Bila ada kesempatan kedua untuk hidup lagi.
Aku akan membalikan fakta dan keadaan.
Saat aku hidup di dunia selama 18 tahun hingga aku menutup mataku untuk selamanya,ternyata aku baru sadar bahwa orang yang menghianati aku adalah orang terdekat yang sudah aku anggap sebagai sahabat terbaikku bahkan lebih dari itu aku juga menganggapnya sebagai kakak ku sendiri.
Selama ini aku salah menilai Sherly,di balik kepolosannya dan sifat yang periang, ramah,ternyata dia adalah orang yang kejam dan tak berperasaan dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan segalanya.
semua berawal dari peristiwa kecelakaan mobil yang kami tumpangi bersama keluarga Sherly dan yang selamat dari kecelakaan itu adalah aku dan Sherly serta adik laki-laki nya. bernama junior.
Pada waktu itu kami sedang merayakan hari kelulusan SMP di sebuah tepi pantai yang indah,hingga hari mulai senja dan kami memutuskan untuk pulang. saat berada dalam perjalanan pulang ke rumah, mobil yang di kendarai oleh ayahnya Sherly bernama pak Suryo itu di tabrak oleh truk dari arah berlawanan yang di ketahui pengemudi truk pada saat itu sedang dalam keadaan mabuk.
Mobil kami kemudian terhempas ke tepi jurang,dan mulai mengeluarkan asap.
Pak Suryo berusaha keras untuk bisa menyelamatkan kami semua, orang pertama yang diselamatkan adalah Sherly dan adiknya junior, kemudian pak Suryo kembali dan menyelamatkan aku yang penuh dengan darah dan membawaku keluar dari tindihan serpihan kaca mobil menuju tempat Sherly dan junior bersandar di bawah pohon,waktu itu aku dan Sherly serta adiknya sangat ketakutan, dan om Suryo mulai menenangkan kami agar jangan panik dan tetap berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.tetapi pada saat om Suryo kembali menyelamatkan yang lain serta istrinya yang masih berada di bawah tindihan mobil, seketika mobil tersebut meledak yang menyebabkan om Suryo dan yang lainnya ikut termakan oleh kobaran api yang begitu besar.seketika aku menjadi lemas dan tidak bertenaga, apalagi Sherly dan junior pastinya
mereka sangat terpukul karena kesedihan yang mendalam seandainya saja om Suryo tidak kembali, mungkin yang selamat adalah kami berempat.
Tetapi kenyataan telah di depan mata aku menyaksikan sendiri bagaimana ledakan yang begitu dahsyat hingga mengundang perhatian banyak orang yang datang dan membantu menelpon petugas kebakaran untuk segera memadamkan api..
setelah pemakaman berakhir ayah dan ibu aku mencoba mengajak mereka untuk tinggal bersama kami,agar Mereka tidak merasa kesepian tinggal di rumah apalagi mengurus rumah yang begitu besar,dan akhirnya Sherly memutuskan untuk ikut dengan kami. rumah beserta peninggalan orang tuanya di jual untuk menambah dan membantu biaya pendidikan Sherly dengan adiknya dan juga perusahaan milik om Suryo kini ayah ku yang melanjutkan bisnisnya ,itu berarti ayah mengurus dua perusahaan yang lumayan besar.
Dan dari sinilah aku mulai menghibur mereka mencoba menuruti semua perkataan Sherly yang bisa aku lakukan.karena aku tidak mau hanya sebuah hal sepele yang nantinya akan menimbulkan masalah.
