Teman atau perasaan ?
Maju untuk cinta atau ikutin semua kata teman?
-----------
"Woahhh!!Ga mungkin!" Destia ternganga melihat orang di balik kaca yang sedang duduk di dalam kelas.
Ini hari pertamanya masuk kelas ke kelas 8 setelah kenaikan kelas .
"Apaan , Des?" Sophia berhenti berjalan, melirik arah mata Destia.
Seorang remaja laki-laki duduk memeriksa tasnya .
"Iya Sop ! yang itu! Kamu lihat kan?" Destia menunjuk remaja itu.
Sophia meninju bahu Destia. "Sop SOP! Nama Gue itu Sophia!"
"Bodo amat! " Destia memasuki kelas remaja itu.
Menghampiri dengan semangat.
"Hai... "
Remaja pria itu mengangkat wajahnya dari bukunya.
Dengan memakai kacamata bulat seperti Harry Potter.
Pria itu tersenyum. "Hai Kak..." sapanya.
"Hai.. " Destia tersenyum lebar melambaikan tangannya.
" Des ! Udah ah Ayo keluar! Bel udah hampir bunyi masuk kelas!" Sophia menarik lengan Destia.
"Sebentar.. " Destia menyuruh Sophia menunggunya .
"Eh.. Kamu.. Aku minta nomor handphone kamu dong."
Remaja pria itu menengadahkan tangan. "Mana handphone kamu?"
Destia menyerahkan ponselnya.
Remaja pria itu mengetik di handphone Destia.
"Nih! Aku tunggu kabar dari kamu.." Remaja pria itu menyerahkan ponsel Destia.
Destia melihat layar ponselnya. Nomor kontak baru di ponselnya baru terpampang.
"Peter.." ucap Destia membaca nama di kontak baru.
---------
"Ah! Untung aja kita ga terlambat.. " Sophia bernafas lega duduk di kursinya.
"Ya emang ga bakal telat juga! Kan emang masih ada waktu 10 menit tadi pas kita di kelas sebelah. " Destia menduduki kursinya kini di sebelah Sophia.
"Kamu jangan coba-coba ganggu Peter! "
tegas Sophia berbisik karena Guru sudah berdiri di depan menginstruksikan memulai kegiatan belajar.
Destia menggeleng. "Aku ga ganggu lah! Aku cuma mau kenal lebih dekat aja! "
"Des! Dia itu kelas 7! Adik kelas. Dan lagi dia itu di kelas unggulan. 7-3! Jangan ganggu belajar dia!"
"Sop! Kamu lupa ya? Kita juga di kelas unggulan!
Kita di 8-3! Kalau aku ga bisa dekatin dia. Aku yang terganggu! Kamu tahu kenapa aku mau dekat dia kan?!"
"Des!! Tetap aja! Dia itu bukan Harry Potter!"
"Sop! Dia emang bukan ! Tapi dia mirip! "
"Peter itu CUMI!! DES! CUMI!! CUMA MIRIP!!" Sophia kini melotot .
"Bodo Amat Wekkk !! " Destia menjulurkan lidahnya.
--------
Namun kenyataannya.
Destia begitu menuruti kata-kata Sophia.
Destia dan Sophia juga adalah tetangga.
Rumah mereka tidak jauh.
Malam itu mereka belajar bersama di rumah Sophia.
"Jangan! Aku bilang jangan hubungin !" suara Sophia melarang Destia menghubungi Peter.
Destia memutar-mutar ponselnya.
Berkali-kali membuka laman chat hendak mengirim chat lebih dulu.
Namun Sophia memantau dan selalu menginterupsi setiap Destia mulai mengetik.
Destia mendengus kesal.
Kenapa dia harus sepatuh itu pada Sophia.
Sophia itu temannya dari kecil.
Orang tua mereka juga saling mengenal.
Jadi Destia takut Sophia akan mengatakan tentang apa saja ke Ibunya.
"Aku kan sayang kamu, Des! Jangan jadi keliatan kamu kejar-kejar dia ngotot. Apalagi baru kenal. Ga bagus tahu!"
Destia melempar ponselnya. "Iya Iya! Ga bakal aku hubungi Peter duluan! "
------
Keesokan harinya.
Destia berjalan sendiri keluar kelas lebih dulu untuk istirahat.
Melewati kelas 7-3 .
Destia berhenti sejenak.
Ingin melirik ke dalam kelas 7-3.
Namun akhirnya menunduk hanya menghela nafas berat.
"No! " Destia menggelengkan kepalanya.
"Hey!"
Destia mengangkat wajahnya.
