Di sebuah kafe ternama, terlihat seorang gadis sedang termenung sambil mengaduk-aduk minuman yang berada di meja.
Pelayan kafe yang berada disana, terlihat memperhatikan gadis itu dari jauh. Karena sudah hampir 9 jam, gadis itu hanya duduk dan sesekali mengaduk-aduk minumannya sambil termenung.
Pelayan kafe yang merasa curiga pun memanggil atasannya. Beruntung atasannya sedang berada di kafe ini, sehingga ia dengan mudah melaporkannya ke ruangan atasannya.
Tak lama atasannya itu keluar dari ruangan, dan mengatasi secara langsung masalah yang ada di kafenya.
"Ekhem, maaf mba. Apa ada yang bisa kami bantu?" Ucap atasannya, membuat gadis yang sedari tadi termenung itu terlonjak kaget.
"Ah.. ti.. tidak ada." Ucapnya tergugup.
Bagaimana tidak, atasannya itu memasang wajah datar dan dingin miliknya. Membuat gadis itu takut.
"Baiklah, jika tidak ada. Kita akan tutup 15 menit lagi. Apa ada yang mau anda beli lagi?" Tanya sang atasan.
"Ah.. i.. iya, aku.. ah, maksudku.. a.. apa ada menu yang populer disini?" Tanya gadis itu, sambil melihat-lihat daftar menu.
"Ada, dan itu terkenal di kafe kami. Namanya bubble tea soflty." Jawab sang atasan.
"Ah, ya sudah aku akan beli itu saja."
"Tapi itu hanya di khususkan untuk mereka yang punya pasangan." Ucap atasan itu.
"Ha? Apa ada aturan seperti itu?" Ucap gadis itu tak percaya. Atasan itu hanya mengangguk.
"Oh ya ampun.. pasti jomblo disini sangat tersiksa. Sebenarnya apa hebatnya minuman itu, sampai para jomblo pun tidak boleh mencicipinya?" Ucap gadis itu heran.
"Minuman itu di buat untuk menguatkan cinta mereka dan berharap bagi yang meminumnya akan selalu memiliki cinta yang abadi." Gadis itu melongo mendengar penuturan pria di depannya.
"Wah, sepertinya kau sangat tahu soal cinta. Punya istri berapa kau?" Tuduh gadis itu.
"Saya belum punya istri."
"Kekasih?" Tanyanya lagi.
"Tidak ada."
"Punya cucu berapa kau?"
"Saya bukan lelaki bej*t." Jawabnya.
"Bullshit! Kau sudah cukup matang untuk menikah. Kenapa belum punya istri? Padahal kau tidak buruk rupa."
"Apa anda tadi ingin mengatakan saya tampan?" Ucap pria di hadapannya. Gadis itu menatapnya tak percaya.
"Kau gila?"
"Iya, saya gila karenamu." Jawab pria itu.
"Apa barusan ia sedang menggombal ku?" Gumamnya merinding.
"Sudahlah, saya hanya ingin membeli bubble tea soflty. Itu saja, jangan membuat saya penasaran dengan rasanya!" Ucap gadis itu kesal.
"Kau harus memiliki pasangan dulu untuk membeli minuman ini."
"Haiss.. aku baru saja di putuskan oleh pacarku! Jangan membuatku semakin kesal karena hal sepele ini!" Ucapnya kesal.
"Kalau begitu, menikahlah denganku. Dan aku akan memberikan bubble tea soflty yang banyak untukmu."
Gadis itu menganga lebar. Tak percaya. Orang asing yang belum setengah jam di temuinya tiba-tiba melamarnya.
"Kau barusan melamarku?" Sang atasan mengangguk.
"Hei! Kita saja belum berkenalan!" Ucap gadis itu.
"Kamu mengajakku untuk berkenalan?" Ucap pria itu.
"Baiklah, perkenalkan nama saya Reynald Bagaskara. Biasa di panggil Rey, khusus untukmu panggil saja saya 'sayang' atau 'honey'." Sambung Rey. Membuat gadis itu ingin muntah detik itu juga.
"Siapa namamu, sayang?" Gadis itu membekap mulutnya sendiri, ia menahan tawa karena ucapan Rey yang terkesan kaku dan dingin.
"Namaku Kirana Oceanika, panggil saja aku Kira."
"Emm, kira-kira.. apa yang akan kita lakukan, ya?" Sahut Rey, terkesan meledek Kirana.
"Hey! Kau meledekku ya?"
"Tidak tuh." Ucap Rey, merasa tak bersalah.
