Mentari belum juga membubuhi sang bumi. Tapi ayam jantan mulai berkokok riang menyambut sang malam. Manusia masih terlelap dalam mimpi. Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Berbeda dengan manusia lainnya, perempuan satu ini sudah bangun sejak pukul 02.30. Setiap harinya perempuan ini sudah memulai aktifitasnya sebelum matahari muncul. Perempuan ini setiap malam melaksanakan sholat tahajud. Seperti yang dilakukan umat islam pada umumnya.
Namanya cukup familiar di kompleknya, Anindira Farana ya itu namanya. Cewek muslim yang suka sekali ngaji, mengikuti pengajian, dan masih banyak lagi. Dira adalah wanita yang baik, cerdas, sopan, dan yang pasti ramah dengan teman-temannya. Dia selalu menutupi tubuhnya dengan kain yang disebut syar'i. Kepalanya selalu dia tutupi dengan kerudung. Penampilannya yang selalu biasa membuat dia natural dengan apa yang dikenakan.
Namaku sendiri Acelin Angela, aku merasa hidup ini hanyalah dibuat senang-senang saja. Hidupku nggak karuan, aku sering pulang malam, sering sekali membantah Mamaku, sering nggak denger apa katanya. Aku dijauhi oleh teman-temanku, karena aku dikira melakukan pekerjaan haram, yang bisa kalian sebut wanita malam, atau apalah itu.
Entah apa yang mereka katakan, sama sekali tidak aku hiraukan. Aku termasuk orang yang selalu tidak mengikuti pelajaran dalam mata kuliahku. Mungkin Mama ku menyesal, karena mempunyai anak sepertiku yang selalu membantah perkataannya, dan aku juga dikira bekerja sebagai wanita malam. Padahal aku tidak pernah melakukan pekerjaan itu.
"Hiks,,. Kenapa sih Rio seperti itu. Kenapa dia selingkuh apa salahku" ucapku di pojok bangku taman.
Rio adalah pacarku, mungkin karena dia aku jadi seperti ini. Aku begitu hancur ketika orang yang aku sayang, yang ku percaya di menghianati ku. Entah apa salahku,aku pun tak tau. Tiba-tiba ada seorang cewe, yang menghampiriku. Kulit yang putih, memakai baju berwarna merah jambu dan abu-abu. Kepalanya dia balut dengan kerudung sangat anggun.
"Assalamualaikum"ucapnya padaku.
"Wa..ala...ikumsalam"jawabku terbata-bata.
"Ini, jangan nangis"ucapnya sambil menyodorkan saput tangan.
"Jodoh nggak akan kemana kok percaya saja, sama yang menciptakan"ucapnya lagi dengan Menyunggingkan senyum dengan menampakkan lesung dipipi ya.
"Jangan sok tau deh loe, tau apa tentang hidup gue? Kita aja baru kenal"tanyaku.
"Kan memang benar, semua orang itu yang menentukan sang maha pencipta"ucapnya lagi.
"Oh iya namaku Dira, nama kamu?"ucapnya sambil menjulurkan tangan.
"Gue Acelin"jawabku judes.
"Eh kayaknya saya pernah melihat kamu deh?"ucap Dira.
"Iya, pasti kamu mengenal aku sebagai wanita malam kan?"jawabku.
"Nggak kok siapa bilang? Itu kan kata orang? Kalau saya nggak percaya sih. Mungkin mereka salah menilai kamu dari sisi itu tapi, aku menilai dari sisi yang lain"ucap Dira.
"Nggak mungkin"jawabku singkat hanya dia balas dengan senyum tipis.
"Allahuakbar allahuakbar"
Suara azan terdengar mengemah ditelinga ku. Aku begitu mengabaikan suara panggilan itu. Berbeda dengan cewek cantik ini, dia begitu semangat dan menyambutnya dengan sangat girang.
"Alhamdullilah" yang dia ucapkan saat mendengar itu. Aku hanya meliriknya.
"Iku akut yuk, kita sholat berjamaah dulu"ucapnya padaku. aku yang diajak bicara hanya diam tak berkutik. Aku yang masih setia dengan aktivitas ku saat ini.
"Udah ayo"ucapnya dengan memegang pergelangan tangan ku.
Aku pun ikut dengan dia, ditaman itu memang ada masjid toh juga ada banyak rumah warga disana. Aku hanya mengikuti dia, dia yang begitu santai mengandeng tanganku. Padahal semua orang sudah menatap kearah kami. Tetapi seakan dia tidak menghiraukan tatapan semua orang.
Sesampainya di masjid itu aku langsung menghentikan langkahku. Sontak dia menoleh kehadapan ku seakan ingin menanyakan sesuatu.
"Ada apa?"tanyanya.
"Ayo kita segera ngambil air wudhu setelah itu sholat berjamaah"lanjutnya.
"Aku lagi nggak sholat"jawabku dengan muka yang jutek.
"Ohh sedang datang bulan"jawabnya dengan senyum.
"Iya"jawabku.
"Yaudah kamu tunggu disini dulu, aku mau sholat dulu"jawab nya lagi sembari memegang pundak ku.
Dia berlalu meninggalkan ku untuk mengambil air wudhu dan sholat berjamaah. Sedangkan aku masih berdiri diposisi ku. Aku melihat yang ada didepanku. Bangunan yang mungkin aku jarang menginjaknya. Berbeda dengan Dira, yang mungkin dia selalu menginjak nya.