Hingga pada suatu hari aku gak sengaja membuat Sherly terluka pada saat kami sedang memasak makan malam di dapur,
saat aku membawa sup ayam menuju meja makan aku tidak melihat mainan mobil-mobilan yang berserakan dilantai dan menginjaknya yang membuat aku terpeleset dan membuat sup ayam yang masih panas tersebut tumpa megenai bahu Sherly. dia menjerit kesakitan akibat terkena kuah panas,aku refleks kaget dan mencoba meminta maaf kepada Sherly tetapi belum sempat aku mengucapkan satu kata tiba-tiba ibu menampar aku begitu keras,hingga membuat ujung bibir aku mengeluarkan darah, aku seketika diam bagai patung tak bisa di percaya untuk pertama kalinya aku melihat ibu begitu marah dan menampar ku bagaikan aku seorang anak tiri.Adikku Gibran seketika menangis melihat ibu menampar ku begitu keras,kemudian dia berlari dan memelukku, "mama jangan Pukul kak Emely Lagi aku takut mah,aku sayang sama kakak,Hiks,Hiks,hiks Lagian aku yang gak membereskan mainan di lantai" ucap Gibran dalam tangisannya sambil memelukku.
"Udah Tante jangan menyalahkan Emely Lagian dia gak sengaja kok" ucap Sherly mencoba menenangkan ibu aku.
"Ana kamu jangan keterlaluan,Emely itu anak kamu,kamu kok tega nampar dia begitu keras" ucap Oma yang turut membela aku.
"Emely kamu liat kan Sherly aja masih mamaafakan kamu, sedangkan kamu yang buat dia terluka masih gak merasa bersalah"ibu membentakku dengan nada tinggi yang membuat aku semakin takut untuk berbicara.
"Emely kamu dengar gak apa yang ibu bicara barusan sama kamu,kamu tuli ya,ibu gak pernah melahirkan dan mendidik anak yang gak tau sopan santun apalagi gak tahu malu kayak kamu yang gak mau mengakui kesalahan dan minta maaf pada Sherly" ucapan ibu semakin membuat ku terkejut dan berhasil membuat aku meneteskan air mata.
"Cukup Ana jaga ucapan kamu, kamu tau gak perkataan kamu yang barusan membuat hati Emely hancur,sejelek apapun sifat dia, Emely tetaplah darah daging kamu sendiri, Dimana hati nurani kamu sebagai seorang ibu hah" ucapan Oma kepada ibu sekali lagi sukses membuatku mengalirkan air mata lebih deras yang tidak bisa aku kontrol.
" Emely jika kamu masih mau ibu anggap sebagai anak ibu maka berhentilah menangis dan rubah kelakuan kamu seperti dulu sebagaimana yang ibu ajarkan kepada kamu waktu kecil"ucap ibu kepada ku tetapi kali ini dengan suara yang rendah.
"Ayo Sherly kita pergi ke klinik untuk mengobati luka kamu sebelum melepupuh"Ajak ibu kepada Sherly.
"Ana apakah yang terluka cuman Sherly,Lalu bagaimana dengan Emely"ucap Martha kepada ibuku (ibu dari Ana sekaligus Oma bagi Emely Dan Gibran yang sedaritadi membela Emely).
seketika ibuku berhenti dan berbicara tanpa menoleh"karena luka Sherly jauh lebih serius dari Emely, tenang saja nanti aku akan membeli obat dan perban untuk luka Emely"selesai mengucapkan kalimat tersebut mereka berdua kemudian pergi meniggalkan ruang makan. Martha hanya menggeleng kan kepala tak percaya dengan perubahan sikap anak nya yang berubah semenjak Sherly masuk kedalam keluarga ini,
sedangkan dari lantai atas Junior mengamati apa yang terjadi di lantai bawa dia merasa bersalah karena tidak membereskan mainan yang ada di lantai bersama Gibran.
dan untuk ayahnya Emely,dia sedang ke luar kota untuk mengurus dua perusahaan sekaligus dan itu lebih membuatnya jarang pulang ke rumah.
