Ku pandangi langit yang sebentar lagi akan menghitam, ku mempercepat langkahku menyusuri jalan raya yang amat sepi. Tak lama terdengar bunyi gonggongan anjing di sebrang jalan, aku pun menyipitkan mata guna melihat anjing itu yang berada tepat di sebrang jalan, karena tertutup oleh kabut yang entah darimana datangnya.
Sesaat ku merasa ada yang janggal dengan anjing itu, tapi berusaha untuk mengabaikannya dan melanjutkan langkahku yang sempat tertunda. Tapi baru 10 langkah aku berjalan, aku mendengar gonggongan itu lagi, bahkan lebih keras seperti anjing yang sedang kesakitan.
Aku pun membalikkan badanku, dan betapa terkejutnya, saat aku melihat seseorang dengan hoodie hitam berada di sebrang jalan itu, tepat di samping anjing yang sedang di siksa itu. Aku yang sedang di landa kepanikan, otomatis menjatuhkan tas ransel yang sedang ku pegang. Kaki ku terasa kaku walau hanya untuk melangkah mundur.
Tak lama, pria dengan hoodie hitam itu menghilang dari pandangan, karena tertutup kabut. Aku pun tersadar dari lamunan ku, dan melanjutkan langkahku menuju rumah yang hanya di huni oleh ibuku.
Sesampainya di rumah, aku mendengar suara kursi yang terjatuh dan suara itu berasal dari kamar yang ibuku tempati. Aku pun bergegas menuju kamar ibuku, sesampainya disana. Aku sudah melihat ibuku tergantung di langit-langit kamarnya dan di tangannya terdapat secarik kertas dengan tulisan..
"Selangkah menuju kematian, kau selanjutnya."
-Pria hoodie hitam
****
Namaku Laras Shasa Alia, umurku 17 tahun. Hidup ku hanya di penuhi kesialan, dan teror yang mengerikan. Dan kini, aku sedang menatap gundukan tanah dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari kedua mataku. Ibu ku telah berpulang, setelah insiden gantung diri di kamarnya. Aku membawanya ke rumah sakit, tapi sayang, nyawanya tak tertolong.
Aku mengusap nisan itu, sambil berdoa untuk ibuku dan pergi dari pemakaman itu. Kini aku yatim piatu, aku hanya memiliki bibi dan sepupuku.
Bibi ku tak henti-hentinya mengusap punggung ku, berusaha menenangkan kan ku. Tapi sia-sia, tangisku semakin kencang.
Setelah sekian lama aku menangis sepanjang perjalanan ke rumah bibi, akhirnya tangisku mereda dan berusaha mengikhlaskan kepergian ibuku.
Tak peduli orang-orang yang melihatku aneh, aku di bantu bibiku terus berjalan menuju rumah bibi, yang hanya di tinggali oleh sepupu serta bibiku itu. Sesampainya, aku melihat rumah tingkat 2 yang lumayan besar dengan cat berwarna coklat, dan halaman rumah yang terbilang luas.
Aku pun di ajak bibiku ke kamarku, yang terletak di lantai 2 tepat di samping kamar sepupuku. Karisa, nama sepupu ku, ia berumur 10 tahun, lebih muda 5 tahun dariku. Ia sedari tadi mengintip dari celah pintu kamarnya, aku rasa ia malu.
Sedari dulu, ia sangat sulit untuk di ajak bicara. Tak jarang, aku melihatnya tertawa dan berbicara sendiri dengan bonekanya itu, yang ia beri nama Elsa.
Pernah sesekali aku menyentuh bonekanya, tapi ia langsung menggigit tanganku, dan melarang ku untuk menyentuhnya.
Aku pun masuk ke kamarku. Kamar ini sangat luas, tapi sayang kamar ini sangat minim cahaya.
"Ah, maaf. Hanya kamar ini yang tersisa, dan sangat jarang di pakai, lusa bibi akan memperbaiki lampunya." Ucap bibiku. Aku hanya mengangguk saja, sambil melihat-lihat isi kamar ini.
"Bibi keluar dulu, beristirahat lah!". Ucap bibiku kemudian keluar dari kamar.
Tempat ini tidak terlalu buruk. Setelah aku menaruh barang-barang ku ke dalam lemari. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu, dan menemui sepupu ku.
Sebenarnya aku sedikit takut untuk bertemu Karisa. Tapi tak apa, selagi aku tak menyentuh bonekanya.
Aku pun mengetuk pintu kamarnya.
"Karisa, apa kau di dalam?" Ucapku sedikit berteriak. Saat ku rasa tak ada sahutan, aku memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Tapi sayang, pintunya di kunci.
Aku pun turun ke bawah, untuk mencari Karisa.
Dan ya! Aku menemukannya duduk bersila di rerumputan halaman rumah dengan bonekanya. Aku melihat ia sedang asyik berbicara dengan boneka itu.
"Karisa?" Sahutku. Ia mendadak berhenti berbicara dengan bonekanya. Aku pun menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.
"Apa kau sedang berbicara dengan Elsa?" Tanyaku. Anak perempuan dengan kulit pucat dan bando pink di kepalanya itu tetap diam, enggan untuk menjawab pertanyaan ku.
"Huft, ya sudahlah. Oh ya, maukah kau bermain denganku? Aku ingin me..." Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku. Tiba-tiba ia menatap tajam diriku.
"Tidak." Ucapnya, kemudian beranjak dari tempatnya dan berlari masuk ke dalam rumah.
****
Aku terbangun dari tidurku, karna suara air keran dari arah kamar mandi. Sekarang sudah tengah malam. Aku sudah tinggal di rumah bibiku selama 3 minggu, dan selama 3 minggu itu, aku sangat sulit untuk tidur. Entahlah, mungkin aku masih terbayang-bayang dengan kematian ibuku yang sangat di luar nalar.
Aku pun beranjak dari ranjangku dan mematikan keran itu, selalu seperti itu selama 3 minggu ini. Aku pun lama-kelamaan sudah terbiasa bangun dengan air keran yang tiba-tiba menyala.
Setelah mematikan air kerannya aku pun hendak tidur lagi, tapi sebelum bokongku menyentuh ujung ranjang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
Aku pun membuka pintu kamarku, tapi saat ku buka tidak ada siapapun di luar.
