"Iblis itu tidak akan melepaskan korbannya."
....
“kita akan menyelamatkan Sinta dari iblis itu dan menghancurkan game iblis itu.”
“menghancurkan?”
“lebih tepatnya membinasakannya.”
Membinasakan? Aku berfikir hal itu mudah. Tapi tidak sesuai pikiranku. Game ini berulang kembali. Serasa menjebak.
Aku tidak ingat sepenuhnya, tapi kuingat semua ini berawal saat Reyhan membeli sebuah buku mantra berisi permainan pemanggil iblis. Caranya mudah, kau dan beberapa temanmu pergi kesebuah rumah kosong.
Membaca mantranya, setelah sang Iblis muncul kau berupaya keluar dari rumah tersebut tanpa tertangkap si Iblis. Jika sampai fajar kau tidak kunjung keluar, kau kalah.
Maksudku, kau mati.
Karena tergiur penasaran, dan harga buku yang teramat murah karena spesial hari Black Friday, Reyhan membelinya.
Karena itu, kemarin kami memainkannya dan sialnya Sinta terjebak.
“rumah ini menakutkan. Apa kita benar-benar memainkannya disana semalam?” Keluhku untuk sekian kalinya.
“tentu saja Fany. Kemarin malam kita main disana, dan Sinta terjebak.” Jawab Reyhan.
“tapi ini aneh, aku tidak ingat apapun.”
“wajah kakak juga pucat.” Adikku Mey, menatap Reyhan tajam. “aku mengawasi kalian bertiga.” Katanya tajam.
Reyhan, Hana, dan Bimo terdiam kaku.
“tentu saja kau tidak ingat Mey, kau pingsan saat kita baru memainkan permainannya!”
“karena itulah aku mecurigai kalian!”
“Ah.. ha. Sudahlah, ayo masuk.” Kata Hana mencairkan suasana. Sedangkan Mey masih menatap Reyhan tajam.
Kami berlima masuk. Jam menunjukkan angka 23.15. 45 menit lagi tengah malam. Disitulah permainan baru dimulai.
“uhh.. kepalaku pusing. Aku seperti.. sesuatu yang aneh ditubuhku.. egh..”
Mey merangkulku. Baru beberapa langkah, sudah begini. “kita pulang saja. Ayo kak.”
“tidak. Tidak ada yang akan pergi!”
“apa maksudmu Reyhan? Kenapa kau menghalangi?”
Reyhan terdiam. “kita.. kita sudah sejauh ini. Apa kalian tega meninggalkan Sinta?”
“Reyhan benar Mey, kakak tidak apa-apa.”
Akhirnya kami berlima melanjutkan tur malam kami. Kami pergi ke lantai atas tempat peralatan Iblis itu kami tinggalkan.
Disana tampak beserakan lilin-lilin, buku mantra, dan sebagainya.
“kita tunggu sekitar 40 menitan lagi. Selama itu salinglah menjaga. Jangan pergi sendiri, aku akan membuat lingkaran pemanggil Iblisnya. Fany, jangan pergi jauh-jauh dariku.” Tegas Reyhan.
Hana memutar bola matanya. Aku mengangguk pelan. Bimo menatapku dalam. Sedangkan Mey langsung mengambil tempat duduk.
...
“rencana ini cukup bodoh. Membuang waktuku. Reyhan itu hanya ketakutan tak menentu.” Gerutu Hana sambil mendudukkan bokongnya di atas kasur.
Pacarnya, Bimo melipat kakinya sambil masih asik menyelesaikan game di hpnya. Mereka berdua masuk kedalam kamar kosong, menunggu Reyhan menyelesaikan lingkarannya.
“menurutku Reyhan hanya tidak ingin mati konyol gegara game Iblis ini.”
“setelah kejadian kemarin, seberapa persen menurutmu kemungkinan kita mati?”
“menyalahkan Reyhan heh?”
“tidak. Kita semua mengingikan permainan ini dilakukan. Aku hanya ingin tau, berapa jam lagi aku bisa melihatmu.”
