Seorang pemuda berusia 19 tahun terlihat sedang duduk di sebuah kursi yang ada di sebuah cafe. Cafe tersebut ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi karena berada tepat di seberang sebuah universitas besar.
Pemuda yang sedang duduk itu bernama Raizen Zyeri Shieran, seorang pemuda blasteran Indonesia, Jerman, dan Inggris. Ayahnya adalah blasteran Indonesia-Jerman, sedangkan Ibunya berasal dari Inggris lebih tepatnya dari London.
Rai memiliki rambut berwarna coklat gelap dengan beberapa helai rambutnya berwarna pirang, kulitnya putih bersih, mata berwarna biru kehijauan yang diturunkan dari Ibunya, dan memiliki tinggi badan 182 cm dengan berat badan 73 kg.
Rai saat ini kuliah tahun ketiga di jurusan Sastra Indonesia, dan tahun kedua di jurusan teknik informatika dan ilmu komputer.
Rai memiliki sikap yang pendiam dan cuek, tapi karena sikapnya itu membuatnya menjadi terkenal diantara mahasiswi dan maba, apalagi karena paras Rai yang tampan ditambah dengan sikapnya yang cuek kepada siapapun membuatnya seperti pemuda misterius.
Rai adalah anak yang istimewa, karena sebenarnya Rai memiliki kepribadian ganda, tapi yang membuatnya aneh adalah Rai bisa berbicara dengan kepribadian lainnya itu. Rai memanggil kepribadian lainnya dengan sebutan R.
R memiliki sifat yang dingin, kejam, sadis, tak kenal takut, dan tak kenal ampun. Sifat R ini sudah menyatu dengan Rai, Rai dulunya tidak sependiam ini karena Rai mudah bergaul dengan siapa saja.
Kepribadian gandanya ini muncul saat Rai berusia 3 tahun, dan yang menyadari perubahan sifat Rai adalah Ibunya.
Rai mulai bisa berbicara dengan kepribadian lainnya ketika Rai berusia 13 tahun, ketika Rai hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saat R mengendalikan tubuh Rai, Rai masih sadar tapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dan tubuhnya bergerak sendiri, berlari menjauh dari tempat itu dengan sangat cepat, setelah itu Rai kembali bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Saat itu Rai benar-benar terkejut karena tiba-tiba tubuhnya bergerak sendiri, kemudian Rai mendengar seseorang berbicara, tapi suaranya bergema di dalam pikirannya. Dan saat itu juga Rai semakin dekat dengan R.
Rai yang sebelumnya sedang duduk langsung berdiri karena melihat orang-orang semakin banyak di cafe itu. Dan Rai memutuskan untuk pergi ke perpustakaan di Universitas.
Setelah Rai sampai di depan pintu perpustakaan, pintu tiba-tiba terbuka, dan seseorang menubruk tubuh Rai. Rai mengetahui siapa orang yang menubruknya.
Dia adalah gadis yang Rai suka, gadis itu berada di jurusan desain dan Sastra Indonesia di tahun pertama, bisa dibilang juniornya Rai di jurusan Sastra Indonesia. Gadis itu bernama Irene Chyntia Vilance.
"Irene?" panggil Rai kepada Irene.
"Eh, senior?"
"Kau baik-baik saja?" tanya Rai kepada Irene.
"Saya baik-baik saja senior. Maaf karena sudah menabrak senior" ucap Irene.
"Tidak apa-apa, kau terlihat sedang terburu-buru, apa ada sesuatu, atau kau sedang diancam oleh seseorang?"
Irene terlihat terkejut dengan pertanyaan Rai, dan itu membuat Rai semakin yakin jika ada yang mengancam Irene. Irene kemudian memalingkan wajahnya, dan langsung pergi meninggalkan Rai, Rai yang melihat itu langsung berbalik dan mengikuti Irene tanpa sepengetahuan Irene.
Rai semakin curiga karena Irene berlari menuju halaman belakang Universitas. Rai bersembunyi di balik tembok. Rai melihat beberapa orang pria dan wanita sedang mengancam dan memojokkan Irene. Rai kemudian mengambil sebuah batu berukuran sedang dan menggenggamnya erat.
Tiba-tiba ada seorang pria yang menarik baju Irene dan membuat Irene menangis, pria itu bernama Hanz Vredian, dia adalah seorang playboy dan juga bajingan yang suka mengancam gadis lemah.