"Mungkin hanya perasaan ku saja". Batinku, kemudian menutup pintu kamar. Tapi belum sempat aku menutup pintu kamar. Tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu nya tertutup.
Dengan cepat aku membuka pintu kamarku lagi, tapi nihil, tak ada siapapun di luar, aku melihat ke segala sisi, tapi tak ada tanda-tanda sang pelaku.
Aku membanting pintu kamarku, lalu berlari ke arah ranjang dan cepat-cepat tidur.
****
"Ah, kau sudah bangun? Mari bantu bibi mengolesi roti nya". Ucap bibiku, saat aku sampai di ruang makan. Hari ini adalah hari Minggu, aku ingin menghabiskan waktu di luar rumah.
"Ah, iya bi." Jawabku.
"Bagaimana sekolah mu?" Tanya bibiku.
"Baik bi."
"Oh ya, bibi. Apa semalam ada yang datang ke kamarku?"
"Hm.. sepertinya tidak ada, bibi juga sudah mengunci jendela serta pintu, memangnya ada apa nak?" Jawab bibiku.
Sebenarnya, aku ingin bertanya banyak tentang anak bibiku itu, yang notabene nya adalah sepupuku.
"Ah, tidak bi, tidak ada apa-apa." Jawabku.
"Oh ya, hari ini aku akan berjalan-jalan di sekitar komplek, boleh kan bi?"
"Ah, tentu saja boleh, hm.. sendiri atau bersama teman-teman mu?"
"Sendiri bi."
"Mau bibi temani?"
"Tidak, tidak usah bi."
"Ah, baiklah. Ayo di makan rotinya!" Ucapnya, kemudian memakan sarapannya.
Aku hanya melihat bibi ku bingung, mengapa ia bisa mengabaikan anaknya sendiri dan dengan santai memakan roti lapis nya. Sedangkan anaknya sendiri, belum tahu sudah makan atau belum.
****
Kini aku sedang berjalan di sebuah hutan, yang di sekeliling ku ada banyak sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Setelah sekian lama aku berjalan, aku merasa hanya berputar-putar saja dan selalu berhenti di samping pohon beringin di sebrang jalan.
Kurasa, tempat ini jauh dari pemukiman, aku tidak tahu, aku hanya mengikuti jalan komplek rumah bibiku. Tapi tiba-tiba aku sampai di sebuah hutan, dengan pepohonan seperti sekarang ini.
Dengan berlari aku menyusuri jalan mencari jalan keluar, tapi nihil, aku selalu berhenti di samping pohon besar ini.
Matahari yang tadinya cerah, kini cahayanya tertutup oleh awan hitam yang akan menurunkan hujannya sebentar lagi.
Aku pun mengambil ponsel dari saku celanaku. Lalu menelpon bibiku.
"Bi, apa kau bisa kesini? Aku tidak tau tempat ini, sebentar lagi akan turun hujan, aku akan mengirim lokasi nya pada bibi." Kemudian mematikan ponselku.
Aku terus mencari lokasiku, tapi nihil. Lokasi ku tetap tidak di temukan.
"A..apa? Bagaimana bisa!?" Ucapku.
Rintik-rintik hujan pun turun, membasahi seisinya. Aku pun berteduh di bawah pohon besar itu, sambil terus mengusap lenganku walau aku sedang memakai Hoodie yang cukup tebal, tapi anginnya tetap menusuk kulit ku.
Saat hujan yang turun bertambah deras, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah belakang pohon besar ini. Aku mendengar suara orang yang sedang berlari di antara rerumputan.
Memang di belakang pohon besar ini, terdapat rumput-rumput yang panjang.
"Mana mungkin ada orang yang berlari di antara rerumputan. Di tengah hujan seperti ini." Batinku.
Aku pun berusaha tak menghiraukannya, tapi lagi-lagi bunyi seperti orang yang sedang berlari di antara rerumputan yang sangat panjang itu terdengar lagi. Padahal hujan sedang sangat deras, tapi mengapa suara itu seakan sangat dekat?
Aku pun dengan susah payah menelan ludah ku, lalu menoleh ke belakang untuk melihat ke arah rerumputan itu. Aku memicingkan mataku untuk melihat lebih jelas orang yang sedang menghampiri ku itu.
Untuk sesaat aku mematung di tempatku, tapi tak lama aku berlari sekencang-kencangnya.
"Aku harus menyelamatkan nyawaku dari pria gila itu!"
Aku terus berlari kencang dan ketakutan. Tapi, lagi-lagi aku ke tempat ini lagi, dan di depanku sudah ada pria itu.
Pria dengan hoodie hitam. Aku terus mundur dengan penuh ketakutan, aku memohon padanya untuk di biarkan hidup.
"Jangan sakiti aku, kumohon." Ucapku memohon.
"Hiks, Tolong bantu aku!" Batinku sambil memejamkan mata. Mataku sudah berkunang-kunang sedari tadi, dan akhirnya aku jatuh pingsan.
Sebelum aku kehilangan kesadaran ku, aku mendengar kata-kata pria itu.
"I will protect you, sweetheart."
Setelah itu, aku tidak mendengar apa-apa lagi.
****
"Ras.. Laras.. nak? Syukurlah kau sudah bangun." Aku terbangun, karna suara itu.
Aku melihat bibiku di hadapanku, kini aku telah berada di kamarku.
"Kau mau minum? Akan bibi ambilkan." Laras hanya diam. Kemudian menggeleng pelan.
"Kenapa aku bisa di kamarku, bi?"
"kau di temukan oleh warga-warga sekitar, dekat perkampungan, bibi tidak bisa menemukanmu, maka dari itu bibi meminta bantuan warga-warga. Saat di temukan, kau berada di sebuah pemakaman umum, samping makam ibumu." Ucap bibiku.
"Kau tidak perlu memikirkan nya, sekarang beristirahatlah!" Ucap bibiku, kemudian keluar dari kamar.
Aku yang merasa lelah pun kembali tidur, dan berharap bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi.
Tes tes
Belum aku menyelami mimpiku, tiba-tiba saja ada darah yang menetes di pipiku.
Aku pun membuka mataku, dan melihat ke arah langit-langit kamarku. Aku merasa ada yang aneh.
