"Jangan putus asa, Nak. Ayo, terus berusaha! Ibu yakin kamu bisa," tuturnya memberikan semangat, tatkala aku berlatih untuk berjalan.
Kelembutan hatinya melebihi sutra, kesabaran untuk merawatku, lebih dari luas samudera. Kekuatan fisiknya, mengalahkan wonder woman. Setiap hari fisiknya dituntut menopang tubuhku yang tak mungil lagi, penyakit skoliosis membuatku lumpuh sejak kecil. Jadi, ia harus menggendong diriku jika ingin pergi ke sekolah atau pergi kemanapun. Dia malaikatku, wanita terhebat dalam hidupku, Ibu.
"Tumbuhkan semangatmu! Bapak akan berusaha untuk semua biaya pengobatanmu, jangan pikirkan itu! Ayo, kamu pasti bisa!" titahnya 'tak kalah dari ibu untuk memberi dukungan kepadaku.
Sekuat tenaga ia bekerja, membanting tulang sakit tiada dirasa. Semua itu, untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya terapi, maupun pijat diriku yang 'tak murah. Untuk terapi saja, butuh tiga juta per–bulan, dan pijat setiap seminggu sekali butuh lima puluh ribu belum termasuk ongkos. Mahal bukan ... untuk orang yang hanya bekerja serabutan dan membuat bata merah. Namun, usaha itu hasilnya nihil semua. Aku masih saja lumpuh, 'tak ada perubahan sama sekali. Tapi, ia tetap berusaha, bermandikan keringat lelah 'tak dirasa, demi berobat ke tempat lain. Dia malaikatku, pria tangguh dihidupku, Ayah.
Bukan hanya fisik yang harus kuat, hati juga harus tabah menghadapi bisik tetangga. Cercaan, cemooh, bahkan fitnah sering terlontar dari mulut mereka. Pernah sewaktu SD mereka berkata, "untuk apa anak seperti itu disekolahkan? Gedenya emang mau jadi apa? Yang ada buang duit saja!" Begitu sinisnya ucapan mereka.
"Bu ... saya menyekolahkan Fia, tidak mengharapkan kelak ia jadi apa kok. Saya ingin dia bisa baca dan tulis. Itu sudah cukup!" jawab ibu dengan lembutnya.
Terbuat dari apakah hatimu, Ibu? Bisa sabar menghadapi mereka dan ikhlas menerima keadaanku. Aku berjanji akan membuat kalian bangga memilikiku.
Waktu terus berputar, tiada perubahan dariku. Aku masih tetap saja lumpuh. Padahal, aku ingin melanjutkan sekolah di SMP. Jika, tetap aku lanjutkan ... jaraknya cukup jauh dari rumahku. Kasian Ibu, harus mengantar sejauh itu, harus menggendongku menaiki tangga, tidak! Itu terlalu berat, apakah putus sekolah pilihan terbaik?
Setelah kelulusan SD, sedikit musibah menerpa keluarga kami. Ayah, terserang saraf terjepit bagian tulang ekor, untuk berjalan susah hingga akhirnya dirawat di rumah sakit. Saat itu, hatiku hancur, pria gagahku tumbang. Kata dokter penyebabnya karena, lelah tiada dirasa. Arghh ... ini semua gara-gara aku, andai aku sempurna Ayah tidak akan mengalami ini. Ditengah lamunanku memikirkan ujian hidup, ibu datang dari belakang mengejutkan diriku.
"Nak," panggilnya.
"Iya, Bu."
"Kamu, berhenti sekolah enggak apa-apa, ya." Bagai disambar petir hati ini, mendengar ucapan ibu secara mendadak. Aku pengen sekolah ... mewujudkan mimpi untuk membahagiakan kalian.
"Fi," panggilnya lagi.
"I-iya, Bu ... enggak apa-apa kok," jawabku terbata-bata, karena menahan tangis.
"Sungguh, Nak? Lagian, kamu harus bersyukur masih bisa sekolah. Diluar sana yang seperti dirimu untuk keluar rumah saja jarang. Kamu, sudah bisa menulis dan membaca 'kan? Setidaknya kau tak buta huruf," tuturnya lembut.
"Iya, Bu ...." Ibupun pergi meninggalkanku.
Ya Allah, inikah takdirmu? Inikah garis hidupku? Mengapa ... engkau tidak mengizinkan aku 'tuk bahagiakan ayah dan ibuku. Terbesit mimpi kecil yang ingin kuwujudkan tapi, apa mungkin bisa terwujud? Mimpi itu membutuhkan banyak biaya sedangkan, aku cuma lulusan SD, lumpuh pula. Bagaimana bisa bekerja, dapat uang untuk mewujudkan mimpi kecil itu? Ah, sudahlah.
Aku putuskan untuk kembali pada cita-cita awalku, menjadi seorang hafizah. Menghafal ayat suci yang telah lama kutinggalkan. Mungkin, ini jalan terbaik aku lebih dekat dengan Sang Pencipta. Jika mimpi duniaku 'tak terwujud setidaknya, aku bisa mempersembahkan surga untuk malaikatku.
