Warning 🔞⚠️
Mengandung Jebakan gore🕳
Diharapkan boneka mu tidak disampingmu ataupun berada di kamarmu ya!
Bibir runcingnya menjilat darah bangkai tikus dengan lahap. Jemarinya yang panjang mencincang tubuh hewan kecil itu menjadi irisan kecil-kecil berbentuk dadu. Mata kiri nya lalu mengkilat sinis saat waktu sudah menunjukan jam 2 dini hari.
Qoqo namanya, Boneka mistis yang sekarang terkurung di museum karena kenakalannya telah menghabisi nyawa pemilik sebelumnya. Sebenarnya ia baik kok, cuman kalau iseng ya gitu. Bunuh orang. Ia viral dikalangan paranormal sampai-sampai namanya selalu masuk kedalam film horor.
"Membosankan..." gumamnya menatap detak jarum jam yang terus mengarah ke pagi hari.
"Uwow!" takjub dua bocah kecil menatap Qoqo girang.
"Amazing ya nio! Ini kan Qoqo yang di film Hunter itu! yang akhirnya nikah sama paranormal kan." celetuk anak kecil berponi berbicara ke anak kecil berkacamata minus.
"Iyaps, bener. Wah dilihat aslinya serem juga tapi ucul ish!" sahutnya menatap mata kiri Qoqo yang ancur dan ditutupi oleh kancing hitam besar.
'Dasar bocah', Gumam Qoqo membatin.
"Eh, anak-anak jangan ditatap!" bentak seorang guru laki-laki menarik dua bocah itu untuk menghindar.
"Kenapa? ucul juga pak! Nio pengen pegang." ucapnya dengan mata berharap.
'Kecian, mana masih muda lagi', batin Qoqo berusaha untuk menyeimbangi kerasionalan omongan bocah itu.
Dikata serem karena tampangnya ❌
Dikata ucul karena pernah masuk film horor romance ✅
'Gak ada harga diri lagi dah roh hantu macam dirinya'.
"Dia itu boneka yang dirasuki roh hitam, kalian gak tahu apa dia itu serem banget!" cegah pak guru menakuti dua bocah itu agar berhenti untuk tertarik dengan Qoqo.
"Gak serem kok pak, liat aja mukanya mirip jennie bp cuman versi boneka kalo menurut Fia." sahutnya nyengir.
"Darimananya yang mirip, Fia! udah udah sekarang pak guru gak mau tahu, Fia sama Nio jangan natap boneka itu lagi." ucapnya final lalu menyeret dua bocah itu dengan paksa.
Menjelang malam tiba.
Nio cemberut dengan gurat wajah yang kesal. Ia ingin sekali memegang Qoqo tapi gak bisa karena banyak yang mencegahnya.
ia pun menatap langit kamarnya serius. Beberapa saat kemudian kelopak matanya berat dan Nio mulai terlelap ke alam mimpi.
'Nio... '
'Sayangku Nio... '
'Nio... '
Suara rintihan terdengar dari gubuk lusuh disana. Nio yang penasaran pun perlahan memasuki gubuk itu dengan kaki tanpa alas.
'Nio... '
Suara yang memanggil namanya terdengar lagi. Suara ini lebih terdengar memilukan dan juga terdengar suara sayatan-sayatan yang keras.
Kaki Nio langsung bergetar saat menemukan seorang kakak perempuan tergeletak naas dengan bola mata yang kiri keluar dari tempatnya.
HUEKK.
Nio menutup mulutnya mual. Matanya berair dengan tubuh yang mulai bergetar hebat karena ketakutan. Bibir kecil bocah ini terus bertutup kelu dan keringat yang terus mengalir di pelipisnya.
"Hiks... hiks... Mama Nio takut..." gumam Nio berlari keluar dari gubuk lusuh itu.
Perempuan itu menyeringgai seram. Ia adalah Qoqo. Dengan senyum miring Qoqo menyusul bocah itu. Ah menyenangkan mengusik mimpi bocah satu ini, pikirnya.
Nio terus berlari dengan ketakutan menyusuri hutan yang penuh dengan kabut hitam. Ia terus menangis dengan bibir yang bergetar sambil berharap ia menemukan Mama dan Papa nya.
'Nio...'
Suara itu terdengar jelas ditelinga bocah itu, ia lalu menatap sekeliling dengan takut.