Aku pun beranjak dari ranjangku, dan keluar kamar. Berjalan menuju loteng, di rumah bibi memang terdapat gudang kecil letaknya berada di loteng, dan tepat berada di lantai atas kamarku.
Sesampainya, aku melihat pintu kayu loteng itu yang di sisinya telah di makan rayap.
Tap tap
Dari dalam aku mendengar suara seseorang berjalan, aku pun mengetuk pintu itu.
Tok tok
"Apa ada orang?" Tanyaku sedikit berteriak. Tapi tidak ada sahutan, aku mengira bahwa itu adalah Karisa yang sedang bermain di loteng.
Tapi saat aku masuk, tidak ada Karisa di dalam hanya ada boneka nya yang di geletakkan begitu saja.
"KARISA!" Sautku, tapi ia tidak menyahut. Setelah menutup pintu, aku pun menghampiri boneka itu.
"Mengapa ia bisa meninggalkan bonekanya disini?" Ucapku bingung dan mengambil boneka itu.
Boneka dengan mata yang terbuat dari kancing dengan jahitan di mulutnya, dan rambut coklat panjangnya. Aku mengelus rambutnya itu, terlihat lusuh memang.
Sesaat aku merasa ada yang aneh dengan boneka itu, di matanya, tiba-tiba saja mengeluarkan darah segar. Sangat amis di indra penciuman ku.
Tapi darah itu tidak hanya keluar dari matanya saja, tiba-tiba ada darah yang menetes dan mengenai kepalaku.
Aku mendongak untuk melihat apa yang terjadi.
Betapa terkejutnya aku, saat melihat Karisa berada di langit-langit loteng ini. Ralat, melainkan kepala Karisa yang terpisah dengan tubuhnya tergantung di langit-langit loteng dengan tali yang masih menyangkut di lehernya.
Aku menjatuhkan boneka itu, karena tanpa sengaja aku melihat mata Karisa yang telah tergantung di langit loteng itu, menatap tajam ke arahku.
"KYAAAAAAA."
.
.
"Hosh.. hosh." Nafasku memburu.
Aku terbangun dan melihat sekeliling ku, ini di kamarku. Aku pun melihat ponselku, jam 12 malam.
"Sepertinya aku tadi bermimpi." Batinku. Kemudian keluar dari kamar dan menghampiri kamar Karisa yang terletak di samping kamarku. Ya, aku harus memastikannya, apa yang aku alami ini hanya mimpi?
Tok tok tok
Tidak ada sahutan.
"KARISAAA! KAR.." Ucapku berhenti saat pintu kamarnya terbuka dan terlihat ia dengan satu tangannya yang menggenggam erat tangan Elsa—bonekanya.
"Ah, syukurlah itu hanya mimpi." Batinku.
****
"Laras?" Langkahku terhenti saat bibi memanggilku.
"Iya bi?"
"Kau akan ke sekolah sekarang?" Tanya bibi.
"Hehe, iya bi. Aku ada piket."
"Baiklah, ini ambil bekalmu, bibi sudah membuatkannya tadi." Ucap bibiku sambil memberi kotak bekal padaku.
"Terima kasih bi, kalau begitu aku pergi dulu." Ucapku, kemudian keluar dari rumah.
****
Sesampainya di sekolah. Aku langsung masuk ke kelas ku dan mulai piket. Teman-teman yang lain belum datang, karena ini terlalu pagi. Bahkan matahari belum memunculkan sinarnya.
Saat aku sedang menyapu lantai, tiba-tiba kursi di sampingku bergerak sendiri.
"Apa angin bisa mendorong kursi sekuat itu?" Batinku. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
Tapi tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku, dengan perlahan aku membalikkan badanku takut.
"Hei!" Sahut Arga di belakangku. Aku pun menghela nafas, jengkel.
"Huh, ternyata kau, aku kira siapa. Ada apa?" Tanyaku ketus.
"Oh ya ampun, kau ini jahat sekali, aku hanya ingin membantumu, aku kan piket hari ini." Aku hanya mengangguk saja kemudian melanjutkan aktivitas ku.
"Kau datang sepagi ini, apa kau tidak takut?" Tanya Arga kepadaku.
"Tidak."
"Jika padaku, apa kamu akan takut juga?" Aku hanya mengernyitkan dahiku, tak mengerti apa maksud Arga.
"Maksudnya?" Tanyaku masih membelakanginya.
"Jika aku bilang, aku mencintaimu dan ingin memilikimu. Apa kau akan menerimaku walau aku telah tiada?" Ucap Arga.
"Haha, apa barusan kau sedang menyatakan cinta padaku? Oh so sweet sekali." Ucapku meledek.
"Aku sedang tidak bercanda." Ucapnya datar dan terkesan dingin. Aku bergidik mendengar suaranya. Apalagi aku hanya berdua di kelas dengannya. Matilah aku!
"Huft, aku tidak tahu. Tapi, jika aku mencintaimu mungkin aku akan menerima cintamu." Ucapku terkesan memberi celah untuknya masuk ke dalam hatiku.
"Apa kau hanya ingin berdiri saja tanpa membantu?" Ucapku pada Arga, yang sedari tadi diam tak menyahut.
"Ga? Kamu masih di sana kan?" Tanyaku masih membelakanginya.
"Arga, jangan main-main ya!" Ancamku. Kemudian berbalik.
Terkejut. Tidak ada Arga di sana. Hanya ada tembok yang membatasi antara kelasku dan kelas sebelah.
"Arga?" Panggilku pelan.
"ARGAAA." Aku berteriak memanggilnya. Tapi tiba-tiba ada tangan yang membekap mulutku. Kemudian aku melepaskan tangan yang membekap mulutku itu.
"Heh, siapa sih?"
"Ssh.. Lo apa-apaan sih, Ras. Kenapa lo manggil-manggil si Arga?" Tanya temanku, Mala. Dan di sebelahnya sudah ada Gala, teman super menjengkelkan ku dari kecil.
"Emangnya kenapa?" Ucapku jengkel.
"Bukan apa-apa, heran aja, kenapa lo manggil-manggil si Arga." Ucapnya, Mala terlihat bingung dan.. takut?
"Ck, jadi tuh dia abis nembak gue, terus masa habis nembak dia kabur gitu aja. Gak gentle!" Makiku.
Mala seketika terkejut dan Gala... Ia seperti sedang menahan amarah. Aku hanya menatap mereka bingung, ada apa dengan mereka?