Awalnya, aku ikut menghafal Al-Qur'an di taman pendidikan Al-Qur'an (TPA). Tapi, kesibukan ibu bekerja menggantikan ayah selama sakit, membuatnya tidak ada waktu untuk mengantarku. Aku cukup memakluminya. Fisiknya, mungkin juga lelah bekerja seharian, belum lagi mengurus rumah. Akhirnya, aku memanfaatkan gawai ini untuk ikut tahsin disebuah grup WhatsApp. Mereka menerimaku dengan baik bahkan, selalu memberi dukungan.
Dua tahun telah berlalu ....
Alhamdulillah hafalanku telah selesai. Awalnya, ibu tidak percaya kapan aku menghafalnya. Iya, karena secara sembunyi aku mengikuti tahsin itu. Berniat memberi kejutan untuk mereka setelah mampu menghafal Al-Qur'an. Karena, itu impian mereka juga. Akhirnya, ibu mengantarkan diriku ke rumah ustazah dekat rumah untuk menguji hafalanku. Hasilnya mampu membuat ia terkejut. Bersujud kepada Allah dan memelukku dengan rasa bangga.
Suatu ketika aku sedang jalan-jalan santai dengan sepupu. Biarpun aku menaiki kursi roda, ia sedia menunggu, terkadang malah dibantu mendorong. Kami bercanda ria seakan 'tak ada perbedaan. Di tengah candaan kami, aku melihat sebuah brosur dijalan.
"Mbak, berhenti Mbak ...!"
"Ada apa, Fi?"
Aku mengambil sebuah lembaran kertas di bawahku. Sebenarnya, karena berwarna-warni membuatku tertarik. Ternyata, itu brosur pengumuman akan diadakannya lomba hafiz Qur'an. Sungguh menarik. Tertera bagi pemenang untuk: juara 1. Uang tunai 50 juta, juara 2. Hadiah umroh untuk dua orang, dan juara 3. Uang tunai 15 juta. Aku berinisiatif mengikutinya karena batas usiaku masih termasuk.
Aku potong keterangan hadiah bagi pemenang, lalu kutunjukkan kepada ibu. Berniat agar 'tak diketahui olehnya, agar jika aku menang itu akan jadi kejutan, kalaupun kalah takkan kecewa. Akhirnya, ia siap mengantar diriku, ayahpun mendukung keinginanku.
Hari diadakan lomba tiba. Aku diantar ibu ke balai desa. Disana, sudah banyak peserta yang ingin mengikuti. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengisi data formulir kehadiran peserta. Tertera lampiran mengisi motivasi dan harapan peserta, kutulis saja impian kecil yang selama ini terpendam.
Hatiku berdegup 'tak karuan saat proses pengumuman tiba. Aku berharap bisa masuk dalam tiga besar agar, dapat hadiah yang kuimpikan. Tapi, aku pesimis melihat penampilan mereka yang lebih bagus dariku. Pengumuman dimulai dari juara tiga, pemenangnya ialah gadis berusia 17 tahun. Semakin mendebarkan. Aku berharap bisa menjadi juara dua. Namun, impian itu kandas karena juara dua dimenangkan seorang pria usia 14 tahun. Pupus sudah harapanku. Aku sudah tak menghiraukan lagi pengumuman itu. Aku sudah mengecewakan orang tuaku.
"Fia, ayo maju!" titah ibu mengejutkanku.
"Ngapain, Bu? Fia 'kan enggak menang."
"Kamu pasti gak dengerin. Kamu, juara satu,"ucapnya dengan antusias. Alhamdulillah aku bersyukur tidak mengecewakan mereka. Tapi, aku 'tak butuh uang ... aku butuh dua tiket umrah itu.
Saat semua juara sudah diberikan hadiah, bapak kepala desa dipersilahkan naik keatas panggung. Ntah apa yang akan dilakukan?
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu. Maksud saya disini, ingin menyampaikan sesuatu kepada, Nak Fia." Dia memandangku dengan senyuman. Deg! Apa yang akan disampaikan? Apa aku ada yang salah?
"Saya membaca motivasi dia ikut lomba ini, begitu menyentuh hati. Dia ingin membahagiakan orang tuanya, dengan mewujudkan mimpi kecilnya. Dari itu, saya akan memberikan tiket haji untuk ayah dan ibunya. Saya kagum, keterbatasannya 'tak membuatnya pasrah."
Ya Allah ... benarkah ini? Mimpiku terwujud? Alhamdulillah, bersujudku atas semua karuniamu. Ayah dan Ibuku memeluk erat diriku, menetes air mata haru dari semua orang yang hadir disini.
"Terimakasih banyak ya, Pak."
"Tidak perlu berterimakasih! Ini rejeki kamu."
Sungguh besar kuasa-Nya. Dibalik setiap ujian akan ada hikmah, memberi kekurangan pasti ada kelebihan. Keterbatasan bukan alasan untuk pasrah, teruslah berjuang! Karena, Allah sayang dengan hambanya yang mau berusaha. Tapi, aku bukanlah siapa-siapa tanpa kedua malaikatku, penyemangat hidupku, jiwa ragaku. Engkaulah Ayah dan Ibuku.
Selesai ....