Sebuah keluarga berkecukupan mengaadopsi gadis berusia 10 tahun korban pembantayaan yang terjadi di desanya dan alangkah ajaibnya gadis itu bisa selamat dari peristiwa itu tanpa ada luka sedikitpun di tubuhya hanya ada beberapa luka ringan di lutut dan dahinya, hanya dengan obat merahpun luka itu telah sembuh dengan sendirinya.
Riana dan Alvian, tidak pernah membedakan kasih sayang yang mereka berikan terhadap Amanda dan kedua anaknya, karena rasa simpati dan jiwa manusiawi yang sangat tinggi membuat mereka memutuskan untuk mengadopsi Amada menjadi putri angkat mereka karena memang kebetulan mereka tidak memiliki anak perempuan, kedua anak mereka berjenis kelami laki-laki dengan masing-masing berusia 12 tahun dan yang satunya lagi berusia 7 tahun.
Alvian terkenal akan kebaikannya, selain dermawan dia juga memiliki paras yang cukup tampan di usianya yang sudah lebih dari kepala tiga, wajahnya masih terlihat sangat tampan dan awet muda, begitupun dengan Riana, dia juga wanita yang cantik dengan jiwa keibuannya dia ibu yang sangat penyayang dan jarang marah terhadap anak-anaknya.
"Manda, sini nak kita belajar bareng-bareng!" ucap Riana, ketika dia melihat Amanda membawa buku pelajarannya menuju taman belakang.
"Tidak usah mah, Manda belajar sendiri saja," ucap Amanda sambil melirik kedua saudaranya yang mendelik ke arahanya. Kedua saudara angkatnya memang tidak menyukai dirinya di karenakan mereka cemburu karena terkadang perhatian Riana selalu terpokus pada Amanda saja.
"Loh kenapa? kalian kan bisa belajar bersama, kalian ini sudah menjadi sodara sekarang, kalian tidak boleh saling bermusuhan, terutama pada kalian Azka dan Dendra kalian harus bisa menerima Manda, karena sekarang Manda anak Mamah juga," tutur Riana dengan lembut.
"Gak bisa mah, mamah sama papah hanya orang tua kami bukan yang lain dan kami juga tidak ingin punya sodara lagi, apalagi anak perempuan yang hanya bisa merepotkan saja," cetus Azka yang langsung di iakan oleh Dendra adiknya.
"Kalian tidak boleh bicara seperti itu Azka, Dendra" bentak Riana, Azka dan Dendra yang merasa tersinggung karena Riana membentaknya pergi dengan penuh amarah menuju rumah pohon yang ada di belakang rumahnya, matanya mendelik kesal pada Amanda.
Mereka duduk di dalam rumah pohon sambil bersungut-sungut saking kesalnya pada Amanda, karena dialah Mamah dan papahnya sering memarahi mereka berdua, tiba-tiba Amanda masuk tanpa di persilahkan, kekesalan Azka semakin menjadi dia mengumpati Amanda dengan kata-kata kasar yang hanya di tangagapi Amanda dengan seringai tipis yang tersungging di bibirnya.
Amanda duduk sambil memainkan pulpen yang ia gunakan untuk belajar, "Mau apa kau kesini, dasar anak pungut," gertak Azka, yang langsung di timpali oleh Dendra mereka berdua mengolok-ngolok Amanda, Amanda yang kesal langsung menancapkan ujung pulpennya yang lancip tepat di mata kirinya Azka, Azka menjerit kesakitan lelehan darah segar mengalir dari mata kiri Azka yang di tusuk pulpen oleh Amanda.
"Kaka, kaka, mata kaka berdarah," pekik Dendra.
"Sakit De, mata kaka sakit," ucap Azka, sambil terduduk dan menangis.
"Kau dasar manusia jahat, kau telah melukai mata kaka ku," tetiak Dendra, yang hanya di tanggapi tatapan tajam oleh Amanda.
"Aku kan melaporkan kejadian ini pada Mamah dan Papah agar kau di usir dari rumah ini," ucap Dendra, sambil beranjak berdiri membopong Azka yang memegangi sebelah matanya.
"Katakan saja, jika kalian bisa," ucap Amanda, namun, ada yang aneh dengan suaranya, suaranya tidak terdengar seperti anak kecil namun seperti wanita dewasa. "kau pikir aku bodoh, dan akan membiarkan kalian lepas dari genggaman ku," Amanda tertawa jahat.
Amanda mengeluarkan sebuah belati dari balik punggungnya dan mendekati kedua kaka beradik itu, "Apa kau tau ini apa?" ucapnya sambil memainkan belati itu di tanganya. Azka dan Dendra menggigil ketakutan.
"Lepaskan kami dan pergilah dari sini," ucap Azka mencoba meraih sedikit keberaniannya. "Ka, jangan menggertaknya atau dia akan melukai kita, lebih baik kita mencari cara agar keluar dari rumah pohon ini" Bisik Dendra. Karena ruangan itu kecil dan jarak yang tidak terlalu jauh membuat Amanda bisa mendengar semua dengan jelas walau hanya berbisik sekalipun.
"Kau tau siapa aku?"
"Aku tau siapa kau, kau adalah anak yang jahat," jawab Azka.
"Separuh benar dan separuhnya lagi salah," ucapnya dengan seringai jahat.
"Aku memang orang jahat, tapi aku bukan seorang anak." dia kembali menyeringai menampakan gigi-giginya yang tertata rapi.
"De, larilah dari sini, aku akan mengalihkan perhatiannya, sepertinya dia bukan orang biasa, bilanglah pada mamah dan papah tentang Dia," bisiknya.
"Tapi ka."