Bimo menyeringai. “25 menit lagi, dan setelah itu Iblis bodoh itu datang lalu kita akan mati tercekik.”
“pasrah heh?”
“tidak ada cara lain untuk menghentikannya Hana, bahkan cara Reyhan ini cukup membuatku tergelak.”
“dari pada menumbalkan orang untuk menghentikannya, lebih baik membunuh dalangnya.”
Tangan Bimo terhenti, “apa maksudmu?”
Hana menyeringai. “aku tau caranya Bim, bunuh Iblisnya, kita selamat.”
“kau sadar ‘kan siapa yang akan kau bunuh?”
“Iblis bodoh itu tidak akan pernah melepaskan korbannya. Dia merasukin salah seorang dari kita. Dengan alibi menyelamatkan, dia malah ingin membunuh kita.”
Bimo tertegun. Bibirnya tercekat, “maksudmu..”
“yah, Reyhan, Bim. Mungkin saja dia sudah terasuki saat membeli buku itu. Dia juga tampak bersemangat menggiring kita kembali ke permainan ini.”
“terlalu bersikeras.”
“benar sekali. Jadi Bim..”
Bimo meletakkan hpnya perlahan. Semakin bimbang. Dia sudah tak peduli akan mati atau tidak. Menurutnya semua orang akan mati cepat atau lambat.
Tapi Reyhan, sahabatnya...
“itu tidak mungkin.”
Hana mengendikkan bahunya. “terserah, aku mau kekamar kecil dulu.” Katanya.
Hana berjalan kekamar mandi tak jauh dari kamar tersebut. Dia menyeringai sepanjang jalan.
Saat membuka pintu kamar mandi, matanya terpaku. Bibirnya tercekat menatap sesuatu didepannya.
....
Di waktu yang sama..
Bibir Mey terkatup rapat. Menatap datar Reyhan yang bersikeras membuat lingkaran.
“sangat bodoh.” Lirihnya.
“Mey.. ada apa?” panggilku. Mey menggeleng. “yaudah ayo temanin kakak.”
Didepan wastafel kamar mandi, aku membasuh wajahku berulang kali.
Dari pantulan cermin, kulihat Mey mendekatiku.
“kita ditipu kak.”
Eh?
“apa.. apa maksudmu Mey?”
Mey merogoh sakunya lalu meletakkan sebuah ponsel di atas wastafel.
Aku tertegun. “ini punya.. Reyhan bukan?”
“benar. Dia dan semua teman kakak itu telah menipu kakak.”
“Mey?”
“kau benar-benar tidak ingat apapun?”
“egh.. tidak. Tapi mereka bilang ini untuk menyelamatkan Santi, dia sahabatku jadi aku harus melakukannya 'kan."
Alis Mey menyatu, “faktanya kak, kau hanya dijadikan tumbal bagi mereka!”
Aku tertegun.
“semalam hampir saja tidak ada yang selamat. Mereka, tidak, kami semua tertangkap. Kakak sendiri yang hampir berhasil keluar. Lalu Reyhan menumbalkan dirimu.”
“apa..?”
“dia yang membeli buku itu, dia yang telah membaca semua isinya. Didalamnya berisi nyawa anak indigo lebih nikmat dua kali lipat dibanding anak biasa. Karena itu Reyhan membuat perjanjian jika dia berhasil mendapatkan anak indigo, sang Iblis akan melepaskan kami semua.”
“... dan dia menumbalkanmu. Dia tau kau indigo kak.”
“May... cerita apa yang kau ceritakan ini? Ini semua..”
“kak, aku tidak tau semua ini karena aku pingsan! Tapi aku tau saat aku mendengarkan perbincangan Reyhan di ponsel ini.”
Aku menatap ponsel yang ditunjuk adikku.
“dia bilang juga dia akan menumbalkanmu untuk kedua kalinya. Untungnya kau selamat semalam, tapi kau terjatuh. Dan ingatanmu hilang separuh. Tapi sang Iblis tetap mengincar nyawa kami, karena itu Reyhan dan semuanya merencakan ini. Kau akan ditumbulkan lagi untuk menyelamatkan nyawa kami.”