3 tahun telah berlalu dan sekarang aku memasuki usia ku yang ke 18 tahun tetapi bisa di katakan saat aku berulang tahun mereka tidak merayakan pesta sebaliknya Sherly malah membuat acara yang meriah.
karena tanggal ultah aku dan Sherly hanya beda selisih satu hari,jadi ibuku berkata
"kalian berdua kan udah semakin dewasa jadi acaranya dirayakan bersama-sama yah kamu gak keberatan kan Emely" tanya ibu kepada ku.
"gak ibu aku gak keberatan, setelah ultah nya Sherly,hari berikutnya adalah ultah aku jadi gak masalah buat aku" jawab aku kepada ibu .
"Walaupun aku sedikit kecewa tetapi kali ini aku gak mau merusak suasana,
selama 3 tahun terkahir ini aku menjalani kehidupan yang pahit aku di anggap layaknya anak tiri,orang yang bersedia sebagai tempat untuk aku mencurahkan semua isi hatiku adalah mendiang Oma yang telah berpulang setahun yang lalu". Batin Emely.
sedangkan ayah ku sebenernya adalah orang yang penyayang tetapi kerena sekarang dia menjadi pemimpin 2 perusahan yang salah satunya adalah milik om Suryo ayah Sherly.
setiap kali aku membuat masalah dan ibu memberitahu ayah atas perbuatanku ayah langsung menghukum aku tanpa mencaritahu terlebih dulu akar permasalahannya.
Hari ini kami pergi berbelanja untuk persiapan acara ulangtahun yang akan diadakan esok hari
tetapi pada saat kami sedang berbelanja tiba-tiba, Sherly mengajak aku untuk berkeliling area pusat perbelanjaan tempat kami membeli semua perlengkapan.
tanpa pikir panjang akupunk mengikuti Sherly pergi berjalan-jalan.
dan tempat itu berada tidak jauh dari Laut, kemudian Sherly mengajak aku ke sebuah jembatan yang indah di atas permukaan laut, yang menghubungkan dua taman Lopo.
Sherly lalu mengajak aku berbincang sambil melihat pemandangan yang sangat indah.
"Emely kamu tau gak hari ini aku sangat bahagia" ucap Sherly kepada aku.
"oh ya bahagia karena tinggal beberapa hari adalah hari ulangtahun kamu dan tentunya pria yang kamu impikan akan hadir iya kan"jawab Emely kepada Sherly.
" iya yang kamu katakan emang benar tapi selain itu ada hal yang membuat aku bahagia hari ini" ucap Sherly kepada Emelly.
Lalu Emely bertanya kepada Sherly "kalo boleh tau apa itu"
Sherly kemudian mendekat ke arah Emely lalu membisikan sesuatu di telinganya
"Aku ingin kamu lenyap dari dunia ini selama nya"setelah mengatakan kalimat tersebut Sherly mendorong Emely ke Laut dari atas jembatan
"bye, bye Adiku tercinta Emelly,kamu dan Oma Martha memang di takdirkan meninggal dengan cara yang menyediakan"ucap Sherly sinis penuh kemenangan
"Selanjutnya tinggal mengarang cerita tentang kematian Emely Hahaha" ucap Sherly sekali lagi sambil tertawa melihat Emely meminta tolong saat dirinya mulai tenggelam.
Jika tuhan memberikan kesempatan kedua aku sangat bersyukur dan berterima kasih sekaligus memperbaiki semuanya tetapi hal ini tidak mungkin akan terjadi.
Selamat tinggal ibu,ayah,Gibran Adiku kakak akan selalu merindukan mu,dan juga selamat tinggal sahabat ku semua....Tubuh Emely mulai tenggelam semakin dalam dan kesadarannya perlahan-lahan mulai tak sadar, pada detik-detik terakhir Emely masih sempat berbicara dalam hatinya.
Apakah ini semua adalah takdir yang harus aku terima, karena terlalu baik kepada seseorang yang sangat aku percayai, tetapi pada akhirnya aku tidur panjang di tangannya sendiri dan entah kapan aku akan bangun lagi??