"Jangan banyak berpikir, larilah," tanpa pikir panjang lagi Dendra berlari menuruni tangga menuju rumah besar, dia tidak menghiraukan jeritan dan suara bising yang berasal dari rumah pohon itu. Dendra berlari ke dalam rumah berteriak memanggil-manggil orangtuanya namun, tak ada satupun yang menyahut, rumah tampak sepi tak berpenghuni.
"Mah, pah kalian di mana?" teriak nya, Dendra berlari menaiki anak tangga, membuka setiap kamar yang berjajar di lantai dua rumahnya namun, orangtuanya tidak ada di sana, Dendra kembali turun dengan tergesa-gesa, "mah, pah kalian dimana?" ucap Dendra parau sambil menangis, suara jeritan dari rumah pohon kembali terdengar kali ini suara itu di iringi tawa seorang wanita yang Dendra yakini adalah suara Amanda.
Dendra terus berkeliling mencari keberadaan orangtuanya hingga dia melihat ada ceceran darah di lantai menuju ke arah gudang, Dendra mengikuti ceceran darah tersebut hingga ia di kejutkan dengan kenyataan yang ada di depan matanya, orang tuanya telah tiada, Dendra menutup mulutnya karena melihat tubuh orangtuanya teronggok mengenaskan, tubuhnya di potong menjadi beberapa bagian, membuat Dendra kecil menggigil ketakutan, dia sudah dapat memperkirakan apa yang sudah terjadi pada kakanya di rumah pohon itu dan kini tinggal dirinya sendiri di rumah ini bersama Amanda sang gadis pembunuh.
Dendra berjalan mengendap-ngendap menuju pintu keluar, namun baru setengah jalan Dendra di kejutkan oleh suara Amanda yang tengah duduk di sofa ruang tamu, "Adik manis kau mau kemana?" ucapnya.
Dendra menggigil ketakutan, napas nya memburu degupan jantung yang kian meningkat seolah akan keluar dari rongga dadanya, "Jangan sakiti aku Amanda, biarkan aku pergi," ucap Dendra dengan lututnya yang terasa bergetar.
"Membiarkan mu pergi? Manda tidak pernah membiarkan mangsanya pergi begitu saja, kau tau siapa yang telah membantai warga desa ku?" Dendra menggeleng.
"Itu adalah aku, aku sangat suka dengan bau darah, terutama darah anak kecil seperti dirimu," tawa menyeramkan keluar dari mulutnya.
"Tidak Manda, tolong kasihanilah aku, bukankah kau adalah kaka angkat ku," ucapnya.
"kaka? bukankah kau tidak pernah menyukai ku," seringai tipis tersungging di bibirnya, membawa aura dingin dalam tatapan matanya.
Amanda berjalan mendekat, repleks Dendra pun mundur beberapa langkah, "Jangan mendekat, aku mohon," pekiknya, wajah ketakutan yang di tunjukan Dendra semakin membuat Amanda gemas dan ingin segera bermain dengan buruannya, Amanda terus mendekat sambil memainkan belati di tangannya membuat, degupan jantung Dendra semakin cepat.
Amanda mencengkram tangan Dendra, namun tanpa di duga Dendra memukul kepala Amanda dengan vas bunga, membuat Amanda menjerit kesakitan, ketika tangannya terlepas dengan segera Dendra berlari menuju pintu keluar namun, sayang pintu itu terkunci, Dendra berlari menuju jendela dan mencari-cari sesuatu yang bisa memecahkan kaca dan ia menemukan pot bunga kecil di sudut ruangan, Dendra secepat kilat memecahkan kaca dan naik hendak keluar, namun, Amanda datang dan mencengkram kakinya.
Jleb...Amanda berhasil melukai betis Dendra dengan belati di tangannya membuat Dendra menjerit kesakitan, lelehan darah segar merembes keluar dari celana jeans yang ia kenakan, Amanda mencabut belati dari kaki Dendra dan mengayunkannya kembali hendak menancapkannya kembali di kaki Dendra, namun, Dendra menendang rahangnya dengan sekuat tenaga hingga dia jatuh terhuyung, Dendra dengan segera turun dari jendela dan berlari sempoyongan menuju keluar, Dendra berusaha berjalan dengan menggeret kakinya yang terluka, akhirnya Dendra mencapai jalanan dia akan mencari pertolongan pada siapa saja yang lewat, karena ini musim liburan jadi komplek perumahannya sangatlah sepi.
"Kau tidak akan pernah bisa lari dari ku, kau telah berani melukai ku," ucapnya, wajahnya penuh dengan darah dan rahangnya sedikit bengkok akibat tendangan yang cukup keras dari Dendra,
Dendra terus berjalan sempoyongan, kepalanya terasa berputar akibat banyaknya darah yang keluar dari lukanya, "Larilah, sejauh mana kau bisa berlari," ucap Amanda, sambil membawa linggis di tangannya, jarak mereka semakin dekat dan sedetik kemudian, Amanda mengayunkan linggis itu hendak memukul Dendra namun, sebuah mobil mini bus yang melaju kencang menhantam tepat ke tubuh Amanda, Ciiiiiiit....Brak.... tubuh Amanda terpental jauh, hingga akhirnya diapun meregang nyawa dengan kondisi mengenaskan.
***
Setelah polisi menyelidiki segalanya, ternyata Amanda bukanlah gadis kecil melainkan seorang wanita dewasa berusia 25 tahun yang memiliki kelainan genetik yang di alaminya, hingga tubuhnya tetap seperti anak kecil dan paktanya adalah dia seorang gadis pembantai yang selama ini mereka cari.
Guncangan yang di alami Dendra membuatnya banyak duduk diam sendirian dan memikirkan fakta jika kini dia seorang anak yatim piatu, dan kini dia di rawat oleh panti sosial untuk memulihkan terauma berat yang di alaminya.
Tamat.