“lalu Sinta?”
“kau bisa mendengarnya sendiri.” Mey mengetikkan sebuah nomor, lalu diberikannya padaku. “aku diam-diam mengambil ponsel Reyhan, ini, dengarlah.”
Tiiit...
Tiiit..
“ah, Reyhan bagaimana? Sudah mau mulai? Aku barusan berdoa pada Tuhan untuk keselamatan kalian. Rey?”
Deg.
Ini suara Sinta. Sinta ada dirumah bukan terperangkap disini seperti yang mereka ceritakan.
Jadi..
Selama ini aku..
“iya, kak. Kau dibohongin.”
...
00.01
“Fany.. Fany..!!!” teriak Bimo mencariku. “dimana Fany? Ini sudah waktunya.”
“percuma kau mencarinya. Dia akan datang sendiri pada kita.”
Mata Bimo menyipit.
“sudah lewat tengah malam, dia akan berubah. Bukan Iblis, tapi dia yang akan membunuh kita. Percayalah, dia akan datang.” Lanjut Hana.
“ah, Bimo. Tentang tadi, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu. Di kamar mandi tadi,”
“aaaahhhkkkk!!!!”
“Reyhan!” teriak Bimo dan Hana bersamaan.
Didapur, tampak Reyhan mengejang karena ku cekik. Kakinya meronta-ronta. Aku tersenyum ngeri, memamerkan gigi-gigi taringku.
Siap menerkam Reyhan.
“Fany!!”
Srakkkkk!!!!
Aku mundur beberapa langkah. Reyhan langsung jatuh dan kepalanya membentur dinding dapur cukup keras. Darah menguncur segar dari kepalanya.
“Reyhan! Bangunlah! Jika kau mati aku bersumpah tidak akan pernah mengunjungi pemakamanmu!!”
“enghh..” mata Reyhan terbuka. Melenguh.
“eerrrrrghhh.. kalian semua penipu!!! Penipu!” teriakku.
“kami mencoba menyelamatkanmu Fany!”
“bohong! Kalian menumbalkanku!”
Hana tertegun. Dugaannya semakin kuat.
“kau itu orang baik Fany! Karena itu aku tega melakukannya karena kutahu kau pasti tidak akan menyesal memberikan nyawamu pada kami!!”
“diam kau!!! Kau tidak punya hak untuk nyawaku! Aku tak mau kau seenaknya menumbalkan ku lagi! Aku tidak mau! Aku akan menghancurkan perjanjian bodoh kalian!! Aku!”
“tapi kau sudah mati Fany!!”
Eh...
Bahuku menegang. Hana bergeser. Memperlihatkan sebuah cermin besar padaku. Disitu kuliat penampilanku. Mengerikan.
“apa?”
“kami memang menumbalkanmu. Dan kau mati namun kau tidak menyadarinya. Tengah malam kau berubah menjadi Iblis, dan datang ketempat Santi. Kau membunuhnya. Untunglah kau hilang ingatan, karena itu kami memancing kau datang kesini dengan alasan menyelamatkan Santi, yah, padahal dia sudah mati.”
“karena itu kami berfikir selanjutnya adalah giliran kami. Yah, ini karma. Tapi Reyhan menyusun rencana. Mey dan kau satu-satunya yang tidak tau rencana ini. Kami ingin melepaskan perjanjiannya dan mengirimmu ke alam baka dengan tenang.”
“apa..”
“percayalah Fany.. kau tau ‘kan kita sudah bersahabat sejak lama, kami memang salah tapi..”
Aku menangis.
Semua orang tampak kaget.
“aku mau.. aku mau saja menumbalkan nyawaku demi kalian. Tapi kenapa kalian tidak mengatakan yang sesungguhnya. Itu menyakitkan hatiku..”
“Fany..”
