"Reniii... Suara mengelegar dari pintu depan, ya itu adalah suara mertuaku. Kenapa pagi_pagi begini dia teriak" dirumahku, ini kan hari minggu aku pngn santai_gitu. Tapi wanita tua itu selalu saja menggangguku.
"Ada apa sich mah pagi_pagi udah teriak" dirumahku? Mata mertuaku seperti mau keluar karena aku protes.
"Gimana? Kamu sudah periksa belum ren, "Maaf mah belum sempet.
"Kamu belum sempet atau memang sengaja gakmau priksa, pokoknya mamah gakmau tau kalau dalam waktu setahun ini kamu gak hamil juga. Irfan harus nikah lagi, kata ibu sangat tegas.
Kenapa yang dibahas selalu saja masalah anak, kenapa mertuaku tidak pernah sedikitpun menghargaiku.
Padahal aku sudah mengangkat derajat mas irfan yang dulunya hanya karyawan biasa, sekarang menjadi manajer. Bahkan kami tinggal dirumah yang lebih dari kata bagus, tapi rupanya itu tidak ada artinya dimata mertuaku. Baginya hanya anak dan anak.
"Mah kenapa sich mamah selalu menekan reni, mah aku mencintai reni. Kami tidak butuh apapun, irfan mencoba memberi pengertian kepada ibunya.
"Tidak irfan, kamu harus nurut sama mamah. Pokoknya mamah kasih dia waktu akhir tahun ini kalau tidak hamil juga mamah akan paksa dia untuk periksa.
Irfan yang merasa kesal, pergi kekamarnya meninggalkan ibunya.
Ibunya sangat keras kepala, apapun yang dia mau harus didapatkannya. Padahal irfan sangat mencintai reni dengan kekurangannya, kenapa ibunya selalu ikut campur.
"Ren besok kamu periksa ya, kamu jemput ibu. Gakada penolakan, besok setelah kamu pulang kerja kita ke klinik. Aws aja kalau kamu berusaha mengelak, dan kalau ternyata kamu memang bermasalah maka ijinkan irfan menikah lagi. "Mah aku gakmau dimadu, kalau aku memang tidak bisa hamil. Kita bisa kan program bayi tabung, kataku mencoba kasih pengertian ke ibu mertuaku kalau aku gakmau dimadu.
"Ngg reni mamah tetap ingin irfan menikah lagi, bayi tabung itu mahal meskipun ini semua harta kamu tapi tetep mamah gkmau kalau harus program bayi tabung titik besok kamu jemput mamah.
Mamah mendelik sangat mengerikan seperti kuntilanak...
Huff tubuhku lelah banget tapi aku harus kuat, ngurusi urusan kantor dan juga menghadapi mertuaku yang selalu menuntut aku tentang anak. Rasanya kepalaku mau pecah.
Sore itu pun aku menjemput ibu mertuaku pergi ke klinik ibu dan anak, dokter mempersiap alat_alat USG. Semua terlihat normal gakada kista ataupun miom.
"Begini bu reni setelah saya periksa ternyata rahim itu sangat kecil, itu sebabnya kenapa ibu reni sulit sekali buat hamil. Dan kemungkinan hamil sangat kecil, hatiku hancur mendengar penjelasan dokter.
"Gimana sayang hasilnya, begitu sampe rumah mas irfan langsung menanyakannya, "Rahimku kecil mas. kamu ikuti saja kata mamah tuk menikah lagi, jujur sebenernya hatiku sangat sakit tapi mau gimana lagi.
Seminggu setelah pemeriksaan itu ibu mertuaku datang bersama wanita bercadar, aku menerka nerka siapa perempuan itu.
"Reni ini adalah farah anaknya teman mamah, mamah mau dia tinggal disini karena kedua orang tuanya lgi keluar negri kasihan kalau harus tinggal sendirian. Gk pp kan dia kerjanya juga gak jauh dari sini.
"Iya gak papa mah, kataku sepertinya farah gadis yang baik.
Ternyata benar farah gadis yang sopan dan juga rajin, dia selalu membantuku beberes. Karena aku juga bekerja jadi agak kerepotan memang kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, ARTku lagi pulang dulu kerumahnya untung ada farah.
Setelah dua minggu farah tinggal dirumahku, mertuaku datang lagi kebetulan mas irfan sedang ada dirumah saat itu.
"Ren, fan sini mamah mau bicara. Ibu memanggil kamu sedangkan farah berada dikamarnya. "Fan kamu harus menikah dengan farah, sungguh kami berdua terkejut mendengar ucapan mamah yang tiba_tiba itu. Mah kenap aku harus menimahi farah? "Sudah fan jangan membantah lagi, mamah gkmau tau minggu depan kalian harus menikah setelah berkata begitu dia lngsng pulang.
Aku berantem dengan mas irfan, dia tidak suka dengan perkataan ibunya yang memaksa. "Mas menikahlah dengan farah, aku ikhlas rahimku kecil. Aku tidak bisa memberimu anak mas, cukuo ren sudah berapa kali kubilang aku mencintai kamu aku terima kekuranganmu. Setelah kubujuk akhirnya mas irfan mengalah, "baiklah kalau itu maumu kamu jangan menyesal.
Hari Pernikahan mas irfan dengan farah pun tiba, tidak ada yang hadir hanya kamu keluarga inti saja. Aku juga gak pernah cerita pada orang tuaku tentang masalahku, farah tinggal dirumahku awalnya kupikir mas irfan akan adil tapi ternyata tidak. Dia bahkan sekarang lebih mencintai farah, terlebih farah langsung mengandung anak mas irfan.
Disuatu malam tak sengaja aku mendengar isak tangis farah, aku mencoba mencuri dengar kenapa dia menangis. "Mas aku merasa kasihan sama mba reni kita sudah menyakitinya mas, kamu sekarang jarang mendatangi kamarnya. Aku tidak tega melihatnya sering termenung. "Hah maduku memikirkan perasaanku sedangkan suamiku, okelah bener kata farah mas irfan berubah.
Aku sudah tidak bisa tahan lagi menghadapi rumah tangga yang sudah tak sehat ini, aku menggugat cerai mas irfan. Tapi aku masih tetap mengijinkan mas irfan bekerja diperusahaanku bhkn jabatannya masih tetap jadi manager.
Setelah kami resmi bercerai mas irfan membawa istrinya keluar dari rumahku, dan mengundurkan diri dari kantorku. Aku gaktau alasannya kenapa.
Selsai