Rai yang melihat semua itu langsung melempar batu yang ada ditangannya tepat ke kepala Hanz, dan langsung membuatnya tak sadarkan diri.
Rai kemudian mengambil hoodie yang ada di dalam tasnya, kemudian memakai penutup kepala hoodie itu untuk menutupi kepalanya. Dengan cepat Rai langsung berlari ke arah Irene dan membawa Irene pergi ketika mereka sedang sibuk melihat keadaan Hanz.
Irene juga terlihat terkejut ketika ada yang menarik tangannya. Rai langsung membawa Irene masuk ke dalam perpustakaan, dan untungnya perpustakaan itu cukup sepi jadi tidak ada yang memperhatikan Rai dan Irene ketika masuk.
"Kenapa kau bisa berurusan dengan mereka?" Rai bertanya kepada Irene ketika Rai dan Irene sudah duduk di bangku pojok yang ada di perpustakaan, dan Rai langsung melepas penutup kepala dan hoodienya, kemudian menyimpannya kembali ke dalam tas.
"Mereka memiliki fotoku, aku tidak tau bagaimana mereka mendapatkannya"
"Foto?"
"Iya, kemarin malam aku bekerja di sebuah klub malam, aku tidak tau jika mereka juga ada di sana" ucap Irene dengan wajah sedih.
"Orang tuamu kaya, kenapa kau harus bekerja di tempat seperti itu, jika kau ingin memiliki uang sendiri kau hanya perlu meminta pekerjaan kepada Ayahmu, kenapa malah bekerja di tempat itu" ucap Rai, dan kata-katanya ini membuat Irene terdiam.
'Sepertinya kata-katamu menyakiti perasaannya' sebuah suara tiba-tiba terdengar di dalam pikiran Rai. Suara itu adalah suara R.
"Irene, kau bisa bekerja di restoran yang baru saja aku buka, jadi kau tidak perlu lagi pergi ke tempat suram itu" ucap Rai kepada Irene.
"Iya, tempat itu suram seperti senior" Irene mengucapkan itu tanpa sadar.
"Apa?!" Rai terkejut dengan perkataan Irene. Dan saat Irene sadar, Irene langsung meminta maaf karena itu tiba-tiba terucap di mulutnya.
"Tapi senior, jika aku keluar aku harus membayar tiga kali lipat dari gajiku" ucap Irene.
"Memangnya berapa gajimu itu?"
"4 juta perbulan, jadi aku harus membayar 12 juta" ucap Irene.
"Aku bisa memberimu uang" ucap Rai.
"Benarkah senior? Aku pasti akan mengembalikan uangnya secepat mungkin, tapi itu juga jika aku sudah mendapatkan pekerjaan" ucap Irene sambil tersenyum canggung.
"Mintalah pekerjaan kepada Ayahmu, dia pasti akan senang jika melihatmu mandiri" ucap Rai kepada Irene. Irene yang mendengar itu langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apa senior mengetahui Ayahku?" tanya Irene.
"Irene, kau benar-benar melupakan ku ya?" tanya Rai.
"Eh, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Irene malah balik bertanya kepada Rai. Rai yang mendengar itu hanya bisa menghela napasnya, kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celana miliknya.
Rai langsung membuka galeri, dan menscroll kebawah sampai ada beberapa foto dua anak kecil. Rai langsung menekan salah satu foto itu, dan memperlihatkannya kepada Irene.
"Eh, dari mana senior memiliki foto ini?" tanya Irene yang terkejut ketika melihat foto dirinya yang masih kecil bersama seorang anak laki-laki.
"Apa kau tau siapa anak laki-laki ini?" tanya Rai. Irene kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ini Ranran kan?" Ucap Irene.
'pfft, Ranran…Bwahahahahahahah…' Rai bisa mendengar jika R menertawakannya. Dan membuat Rai kesal.
Irene terlihat menatap Rai bergantian dengan ponsel yang ada di tangan Rai. Irene kemudian menyentuh wajah Rai.
"Senior, kenapa kamu terlihat seperti Ranran? Apa kamu Ranran? Warna matanya juga sama" ucap Irene.
"Ini memang aku" ucap Rai.
"Eh?" Irene terlihat terdiam ketika mendengar perkataan Rai.
"Senior adalah Ranran!" teriak Irene dan mulut Irene langsung dibekap oleh Rai karena mereka sedang di perpustakaan.