Akhirnya dengan sekuat tenaga aku mengontrol perubahanku. Aku sudah mati. Tapi aku tidak mau roh jahat lainnya merasuki dan mengontrol ku.
Aku tidak mau menyakiti mereka.
Dihadapan mereka semua, ditengah lingkaran mantra, aku akhirnya bisa pergi dengan tenang.
Tamat. Emh, apa benar ceritanya sudah tamat? Tidak.
Musuh terbesar nya belum ditemukan.
Iblis yang sebenarnya sedang menyamar dalam rupa mereka masih belum ditemukan.
Siapa?
“kau.. sudah kuduga..”
“... Mey!!” teriak Hana lantang. Dia, Reyhan, dan Bimo mundur perlahan.
Menatap nyalang Mey yang perlahan berubah menjadi Iblis hitam makluk pengisi permainan itu.
“kau menyadarinya Hana? Aku cukup kaget.”
Hana berdecih. “aku melihat jasad Mey di kamar kecil tadi! Semalam Mey bukan pingsan tapi sudah mati! Kau membunuh Fany lalu berpura-pura menjadi Mey untuk meracuni pikiran Fany agar membunuh kami semua! Kau gagal bukan.. Fany sudah pergi ke alam baka! Kau gagal!”
Si Iblis dalam rupa Mey terdiam, lalu perlahan bibirnya terbuka lebar. Menyeringai. Tertawa keras.
“aku tidak gagal Hana.. aku berhasil. Melepaskan satu jiwa untuk mendapatkan kelima jiwa lainnya. Aku untung Hana.."
“apa..”
Srakkk!!!!
Hana terduduk. Matanya melotot, tangannya memegang dadanya.
Darah.
Bimo menyeringai, menarik pisaunya kembali dari tubuh Hana.
“Bim.. mo..?”
“berterima kasihlah padaku. Aku mempercepat kematianmu.”
“jadi kau.. egh..”
“yah, sama sepertimu aku juga melihat jasad Mey. Awalnya aku memikirkan ucapanmu tadi. Jadi aku berencana ingin membunuh Reyhan, tapi ternyata aku salah. Iblis yang menyamar menjadi Meylah yang harus dilenyapkan.”
“Tapi aku tau aku tidak akan sanggup. Jadi aku menemui Iblis itu dan dia mengatakan hanya ada satu orang di antara kita yang ia izinkkan keluar dari rumah ini. Itu berarti, aku harus membunuhmu ‘kan.”
“be, brengsek...”
“kau yang brengsek! Kau tau darimana semua itu huh? Padahal kau tidak pernah membaca buku mantranya. Hanya Reyhan yang tau. Itu berarti kau diberitau Reyhan ‘kan? Rumor kalian berpacaran itu benar ‘kan! Dasar murahan!”
“itu.. egh.. itu tidak benar.. kau salah Bimo.. kau juga tau.. egh.. ‘kan.. Iblis itu tidak akan melepaskan semua korban... egh.. nya..”
BRUKK..
Hana mati.
Sekarang giliran Reyhan. Bimo menatap nyalang Reyhan, bersiap menebas tubuhnya juga.
“pengkhianat harus mati...”
“tapi aku sudah mati Bimo.”
Langkah Bimo terhenti. Tertegun.
“aku sudah mati saat Iblis Fany membenturkan kepalaku tadi. Hanya kau yang tersisa.” Mata Reyhan memerah.
Bimo tertegun. Dia mundur perlahan saat Iblis Hana, Iblis Mey, Iblis Santi, dan Iblis Reyhan bangkit dihadapannya. Santi? Yah, suara Santi tadi dan percakapan Reyhan dengan Santi hanya akal-akalan sang Iblis Mey. Mereka mendekat dan mengelilingi Bimo.
“tapi kau bilang aku bisa bebas jika..”
“seharusnya kau mendengarkan pacarmu Bimo.. aku, tidak akan melepaskan semua korbanku.. grrr... kau sudah..”
“...game over Bimo.”
“apa? Tidak!!”
Srakkkkkk
Tamat.
ttd, Zaitun.