendadak panik melihat wajah Esmeralda yang merah bagaikan tomat.
"Mung.. kin hanya sedikit kepanasan" balas Esmeralda asal.
"Tunggu apa kau malu, Esmeralda!" Goda Sean yang terkekeh melihat ekspresi wajah Esmeralda, "mana ada! Aku hanya kepanasan. Ayo kita masuk kedalam saja!" Ujar Esmeralda langsung menarik tangan Sean masuk ke villa.
Malam harinya, ketika Sean ingin memejamkan matanya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Ia merasa bingung siapa yang mengetuk malam-malam.
Sean bangun dari kasurnya dan membuka pintu, "ada apa?" Tanya Sean ketika ia mengetahui Esmeralda-lah yang mengetuk pintu tadi.
Esmeralda menunduk menghindari kontak mata dengan Sean, "aku tidak bisa tidur!"
Sean terkekeh pelan dengan sikap Esmeralda, "jadi kau ingin tidur denganku?" Esmeralda mengunggulkan kepalanya, Sean mempersilahkan Esmeralda masuk.
Beberapa detik kemudian, mereka berdua saling membisu hingga Sean melayangkan sebuah pertanyaan, "Esmeralda, kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Pertanyaan apa?" Tanya Esmeralda pura-pura tidak tau, ia melonjak kaget ketika sebuah lengan kokoh melilit dipinggangnya, "Esmeralda, aku tau kau berpura-pura, baby" bisik Sean sambil menggigit gendang telinga Esmeralda.
"Aku juga menyukaimu" cicit Esmeralda,
"Apa aku tidak dengar"
"Ehh.. kau bohong mana mungkin Vampire tuli!" Esmeralda membulatkan matanya ketika Sean memutar tubuhnya hingga mereka saling bertatapan. "Katakan sekali lagi!"
"Aku.. mencintaimu, Se--"
Sean langsung menyambar bibir mungil Esmeralda, ia melepaskan bibirnya dan membiarkan Esmeralda menghirup udara sebanyak-banyak.
"I love you too, Esmeralda!"