"Ini di perpustakaan, jangan berteriak" bisik Rai. Ponsel Rai tiba-tiba bergetar, itu adalah alarm yang Rai pasang di ponselnya. Rai langsung melihat jam di ponselnya, 13.32. Rai kemudian bangkit karena dia harus menghadiri kelas berikutnya yang mulai pukul 14.00.
"Aku harus pergi sekarang" ucap Rai, yang nada bicaranya tiba-tiba dingin, dan membuat Irene sedikit takut.
"Apa Ranran ada kelas jam 2?" tanya Irene. Dan Rai menanggapinya dengan anggukan saja dan langsung berjalan keluar perpustakaan meninggalkan Irene. Irene yang melihat Rai berjalan keluar perpustakaan langsung mengekor dibelakangnya.
"Jangan memanggilku Ranran, ini masih di kampus, dan aku adalah seniormu" ucap Rai.
"Baiklah, tapi senior, bagaimana dengan fotoku yang ada di ponsel mereka?" tanya Irene yang membuat Rai menghentikan langkahnya, dan membuat Irene menubruk punggung Rai.
"Aku melupakannya" ucap Rai, dan melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.
Sikap Rai itu membuat Irene kesal. Dan saat sampai di kelas, Rai langsung duduk di bangkunya, diikuti Irene yang duduk di samping Rai, karena di Universitas itu tidak membedakan antara senior dan junior, jadi kelasnya menyatu.
Rai langsung mengeluarkan laptopnya, kemudian mengakses sesuatu yang hanya ada bahasa sistem saja. Irene yang melihat tulisan di laptop milik Rai sedikit kebingungan.
"Senior, ini bahasa apa?" tanya Irene.
"Ini adalah bahasa sistem, jika kau mempelajari ilmu komputer, kau pasti akan mengetahuinya" ucap Rai yang terus menekan tombol keyboard di laptopnya.
Irene terus memperhatikan laptop Rai, dan Irene mulai mengagumi Rai ketika melihat Rai dengan cepatnya mengetik di atas laptopnya. Rai tetap fokus, dia akan meretas ponsel milik Hanz, dan ketika Rai berhasil melakukannya, Rai langsung memindahkan semua file yang ada di ponsel Hanz ke laptop miliknya.
Setelah itu, Rai langsung mereset ponsel milik Hanz yang membuat semua file di ponsel milik Hanz menghilang. Layar laptop Rai tiba-tiba menggelap, dan itu membuat Irene bingung, dan ketika Irene menatap Rai, Rai sedang memakai kacamata.
"Senior, kau terlihat sedikit aneh ketika memakai kacamata" ucap Irene, yang membuat Rai menatap datar kepadanya, dan Irene hanya tertawa.
"Senior, kenapa layarnya tiba-tiba mati? Apa baterainya habis?" tanya Irene.
"Tidak, laptop ini adalah laptop khusus yang aku buat sendiri, ketika aku sudah selesai meretas dan mendapatkan file yang aku mau, layar laptop ini akan langsung gelap seperti mati, tapi jika kau menggunakan kacamata ini, kau akan bisa melihat apa yang ada di laptop ini" ucap Rai.
Rai kemudian mengambil satu kacamata lagi, dan langsung memberikannya kepada Irene. Saat memakai kacamata itu, Irene bisa melihat jika layar laptop Rai menyala dan ketika melepasnya, layarnya menjadi hitam lagi. Itu membuat Irene kagum.
Tiba-tiba ponsel milik Irene bergetar, dan ada email yang mengirimkan sebuah file kepadanya. Saat Irene membuka file itu, file itu berisi fotonya ketika sedang bekerja di klub malam.
"Senior, ini…"
"Itu foto yang kau inginkan, aku sudah mengirimkannya padamu" ucap Rai. Dan Irene langsung berterima kasih kepada Rai. Saat jam menunjukkan pukul 14.00, kelaspun langsung dimulai.
Semua kelas berakhir jam 6 sore, dan Rai langsung pergi ke restoran yang baru dibuka olehnya seminggu lalu, dan ketika sampai Rai melihat restoran miliknya sangat ramai.
Rai langsung masuk ke ruangan miliknya untuk ganti pakaian, setelah itu pergi ke dapur untuk membantu para koki yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan. Rai benar-benar sibuk, apalagi pesanan yang sangat banyak membuat para koki di dapur sangat sibuk.
