Saat itu hujan, aku berlari menerobos hujan berusaha mengejar mobil kekasihku Jion yang mulai melaju. Dia meninggalkanku. Ada apa dengannya? Apa dia salah paham dengan kedekatanku dan kak Arya. Aku sudah bilang berulang kali padanya, Arya adalah kakakku, kakak kandungku. Saat itu kami sedang makan malam, sampai kak Arya menghubungiku, dan menyuruhku untuk pulang. Jion langsung beranjak pergi begitu saja mengakhiri makan malamnya. Aku berjalan ke arah halte dan meneduh di sana.
Suara hujan terdengar begitu berisik, sementara udara dingin berkali-kali menerobos kulitku sontak membuatku bergidik kedinginan. "Jion, jahat banget ..." gumamku sembari memeluk tubuhku sendiri. Jder. "Eeh! Silau!" pekikku kaget mendengar suara geledek bersamaan dengan kilatan cahaya. Usai hujan reda aku segera menghubungi kak Arya untuk menjemputku pulang. Beberapa hari kemudian aku melanggar janjiku dan pergi ke kediaman Jion, dia tidak membalas atau mengangkat panggilanku lagi setelah hari itu. Dia pasti benar-benar marah ...
Tok. Tok. Tok. Aku mulai mengetuk pintu rumah Jion, beberapa saat kemudian seseorang membukakannya. "Ada apa ya, Neng?" ujar seorang wanita paruh baya. "Ahahaha ..., saya mau bertemu dengan Jion," sahutku membuat wanita paruh baya itu beralih menatap tajamku. "Ada apa cari suami saya?" Aku terdiam mendengar perkataannya. Suami? Suami dia! Mataku melotot mendengar perkataannya. Jion menikah dengan tante-tante? "Mah, ada apa?" Seorang pria paruh baya muncul di belakangnya. "Pah, kamu kenal anak ini?" tanya wanita tersebut pada suaminya. Pria paruh baya itu tampak kebingungan. "Bukan dia orang yang saya cari, Bu!" Aku segera menyanggah dan beralih merogoh kantung bajuku mengambil ponsel.
"Ini! Ini Jion Tan, pacar saya!" Aku menyodorkan fotoku bersama dengan Jion ke hadapan mereka. "Pah, bukannya itu foto kamu waktu masih muda?" ujar wanita paruh baya itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak untuk seketika. Dia bilang fotonya waktu masih muda! "Bu, ini foto baru!" pekikku beralih menunjukkan rincian tanggal diambilnya foto tersebut membuat wanita paruh baya tersebut terkejut, sementara suaminya tampak tak menunjukkan reaksi apapun. "Jadi kau ya ..." ujar pria paruh baya yang akhirnya bicara. "Mah, ayo suruh masuk dulu. Dia pasti orang yang dipilih kakak." Kakak? Aku termenung mendengar perkataannya.
Mereka mempersilahkanku masuk dan mulai menceritakan semuanya ..., ternyata Jion Tan, pacarku adalah kembaran paman Jion Lan. Paman bilang kakaknya sudah lama menghilang di hutan Kir saat ada acara camp di sekolah, dia hilang saat sedang mencari kayu bakar. Dia masuk ke inti hutan, orang yang mencarinya pun ikut menghilang sontak membuat para warga menyalahkan keteledoran dari pihak sekolah yang tidak bisa menjaga anak muridnya dengan baik, sekolah akhirnya ditutup, sebab demo yang dilakukan para warga desa yang kehilangan keluarganya, karena kejadian itu hutan tersebut kini disebut sebagai hutan terlarang, berkat hilangnya Jion Tan hutan itu ditutup.
Aku duduk terbengong di teras depan rumahku, jadi dia hantu? Lalu kenapa dia bisa dilihat semua orang? Dia juga punya banyak uang dan tidak takut dengan cahaya matahari. "Aku bisa mendengarmu ..." Sebuah suara mengalihkan perhatianku, aku menatap Jion yang kini berdiri beberapa langkah di hadapanku. "Jadi kau sudah tahu semuanya ..." Jion tersenyum lebar, dia beranjak mendekat membuatku sontak bangkit dan menjaga jarak darinya. Dia bukan manusia! "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu ..., aku mencintaimu ..." Dia kini menjulurkan tangannya ke hadapanku, aku beralih menatap tangannya yang terjulur. "Ikutlah denganku, aku akan menceritakan semuanya ..."