"Serius lo?" Tanya Mala padaku.
"Emang gue keliatan bohong ya?"
"Anj***!" Maki Gala, kemudian keluar dari kelas dengan tergesa-gesa. Aneh.
"Si Gala teh naon?" Ucapku.
"Laras, lo yang sabar ya.. gua tau kok, mungkin emang susah ngelupain teman masa kecil lo. Tapi lo kan masih ada gue sama Gala, teman masa kecil lo." Ucap Mala.
"Apaan sih lo pada?" Tanyaku bingung.
"Arga udah gak ada, Ras. Dia udah pergi 4 hari yang lalu." Ucap Mala. Aku pun terkejut, lalu.. yang tadi itu siapa?
"Sebenernya gue udah ngasih tau lo waktu itu, tapi lo langsung histeris dan pingsan. Gue gak tega kalo ngingetin lo soal kematian Arga." Ucap Mala pelan. Ia menatapku sendu.
Aku hanya terkekeh pelan.
"Gak mungkin." Yakinku pada diri sendiri. Mala hanya memelukku menenangkan.
****
Aku masih terpikirkan dengan kejadian di sekolah pagi tadi. Sebelumnya pun aku sudah di antar ke makam Arga dan ke rumah orang tuanya untuk berziarah. Orang tua Arga pun sepertinya masih terpukul akan kematian anaknya yang misterius dan mendadak seperti ini.
Aku berjalan gontai menuju kamarku. Tapi saat aku melewati kamar Karisa, aku mendengar suara Karisa berbicara dengan.. Arga?
Ya, suara itu persis sekali seperti Arga. Tapi aku meyakinkan diriku. Arga telah tiada, dan aku harus mengikhlaskan nya.
Aku pun melanjutkan langkahku. Tapi tiba-tiba pintu kamar Karisa terbuka, dan memperlihatkan Arga yang sedang berbicara dengan seseorang.
Tapi tak lama pintu di tutup kembali dan Karisa sudah menatapku tajam. Kemudian ia mengisyaratkan padaku untuk diam. Setelah itu ia masuk kembali ke kamarnya.
"Benarkah tadi Arga? Atau.. aku hanya berhalusinasi?" Tanyanya pada diri sendiri.
****
Hari-hari ku berjalan seperti biasa, aku masih tinggal di rumah bibiku. Aku berinisiatif untuk menerima tawaran Gala dan Mala, untuk tinggal di rumahnya.
Dan besok, aku sudah memutuskan akan pindah dari rumah bibi dan tinggal bersama Gala dan Mala. Hari ini aku sedang bersiap-siap mengemasi barang-barangku.
Tok tok tok
"Laras, boleh bibi masuk?" Tanya bibiku dari luar.
"Masuk saja bi, tidak di kunci!" Sahutku.
"Kau sudah memasukkan semua barangmu?" Tanya bibiku, lalu duduk di sisi ranjangku.
"Iya sudah bi." Jawabku.
"Huft, apa kau tidak ingin memikirkannya lagi?" Aku pun menggeleng.
"Tidak bi, aku juga tidak ingin merepotkan bibi lagi."
"Pasti bibi akan sangat kesepian disini sendiri." Ucapku bibiku murung. Wajahnya terlihat sangat sedih, aku merasa bersalah. Tapi tunggu, bukankah masih ada Karisa?
"Bibi kan masih ada Karisa. Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sedari dulu. Mengapa bibi mengacuhkan Karisa selama aku tinggal disini? Apa karena aku tinggal di rumah bibi?" Bibiku seketika terkejut, ia menatapku dengan seribu pertanyaan di benaknya.
"Karisa siapa yang kau maksud, nak?" Tanya bibiku.
"Tentu saja Karisa anak bibi, masa anak tetangga, hehe." Jawabku terkekeh. Mengajak bercanda walau tiba-tiba aku merasa aneh dan entah itu perasaan apa, yang pasti aku merasa takut sekarang.
"Maksudmu.. Alm. Karisa? Anak bibi?" Aku mengernyitkan dahiku.
"Almarhum? Karisa?" Batinku.
"Maksud bibi?" Tanyaku, mendadak bodoh.
"Karisa telah tiada, nak." Sahut bibiku. Aku terkejut. Apa memang aku di takdirkan untuk selalu terlambat informasi?
"Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, saat kau dan Karisa berumur 10 tahun. Karisa di bunuh.. hiks, ia di bunuh oleh ayah kandungnya sendiri."
"Bibi kira kau tidak akan teringat mendiang sepupu mu lagi. Kau tau, mengapa kamar di sampingmu, selalu bibi kunci? Karena disana tempat penyiksaan sepupumu dulu. Dan di loteng.. hiks, loteng tempat mayat Kar.. hiks hiks." Aku terkejut, lagi-lagi aku melupakan kejadian itu. Kejadian yang membuatku merasa sangat terpuruk, Karisa, teman bermainku setelah Arga, Gala dan Mala.
Karisa dan aku sebenarnya seumuran. Tapi.. aku jadi bingung, sebenarnya ada apa denganku? Jadi selama ini siapa yang aku lihat?
****
Setelah aku menenangkan bibi. Aku pergi dari rumah itu. Tidak ingin mendengar hal-hal tidak masuk akal lagi. Sudah cukup kematian ibuku dan Arga yang sangat di luar nalar. Dan sekarang, Karisa?
Ini sama sekali tidak bisa di percaya. Biar saja aku di sebut pengecut yang lari dari masalah dan tidak berusaha mencari tahu lebih dalam lagi. Yang aku inginkan hanya hidup dengan damai.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari rumah bibi ke rumah Gala dan Mala. Aku pun mengetuk pintu rumah itu.
Jika kalian bertanya, mengapa Gala dan Mala tinggal dalam satu rumah? Jawabannya adalah, karena mereka kembar. Yap, mereka kembar. Orang tuanya tinggal di luar negeri, dan akan kembali 2 bulan sekali.
Pintu pun terbuka, dan memperlihatkan 2 sahabatnya yang tersenyum antusias.
"Hai!" Sapaku pada Mala dan Gala. Mala pun langsung memelukku erat, sedangkan Gala, ia hanya menatapku datar kemudian masuk ke dalam rumah.
