Warning 📍
Dilarang baperan.
Angin malam berhembus sangat keras hingga menerbangkan helaian rambut milik Ran. Saat ini, pukul 22.00 WIB. Ia masih terus menatap jalanan yang legang penuh kerlap-kerlip lampu.
Bahu Ran tiba-tiba bergetar perlahan saat menyadari seseorang memeluknya dari belakang.
"Jisung."
"Hmm? Kamu menunggu lama ya, baby?" tanya pria itu membalikan tubuh Ran lalu menakup wajah Ran dengan sorot mata nya menatap Ran penuh kasih.
Air mata Ran lolos begitu saja bersamaan dengan isakannya. Ia terlalu naif untung sekedar menjawab pertanyaan seberapa lama ia harus menunggu jisungnya, miliknya seorang. Mungkin hal yang paling Ran takutkan adalah bahwa ia benar-benar tidak bisa bertahan untuk menunggu pria ini. Pria yang selalu membuatnya tersenyum meski ditengah kesibukannya menjadi seorang trainee. Pria tampan yang mampu menemaninya disaat dunia tidak berpihak kepadanya. Pria ini, Jisungnya. Cahaya nya.
"Kok nangis sih? Kenapa sayang?" tanya nya khawatir seraya membawa tubuh Ran kedekapannya.
"Aku tuh kangen, Jisung! makanya nangis karena bentar lagi kamu sibuk." Jelas ku sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria ini. Ran terlalu munafik untuk mengatakan bahwa ia memang sudah lelah menunggu pria ini disisi nya, ia juga tidak rela harus membuat jisung merasa terkhianati nantinya.
Ran dan leukimia nya adalah satu hal pasti bahwa ia harus dengan rela meninggalkan pria ini, pria yang sudah ada disisi nya selama 10 tahun kebersamaannya, pria yang dulu pernah menjabat menjadi seorang sahabat sejati dan pria yang pernah membuatnya kecanduan akan sebuah kasih sayang.
"Maafin aku ya baby, pasti kamu kesel kan karena kita bakal jarang ketemuan. Tapi aku akan usahain sebisa mungkin menemuimu nanti ya sayang, kita bisa pergi ke pulau jeju terus makan-makan di resto pokoknya setelah aku bisa melewati kesibukan ini nanti kita akan bersenang-senang!" jelas jisung seraya mengusap kepala ku lembut, "Aku bangga bisa memiliki Ran di dunia ini... " lanjutnya mencium jidatku lama.
"Aku pun jisung... " gumamku kecil.
"Hmm? apa tadi? kurang kedengeran."
"Ishh... budeg!" sahutku kesal, Jisung langsung tertawa terbahak-bahak.
Kami pun pergi untuk makan malam dan berpisah karena jisung harus kembali ke dorm hari ini. Sayang sekali, Ran belum bisa mengatakan kalau hari ini adalah hari terakhir mereka menghabiskan waktu bersama. Besok ia diprediksi mati oleh dokter karena kankernya sudah menggorogoti tubuhnya terlalu banyak.
Ia bukan orang jujur yang akan gampangnya mengatakan bahwa ia sudah mengindap kanker ini di usia 6 tahun sebelum jisung datang ke hidupnya. Ia terlalu takut, takut bahwa saat ajal menjemputnya jisung nya akan mencari orang lain dan melupakannya. Pemikiran yang buruk bukan tapi Ran tahu bahwa jisung sudah bosan bersama Ran selama 10 tahun kebersamaan ini. Tidak apa, setidaknya jisung pernah membuatnya bahagia dan ia juga rela melepaskan jisung bersama orang itu.
Ran menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan hampa. Ia sesekali tersenyum mengigat kejadian masa lalu yang penuh dengan canda tawa dan kebahagian.
Saat memasuki ruang operasi ia menitipkan surat kepada pihak rumah sakit untuk memberikan kotak biru untuk jisung jika ia benar-benar ketahuan telah tiada tanpa kabar.
•••
"Woy bro, kenapa? kok daritadi kayak yang khawatir gitu." tanya jaemin menatap jisung yang terus berusaha menelpon seseorang dengan wajah frustasi.
"Ran. dia gak angkat telpon aku hari ini. Kan hari ini debut masa dia lupa dan gak dateng sih ngasih ucapan selamat." jawab Jisung sambil terus menelpon Ran beberapa kali, tapi nihil tidak diangkat.