Restoran ditutup pukul 1 malam, ketika restoran sudah kosong. Rai pulang terlebih dahulu, dan berpamitan kepada para pegawainya. Rai memutuskan untuk pergi ke klub malam tempat Irene bekerja. Tapi, saat diperjalanan, Rai mendapat telepon dari Ayahnya.
"Halo, Ayah"
"Rai, Ayah mendapat telepon dari teman Ayah jika putrinya diculik, Ayah ingin meminta bantuan mu untuk mencari posisi putrinya"
"Baiklah Ayah, tapi aku harus mengetahui ID ponselnya atau nomor ponselnya, e-mail juga tidak apa-apa" ucap Rai.
Setelah itu Rai mematikan telepon dari Ayahnya itu, dan Rai langsung menerima pesan dari Ayahnya. Pesan itu terdapat nomor telepon dan sebuah e-mail. Saat Rai melihat nomor itu, Rai mengetahui siapa pemilik nomor itu, dia adalah Irene.
"Irene, tapi bagaimana dia bisa diculik, bukankah dia sudah pulang dari awal?"
'Rai, pergilah ke klub malam tempat Irene bekerja, instingku mengatakan jika dia ada di sana' R berbicara kepada Rai.
Rai kemudian mengangguk dan langsung pergi menuju klub malam. Saat masuk, Rai langsung memesan ruangan. Saat masuk ke ruangan itu, Rai langsung mengeluarkan laptopnya, dan mencari keberadaan Irene. Dan benar saja jika Irene berada di tempat ini.
Rai kemudian mencoba untuk mencari posisi Irene, saat sudah ketemu, Rai langsung pergi ke salah satu ruangan yang ada Irene di dalamnya. Karena pintu dikunci, Rai mendobrak pintu itu dan membuat pintunya hancur.
Rai melihat beberapa orang memaksa Irene untuk minum, dan Irene terlihat lemas. Rai yang melihat itu langsung marah, dan matanya mulai berwarna merah terang, seperti hewan buas yang akan memangsa buruannya.
"Kalian, siapa kalian berani mengganggu wanitaku?" Rai berbicara dengan penekanan disetiap perkataannya.
Aura mengerikan keluar dari tubuh Rai, Rambutnya berubah menjadi hitam, dan seketika Rai melesat memukul salah seorang yang ada di ruangan itu. Dalam sekejap pria itu terlempar sampai menabrak tembok, dan langsung tak sadarkan diri.
Rai terus memukul mereka, dan mematahkan beberapa anggota badan orang-orang yang mencoba berbuat buruk kepada Irene.
Dalam waktu kurang dari 10 menit, Rai berhasil melumpuhkan 12 orang pria dewasa yang memiliki tubuh lebih besar darinya, apalagi yang Rai lawan adalah para bodyguard yang sudah terlatih. 3 orang pria lainnya hanya ketakutan melihat seseorang yang bisa melumpuhkan para bodyguard yang mereka sewa.
Rai kemudian menghampiri mereka bertiga, dan langsung mematahkan lengan dan kaki seorang pria berusia sekitar 30 tahunan, setelah itu memukul seorang pria berusia lebih muda darinya, sekitar 27 tahun, Rai memukul tepat di tulang rusuknya.
Kemudian Rai mendekati seorang pria yang seusia dengannya, kemudian memukul wajahnya dan mematahkan kedua lengan pria itu. Rai kemudian melempar ketiga pria itu sampai mereka menabrak tembok dengan keras dan membuat mereka langsung tak sadarkan diri.
Setelah itu Rai langsung menghampiri Irene yang sudah tak sadarkan diri, Rai mengambil hoodie miliknya dan memakaikannya kepada Irene untuk menutupi tubuh Irene.
Rai mengambil ponselnya dan menelpon Ayahnya, Rai langsung memberitahu jika putri dari teman Ayahnya itu sedang bersama Rai saat ini. Setelah itu, warna mata dan rambut Rai kembali seperti semula.
Rai kemudian menggendong Irene, dan langsung keluar dari klub malam itu, tapi setelah beberapa langkah keluar dari tempat itu, Rai dihentikan oleh beberapa orang.
Mereka terlihat seperti gangster, tapi Rai hanya menganggap mereka sebagai preman jalanan saja. Dan sudah dipastikan walau sebanyak apapun lawan Rai, Rai tetap akan menang.