"Hei kau! Main masuk saja, tidak ingin memberi salam kepada anggota baru rumah kita?" Tanya Mala pada Gala. Gala hanya menatap datar Mala, kemudian lanjut berjalan ke kamarnya.
"Hilih, ngapa sih tu bocah?" Tanya Mala.
"Ah sudahlah, gak usah di pikiran lah ya, ayok masuk Ras." Ajak Mala sambil menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya, yang seperti istana ini.
"Nah, kamar kamu deket sama kamar aku ya Ras, jadi kita bisa saling berkunjung, haha." Ucap Mala memperlihatkan kamarku yang berada di samping kamarnya.
"Yeyy, berarti ada party dong? Huehe." Tanyaku tidak tau diri:)
"Iya dong, nanti kita minum sama bakar-bakar yah!"
"Bakar rumah, La?" Sahutku, terkekeh geli melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
"Ide bagus tuh, nanti kita jadi gelandangan ya Ras? Hahaha!" Ucapnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Aku pun ikut tertawa. Entah bisa sampai kapan tertawa seperti ini.
Aku hanya berharap, bisa seperti ini lebih lama lagi. Bersama orang terdekat, itu sudah cukup bagiku.
Setelah membereskan barang-barang ku. Benar saja, saat aku turun ke bawah untuk mencari Mala. Mala sedang membakar daging di halaman rumahnya, di temani Gala yang sedang duduk di bangku panjang sambil bermain game di ponselnya.
"Mala!" Panggilku.
"Weh, udah beres-beres Lo? Nih, kuyy, makan! Kapan lagi coba nemu temen kek gue, ya kan? Haha!" Ucapnya.
Aku ikut tertawa, tapi mataku terus tertuju pada Gala. Sedari tadi ia hanya mengacuhkan ku, bahkan saat aku masuk ke dalam rumah ini. Ia seperti menjauhiku. Apa itu hanya perasaanku saja.
Menyadari ada yang menatapnya, Gala pun menoleh ke arah Laras.
"APAA?" Tanya Gala tidak santuy.
"WEH WEH, SANTUY BANG! MATANYA MOHON DI KONDISIKAN. MAU DI COLOK TUH MATA?" Ucap Mala. Sambil menyodorkan spatula pada Gala.
"Ngapa lu ngeliatin gua?" Tanya Gala padaku, mengabaikan Mala. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Eemm.. anu, mata lo gede sebelah." Aku merutuki perkataan ku barusan. Alasan macam apa itu Laras? Bodoh sekali kau ini!
"Ha?" Tanya Gala bingung.
"Buahahaha! Mata lo di katain gede sebelah bang!" Kali ini aku merutuki perkataan Mala barusan. Mengapa ia berusaha memperkeruh suasana? Ck! Mati aku sekarang!
"Ngapa lo yang nyaut? Gua kan nanya sama Laras!" Tanya Gala sambil menatapku tajam. Kemudian beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam rumah.
"Ck! Udah gak usah lu pikirin, sekarang.. KUY MAKAN!"
****
Setelah selesai acara makan-makan ku dengan Mala. Aku berjalan gontai menuju kamar yang aku yakini sebagai kamarku. Kemudian masuk begitu saja dan langsung merebahkan tubuhku di kasur empuk itu.
"Ekhem." Aku mendengar deheman seseorang, tapi aku mengabaikan nya, dan melanjutkan mimpiku yang sempat tertunda.
Sesaat aku merasa ada yang naik ke ranjangku, kemudian mengelus rambutku pelan. Sehingga membuatku semakin nyenyak.
Tapi tak lama, tangan itu mulai mengusap pipiku, dan aku merasa ada yang mengecup dahiku.
Aku pun membuka mataku dan..
"KYAAAAAA."
"NGAPA LO DISINI?" Tanyaku pada Gala, yang masih aktif mengelus pipiku.
Aku pun mendorongnya hingga ia terhuyung ke belakang.
"Lo sendiri? Ngapa di kamar gua?" Tanya Gala. Aku pun mengedarkan pandanganku, dan benar saja.
Ini bukanlah kamarku, kamar ini bernuansa biru dongker dan hitam.
Aku pun berdecak sebal. Kemudian keluar dari kamar itu, aku tidak ingin berdebat untuk sementara waktu.
Sesampainya di kamarku yang sebenarnya, aku langsung merebahkan tubuhku dan masuk ke dalam alam mimpi.
****
"Ras, jalan-jalan kuyy! Sekarang kan hari Minggu. Kuylah." Ajak Mala padaku.
"Hm, boleh deh, tapi mampir ke rumah bibi aku dulu ya." Ucapku. Mala pun memberikan jempolnya padaku, bertanda setuju.
****
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, aku dan Mala pun keluar dari mobil. Aku berjalan agak tergesa-gesa saat berjalan ke rumah bibi. Karena aku merasa sedari tadi ada yang mengikuti kami. Sehingga aku was-was.
Sesampainya aku pun mengetuk pintu rumah itu. Sambil berteriak memanggil bibiku. Hampir setengah jam aku mengetuk dan berteriak memanggil bibiku, tapi tak kunjung menyahut.
"Ras, kayaknya bibi lo lagi gak di rumah deh, kita pulang aja yuk." Usul Mala.
"Hm.. ya udah deh, kita tungguin di mobil aja ya?" Ucapku.
"Nah, gitu dong daritadi." Celetuk Mala.
Kamipun menunggu di dalam mobil. Tapi sudah 3 jam berlalu, Mala pun sudah ketiduran. Aku merasa bersalah padanya.
Sedari tadi aku sudah menelpon bibiku. Tapi hanya suara operator yang aku dengar. Aku pun me-misscall nya lagi, tapi nihil.
Aku pun beranjak dari mobil dan ke teras rumah bibiku. Kemudian mengetuk kembali pintu rumah bibi.
"BIBIII.. INI AKU, LARAAASS!" Teriakku.
Lama berteriak, aku di kagetkan dengan tepukan di pundakku. Aku pun berbalik.
"Nak? Kau mencari siapa?" Ucap wanita paruh baya, yang aku yakini sebagai tetangga bibiku.
"Aku mencari bibiku, apa bibi ada di rumah sekarang?" Tanyaku.
