Terduduk diam aku di dalam sebuah gang kecil di tengah kota. Di bawah bayang-bayang sekumpulan gedung yang menjulang tinggi, hatiku masih sangat syok, kakiku terasa lumpuh hingga tak mampu berdiri. Ingatan akan kejadian yang baru saja aku alami masih membekas di pikiranku.
"Huwaa!!!" teriakku histeris. Di depanku, berdiri seorang gadis dengan kulit putih dan rambut putih, mata putih, alis putih, semuanya seputih salju! Ah.. apa iya? Aku saja tidak yakin bagaimana warna salju. Aku hanya pernah melihat sekilas di televisi yang dipajang di depan toko elektronik.
Gadis itu tetap diam. Dengan wajah datarnya dia menatapku tajam. Yah.. jujur saja ia membuatku sedikit takut.
"Siapa kamu?!" Tanyaku padanya, tapi ia tetap tidak meresponku.
"Hei, aku sedang bicara padamu. Siapa namamu?" Kuulang lagi pertanyaanku padanya.
"Um.. kamu bisa melihatku?" Ia tampak bingung.
"Tentu saja! Aku ini daritadi bicara padamu bodoh!" Orang ini aneh, sungguh aneh!
"Namaku Angel" ucapnya pelan.
"Semua tubuhmu putih! Apa kamu a... al.. apa ya mereka menyebutnya? Aladin?"
"Pfftt.. Hahahaha" Ia tertawa keras hingga suaranya menggema disepanjang gang yang sempit ini.
"Aladin? Hahaha, apa maksud kamu albino?" Lanjutnya masih dengan suara tawa, tapi kini terdengar lebih anggun.
"Y-Ya itu lah maksudku!" Ahhh aku yakin saat ini muka ku memerah! Mana aku tau mereka menyebutnya apa. Aku tidak pernah sekolah jadi mana tahu hal seperti itu.
"Iya! Bisa dibilang aku ini albino. Hanya mataku saja yang mungkin berbeda hehe" Gadis bernama Angel itu duduk disebelahku, kemudian menatapku dengan senyum manisnya.
"Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Karena hanya kamu yang tidak takut padaku"
Ah, kalau dipikir pikir mana bisa seorang gadis berpakaian rapi dan anggun berada di dalam gang yang sempit dan kotor seperti ini? Tiba-tiba bulu kudukku berdiri
"A- kamu hantu?!" Aku segera berdiri, memasang kuda-kuda untuk bertahan.
"Menurut kamu?" Ia mengikutiku berdiri, dan kemudian mengeluarkan sebuah benda yang tidak familiar olehku.
"A-apa yang akan kamu lakukan!" Aku menutup mataku erat-erat, dan menempatkan tangan di depan muka sebagai bentuk pertahananku terhadap apa yang akan ia lakukan kepadaku. Cukup lama waktu berlalu, dan tidak ada yang terjadi, sehingga aku memutuskan untuk membuka mata kembali.
"Shh diamlah. Kamu terluka" Kini, ia sedang membungkuk dihadapanku, mengobati lututku yang ternyata mengeluarkan darah.
.
.
.
Setelah ia mengobati luka di lututku, masih didalam gang yang sempit itu kami duduk bersebelahan, menunggu siapa yang akan memulai percakapan.
"Maaf aku tadi hanya mengikuti kamu, karena kamu terlihat sangat ketakutan" ia buka mulut duluan.
"Tapi, apa yang terjadi padamu?" Tanya gadis itu dengan nada khawatir. Tapi kenapa? Aku bahkan tidak mengenalnya. Begitu peduli kah ia pada aku yang bukan siapa siapa ini?
"Tadi... aku hampir tertabrak truk. Aku sangat takut, kupikir aku sudah mati" Kenapa aku menceritakan ini pada orang yang bahkan tidak kukenal?
*grab* Ia memelukku, dan berkata dengan lembut padaku
"Oh begitu, kamu pasti sangat terkejut ya.."
Aku sangat ingin melepaskannya, tapi pelukan hangat dan tulus seperti ini adalah yang pertama kalinya aku dapatkan. Aku hanyalah seorang anak jalanan yang tak punya rumah, tak punya uang, pakaian layak, bahkan tak punya keluarga. Kata ayahku alias orang yang merawatku, beberapa tahun yang lalu seorang wanita muda meninggalkan aku dibawah kolong jembatan, dan ajaibnya dengan keadaan jalanan yang sangat kejam aku masih bisa bertahan hidup hingga orang yang kusebut 'ayah' itu memutuskan untuk merawatku.