Peter di hadapannya tersenyum. "Hai.. "
Destia mundur perlahan memutari Peter lalu lari menjauh.
Peter memandang ujung bayangan Destia dengan bingung.
"Hmm.. Bukankah kemarin Dia yang meminta nomorku dulu? Kenapa dia belum menghubungi aku?"
-----
Destia terengah-engah tiba di kantin sekolah.
Mengatur nafasnya lalu menuju kasir membeli beberapa makanan ringan.
Setelah membayarnya.
Destia menuju meja terdekat untuk memakan cemilannya.
"Iya Kak.... " suara Peter tidak jauh dari bangku Destia.
Destia menoleh.
"Itu benar Peter! Dan dia bersama Joshua!" Destia berkata resah sendiri.
Joshua! Pria remaja kelas 9-3 paling keren 1 sekolah!
Destia menundukkan wajahnya menutup sisi kiri wajahnya mencoba menghalangi Peter menyadari dia disana.
"Kak... Kita duduk disini aja!" Peter duduk di hadapan Destia.
"Halo... Des! Aku dengar kemarin teman kamu panggil kamu Des.
Kami boleh duduk disini kan?"
Destia mengangkat wajahnya menatap Peter.
Remaja pria mirip Harry Potter itu tersenyum lebar.
"Hai Des... "
Joshua ikut duduk di sebelah Peter.
"Hey Peterpan! Kamu kenal Destia?"
(Oh tidak! seorang Peter si Harry Potter didepanku saja sudah membuat panas dingin! Ini Joshua si Pria paling keren di sini juga duduk didepanku!)
Destia bangkit dari duduknya.
"Aku lebih baik pergi dari sini! Kalian silahkan duduk disini dan nikmati makanan kalian!"
Destia langsung berjalan cepat meninggalkan kantin.
------
2 Hari.
3 Hari.
1 Minggu berlalu sejak Peter mengetik nomor ponselnya di ponsel Destia.
Peter memutar-mutar ponselnya.
Menggigit bibirnya sendiri melamun.
"Kamu mikirin apa , Peterpan?" Joshua mengacak rambut Peter yang melamun di sebelahnya.
Joshua sedang membaca buku IPS ditangannya.
Peter cemberut menepis tangan Joshua dikepalanya.
"Ish! Aku sudah bilang, Jangan panggil aku 'Peterpan' lagi!" jengah Peter.
"Jadi Peterpan Kakak kenapa ini? Dari kemarin mukanya kaya baju kusut gitu!"
Peter menatap Joshua cermat.
"Kakak kenal Destia?"
Joshua berpikir sejenak.
"Destia? Ya... Kakak kenal sedikit.
Guru Bahasa Inggris Kakak adalah walikelas 8-3.
Beberapa kali Destia ke kelas Kakak mengantar tugas.Kenapa memangnya?"
Peter mengangkat alisnya mengangguk-angguk.
"Ya... Menurut Kakak. Destia gadis yang manis.. "
Peter langsung memandang Joshua tajam.
"Apa itu? tatapan macam apa itu?" Joshua terkekeh.
----------
2 Minggu berlalu.
Bel masuk berbunyi nyaring.
Peter berjalan cepat menuju kelasnya.
"Aduh! Mana ini ya..." suara Destia pelan mengecek buku PRnya di tas . "Pelajaran pertama lagi!"
Brugg!
Destia menabrak seseorang.
Tas Destia terjatuh dan buku-buku berserakan.
"Maaf maaf.. Hhhh..Kenapa pakai jatuh segala sih!"
Destia menundukkan tubuhnya mengambil buku-bukunya.
2 tangan membantu Destia mengambil buku.
Destia mengangkat wajahnya melihat yang membantunya.
" Peter?"
"Des! Cepetan! Kelas udah mau mulai!" buru Peter mempercepat meraih buku di belakangnya lalu menyerahkannya ke Destia.
"Ah ya.. Terimakasih!"
"Nih! Aku masuk kelas dulu!" Peter menyerahkan buku Destia sambil bangkit berdiri.
"Oh.. Ya.. Sekali lagi terima kasih!"
"Anytime! " Peter tersenyum kecil mengedikkan bahunya lalu membalikkan tubuhnya menuju kelasnya.
Destia hanya melihat Peter berlalu .
" No! Tidak boleh! Ok Destia! No! Jangan!"
Destia menepuk-nepuk pipinya.
---------
Istirahat sekolah.
"Des! Aku baru ingat disuruh ke ruang guru sebelum jam istirahat selesai. Aku pergi duluan ya!" Sophia pamit.
Destia hanya mengangguk asal.