Rai terus berjalan, dan ketika mereka akan memukul Rai, Rai dengan cepat menendang satu-persatu dari mereka, posisi Rai saat ini sangat tidak menguntungkan, karena dia dikepung oleh para preman itu, maksudnya oleh para gangster itu. Seorang pria bertubuh besar tiba-tiba berjalan ke arah Rai, dan Rai hanya menatap tajam ke arah pria itu.
"R, ku serahkan ini padamu" ucap Rai, setelah itu rambut Rai kembali menjadi hitam, dan matanya yang merah menyala di kegelapan malam.
R yang saat ini mengendalikan tubuh Rai langsung menendang pria di hadapannya sampai membuat pria itu terlempar.
R langsung menghilang dari pandangan semua orang, dan R kemudian muncul di sebuah taman yang tak jauh dari tempat itu, dan R mengembalikan kendali tubuh Rai kepada Rai.
Membuat rambut dan matanya kembali seperti semula. Rai langsung berjalan ke arah rumahnya, tapi saat sedang berjalan, sebuah mobil berhenti tepat di depan Rai. Seseorang kemudian keluar dari mobil itu, dan Rai mengetahui orang itu.
"Paman Chris, kenapa kau melepas pengawasan mu dari putrimu sendiri?" tanya Rai kepada orang yang tadi keluar dari mobil. Orang itu adalah Chris Vilance, Ayah Irene.
"Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini" ucap Paman Chris.
Rai kemudian menyerahkan Irene kepada Paman Chris, dan saat itu pula Rai melihat jika sopir yang ada di dalam mobil sedang mengarahkan senjata api kepada Paman Chris. Dengan cepat Rai menendang mobil itu dan membuat pintu mobil rusak. Paman Chris yang melihat itu langsung terkejut dan melihat sopirnya sedang menggenggam sebuah senjata api.
"Paman Chris mundurlah" ucap Rai, Paman Chris kemudian menjauh dari mobil itu.
Sopir itu tiba-tiba langsung menembakkan peluru ke arah Rai secara terus menerus, dan Rai tertembak di bagian dada, bahu, dan perutnya.
Hal itu membuat Rai muntah darah dan langsung terjatuh. Paman Chris yang melihat semua itu langsung menghampiri Rai, darah terus keluar dari luka yang diakibatkan oleh peluru.
Saat Rai dalam kondisi sekarat, R langsung mengambil alih tubuh Rai, dan R mengambil sebuah pisau yang selalu Rai bawa di dalam tas miliknya.
R kemudian menyayat luka dari peluru itu, dan mengeluarkan pelurunya satu-persatu. Paman Chris yang melihat itu langsung terkejut karena Rai dengan cepat menggores luka peluru itu dan mengeluarkan peluru dari dalam tubuhnya.
"Rai berhenti, jika kau melakukan itu, darahnya akan semakin banyak keluar" Paman Chris terlihat khawatir dengan luka Rai.
Tanpa mereka sadari, sopir itu kembali menodongkan senjata api itu, tapi tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak mobil itu, dan membuat mobilnya terguling. Pemilik mobil yang menabrak langsung keluar dari mobilnya, dia adalah Ayah Rai.
"Chris, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ayah Rai.
"Aku tidak menyangka jika sopir ku adalah seorang pembunuh, dan untung saja kau datang tepat waktu, tapi Rai…"
Ayah Rai langsung melihat keadaan Rai, darah masih terlihat keluar dari tubuhnya. Ayah Rai langsung membawa Rai untuk masuk ke dalam mobil, tapi saat akan masuk, gangster yang berhadapan dengan Rai datang karena mendengar suara keras.
R yang saat ini masih mengendalikan tubuh Rai langsung melepaskan tangan Ayah Rai yang saat ini sedang membantunya berdiri.
R langsung menghampiri para gangster itu, dan memukul mereka satu-persatu. Ayah Rai dan Paman Chris terlihat terkejut karena Rai masih bisa bergerak dengan kondisi lukanya saat ini. Warna mata R yang sebelumnya berwarna merah terang sekarang meredup, menandakan jika R sudah mencapai batasnya.
"Rai, apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku sudah mencapai batasku, apa kita terus menyerang mereka sampai mati saja?" tanya R kepada Rai yang saat ini sedang berada di alam bawah sadarnya untuk memulihkan diri.
'R, aku yang akan melakukannya dari sini, kau kembalilah untuk memulihkan diri, setelah aku tidak sanggup lagi, kau yang akan mengendalikan tubuhku lagi' Rai berbicara dengan R di alam bawah sadar miliknya. R mengangguk dan Rai kembali sadar. Saat sudah sadar, Rai langsung memegang luka diperutnya karena terasa sangat sakit.
