“Fitri, kamu jangan begadang mulu. Mentang-mentang libur, tapi kamu harus tetap jaga kesehatanmu,” pesan Mama Fitri.
“Iya, iya, Ma. Udah Mama urusin masalah kantor dulu. Sebentar lagi aku bakal tidur, deh,” ucap Fitri terdengar tidak sabar.
“Ingat perkataan Mama, ya. Bye, I love you, Baby.”
“Uhm.” Fitri mengiyakan nasihat orang tuanya dengan setengah hati. Ia sudah lelah akan semua omelan yang mau tidak mau ia harus terima ini. Fitri jelas bukan anak kecil lagi yang harus dibimbing perlahan, dan ia yakin ia bisa mengatur sendiri hidupnya dengan baik.
Lagipula ia baru saja menyelesaikan ulangan akhir semester di sekolahnya dan ia berhak untuk menggunakan waktu liburannya sesuai yang diinginkannya, termasuk memanjakan dirinya dalam segala hiburan yang ada. Sehingga Fitri sama sekali tidak merasa bahwa sekali-kali tidur hingga lewat tengah malam adalah hal yang salah. Selama ini juga ia selalu menuruti perintah orang tuanya dan tidur paling tidak tujuh jam per hari.
Fitri hanya memutar bola matanya kemudian kembali menekan tombol di laptopnya. Sebuah drama Korea yang sempat terhenti sejenak sesaat ia menjawab telepon dari Mama Fitri kembali terputar. Gadis itu berencana untuk menuntaskan semua episode drama yang tengah tenar ini dalam waktu satu malam.
Entah berapa jam telah berlalu.
Ketika jarum panjang jam dinding hampir menyentuh angka tiga, Fitri baru menyudahi acara marathon dramanya yang akhirnya habis. Namun ia tidak memilih untuk mematikan laptopnya, melainkan memencet kursor pada drama yang memiliki judul berbeda dari sebelumnya.
Fitri gagal meredam hasratnya yang ingin lanjut menonton.
Atensi penuh diberikan pada layar laptop, dan kala ia mendekati klimaks cerita, Fitri hampir memekik kegirangan saat kedua tokoh utama menyatakan cintanya pada satu sama lain. Ia tenggelam dalam momen bahagia yang tercipta detik itu, ketika pintu kamarnya diketuk.
Seketika suasana hati Fitri jatuh mencapai level terendah karena diganggu. Fitri lekas berteriak, “Iya, sabar, Ma. Bentar lagi selesai!” Fitri kembali melanjutkan menyaksikan drama tersebut sebelum semenit kemudian ia tersadar.
Fitri ingat bahwa papanya bekerja di luar negeri dan jarang berada di rumah. Sementara mamanya yang selalu berada di sisinya kini sedang mengurusi masalah perusahaan cabang di kota sebelah dan baru berangkat pagi yang lalu. Ia tidak mempunyai kakak atau adik, maka seharusnya rumah yang ditinggalinya hanya dihuni oleh Fitri seorang.
Kecuali ada makhluk lain.
Lantas Fitri bergidik ketakutan, sepasang matanya segera menyapu setiap sudut kamarnya. Setelah memastikan semuanya normal seperti sediakala, Fitri memutuskan untuk meneruskan drama sebagai suatu distraksi bagi otaknya yang tengah dalam keadaan tak karuan. Ia pun hanya menganggap suara ketukan itu hanya halusinasinya.
Namun sebelum drama terputar, ketukan ritmik itu lagi-lagi memecahkan keheningan rumah.
Satu ketuk, dua ketuk, tiga ketuk. Lalu berhenti selama beberapa detik. Ketika Fitri berpikir bahwa ketukan itu berhenti, pintu kamarnya kembali berbunyi dengan ritme yang persis sama.
Satu ketuk, dua ketuk, tiga ketuk.
Proses itu berulang kali terus berjalan hingga bulu kuduk Fitri tak kunjung berhenti.
Sepuluh menit kemudian tak ada suara dari balik pintu.
Detak jantung Fitri perlahan tidak berdegup sekencang sebelumnya, namun jari-jemarinya masih bergetar akibat rasa takut akan pertama kalinya berjumpa dengan kejadian supernatural ini.
Atmosfer ruangan itu menjadi semakin tertekan seiring suhu di sekitarnya menurun.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Tangannya kemudian meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya dan mencari kontak orang tuanya. Segera Fitri menekan nomor telepon mamanya dan tidak butuh waktu lama agar kedua ponsel tersambung.
“Ma, bisa pulang ke rumah sekarang, gak? Tolong ini di rumah ada yang ngetuk-ngetuk!” Fitri berbicara dengan tergesa-gesa dan rasa panik dapat terasa lewat suaranya.
“Halo? Ada apa, Fitri?” Suara Mama Fitri terdengar dari ujung telepon.
“Ma, tolong pulang sekarang! Ada yang aneh sama rumah kita!”
“Fit? Kamu masih di sana? Mama nggak bisa dengar suara kamu.” Di saat yang bersamaan, pintu kamar Fitri diketuk untuk kesekian kalinya. Tetapi kali ini ketukan tersebut tampak tidak beraturan, terkesan buru-buru. Alhasilnya tubuh Fitra semakin tegang dan hatinya makin gelisah. Ia berusaha berkomunikasi dengan mamanya, tetapi seakan lawan bicaranya tidak bisa menangkap suara apapun dari sisinya, usaha Fitri tidak membuahkan hasil dan ia menyerah untuk mendapatkan pertolongan eksternal.