"Karena aku sudah melamarmu dan kau pun setuju, maka.. Minggu depan aku memutuskan akan menikah denganmu. Malam ini juga, aku akan datang ke rumah orang tuamu!" Ucap Rey mantap. Tanpa ada keraguan sedikitpun di ucapannya. Bahkan untuk seseorang yang baru saja di temuinya.
"Tapi aku belum bilang setuju tuh!"
"Setuju atau tidaknya, aku akan tetap datang ke rumah orang tuamu."
"Sayangnya kau tidak tahu rumah orang tuaku, blwee." Ucap gadis itu, menjulurkan lidahnya meledek Reynald.
"Sayangnya aku tahu rumah orang tuamu, blwee." Balas Rey menjulurkan lidahnya, meledek gadis di depannya.
"Bohong! Bagaimana bisa kau tau?"
"Kau tidak akan ingat, sayang." Lirih Rey, dengan tatapan sendu menyiratkan luka yang mendalam.
"Hey, ada apa denganmu?" Tanya Kira, menjentikkan jarinya di depan wajah Rey.
Ia mendadak khawatir dengan Rey, sebenarnya walaupun ia dan Rey baru beberapa menit bertemu. Ia seperti merasa sudah lama sekali mengenal Rey dan ia juga merasa, nyaman di dekatnya.
"Tidak apa-apa, kau pulanglah. Aku akan menyusul ke rumahmu nanti. Kau sharelock saja, boleh tidak?"
"Ini nomerku." Sambung Rey sambil menyodorkan kertas dengan nomer telpon miliknya.
"Benarkah? Maksudku.. kau serius melamarku dan ingin menikah denganku?" Ucapnya sedikit ragu.
"Bahkan kita sudah menikah Kira.." gumam Rey, sambil menatap dirinya sendu.
"Ya, aku sangat yakin!" Ucap Rey dan tanpa sadar aku telah di tuntun keluar dari kafe itu oleh Rey.
"Kau pulanglah, dan sharelock saja lokasi rumah orang tuamu. Aku akan datang dengan membawa orang tuaku malam ini juga." Ucap Rey, setelah memastikan bahwa aku telah masuk ke dalam mobilnya.
"Iya."
"Hati-hati di jalan, aku tidak ingin istriku kenapa-kenapa." Ucap Rey lebih mengarah ke sang sopir.
Lalu mobil melaju meninggalkan Rey di depan kafe.
****
Sesampainya di rumah, Kira langsung merebahkan dirinya di kasur queen size miliknya.
Tok tok tok
"Masuk."
"Kira, kau sudah pulang?" Tanya ayah Kira, memasuki kamar putri semata wayangnya.
"Kalau aku belum pulang, berarti yang ada di hadapan ayah sekarang. Hantu dong, hehehe." Jawabku, kami memang senang sekali bercanda dan bergurau bersama.
Ayah hanya tersenyum menanggapinya. Lalu ikut duduk di ujung ranjangku. Sambil mengelus kepalaku lembut.
"Nak, apa ada yang ingin kamu katakan, kau tidak bisa membohongi ayahmu ini, nak." Ucap ayah Kira.
"Huftt.. ayah memang paling pandai membaca isi otakku." Ucap Kira.
"Katakan." Kata ayahku.
"Huftt.. jadi yah, sebenarnya.. pagi tadi aku baru saja di putuskan oleh Revan.."
"Baguslah, ayah juga tidak setuju kau dengannya. Ayah juga tidak setuju kau berpacaran, padahal kau sudah memiliki su... Ekhem! Lanjutkan." Aku mengernyitkan dahi, tapi aku langsung melanjutkan ceritaku.
"Sampai akhirnya aku datang ke sebuah kafe untuk menenangkan diri dan tiba-tiba.. sang atasan datang kepadaku mengajakku mengobrol, lalu saat aku ingin memesan minuman yang membuatku penasaran. Tiba-tiba dia melamarku dan dia akan datang malam ini bersama orang tuanya."
"APAA?!" Pekik ayahku. Membuatku menutup kuping seketika.
"MARGAREET! MARGAREET! LIHAT! APA YANG DI LAKUKAN PUTRIMU INI!!" Teriak ayahku memanggil ibuku.
Aku kelimpungan dan bingung. Mendadak merasa menjadi penjahat yang sedang ketahuan mencuri mangga tetangga.
"Ada apa, Ken?" Ucap ibuku panik, ia masih memegang spatula, dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar.
"Lihat putrimu ini! Dia di lamar!" Pekik ayahku.