"Oh sahabat kecil Jisung itu ya? Mungkin dia lagi sibuk kali, yaudahlah nanti juga nelpon balik."
Jisung menganguk ragu. Ia lalu bergabung dengan member lainnya untuk merayakan hari debutnya.
2 hari kemudian...
Jisung urakan hari ini dengan perasaan khawatir menatap handphone nya tidak ada sama sekali notifikasi balasan dari Ran.
Bagaimana ini? apakah Ran sedang berusaha menghindarinya, tapi kan ia tidak ada salah saat terakhir pertemuan malam itu.
"Mau kemana kamu Jisung?" tanya Jeno saat melihat penampilan jisung yang hitam-hitam dan memakai masker.
"Keluar sebentar. " sahutnya lalu pergi.
Jeno hanya mengangkat alis bingung, tumben malam-malam keluyuran 'kan tapi terserah bocah itu lah mau berbuat apa.
Jisung mengetuk apart milik Ran tapi tidak ada sahutan dari dalam lalu ia memanggil petugas disana menanyakan kenapa apart Ran terkunci rapat.
"Saya tidak tahu nak, udah 2 hari pemilik apart ini tidak pulang." ucap Petugas itu.
Jisung mengernyit bingung. Yang ia tahu kan Ran yatim piatu. bagaimana bisa tidak ada di apartemen nya, terus sekarang Ran pergi kemana selama 2 hari ini.
"Oh iya sebentar nak, Pemilik apart ini sebelumnya menitipkan sesuatu dan kemarin pagi ada paket yang datang dari rumah sakit." jelas petugas itu sambil memberikan 2 kotak berwarna hitam dan biru kepada jisung.
Jisung mengusap pangkal hidungnya. Ia membawa 2 kotak berukuran sedang itu masuk kedalam apart Ran karena untungnya ia masih ingat kata sandi apart ini.
Ia lalu meletakkan kotak itu di meja. Apart ini tidak terurus seperti dugaannya karena Ran pasti malas bersih-bersih.
Jisung lalu membuka kotak berwarna hitam. Didalamnya terdapat beberapa benda kesayangan Ran yang dulu ia pernah kasih saat ulang tahunnya. Lalu ia beralih membuka kotak biru, disana terdapat sebuket bunga lily yang telah mengering dan buku diary milik Ran.
Jisung pun membuka lembaran demi lembaran kata yang tertulis baru-baru ini di diary Ran.
* Dear Jisung
Hari ini kita akan bertemu seperti biasa. Aku tidak tahu kalo ini awal atau akhir memutuskan bahwa aku secara tiba-tiba meninggalkanmu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku terlalu lemah untuk mengatakan bahwa aku menyerah untuk menunggu mu.
Aku tahu pada akhirnya aku harus mengatakan ini jisung, Aku mempunyai kanker yang terus mengorogoti sisa hidupku untuk beberapa jam kedepan. Saat ini aku tidak takut mati, yang aku takutkan adalah kamu akan membenci ku karena aku terlalu bodoh dan menyerah pada hal ini.
Terimakasih untuk waktu kebersamaan kita ini. Aku tahu aku gagal menjadi orang yang terbuka soal masalah penyakitku ini tapi aku khawatir kamu akan terlalu protektif dan membuatmu tidak fokus menggapai cita-cita mu menjadi idol. Terimakasih untuk semuanya 💗 Kasih sayang, perhatian dan rasanya dicintai. Terimakasih jisung, Aku benar-benar menjadi orang terbahagia di dunia ini.
Aku harap surat ini dibaca oleh mu yang sedang urakan mendatangi apart ku hehehe... Dengan begitu aku yakin kamu memang sangat mengkhawatirkanku ya. Maafkan aku ya sayangku jisungku cahayaku, eh kok lebay ya. pokoknya aku menitipkan apartemenku ke kamu ya meski jarang aku bersihin wkwk... oh iya aku lupa membuang tumpukan sampah di dapur, mungkin sudah menjadi tempat rebahan kecoa... tolong ya sayang. oh iya, aku selalu berharap kamu bahagia :)
miss you...
Tertanda, Ran.
Note:
Halu dulu gan _(:з」∠)_