Dia masih fokus bermain game candy crush di ponselnya.
"Des!"
"Hm? Apalagi Sop?"
"Des! Ini aku Peter."
Destia menatap Peter dihadapannya kini.
Peter merebut ponsel Destia dari tangan Destia.
"Eh Peter? Kamu ngapain?"
"Mau hapus nomorku!"
"Eh jangan!" Destia menarik lengan Peter.
" Buat apa aku kasih kamu nomorku tapi tidak ada komunikasi!"
"Itu... "
"Itu apa?"
"Kata temanku. Perempuan itu tidak boleh terlalu terlihat jelas mengejar-ngejar lelaki."
Peter menoleh tertawa "Itu Konyol! Biar aku hapus nomorku!"
"Jangan! Please!"
"Toh Kamu juga memang tidak mau menghubungi aku?"
"Peter! Please jangan!" mohon Destia.
Peter berdiri mengangkat ponsel Destia.
Mengecek kontak di ponsel Destia.
Jari Peter terhenti di nomor kontak namanya.
Tertulis ' Peterpan'
"Kamu.. Kamu menamakan kontak aku 'Peterpan' ?"
Destia mengangguk.
"Kenapa? Bukankah katamu aku hanya mirip Harry Potter?Kamu tertarik padaku karena kacamata dan kemiripanku dengan Harry Potter kan?"
"Ya.. Memang kamu mirip Harry Potter.
Dan ya.. Aku tertarik padamu.
Aku menamakan kontakmu dengan nama 'Peterpan' karena ... Aku menyukai dongeng Peterpan.
Aku tidak pernah menyukai seseorang ataupun berpacaran.
Ini pertama kali bagiku.
Makanya temanku melarangku untuk terlalu mengejarmu karena katanya .. 'perempuan yang mengejar-ngejar lelaki itu tidak baik' .
Aku mau menghubungimu tapi aku tidak mau terlihat tidak baik dimatamu.
Namamu Peter.
Aku ingin memanggilmu Peterpan karena terdengar Menggemaskan.
Aku menyukaimu.
Kamu adalah Peterpan ku.
Aku ingin dekat denganmu.
Kamu yang tentukan aku jadi Wendy atau Tinkerbell.
Aku akan tetap menyukaimu."
"Woah!!! " Joshua terpukau bertepuk tangan lalu menepuk pundak Peter adiknya.
"Hey... Sepertinya kalian saling bertelepati bertukar pikiran?
Hey Peterpan! Tuh ada perempuan suka dongeng Peterpan juga!"
Joshua menjitak kepala Peter. " Akhirnya kamu bisa punya pacar juga!Eh tapi... "
"Tapi apa?" tanya Peter.
"Tapi... Sayang sekali.. "
Joshua tersenyum lebar ke Destia.
"Des! Nama kamu bukan Wendy!
Destia! Kalau kamu mau pacaran sama Peter,
Ganti nama dulu gih!
Peter cuma mau sama perempuan dengan nama Wendy saja!"
"Ih! Kakak!" Peter memukul bahu Joshua.
"Aku mau ngomong dulu sama Destia.
Kakak duluan saja keluar kantin.
Nanti setelah istirahat selesai.
Aku akan langsung ke kelas."
"Mau ngapain hayo?"
"Mau ciuman! Kenapa? Penasaran? Mau ikut?"
"Hahaha.. Ok! Bye.. Awas jangan sampai terlambat masuk kelas nanti!" Joshua mengingatkan.
"Des.. Aku mau ngomong sebentar." Peter duduk kembali di bangkunya.
Destia pun duduk kembali.
"Aku mau bilang. Aku juga sebenarnya tertarik padamu. Aku suka kamu. Tapi mendengar kamu bicara tentang teman kamu... "
"Itu... Soal Sophia ya.. Kamu tenang saja.. Dia hanya memberi saran. Pada akhirnya Aku yang mengambil keputusan."
"Ok. Satu lagi. Aku mau tanya.
Apa kamu tertarik pada Kakakku? "
"Kakakmu? Maksudmu.. Joshua?"
"Mmhmm.. Kamu tidak mendekati aku karena ingin dekat dengan Kakakku kan?"
"Oh itu.. Peter.. Sungguh. Awal aku melihatmu dan meminta nomor ponselmu. Aku sama sekali tidak tahu dan ada terpikir kalau kamu adalah adik Joshua. Sungguh!"
Joshua diam sebentar sebelum akhirnya tersenyum lebar kini.
"Kalau begitu.. bisakah kita mulai berpacaran?
Aku mencintaimu, Destia.. "
Destia mengangguk " Yes... Aku mau."
--------