"Ah, maaf nak. Dari kemarin saya belum melihat bibi kamu keluar dari rumah." Jawabnya. Membuatku terkejut, dan khawatir terjadi sesuatu pada bibiku.
"Oh, begitu ya bi. Makasih deh bi, kalau gitu. Saya pulang aja dulu, makasih ya bi." Ucapku sopan kemudian masuk ke dalam mobil.
Terlihat Mala yang sedang menatapku penasaran.
"Bagaimana?"
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Kemudian mobil melaju, pergi dari tempat itu.
Entah mengapa, Mala mendadak tidak enak badan. Jadi kami langsung memutuskan untuk pulang saja.
****
Keesokan harinya, aku datang lagi ke rumah bibiku. Kali ini aku sendiri. Karena Mala sedang sakit. Dan aku tidak ingin merepotkannya.
Aku pun mengetuk pintu rumah bibi. Tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan bibiku dengan tampilan yang bisa di bilang, tidak baik-baik saja.
"Bibi, ada apa dengan bibi?" Tanyaku panik.
"Tidak ada apa-apa kok, nak. Ayo, mari masuk." Ucap bibiku.
"Bibi, apa benar tidak apa-apa?" Tanyaku memastikan.
"Tidak nak, bibi tidak apa-apa."
"Kalau begitu, kenapa bibi kemarin tidak ada di rumah?"
"Bibi hanya ada masalah sedikit, nak. Tidak apa-apa kok. Bagaimana di rumah temanmu, apa mereka... baik?"
"Baik kok bi, sangat baik." Jawabku.
"Syukurlah.. bibi lega mendengarnya, setelah ini.. kau usahain sehat-sehat selalu ya nak, jangan lupa berdoa terus untuk bibi." Ucap bibiku.
"Ah, i.. iya bi." Jawabku mengiyakan. Tak lama, aku mencium bau busuk yang sangat kentara dari tubuh bibiku.
Sekuat tenaga aku berusaha mengatur wajahku agar tidak menyinggung bibiku.
"Terima kasih nak, kalau begitu bibi pergi dulu.." Ucap bibiku, kemudian berjalan menjauh ke arah dapur.
"Mungkin bibi ingin mengambil air." Batinku.
Tak lama ponsel ku berbunyi. Dan disana tertera nama Mala.
Saat aku ingin mengangkatnya. Tiba-tiba aku merasakan aura yang sangat mencekam dan menusuk, dari arah belakang ku.
Aku pun memutar tubuhku melihat ke arah dapur. Dan disana hanya berdiri bibiku sambil tersenyum melambai-lambaikan tangannya padaku.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian mengangkat telepon Mala.
"KAU KEMANA SAJA LARAS?!" Teriak Mala dari sebrang telepon.
"Aku sedang di rumah bi..."
"CEPAT DATANG! BIBIMU KECELAKAAN!" Potong Mala.
"Hah? Apa?"
Tut
Sambungan pun di putuskan. Aku belum bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau misal, bibiku sekarang kecelakaan.. yang di rumah ini siapa dong?" Batinku bertanya-tanya.
Lalu berbalik melihat ke arah dapur. Tapi sudah tidak ada bibiku disana.
Aku langsung berpikiran yang tidak-tidak. Dan sangat takut. Tentu saja! Siapa yang tidak takut bila kau datang berkunjung ke rumah orang lain, dan ternyata orang yang kau datangi itu sebenarnya mengalami kecelakaan.
Lalu tanpa mengecek dapur atau kamar-kamar di rumah ini. Laras langsung pergi dari rumah bibinya.
****
"Lo yang sabar ya, Ras.. gua juga baru tau pas lihat berita tadi pagi."
"Kau serius?" Tanya Laras lagi, memastikan. Tidak percaya.
"Lo liat sendiri deh di berita, terjadi kecelakaan kemarin malam pukul 00:02 di dekat rumah bibi lo dan korbannya itu bibi lo, jirr!!" Ucap Mala geram. Sedari tadi ia mengajak Laras ke rumah sakit yang tertera di berita. Tapi Laras malah tidak percaya dan mengatainya berbohong.
"Udah GC!! Ke rumah sakiit." Sambung Mala, kemudian menarik Laras masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit itu. Mala dan Laras langsung ke resepsionis.
"Mba, korban kecelakaan di jalan Anggara Xx, dimana ya mba?"
"Oh, mba keluarganya ya? Disana mba, lurus aja." Ucap resepsionis itu, sambil menunjuk jalannya.
"Oh oke mba, makasih ya mba." Kata Mala.
Saat sudah di depan pintu itu, Laras membuka pintunya dengan perlahan, tangannya telah gemetar.
Dan tak lama, tubuhnya menegang. Ia melihat sendiri di hadapannya, bibinya sedang di tutup dengan kain putih.
Laras menggeleng, tidak percaya. Air matanya telah keluar dari pelupuk matanya.
Laras menghampiri bibinya.
"Bibii.. kenapa bibi meninggalkan aku juga?" Tangisku semakin kencang. Lalu ada yang menepuk pundakku. Dan orang itu adalah.. Gala.
"Sudahlah jangan menangisi orang seperti dia." Ucap Gala di sertai geraman.
"KENAPA HAH? MEMANG KENAPA? KAU SENANG KAN, AKU SEPERTI INI!! KAU SENANG KAN AKU MENJADI SEBATANG KARAA!!" Teriak Laras di depan wajah Gala. Ia lalu menangis, dan keluar dari ruangan itu.
****
Kini ia sedang duduk sambil memandang ke depannya dengan tatapan kosong.
"Kau tidak pantas untuk mengkhawatirkan dia, apalagi menangisi dia." Ucap Gala, yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Cih, kenapa kau bisa datang kesini?"
"Menyusul kalian." Ucap Gala.
"Untuk apa?"
"Tidak apa-apa." Jawabnya lagi, membuat Laras menghela nafasnya pelan.
"Mala?" Tanyanya pada Gala.
"Dia sudah ku suruh pulang tadi." Jawab Gala saat tahu arah pertanyaan Laras.
"Kau juga pulanglah. Bibi mu akan di makamkan di dekat makam ibumu nanti siang." Laras hanya mengangguk lalu ikut pulang bersama Gala dengan motornya.
****
Setelah pemakaman bibinya, Laras hanya mengurung dirinya di kamar.
"Udahlah.. lo jangan menangis terus."