"Ayah, Paman Chris, sebaiknya kalian kembali" ucap Rai.
"Bagaimana mungkin seorang Ayah meninggalkan putranya sendiri saat dia sedang terluka parah?"
Rai hanya diam, kemudian mengambil pisaunya, dalam sekejap mata, Rai membunuh 13 orang anggota gangster itu. Dan masih tersisa 52 orang, karena jumlah gangster itu 65 orang.
Tanpa memberi jeda, Rai kembali menusuk dan memenggal kepala para gangster itu membuat tubuhnya benar-benar dipenuhi oleh darah. Saat Rai sedang membunuh para gangster itu, Irene terbangun.
"Irene, apa kau baik-baik saja?" Paman Chris yang sebelumnya melihat ke arah Rai, langsung mengalihkan pandangannya ketika merasakan putrinya sudah sadar.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Irene karena disekitar sangat berisik, tapi saat Irene akan mmelihat ke arah keributan itu, Paman Chris langsung menutup mata Irene.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan!" teriak Irene.
"Ini bukan sesuatu yang harus kau lihat"
"Tapi aku ingin melihatnya" teriak Irene.
"Jangan menyesal ketika melihatnya" ucap Paman Chris sambil melepaskan tangannya yang menutupi mata Irene.
Irene membulatkan matanya ketika melihat adegan pembunuhan di hadapannya. Irene melihat ke arah pembunuh itu.
"Ranran…" gumam Irene.
Di sisi lain, Rai sudah hampir membunuh semua gangster itu, karena tinggal 3 orang, tapi Rai sudah mencapai batasnya, tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Seketika R langsung mengambil alih tubuh Rai, dan membunuh 3 orang itu dalam sekejap, kemudian Rai kembali sadar dan langsung jatuh. Irene yang melihat itu langsung berlari ke arah Rai, walaupun kondisinya sedang lemah.
"Ranran! Ranran! Se-senior, sadarlah… hiks… senior" Irene memanggil Rai sambil menangis. Paman Chris mencoba untuk menenangkan putrinya itu, setelah tenang, Irene kemudian membawa tas milik Rai, dan mereka langsung membawa Rai ke rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, para perawat langsung membawa Rai menuju ruang operasi. Mereka bertiga terlihat khawatir. Ayah Rai tiba-tiba mendapat telepon dari Ibunya Rai, begitu pula dengan Paman Chris yang mendapat telepon dari Istrinya.
Setelah memberitahukan jika Rai masuk rumah sakit, Ibu Rai dan Ibu Irene langsung menyusul mereka ke rumah sakit. Setelah operasi selesai, dokter mengatakan jika Rai saat ini dalam keadaan koma, dan kondisinya benar-benar kritis. Rai dipindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih lanjut.
Irene sangat sedih melihat kondisi Rai saat ini, Rai seperti ini karena menyelamatkan Irene. Dokter mengatakan jika Rai tidak sadar dalam waktu satu bulan, maka mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Setiap hari setelah pulang dari kampus, Irene selalu datang untuk menjenguk Rai, dan Irene berharap ketika dia datang Rai akan sadar. Saat orang-orang mengkhawatirkan Rai, di alam bawah sadar Rai, Rai dan R hanya berbincang, kadang juga bermain kartu, kartu itu muncul ketika Rai memikirkannya.
"Rai, apa kau tidak ingin bangun? Ini sudah hampir 1 bulan" ucap R kepada Rai.
"Sebentar lagi, aku ingin melihat reaksi mereka jika dalam 1 bulan ini aku dalam kondisi koma" ucap Rai.
"Kau benar-benar jahat ya" ucap R.
"R, mayat para preman itu diapakan ya?" tanya Rai kepada R.
"Kau tau kan, jika orang yang kita bunuh, maka tubuhnya akan lenyap setelah mereka mati selama 2 menit" ucap R.
"Kau juga tau kan jika aku sebelumnya tidak pernah membunuh, dan sekarang aku melakukan pembunuhan kepada 65 orang sekaligus" ucap Rai.
"Mulai hari ini, mungkin kau harus terbiasa, apalagi ada beberapa orang yang kau singgung" ucap R.
"Kau benar" Rai kemudian berdiri.