"Apa? Oh, astaga!" Ucap ibuku dan menjatuhkan spatula yang di pegangnya.
"Emm.. jika ayah dan ibu tidak setuju, aku akan menolak lamarannya."
"ITU MEMANG HARUS!" Ucap mereka serempak.
"Baiklah, tapi.. sayangnya aku telah men-sharelock lokasi rumah kita dan dia akan sampai 10 menit lagi." Ucapku.
"APAAA?!" Ucap mereka lagi, serempak. Membuatku menutup telinga seketika.
Tok tok tok
"Masuk"
"Maaf, nyonya, tuan. Ada tamu di luar." Ucap pembantuku.
"Pasti itu yang melamarmu ya?! Oh ya ampuun!" Ucap ibuku.
"Sudah-sudah lebih baik kita turun, dan menjelaskan padanya pelan-pelan."
"Memangnya kenapa yah, jika aku menikah dengannya?"
"TIDAK BOLEH! KAU KAN SUDAH MEMILIKI SUAMI." Ucap ayah dan ibuku. Tak lama mereka tersadar dengan ucapannya barusan.
"Ha? Apa maksudnya?" Tanyaku.
"Hufft.. benar nak, kau.. telah memiliki suami. Kau telah menikah." Ucap ayahku.
"Apa? Apa maksudnya?! KAPAN!?"
"Setahun yang lalu, saat kau lulus SMA. Kau telah kami jodohkan dengan anak sahabat ayah. Lalu kalian menikah saat kelulusan mu. Tapi sayang, di saat kalian sudah saling mencintai. Musibah menimpamu nak.." Ucap ayahku, yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Musibah? Musibah apa, yah?" Tanyaku, aku ikut menangis melihat kedua orang tuaku sedih seperti ini.
"Saat kau sedang dalam perjalanan ke gedung untuk membuat pesta dan merayakan ulang tahun suamimu, kau kecelakaan, pada saat itu. Suamimu merasa sangat bersalah, yang seharusnya menjadi hari bahagianya. Ia malah mendapati kau terbaring koma di rumah sakit pada saat itu. Ia terlihat sangat frustasi nak, ia.. sangat mencintaimu.." Lirih ayahku sambil mengusap air matanya yang terjatuh sedari tadi.
Kira ikut menangis, mengetahui fakta yang selama ini di sembunyikan orang tuanya.
"Kenapa baru sekarang, kalian mengatakan ini padaku?" Tanyaku.
"Kau hilang ingatan pada saat itu. Dan saat kami berusaha memberitahumu.. kau kesakitan. Dokter langsung memberitahu kami untuk tidak mengatakan dan membicarakan tentang pernikahanmu di hadapanmu." Tutur ibunya.
"Hiks, tunjukkan.. dimana.. dimana suamiku sekarang.. ibu.. hiks." Tangisku semakin kencang.
"Sebelum itu, mari kita turun ke bawah. Dan menjelaskan langsung ke orang yang telah melamarmu nak." Jawab ibuku, sambil menyeka air matanya yang keluar.
Aku pun mengangguk dan keluar dari kamar, menuju ruang tamu.
"Bi Ita, suruh tamunya masuk dan buatkan minuman ya." Ucap ibuku pada Bu Ita–pembantu di rumahku.
"Baik non."
Tak lama, Rey dan keluarganya masuk. Ia terlihat sangat tampan, dengan tuxedo navy yang melekat di tubuhnya. Ia menatapku sambil tersenyum manis, sangat manis.
Sedangkan aku, belum mengganti pakaianku. Masih memakai pakaian yang saat di kafe tadi. Di tambah bajuku sekarang sedikit basah, karena air mataku.
Orang tuaku terlihat sangat terkejut. Lalu tak lama mereka tersenyum lebar sambil memeluk keluarga Rey. Aku hanya mengernyitkan dahiku, enggan untuk mendekat. Aku masih berdiri di dekat tangga.
Tak lama Rey mendekatiku, lalu ia berlari kecil.
"Kau.. apa kau habis menangis? Kenapa kau menangis, sayang? Siapa.. siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Rey, sambil mengusap keningku.
"Jangan sentuh aku! Aku sudah memiliki suami!" Ucapku pada Rey. Tak lama Rey tersenyum padaku.
"Suamimu sekarang ada di hadapanmu, nak." Ucap ibuku. Aku hanya menatap wajah ibuku dan Rey bergantian, masih bingung dengan situasi sekarang.
"Hiks, kau.. ingin bertemu suamimu kan? Inilah suami mu sayang. Aku suamimu." Ucap Rey sambil menangis di hadapanku.