"Jion, kau mau membawaku ke mana?" ujarku merasa gelisah menatap pemandangan asing di luar jendela. Pepohonan rimbun berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri jalan. Kini fokusku beralih pada jalan yang seakan tak ada ujungnya. Dia mau membawaku ke mana? Dan mobil ini? Apakah ilusi? Aku mengetuk jendela mobil yang keras. Ini asli. "Kau adalah bayi yang kupilih untuk dijadikan pengantinku." Pengantin? Dan ..., bayi yang dipilih? Apa maksud dari perkataannya.
"Kami adalah para manusia yang meninggal di hutan Kir yang jasadnya telah dijadikan anak oleh roh penghuni hutan." Dia menghentikan mobilnya dan beralih membuka pintu mobil. Aku tersentak usai melihat pemandangan di depanku. Pepohonan! Aku beralih melihat sekelilingku dari dalam mobil. Ini di dalam hutan! Tubuhku terasa lemas seketika. Bagaimana kita bisa masuk? "Sayang ..." Aku beralih menatap Jion yang kini telah membuka pintu untukku, dia menjulurkan tangannya ke hadapanku, sementara aku menerima juluran tangannya dan beranjak turun.
"Jion kita di mana?" ujarku bertanya lirih dengan segenap ketakutan. "Rumahku ..., tutuplah matamu oke ..." sahutnya yang kini beralih menutup mataku dengan kedua tangannya. "Jion ..., aku takut ..., aku mau pulang." Aku mulai merengek, sementara suara desah napas Jion terdengar di telingaku bersamaan dengan udara dingin yang kurasakan berhembus mengenai leherku. "Jangan takut calon isteriku ..." Deg. Entah mengapa usai mendengar perkataannya tubuhku menjadi terasa ringan, rasa takut yang semula memenuhi batinku lenyap. "Sudah ..." Dia beralih membuka mataku. Penglihatanku langsung disambut oleh temaram lampu malam yang melekat di setiap pohon bersama dengan kunang-kunang yang menambah kesan indah suasana meskipun kabut putih menyelimutinya. "Kau calon istri tuan?" Sebuah suara mengalihkan perhatianku, seorang gadis seusiaku yang terlihat sangat rupawan mengajakku bicara. "Salam ..., saya akan membuka pintunya." Kini dia membungkukkan setengah badannya kepadaku.
Kini pemandangan di sekitarku tiba-tiba berubah, sekarang aku tengah berada di dalam ruangan. Ornamen-ornamen yang terbuat dari kristal yang menempel di dinding sukses membuatku kagum. "Sayang, ini adalah takdirmu." Takdirku? Oh Ellie sadarlah ini hanya ilusi, jangan terjebak dengan perangkap. "Ellie, aku bisa mendengarmu ..." Jion menatapku sendu. "Ellie, kau dan aku tidak ditakdirkan hidup sebagai manusia." Dia beralih meraih tanganku kemudian membelai wajahku. "Apa maksudmu, Jion?" Aku beralih menepis tangannya dari wajahku. "Ellie ..., kau lahir atas permintaanku kepada roh penghuni hutan."
"Ellie, kau harus tinggal bersamaku." Omong kosong, aku beranjak menjaga jarak darinya. "Aku manusia sedangkan kau adalah ..., aku tidak tahu kau itu makhluk macam apa!" Aku berteriak geram. "Aku mau pulang! Bawa aku pulang!" pekikku histeris, dia tidak bereaksi dan malah mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya.
Parfum? "Ellie, kau mencintaiku ..., aku yakin kau akan kembali." Dia menyodorkan parfum yang wadahnya terbuat dari batuan alam. "Ellie, aku akan mengantarmu pulang," lanjutnya bicara. "Bawalah parfum ini bersamamu dan suruh orang yang telah mengetahui tentang keberadaanku itu mencium wanginya." Dia melanjutkan perkataanya. "Untuk melindungi kerahasiaan hutan ini dan untuk melindungiku ..., dan juga kau akan sadar dengan sendirinya, kalau kau memang ditakdirkan untukku."
"Omong kosong!" Dia hanya tersenyum mendengar responku. "Kalau kau merindukanku ..., kau bisa langsung menghubungiku. Aku akan datang menjemput calon pengantinku dengan senang hati ..." Dia meletakkan parfum tersebut ke tanganku. "Ellie, kalau kau tidak kembali tak apa ..., aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya." Aku terdiam mendengar bisikan halus Jion, seakan terhipnotis. "Hei!" Suara teriakan membuat jantungku berdetak keras. "Sedang apa kau bengong di sini, dan apa itu yang ada di tanganmu." Eh! Kak Arya! Aku sontak mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Aku ada di tempat semula sebelum Jion datang dan mengajakku pergi. Aku beralih menatap parfum di tanganku dan langsung menyimpannya. "Tidak!" Aku beranjak berdiri dan meninggalkan kakak masuk ke dalam.