"Aku akan kembali sekarang" ucap Rai, dan R hanya mengangguk.
Rai kemudian menutup matanya, dan membuka matanya perlahan. Rai harus membiasakan matanya dengan cahaya di ruangan itu. Saat Rai sadar, Rai mencoba menggerakkan tangannya, tapi ada sesuatu yang menahan tangannya.
Saat menengok ke samping, Rai melihat Irene sedang tidur dengan memegang tangannya. Rai tersenyum karena orang yang pertama dia lihat adalah orang yang dia cintai.
"Irene…" gumam Rai, suara Rai terdengar serak, karena dia tidur untuk waktu yang lama. Saat Rai melihat Irene akan bangun, Rai kembali menutup matanya, dan hanya menggerakkan tangannya saja
Irene yang merasakan tangan Rai bergerak langsung bangun dari tidurnya, dan kemudian menekan sebuah tombol yang mengarah langsung kepada ruang dokter.
Setelah itu dokter langsung datang dan memeriksa kondisi Rai. Dokter mengatakan jika Rai sebentar lagi akan sadar. Dan itu membuat Irene terlihat senang, dan menangis bahagia. Setelah dokter pergi, Rai membuka matanya perlahan. Irene hanya menatap Rai ketika Rai membuka matanya.
"Ranran" panggil Irene.
"Irene, bisakah tidak memanggilku dengan sebutan Ranran" ucap Rai masih dengan suara seraknya.
"Mm, Rai?"
"Itu lebih baik" ucap Rai.
Saat suasana hening, Irene tiba-tiba sedikit berteriak, dan membuat Rai terkejut.
"Ah! Aku lupa memberitahu orang tuaku, Paman, dan juga Bibi" ucap Irene, kemudian langsung menelpon mereka semua.
Setelah menunggu beberapa menit, orang tua Rai dan orang tua Irene datang, Ibu Rai sangat senang melihat Rai sudah sadar, dan langsung memeluk Rai erat yang membuat Rai sampai sesak.
"Ibu… Ibu memelukku terlalu erat, aku tidak bisa bernapas" ucap Rai, Ibu Rai pun langsung melepaskan pelukannya.
Dokter dan perawat pun datang, dan setelah Rai diperiksa, Rai dipindahkan ke ruang lain. Rai tersenyum ketika melihat orang-orang yang dia sayangi bahagia. Irene yang melihat Rai tersenyum ikut tersenyum.
"Rai, aku ingin melihatmu lebih sering tersenyum seperti ini" ucap Irene.
Rai kemudian menatap Irene datar. Dan hal itu membuat Irene kesal, kemudian Irene memukul Rai, membuat Rai meringis kesakitan.
Orang tua Rai dan orang tua Irene hanya tersenyum melihat kelakuan anak mereka. Irene mendekatkan wajahnya ke wajah Rai, dan membisikkan sesuatu kepada Rai.
"Senior, sepertinya aku menyukaimu" bisik Irene. Rai hanya terdiam mendengar pengakuan Irene. Kemudian Rai tersenyum walaupun senyumannya itu tidak terlalu terlihat.
"Aku juga, apa yang akan kita lakukan sekarang?" bisik Rai. Wajah Irene memerah, dan Irene mulai menjauh dari Rai. Irene kemudian berlari keluar dari ruangan.
"Dasar anak itu. Rai sepertinya kami tidak bisa terlalu lama di sini" ucap Ibu Irene.
"Tidak apa-apa Bibi, kalian pasti sedang sibuk, maaf sudah merepotkan" ucap Rai.
"Tidak apa-apa, sesibuk apapun kami, kami akan menyempatkan waktu untuk calon menantu kami" ucap Ibu Irene.
"Eh?!" Rai terkejut mendengar perkataan Ibu Irene. Kedua orang tua Irene kemudian keluar dari ruangan.
"Rai kami juga harus pulang dulu, apalagi Ayahmu sekarang seharusnya berada di Jepang untuk melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan di sana" ucap Ibu Rai.
Rai hanya mengangguk, kedua orang tua Rai kemudian pergi, dan di ruangan itu hanya ada Rai sendirian.
'Rai ingatlah, ini bukanlah akhir, perjalananmu masih panjang' ucap R.
"Kau benar R, ini bukanlah akhir, tapi awal dari kehidupan ku yang sebenarnya dimulai" ucap Rai, Rai kemudian menutup matanya untuk beristirahat.
TAMAT.