Tak terasa ada air yang membasahi pipiku. Padahal sudah aku tahan tetap saja keluar. Aku mengusap dengan tanganku. Aku melihat Dira keluar dari tempat wudhu dan melihat ku sambil tersenyum dengan menunjukkan giginya. Setelah dia masuk aku tak pikir panjang dan aku meninggalkan tempat itu. Aku berjalan menuju tempat yang tidak jauh dari situ.
Aku duduk diam entah kemana pikiranku. Aku bingung kemana aku harus melangkah. Entah dari mana aku harus melangkah. Tapi aku tau mungkin yang aku lakukan saat ini akan merugikan ku suatu saat nanti.
Beberapa menit kemudian
Saat aku sedang melamun dan tak tau apa yang aku pikirkan, ada seseorang yang menepuk ku dari belakang. Aku mendongakkan kepalaku dan kulihat dia adalah Dira.
"Kamu di sini? aku cariin dari tadi, ternyata disini"ucapnya dengan tersenyum, aku hanya mengangguk kepala.
"Nih..."ucapnya sambil menyodorkan kotak yang entah berisi apa.
"Apa ini?"tanyaku.
"Udah ini kamu terima aja"jawabnya dengan memberikan kotak itu, sambil duduk disamping ku.
"Aku juga punya kok"lanjutnya dengan memperlihatkan kotak yang sama.
Akupun membuka kotak itu dengan ragu, aku memang tidak tau apa isinya. Saat kubuka terkejutnya aku apa isinya, isinya adalah nasi dan juga lauk nya. Aku menoleh kearahnya.
"Ayo makan, aku juga makan kok"ucapnya padaku.
"Tapi.."jawabku belum sempat selesai sudah dipotong duluan olehnya.
"Udah dimakan aja"potongnya.
Dia memakan isi yang ada dikotak itu, aku pun juga ikut memakannya. Aku memang lapar karena dari tadi belum juga makan. Aku menghabiskan makanan itu dan aku juga diberi minum olehnya. Aku melihat dia begitu sempurna, entah dari mananya aku tak bisa mengungkapkannya.
Setelah selesai makan, aku masih duduk disini. Sedangkan Dira dia membuang sampah kita berdua. Aku yang masih fokus dengan memandangnya. Kukira dia akan pergi setelah membuang sampah tapi aku salah dia menghampiriku.
"Setelah ini mau kemana?"tanyanya.
"Nggak tau"jawabku singkat.
"Ternyata bener ya apa kata orang, orang itu susah kalau mau bilang terima kasih dan minta maaf"ucapnya. Aku langsung menoleh kearah Dira.
"Maksudnya? kalau loe nggak ikhlas, mending nggak usah bantu gue deh"jawabku dengan langsung berdiri.
"Aku ikhlas membantu kamu"jawbanya dengan ikut berdiri.
"Terus kenapa loe bilang kayak gitu?"tanyaku dengan menatapnya.
"Ini ambil.."lanjutku dengan mengasihnya uang lima puluh ribuan sekitar ada 4.
Setelah memberikan uang itu aku langsung pergi meninggalkan dia. Entah ala yang membuatku marah pada dia. Padahal apa dia bilang itu memanglah benar. Aku memang seperti itu, memiliki sifat emosional, keras kepala, dan tidak mau mengalah.
Setelah aku meninggalkan taman itu, aku pergi berjalan menyusuri jalan. Aku tidak mau pulang kerumah, pasti dirumah aku dimarahi sama mama. Aku nggak mau kerumah lebih baik aku kerumahnya temen aku.
Aku mulai berjalan kerumah temenku, aku sangat lelah saat berjalan. Aku putuskan untuk naik angkutan umum. Aku menatap luar jendela itu. Aku menatap kearah luar, agar aku tidak bosan.
Sesampainya dirumah temanku, aku mengetuk pintu dan berdiri didepan pintu itu. Aku menunggu dia membukanya.
Klekkk..
"Loe Lin?"ucap Dhifa.
"Iya Dhif"jawabku.
"Loe ngapain kesini?"tanyanya.
"Gue mau tinggal disini Dhif, gue nggak mau pulang kerumah. Uang gue juga habis saat gue berangkat kemari"ucapku.
"Aduh Lin, gue nggak bisa. Nyokap Bokap gue pasti nggak ngebolehin. Loe tau sendiri kan gimana mereka. Gue aja hari ini udah dimarahi sama mereka"jawab Dhifa.
"Teros gue kemana dong Dhif, gue nggak tau harus kemana. Masa loe nggak mau bantuin gue sih"
"Bukanya gue nggak mau bantuin Lin, tapi loe tau sendiri kan mereka kek gimana"jawabnya.
"Dhif.. dhifa"panggil seseorang dari dalam.
"Iya Ma"jawab Dhifa.
"Sekali lagi gue minta maaf ya Lin, nggak bisa nolongin loe"ucap Dhifa.
"Maafin gue ya Lin, sorry banget"lanjutnya.
"Nggak papa kok, gue pergi dulu ya kali gitu"ucapku sembari meninggalkan rumahnya Dhifa.
Aku nggak tau mau kemana lagi, uang aku juga udah habis buat cari kos. Toh ini juga udah malem, perut aku sangat begitu lapar. Aku berjalan kesana-kemari tak tau arah. Aku berfikir apa Mama mencariku ketika aku tak pulang. Apa dia masih memperdulikan aku, dan apakah berharap aku pulang.
Papa pergi entah kemana, aku hanya tinggal bersama Mama. Aku tak tau bagaimana kabar Papa, setelah Papa nikah lagi hanya itu yang kudengar. Papa juga nggak pernah ngabarin kita. Entah sudah lupa atau bagaimana akupun tak mengerti.