"Aku sekarang sebatang kara, La.. aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu..hiks." Lirih Laras, sambil sesekali terisak.
"Janji, kamu jangan ikut ninggalin aku ya?" Sahut Laras lagi sambil mengangkat kelingkingnya. Mala hanya mengangguk lalu tersenyum pada sahabatnya itu. Sambil membalas janji kelingking sahabatnya.
Tanpa sadar, sedari tadi ada yang memperhatikan gerak-gerik dua gadis yang sedang berada di kamar itu.
****
Terhitung telah satu bulan berlalu, hari ini adalah hari kelulusan mereka. Terlihat Mala dan Laras, yang memakai gaun berwarna biru laut senada. Mereka sepakat akan memakai gaun yang sama di hari kelulusan mereka ini.
Terlihat MC sudah memulai acara itu. Mala dan Laras pun duduk di kursi paling belakang, karena tinggal kursi itu saja yang kosong.
"Selamat malam teman-teman, sekarang waktunya pengumuman hasil penilaian terbaik.." Murid-murid pun bertepuk tangan.
"Juara 3 di raih oleh... Laras Shasa Alia." Aku pun terkejut dan terharu sekaligus. Tak menyangka bisa mendapatkan nilai terbaik.
"Juara 2 di raih oleh.... Gala Revanio."
"Dan... Juara pertama kitaa, di raih oleh... Mala Revanio. Beri tepuk tangan untuk mereka bertiga."
Aku, Gala dan Mala pun naik ke atas panggung. Lalu mulai mengucapkan pidato singkat..
****
"Yipiiiii.. gua gak sangka bisa dapet nilai terbaik, huwaaaa." Ucap Mala terharu.
"Aku juga gak sangka, huhuuu.. semoga kita di terima di kampus yang sama ya.." Timpal Laras sambil memeluk Mala erat.
"Iyaaa, huwaaa.. udah gak sabar banget, ke kampus bareng lo!"
"Eh, bentar ya. Gua mau ke toilet nih, kebelet. Tolong nitip barang gue ya, sebentar doang!" Teriak Mala dari kejauhan. Sambil tergesa-gesa ke toilet. Laras hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu.
40 menit telah berlalu. Tapi Mala masih belum keluar dari toilet. Aku pun memutuskan untuk menyusulnya ke toilet.
Tapi sesampainya disana, ia tidak melihat ada Mala disana.
Ia pun mencari Mala, hampir ke seluruh penjuru sekolah telah ia cari.
Tapi nihil, Mala seperti hilang di telan bumi. Hingga ia mendengar suara jeritan dari arah lorong koridor sekolah.
"AAAAAaaaa."
Ia pun bergegas ke sana. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat. Mala sudah bersimbah darah di dada kirinya telah tertancap pisau, dan pelaku itu adalah.... Pria hoodie hitam!
Laras susah sangat ketakutan dan gemetar hebat, saat pria dengan hoodie hitam itu maju mendekatinya dan tak lupa mengenakan topeng, untuk menutupi wajahnya.
"PERGIII, MENJAUH. PEMBUNUH!" Teriak Laras. Pria itu hanya diam, sambil terus berjalan santai ke arahnya. Dan..
Hap!
Tangan pria itu sudah merengkuh pinggangku, hingga tubuh kami menempel.
Membuatku susah untuk berlari darinya. Tercium sangat jelas bau anyir darah di hoodie hitam yang di pakainya.
Hingga aku tidak kuat, lalu jatuh pingsan di pelukannya.
****
Aku mendengar suara keributan di sampingku. Lalu dengan susah payah, aku membuka mataku menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinaku.
"Dia sudah sadar, cepat periksa dia!!" Bentak Gala di sampingku.
Lalu tak lama, dokter-dokter itu mengecek keadaanku.
"Se.. sepertinya pasien te.. telah siuman, dan bisa pulang." Ucap salah satu dokter itu tergagap.
Gala hanya mengangguk, lalu dokter-dokter itupun keluar dari ruang inap.
"Haus.." lirihku. Lalu Gala langsung menyodorkan minum untukku. Aku pun meminumnya hingga kandas.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Gala khawatir.
"Hanya pusing." Jawabku, lalu Gala menggeram.
"SIALAN DOKTER-DOKTER ITU! KATANYA DIA BAIK-BAIK SAJA!!" Bentak Gala kesal, lalu ingin melangkah keluar untuk menghajar dokter-dokter itu.
Tapi sebelum itu, jari Laras memegang jari telunjuk Gala.
"Aku hanya pusing biasa, aku tidak ingin sendiri." Ucap Laras. Gala lalu mengangguk dan duduk di sisi ranjang, sambil mengelus kepalaku lembut.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Jangan pikirkan itu.. pikirkan saja kesehatan mu." Ucap Gala lembut sambil terus mengelus kepalaku lembut.
Laras menggeleng, ia ingin mengetahui kabar tentang sahabatnya. Dan pria hoodie hitam itu? Ia tidak bisa tenang sebelum semuanya terkuak.
Gala menghela nafasnya pelan. Lalu mulai menceritakan kejadian itu.
"Saat itu, aku mendengar teriakan Mala, lalu aku datang kesana dan.. saat datang kau sudah berada di lantai dengan Mala di sampingmu. Lalu.. aku menelpon ambulan dan polisi."
"Bagaimana kondisi Mala sekarang?" Gerakan tangan Gala yang mengelus kepalaku seketika terhenti.
"Maaf.. ia tidak selamat, Laras. Ia baru saja di makamkan pagi tadi." Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi padanya. Aku menitikkan air mataku.
Sedih. Tentu saja, orang yang kita sayangi. Orang yang menjadi satu-satunya penguat mu saat ini, meninggalkan mu.
"Kau jangan khawatir, aku yang akan menggantikan posisi Mala untukmu. Bahkan lebih, aku akan melakukan apa saja untukmu. Tapi tolong, jangan diam seperti ini. Jangan terpuruk, aku tidak bisa melihatmu seperti itu.." Lirih Gala.
"Terus? Apa aku harus tertawa saat sahabatku, orang yang menjadi penguatku, meninggalkanku? APA AKU HARUS TERTAWA HAH?!" Teriakku, lalu menangis kencang.