Bocah berusia 4 tahun itu terus menangis sambil memanggil Mama dan Papa nya.
"Mau pergi kemana, Nio~ " ujar Qoqo melayang dengan sangat cepat mencegat Nio yang terus melarikan diri.
"AAAAAAAAAAA." teriak Nio ketakutan sambil berjongkok menutup matanya.
Dihadapannya saat ini berupa Qoqo yang amat indah dengan wujud tubuh manusia. Matanya yang tertutupi kancing besar ia copot tadi di gubuk hingga sekarang keadaan matanya terus mengeluarkan darah dan bilatung. Bibir nya yang runcing mengeluarkan lidahnya yang panjang dan dipenuhi makhluk yang bergelinyal disana.
Nio bergetar. Bocah kecil itu tertekan dengan mimpi didatangi Qoqo yang sangat mengerikan di matanya.
"Ah, bocah kecil kenapa kamu ketakutan? bukankah aku ucul seperti yang kamu katakan pagi tadi?", tanya Qoqo tersenyum miring.
Hening.
Nio tidak berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan Qoqo kepadanya. Dipikirannya saat ini ia ingin pulang!
Qoqo mengernyit kesal, "Kenapa tidak jawab hah!" bentaknya menusuk kedua tangan Nio yang sedari tadi digunakan untuk menutup matanya.
Tanpa ba bi bu, Qoqo menendang tubuh bocah itu ke pohon oak. Ia lalu melancarkan aksi nya dengan mencekek leher kecil ini dengan kuku tajamnya. Matanya langsung berkilat senang saat darah mulai merembas dari mulut bocah ini.
"AAARGHHHH HIKS... HIKS... SAK, SAKITTT! teriak Nio menangis dengan sangat pilu. Ia berusaha melepaskan diri tapi kakinya di tarik dengan cepat dan tubuhnya dihantamkan ke pohon oak lagi dan lagi.
"HAHAHAHA" , tawa Qoqo menggema dengan begitu kerasnya. Ia mengusap ujung bibirnya yang penuh dengan saus darah akibat terlalu lezat menghisap betis bocah ini.
"AAAAAAAAAA", teriak kesakitan Nio dengan wajahnya yang sudah babak belur.
'Ini baru malam yang menyenangkan' , pikirnya.
Detik klimaks pun tiba. tangan Qoqo terulur memegang leher bocah itu, dengan sekali kekuatan leher Nio patah olehnya hingga darah menyembur bagai guyuran hujan disana. Bukan hanya sampai disitu, Mulut runcing Qoqo menyedot darah itu dengan sangat brutal sampai-sampai tubuh Nio yang secara tiba-tiba bergetar dengan jantung yang masih berdetak dan mata penuh berair.
Sakit, tentu saja. Nio merasakan seluruh tubuhnya bergetar kesakitan ditambah dengan kepalanya yang secara paksa di patahkan ke arah kiri. Mulutnya bergetar kelu karena tidak mampu mengeluarkan suara karena pita suaranya saja sudah tidak berfungsi.
"Selamat tinggal bocah kecil!" ujar Qoqo tersenyum miring.
HAPP...
GRAUK GRAUK GRAUK..
Setelah mengucapkan selamat tinggal itu, mulut Qoqo yang awalnya runcing membesar dan langsung melahap kepala bocah itu dengan sekali huap.
~~~
"HAH... HAH... MAMAAAA!" teriak Nio bercucuran keringat dengan tubuh kecilnya yang kejang-kejang.
Seorang wanita cantik masuk ke kamar Nio dengan panik. "Kenapa sayang? ada apa?", tanyanya sambil memeluk tubuh Nio yang terus gemetaran.
"Ma, Nio masih idupkan?", tanya nio dengan wajah pucat pasi sambil memegang lehernya.
"Kamu kenapa nak? tentu aja masih idup sayang, kamu mimpi buruk ya nak." sahut Mama nio menenangkan anak semata wayangnya dengan mengusap punggung Nio.
Nio malah menatap mata Mama nya berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa sayang, itu hanya bunga tidur. Jangan khawatir ya, cup cup anak mama yang tampan."
"Iy, iya Ma." Sahut Nio masih dengan wajah ketakutan.
Note dari Qoqo:
Kalo mau tidur baca doa dulu ya slur! hehehe.. jangan lupa mimpiin Qoqo ya😃