"Rey adalah suamimu yang sebenarnya sayang." Timpal ayahku.
Aku langsung menangis mendengarnya, dan memeluk tubuh Rey erat sangat erat. Ia membalas pelukanku tak kalah erat, dan menangis bersama-sama. Bahagia.
****
Setelah kejadian mengharukan itu, aku dan Rey masuk ke dalam kamar ku. Kini mereka hanya berdua.
Mereka masih memeluk satu sama lain, lebih tepatnya Rey. Ia sedari tadi tidak ingin lepas atau berjauhan dengan Kira. Hingga ia memutuskan untuk menginap di rumah mertuanya dulu.
"Rey lepas, aku se..sak."
"Ah, maaf.. aku sangat senang, aku merindukanmu Kira.. hiks."
"Hey, kau ini menangis mulu. Sudahlah kau jelek jika menangis." Ucap Kira lembut.
"Iya.. maaf."
"Sekarang, beritahu aku. Apa benar dulu aku hilang inga..."
"Ssh.. jangan ingatkan aku dengan peristiwa itu. Aku sangat menyesal, sayang. Andai saat itu aku melarangmu untuk merayakan ulang tahun ku, kita pasti sudah bahagia sekarang." Ucap Rey sedih, lalu menitikkan air matanya lagi.
"Lalu.. saat di kafe itu.."
"Aku telah tahu itu adalah kamu, aku memperhatikanmu dari CCTV yang ada di ruanganku." Ucap Rey.
"Lalu kenapa kau melamarku, jika sudah tahu aku adalah istrimu?" Tanyaku masih penasaran dengannya.
"Itu agar aku cepat bertemu denganmu sayang.. melalui orang tuamu, aku sudah menduga akan seperti ini. Tapi aku tidak menduga kau akan menangis seperti tadi. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis, honey." Ucap Rey kembali memelukku.
"Apa selama aku tidak ada.. kau jadi sosok sadboy seperti ini? Hehe." Ucap Kira terkekeh geli.
"Iya.. kau tau, saat kau hilang ingatan selama satu tahun ini. Aku tidak bisa makan dengan benar. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk fotomu atau bajumu.. aku merasa tidak hidup saat itu. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku lagi.." lirih Rey.
Kira hanya tersenyum menanggapi ucapan Rey barusan. Ia telah ingat, ingatan yang hilang setahun yang lalu. Telah kembali, saat ia memeluk Rey erat di tangga tadi.
Kira berharap rumah tangganya dengan Rey akan tetap seperti ini, tanpa adanya penghalang dan tetap abadi sampai maut memisahkan.
****
"Ayo, cobalah! Padahal saat itu kau bersikeras ingin meminumnya. Kenapa sekarang tidak mau, hm?" Tanya Rey lembut.
"Aku tidak mau Rey.. masa kita harus minum itu di gelas yang sama. Aku.. malu." Ucap Kira, sedari tadi ia di tawari Rey, untuk mencoba minuman bubble tea soflty yang ia damba-dambakan saat di kafe kemarin.
"Hufft.. ya sudah, padahal.. resep ini aku sendiri yang membuatnya, untuk istriku tercinta. Yah.. sebagai pengobat rinduku padamu dulu. Karena kau kan suka sekali dengan boba. Jadi, aku membuat sendiri resep ini. Agar suatu saat, jika istriku sudah mengingat semuanya. Aku akan mengajak istriku meminum ini bersamaku." Ucap Rey panjang, sambil menatap Kira lembut menyiratkan betapa cintanya ia pada Kira.
"Mm.. baiklah, aku akan meminumnya bersamamu." Rey pun sangat senang. Dan ia menyodorkan minuman itu pada Kira.
Bubble tea, dengan boba yang lembut tapi kenyal dan satu lagi yang istimewa adalah sedotan yang di bagi menjadi dua.
Sehingga Rey dan Kira, bisa meminumnya bersama-sama. Kira dan Rey pun meminum bubble tea soflty itu bersama. Tatapan mereka bertemu. Tak lama...
Cup
Rey mencium bibir Kira detik itu juga. Lalu Rey menyatukan keningnya dengan kening Kira.
Rey berharap, Kira nya selalu sehat. Biarlah ia yang terluka tapi jangan dengan Kira.
Rey berharap, rumah tangganya dengan Kira tetap abadi, sampai maut memisahkan.
Membangun rumah tangga, bersama Kira dan anak mereka kelak.
.
.
.
Yuhuu😙 Tinggalkan jejak yaww.. see you🤧