Aku berdoa semoga tepat di garis putih terakhir aku melangkah, aku berharab pada Tuhan agar mengizinkanku melihat dirimu lagi. ~Feronika~
Tap tap, tap tap, tap tap.
Langkahnya semakin lama semakin cepat. Gadis itu berlari menuju zebra cross. Para penyebrang jalan sudah bergerombol melewati zebra cross. Ketika langkah terakhirnya sudah mendarat di garis putih pertama. Lampu lalu lintas tiba tiba berganti warna hijau. Ia pun terlambat, terpaksa ia mundur satu langkah ke belakang.
Astaga padahal Fero sedang terburu buru. Ia sudah terlambat masuk kerja sore ini. Hari ini ia bekerja sif malam. Masuk jam 5 sore pulang jam 10 malam. Dan saat ini sudah setengah 6 sore. Gara gara tidur siang ia jadi berangkat kesorean. Mobil masih berlalu lalang. Gadis itu menghentak hentakan kakinya perlahan tidak sabar menunggu lampu lalu lintas di dekatnya berubah warna.
Tiba tiba seseorang laki laki berdiri disampingnya. Entah datang dari arah mana ia tak tahu. Pria itu tinggi, Fero hanya setinggi ketiak laki laki itu. Mereka berdiri berdampingan menghadap ke depan zebra cross. Seketika ada angin berhembus perlahan ke arahnya. Hingga menyingkap poninya keatas. Membuat tubuh gadis itu kedinginan. Ternyata sore itu cuaca mendung. Hujan sudah rintik rintik namun jarang.
Fero coba melirik ke arah laki laki itu. Tak disangka laki laki itu pun melihat ke arahnya. Pria itu tersenyum. Wajahnya putih bersih dan mempunyai lesung pipit di kedua pipinya. Astaga manis sekali. Hati Fero langsung mendesir desir.
Ting
Lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi merah. Saatnya untuk mereka pergi. Fero melangkahkan kakinya cepat mendahului pria itu. Ia harus cepat gadis itu sudah benar benar terlambat sekarang. Bosnya pasti akan marah besar nanti.
Fero dan pria itu melangkah kejalan yang berbeda. Saling membelakangi. Fero sangat penasaran ia menoleh kebelakang. Ternyata pria itu tidak mengikutinya. Lalu ia menghadap ke depan. Namun ia menoleh lagi. Pria itu sudah tidak ada. Tapi pintu masuk sebuah toko roti tak jauh darinya terlihat terbuka lalu menutup. Mungkin pria itu masuk kesana, pikir Fero.
Sambil berjalan cepat, Fero tersenyum membayangkan wajah lelaki itu. Lima menit berlalu dia sampai di sebuah konter Handphone tempatnya bekerja. Seorang wanita paru baya tengah berdiri di depan konter sambil bersedekap menatap ke arah Fero yang baru datang.
"Kenapa baru datang?" Tanya wanita itu ketus yang ternyata adalah bosnya Fero bekerja.
"Maaf Cik." Hanya itu yang bisa Fero katakan. Karena jika ia berkata alasan yang sebenarnya ia datang terlambat. Pasti akan percuma. Sebab bosnya itu tidak bisa menerima alasan apapun jika pegawainya ada yang datang terlambat.
"Kamu ini ditunggu dari tadi malah baru dateng. Ya sudah sana buruan tunggu kasir. Saya mau keluar dulu."
Wanita itu pun masuk diikuti oleh Fero di belakangnya. Fero duduk di depan kasir. Malam ini dia yang pegang uang bosnya di konter. Memang biasanya begitu. Fero sudah sangat di percaya oleh bosnya. Sudah hampir tiga tahun dia bekerja disitu. Setelah lulus SMA. Dan Fero pun sudah diuji akan kejujuran gadis itu.
Sebuah mobil mewah hitam mengkilap berhenti di depan konter. Tak lama bosnya keluar sambil mencangklong tas. Ada yang berbeda dari bosnya malam ini. Terlihat cantik dan sexy. Wanita itu menghampiri mobil mewah yang barusan berhenti dan masuk ke dalamnya. Kemudian pergi dari sana.
Sontak saja para pegawai yang lain mengerubungi Fero.