.
.
.
"Le-lepaskan aku"
"Ah, maafkan aku" Angel kemudian melepaskan pelukannya dariku.
"Tapi, bolehkah aku tau kenapa kamu berlarian di jalan raya seperti tadi? Itu sangat berbahaya!"
"Itu bukan urusanmu!"
Sebagai anak yang hidup di jalanan, mendapat bantuan dari orang lain itu sangatlah langka. Biasanya para orang yang memakai pakaian rapi hanya ingin mengambil keuntungan dari kami. Bisa makan dan ada tempat berteduh saja aku sangat bersyukur. Membantu ayahku mengumpulkan uang adalah salah satu tanda terimakasihku kepadanya. Yah.. meskipun dengan cara yang 'katanya' salah.
Hari-hari aku lalui dengan mengamen, mengemis, bahkan mencopet. Awalnya aku merasa itu adalah hal yang biasa saja. Jika mereka tidak memberi uang padaku, biar aku ambil saja sendiri! Lagipula begitu kan caranya bertahan hidup? Ayahku berkata kalau perbuatanku itu buruk, tapi karena kami sudah tidak punya pilihan jadi kemudian ia membiarkan aku melakukannya. Sebenarnya, di waktu tertentu sesekali kami mendapat bantuan dari calon pemerintah. Tapi tetap saja, setelah pemilihan usai nasib kami akan jadi jauh lebih mengenaskan. Orang yang mau bergaul dengan kami pun hanyalah orang orang dari lingkungan yang sama. Orang yang tiap hari berada di gedung-gedung itu sama sekali tidak peduli.
"Hei.. kamu bisa menceritakan kisahmu kepadaku" Angel tersenyum menatapku.
"Orang berada sepertimu tau apa! Kamu hidup dalam kemewahan dan kamu pasti sangat manja!" Aku sangat kesal padanya! Tau apa ia tentang aku.
"Aku memang terlihat dari keluarga yang berada, tapi hidupku juga tidak sepenuhnya mulus kok. Tiap manusia punya masalah, dan tidak ada salahnya menceritakan kisahmu pada orang yang ingin mendengarkannya" Kata kata Angel membuka hatiku, seperti terhipnotis aku mulai menceritakan kisah yang aku alami kepadanya.
"Beberapa hari ini ayahku sakit. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidur dan aku sangat khawatir padanya, jadi aku berusaha mencari uang untuk membeli obat. Akan tetapi... di daerah ku aku tidak mendapat uang yang cukup, jadi aku memutuskan untuk mencopet disekitaran jalan raya. Aku yakin sudah sangat berhati hati, tapi seorang pedagang buah menyadari apa yang aku lakukan. Dia langsung berteriak dan orang orang mulai mengejarku. Aku berlari sekuat tenaga hingga tidak sadar bahwa sudah ada sebuah truk didepan mataku, dan nyaris saja aku kehilangan nyawa"
"Hm.. rupanya seperti itu. Kamu hebat. Kamu sangat memikirkan tentang ayahmu dan ingin melakukan yang terbaik untuknya" Kata Angel menimpali ceritaku.
"Kamu tidak menyalahkan aku?" Jujur saja aku terkejut. Bukankah disini aku yang salah? Angel menggelengkan kepalanya, ia kemudian menawarkanku untuk ikut bersamanya
"Ayo ikut denganku saja!"
"Eh? Mau kemana?" tanyaku bingung. Angel menggandeng tanganku dan membawaku terbang ke angkasa
"Hah??? Apa ini? Kamu punya sayap?!"
"Iya, aku kan Angel!" Tangannya yang hangat membawaku menuju tempat yang jauh, senyumannya sangat menyilaukan, hangatnya mentari terkalahkan oleh hangatnya pelukan tulusnya kepadaku.
"Selamat tinggal ayah! Aku akan pergi dengan malaikatku!" teriakku dari atas langit, meraih awan dan terbang diatas pelangi.
.
.
.
"Kamu sudah dengar tidak tentang kecelakaan kemarin?"
"Iya, kasihan ya anak itu! Mana masih kecil.."
"O iya, katanya orang yang merawat anak itu juga meninggal karena sakit ya?"
"Aku tidak tahu. Tapi mungkin dia terkena azab karena suka mencopet!"
.
.
Tamat.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca💜
Ini cerpen pertamaku, semoga kalian suka ya. Aku menunggu tanggapan kalian!