Ia cepat-cepat mematikan laptopnya, meletakkannya di atas nakas, lalu menyelimuti dirinya dengan selimut tebal selagi matanya menatap pintu kamar dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Mendadak suara ketukan itu terputus. Namun Fitri tidak bisa rileks dalam kondisi seperti ini. Jantungnya lantas hampir meloncat dan matanya membulat penuh kala melihat daun pintu bergerak ke bawah dengan pelan.
Fitri refleks melompat dari tempat tidurnya dan berlari secepatnya menuju pintu. Tatkala jarinya hanya tiga sentimeter lagi dari daun pintu, pintu terbuka. Detik itu Fitri merasa putus asa, namun menemukan tidak ada figur siapapun di balik pintunya.
Fitri tidak tahu harus merasa lega bahwa ia tidak perlu bertemu dengan makhluk asing yang mengganggunya atau memikirkan lebih lanjut siapa yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintunya.
Sesaat Fitri menghela napas lega, sebuah sosok bertubuh tinggi muncul di hadapannya.
“Aaaaaaaa!!!”
Samar-samar wajah sosok itu tampak seperti mayat yang baru saja digali dari tempat peristirahatannya. Kira-kira setengah mukanya hanya tersisa tulang dengan beberapa potongan daging yang terselip di sela-selanya. Tulang itu sendiri sudah mulai keropos seakan digigit oleh hewan kecil. Sementara sisi sebelahnya, paras yang tampan tergambar 180 derajat. Banyak orang akan terkesima akan pesonanya jika mengabaikan bau busuk yang terpancar dari tubuh tersebut dan banyak isi tubuhnya telah digerogoti.
Sosok itu tiba-tiba tersenyum lebar. Senyuman yang mengundang tamunya dengan hangat, namun di saat yang bersamaan memendam niat jahat yang haus darah.
Jari-jari yang tinggal tulang itu terulur menghampiri sepasang mata Fitri. Gadis itu sudah bersiap berteriak, namun dalam kedipan selanjutnya, sosok itu menghilang. Menyadari dirinya terselamatkan dari cengkeraman sosok itu, Fitri langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya sebelum memproses apa yang baru saja terjadi.
Apa itu?
Fitri bersumpah ia tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Seseorang yang mempunyai fitur yang mengagumkan barusan pasti akan terukir dalam pikirannya, tetapi setelah memutar otaknya ia tidak menemukan memori tersebut. Fitri juga tidak mengingat pernah melakukan perbuatan apapun yang dapat menyinggung yang sudah mati atau yang belum.
Lalu apa yang menghantuiku?
Fitri berbaring di tempat tidurnya dalam keadaan meringkuk seraya memainkan ponselnya. Ia memastikan dirinya tidak dapat tidur setelah melalui kejadian tadi. Maka itu, ia memutuskan untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk melawan makhluk asing itu.
Fitri mencoba beberapa kali, sayangnya layar ponselnya selalu memunculkan halaman yang gagal tersambung ke internet. Padahal ia sudah mengecek berulang kali bahwa wifi-nya berjalan lancar.
Ia mengacak-acak rambutnya semakin dirinya merasa frustasi. Tiba-tiba Fitri merasa kepalanya menjadi lebih dingin.
Tik, tik, tik.
Tubuh Fitri menegang. Telinganya menangkap jelas suara butiran air jatuh satu per satu. Sebaliknya, jari Fitri menyentuh butiran air yang dimaksud. Setelah mengetahui bahwa targetnya adalah kepalanya, Fitri semakin tidak ingin menoleh pada asalnya.
Fitri membayangkan dalam kepalanya kalau sosok itu muncul kembali guna menghantuinya dan sekarang menempel pada plafon kamarnya. Memikirkan lebih detail lagi, tetesan air itu memungkinkan air liur yang berasal dari mulut sosok itu mengingat persis di atas kamar Fitri adalah kamar lain yang pastinya bukan sebuah kamar mandi.
Baru kali ini Fitri merasa ingin menampar dirinya yang malah memikirkan skenario terburuk, bukannya mencari jalan keluarnya.
Fitri mencoba menjernihkan kepalanya dan memegang erat ponselnya. Ia berencana melempar ponselnya pada sosok tersebut kemudian berlari secepatnya bersembunyi di kamar lain yang ia kira pasti lebih aman.
Fitri menarik napas panjang.
Satu, dua, tiga!
Fitri menengok ke atas dan ia merasa ia hampir pingsan di tempat. Wajah sosok itu persis berada di dekatnya. Perlahan potongan-potongan daging yang menempel pada tulang tengkoraknya terkelupas seiring tulang mukanya makin terlihat. Seringai menakutkannya pun masih melekat paa wajahnya. Meski sosok itu seorang mayat, Fitri dapat merasakan napas dingin yang menusuk pori-pori mukanya.
Tak sanggup berteriak, Fitri cepat-cepat melempar ponselnya lalu berlari menuju pintu kamarnya.
Namun sesaat berlari, sepasang mata Fitri tidak sengaja melewati sebuah kaca setinggi figurnya yang terpasang di lemari pakaian. Gadis itu tidak mendeteksi anomali yang terjadi kala sibuk akan kepanikan yang melanda.
Sepintas tubuhnya yang berlari ke arah kiri, bayangannya mengarah ke kanan yang terpantul pada cermin.
Seketika lampu ruangan mulai berkedip dalam kecepatan tinggi.
Fitri makin gelisah dan langkah kakinya dipercepat.
Detik itu lampu padam dan seluruh isi kamar diselimuti kegelapan. Detik selanjutnya lampu kamar kembali berkedip perlahan kemudian bersinar terang seolah malfungsi barusan tidak terjadi.
Menyisakan ruang kamar kosong yang hanya dipenuhi dengan sejumlah furnitur.
[TAMAT]