Tidak bisa membayangkan, orang yang selama ini menjadi alasannya tetap hidup. Meninggalkannya.
"Sekarang saja.. kau sudah seperti ini, apalagi saat aku memberitahukan yang sebenarnya padamu." Batin Gala. Lalu berusaha menenangkan Laras.
****
Keesokan harinya.. Laras sudah pulang ke rumah. Dan kini, Gala sedang merapikan kamar Laras.
Gala merawat Laras dengan tulus. Sekarang Laras sudah seperti mayat hidup. Ia lebih sering termenung dengan pandangan kosong ke depan.
Membuat Gala semakin merasa bersalah pada Laras.
"Ras.. makan yuk!" Panggil Gala lembut. Di tangannya terdapat piring dengan nasi dan sayuran kesukaan Laras. Lalu Gala mengelus kepala Laras lembut.
"Makan yuk, udah mau siang tuh. Kamu belom sarapan kan, hm?" Tanyanya, terkesan seperti ibu yang sedang memberi anaknya makan.
Lalu ia menyodorkan sendok ke mulut Laras.
"Ayok makan ah, jangan bengong mulu. Serem tau ngeliatnya, hiih." Ucap Gala berusaha menakut-nakuti Laras.
"Hufft.. ayok makan, Ras.. aku suapin ya? Sinih, aaaa.. pesawat terbang.." Sebelum sendok itu masuk ke mulut Laras. Laras lebih dulu melempar sendok itu, membuat isinya ikut berserakan.
"Saya tidak mau makan dengan pembunuh sepertimu!" Ucap Laras penuh penekanan.
Gala terkejut.
"Apa maksudmu Laras?" Tanya Gala. Laras hanya tertawa sumbang.
"Anda jangan pura-pura tidak bersalah. Saya sudah tahu semuanya." Ucap Laras. Sambil melempar foto dan kertas-kertas yang di temukannya di kamar Gala tadi malam.
Laras memang sudah curiga dengan Gala sejak lama, dan tadi malam. Laras nekat mencari tahu semuanya, dan membongkar semua bukti yang Gala simpan di kamarnya.
Sampai pada akhirnya, Laras menemukan bukti lain. Yang menyatakan, bahwa Gala jugalah yang telah membunuh ibu Laras, Arga, bibi Laras dan Mala. Dengan menyamarkan identitas nya dengan sebutan, pria hoodie hitam.
"Aku bisa menjelaskan nya padamu, Ras.." Ucap Gala. Laras lagi-lagi hanya memandang kosong ke depan.
"A.. aku.. aku mencintaimu, hiks.. ITU SEMUA KULAKUKAN KARENA AKU MENCINTAIMU!!" Laras masih diam, sesekali menitikkan air mata nya jarang.
"Aku tidak suka melihatmu sangat dekat dengan orang lain, aku hanya ingin. Hanya aku lah yang dekat denganmu, tapi.. aku salah, aku malah membuatmu semakin jauh dariku. Maafkan aku.. kumohon." Ucap Gala memohon pada Laras, ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Yang ia inginkan adalah mendapat maaf dari Gala.
"Apa dengan maaf, kau bisa mengembalikan mereka?" Gumam Laras. Gala hanya menggeleng sebagai jawaban.
Laras terkekeh geli. Terkesan dingin. Laras telah berubah. Batin Gala.
"Kau egois."
"Maaf..." Lirih Gala.
"Keluar." Gala hanya mengangguk, ia sudah sangat menyesal. Tidak seharusnya ia bertindak seperti itu. Hanya karena cemburu membuatnya buta.
Malamnya, Gala memasuki kamar Laras diam-diam. Ia mendapati gadis itu sedang terlelap dengan mata yang sembab.
Gala tersenyum melihatnya, lalu ia mengusap pipi chubby milik gadis itu. Lalu mengecupnya dan keluar dari kamar itu.
****
Keesokan harinya...
Gala mengetuk pintu kamar Laras.
Tok tok tok
Hening...
"Laras.. ini aku, Gala." Teriak Gala dari luar kamar. Ia pun mengetuk lagi pintu kamar Laras. Tapi nihil, tidak ada sahutan atau suara sama sekali.
"Kalau tidak, aku akan mendobrak pintunya!!" Ucap Gala. Hingga melupakan bahwa ia mempunyai kunci cadangan kamar itu.
Gala pun mulai mendobrak pintu kamar Laras, di belakangnya sudah banyak maid yang menunggu dan membantu dengan cemas.
BRAKK
Setelah berhasil masuk. Gala mematung di tempatnya. Air matanya jatuh dengan derasnya. Di lihatnya Laras yang bersimbah darah terlentang di lantai kamarnya, dengan pecahan kaca yang menancap di dada kirinya.
Di telapak tangan kirinya terdapat tulisan...
"Aku tidak sanggup. Aku pergi."
Ia semakin menggenggam erat tangan dingin milik Laras. Ia menangis dengan kencang, tidak peduli yang melihatnya cengeng.
Ia sangat menyesal.
Ia telah merenggut kebahagiaan gadis itu.
Hanya karena cinta..
Ia membuat langkahan seseorang sangat berat, bagai alunan musik kematian..
Walau menyesal, ia tetap tidak bisa mengembalikan waktu.
Ia pun melihat kaca yang menancap di dada kiri Laras. Lalu ia mencabutnya dan detik itu juga. Ia langsung menancapkannya ke dada kirinya, tepat di jantungnya.
Maid yang berada disana memekik melihat tuannya bunuh diri, di hadapan mereka.
Perlahan matanya tertutup, terasa ajal sudah menjemputnya paksa.
Ini pilihannya..
Ia memilih mati dengan seribu penyesalannya..
Ia memilih mati daripada hidup tanpa adanya cinta gadis itu..
.
.
.
Huhuuu.. seru gak sih? Kepanjangan ya? Ngaur ya? Acak-acakan ya? 😭🙏Komen aja deh. Maaf kalau kurang memuaskan.
Oh ya, cerita ini juga.. kayaknya banyak banget nih, pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Laras dan Gala, menurut kalian apa? Komen kuyy, jangan lupa tinggalkan jejak😉
oh ya, cerita ini.. juga mengandung unsur campuran seperti horor, misteri, teka-teki, dan sedikit romance. (kalau ada yang masih bingung)
Thanks for reading✨✨
see youu❤️