Aku menghembuskan napasku berat sambil menyembunyikan wajahku dibalik bantal. Jion ... Aku benar-benar merindukannya. Padahal aku sudah berkhayal akan hidup bahagia bersama dengannya di masa depan, tapi dia ternyata bukan manusia. Aku mendongakkan wajahku dan beralih menatap parfum pemberian Jion yang kuletakkan di atas nakas. Apa aku harus membantu Jion untuk menjaga kerahasiaan hutan itu? "Tidak! Tidak! Jangan berurusan lagi dengannya!"
Keesokan harinya, akhirnya aku membantunya juga. Aku berdiri menatap adik Jion dan istrinya yang tampak memerhatikan parfum pemberianku dengan seksama. "Pah, ayo cium baunya, mamah penasaran mau cium wanginya. "Boleh, botolnya cantik, wanginya pasti enak," sahut Jion Lan mulai membuka tutup botolnya, pasangan suami istri tersebut kini mencium baunya, membuat mereka terbengong setelahnya. Aku segera meraih bolol tersebut dari genggamannya dan beralih pergi karena mereka tak kunjung sadar. Beberapa hari kemudian aku mampir ke rumah mereka lagi untuk menyapa, tapi mereka tidak mengenaliku, sepertinya karena efek parfum tersebut.
Satu tahun berlalu, aku menjalani hidupku tanpa Jion, aku sangat merindukannya. Aku menatap ponselku ragu untuk menghubunginya. Brugh, sesuatu menabrakku dengan kencang membuatku terlempar. Sialan! Aku lupa lampu merahnya belum menyala. "Ukh!" Aku memekik merasakan rasa nyeri di sekujur tubuhku usai melakukan pendaratan. Kepalaku terasa sakit, pandanganku lama-kelamaan buyar dan gelap.
"Kau datang?" ujar sebuah suara membuatku beralih membuka mata. Jion! Mataku langsung menangkap sosok Jion yang tengah memangku kepalaku. "Bukannya aku!" Aku berusaha bangkit tapi tubuhku seakan mati rasa. "Kau ada diantara fase antara hidup dan mati, mau lihat keadaanmu? Tutup matamu." Aku menuruti perkataan Jion dan mulai menutup mataku, aku langsung disambut oleh pemandangan diriku sendiri yang tengah terbaring dengan berbagai macam alat medis di tubuhku. "Tuan, tolong ..., adikmu tidak mungkin selamat, kau sudah dengar sendiri perkataan dokter bukan?" Seorang wanita tua tampak memohon pada kakak yang baru saja ingin memasuki kamar, kakak beralih melirikku. "Baiklah ..., ambil saja jantungnya, lagi pula dia bukan saudari kandungku." Kakak menerima permintaannya dengan mudahnya. Kakak ... Aku terdiam membisu. Beberapa saat kemudian para perawat datang ke kamarku dan membawaku pergi, aku mengikutinya. Mereka membawaku ke ruang operasi. Di sebelahku terbaring sosok seorang gadis. Pandanganku beralih pada dokter yang tengah membedahku seiring rasa sakit yang kini kurasakan di bagian dadaku. Aku mulai kesulitan bernapas dan jantungku. Sakit! Rasanya seperti akan mati. "Ukh!" Aku memekik merasakan rasa sakit yang semakin menjadi. Tubuhku terasa lemas jalan napasku menyempit. "Uhuk!" Aku tidak bisa bernapas dan gelap.
"Ellie ..., Ellie ...," Sebuah suara memanggil manggil namaku, tapi mataku terasa berat untuk terbuka. "Ellie ..., Ellie pengantinku ..." Jion! Aku berusaha lebih kuat membuka mataku dan berhasil, aku bisa melihat wajah tampannya lagi. Dia menatapku dengan penuh cinta, mataku terasa memanas sebelum air mata jatuh membasahi wajahku. "Jion ..." ujarku lirih memanggilnya dan beralih memeluknya erat. "Kak Arya dia membunuhku ..." Aku bicara disela tangisku, sementara Jion membelai kepalaku lembut. "Tenanglah ..., kau masih ada aku." Mendengar perkataannya aku sontak mendongakkan kepalaku dan beralih menatapnya, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menciumku lembut.