"Siapa tuh yang jemput Bu Bos?" tanya Tiwi kepo.
"Mana ku tahu." jawab Fero masa bodo. Karena memang dia benar benar tidak tahu.
"Mungkin cowok barunya kali. Kayaknya tajir deh. Mobilnya bagus bener." Sahut Loli sok tahu. Memang Bosnya itu seorang janda.
"Ih kalian kepo banget sih." timpal Ririn yang ikutan nimbrung.
"Emang lo gak kepo tah Rin?" tanya Tiwi sewot.
"Enggak dong. Mau pergi kemana sama siapa gue gak perduli. Yang penting gak ada Bu Bos kita bisa leluasa, haha."
"Hehe iya juga ya Rin." Sambung Loli setuju.
"Gue takut tadi kirain lo gak berangkat Fer." lanjut Loli lagi.
"Iya, bisa mati berdiri kita kalau Bu Bos yang nunggu konter." sahut Ririn lagi.
"Hemm biasa tadi gue tidur siang trus bangunnya kesorean." Seorang pembeli datang. Tak lama dua pembeli lagi datang.
"Tuh ada orang, dilayanin dulu sana." Suruh Fero pada ketiga temannya. Merekapun segera melayani. Dua pembeli yang datang bersamaan ingin membeli laptop dan hanphone. Sedangkan seorang lagi hanya ingin membeli kuota. Tiwi melayani orang yang membeli kuota itu lalu orang itu pergi setelah membayarnya pas.
"Ini Fer, kuota 3 GB 50 ribu." ucap Tiwi sambil menyerahkan uang sebesar 50 ribu pada Fero dan langsung saja ia masukan kedalam laci meja kasir.
"Eh Fer tau gak pas hari jumat kemarin ada cowok yang nanyain elo pas elo gak berangkat." kata Tiwi setelah ia menggeret kursi mendekati Fero dan duduk disampingnya.
"Masa, emang siapa?"
"Gak tahu, orangnya cakep tahu Fer. Ada lesung pipitnya. Aduh manis banget."
"Hah?" Kok kebetulan banget, tadi sore ia ketemu laki laki berlesung pipit.
"Terus dia tanya apaan?"
"Ya tanya kok tumben elo gak kelihatan. Kan hari itu elo sakit makannya gak masuk. Terus gue kasih tahu aja rumah kamu."
"Tapi kok gak ada yang dateng pas gue lagi sakit?" Oh iya Fero ingat waktu itu kan dia dirumah sakit. Ia sedang di infus, karena tubuhnya sangat lemah akibat asam lambung yang ia derita.
Loli dan Ririn ikut nimbrung lagi. Pelanggannya sudah pergi. Ternyata mereka cuma babon. Alias cuma tanya tanya doang.
"Ngomongin apaan sih?" Tanya Loli kepo.
"Itu loh cowok kemarin yang nanyain Fero, pas dia gak masuk."
"Oh itu. Iya iya gue ingat. Tau gak Fer cowok itu tuh sering beli pulsa sama gue." sahut Loli heboh.
"Masa sih, berarti lo punya nomernya dong?" Tanya Ririn tak percaya.
"Pasti dong, masa ada nomer cowok ganteng gak gue simpen. Rugi dong."
"Mana mana?" Ririn dan Tiwi jadi kepo. Fero hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah teman temannya ini. Loli segera mengambil hp disaku celananya dan menggeser geser layar hpnya.
"Ini nih, tuh." Nomer itu ia beri nama cogan.
"Kok gak tanya namanya sekalian sih elo Lol? Tanya Ririn lagi.
" Ah gue malu kali."
"Punya malu juga ya lo."
"Ih enak aja."
"Sini gue telpon!" ucap Tiwi seraya merebut Hp Loli dan memanggil nomer itu dan ternyata nomer itu sudah tidak aktif.
"Loh kok gak aktif?"
"Masa sih." Loli langsung merebut Hpnya dan Dan menelponnya lagi. Ternyata benar sudah tidak aktif.
"Udahlah biarin aja. Aku yang ditanyain kok kalian yang gupek." Ucap Fero pada akhirnya. Membuat ketiga temannya itu bungkam.
🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌧🌨🌧
Malam itu hujan turun cukup deras, Empat cewek itu duduk di depan etalase konter. Sudah tidak ada pembeli lagi dan bosnya juga belum pulang. Malam menunjukan pukul 10. Tapi hujan masih saja turun. Mereka memutuskan pulang sampai sedikit reda. Satu jam lamanya baru hujan sedikit reda.
Mereka mulai memberes bereskan konter dan menutup konter. Malam ini kunci konter Fero yang bawa. Bu Bosnya selalu punya kunci cadangan. Ketiga temannya pulang naik motor. Sedangkan Fero hanya jalan kaki. Kebetulan memang jarak rumah dan konter tidak terlalu jauh. Dan setiap sif malam pun begitu. Ia akan jalan kaki sampai rumah.
Tibalah ia di Zebra cross. Jalan yang selalu ia lewati. Sial hujan akan turun lagi. Gerimis kecil kecil sudah membasahi wajahnya. Dan lampu lalu lintas masih saja hijau. Mobil masih berlalu lalang di tengah gerimis. Gerimis perlahan lahan berubah menjadi hujan yang cukup deras. Badannya mulai basah kuyup. Tiba tiba sesuatu menghalagi tubuhnya dari guyuran hujan. Ia mendongakan wajahnya. Sebuah jaket terbentang diatasnya. Jaket itu milik pria yang tadi sore bertemu dengannya.
Mereka saling memandang. Pria itu tersenyum, Fero hanya bisa terbengong bengong.
"Ayo jalan!" Ajak pria itu.
"Tapi lampunya?" ucap Fero sambil menunjuk ke arah lampu lalu lintas. Oh ternyata sudah berubah merah. Mereka berjalan melewati zebra cross di bawah derasnya hujan.
"Dimana rumahmu?" Tanya pria itu lagi.
"Itu di ujung sana." Balas Fero sambil menunjuk ke arah rumahnya yang berpagar besi bercat hijau. Tiba tiba petir dan gemuruh meledak di langit.
JEEEDEEERRRRR
"Aaaaaakkkkhhhh!" Teriak Fero tak sadar sudah memeluk tubuh pria yang entah siapa namanya itu.
"Maaf. Aku takut tadi." seraya melepas pelukannya.
"Gak apa apa, peluk aja."
JEEEEDDDDDEEEEERRRRRRRR
Petir kembali meledak, menyambar sebatang pohon palem di sebrang jalan.
"Ibuuuu?" Teriak Fero seraya memeluk pria itu lagi sambil terpejam. Pria itu membalas pelukannya dengan satu tangan karena satu tangan yang lain masih memegangi jaket untuk memayungi mereka berdua. Mereka melangkah lagi sampai di depan pagar rumah Fero.
"Udah sampai, makasih."
"Iya sama sama."
"Oh iya boleh tahu siapa namamu Kak?"
"Nando."
"Oh Sekali lagi makasih ya Kak Nando. Hemm Namaku Feronika. Panggil saja Fero."
"Oke Fero semoga kita ketemu lagi."
"Iya." Fero membuka pagar pintu rumahnya. Pria itu kembali memakai jaket denim miliknya. Hujan sudah benar benar reda sekarang. Fero melangkah masuk ke halaman rumah, tapi ia penasaran pria itu tinggal dimana. Ia memutuskan untuk bertanya dan berbalik. Tapi pria itu sudah tidak ada. Secepat itu Kak Nando pergi, pikirnya.
Gadis itu kembali melangkah mendekati pintu rumah. Ceklek pintunya terbuka.Ternyata Ibunya sudah menunggu sedari tadi.
"Nak pulangnya malam banget?" Tanya Ibu Fero Khawatir.
"Habis hujannya gak reda reda. Jadi nunggu hujan reda dulu Bu."
"Terus pulang sendirian?"
"Enggak tadi dianterin temen."
"Mana kok Ibu gak lihat?"
"Iya orangnya udah pergi."
"Ya udah cepetan masuk. Bajumu basah tuh." Fero pun masuk. Ibunya heran padahal dari tadi beliau memperhatikan anaknya itu berjalan pulang sendirian. Ibu Fero jadi merinding lalu menutup pintu rapat rapat.
🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤
Pagi menjelang, hari ini ia masuk kerja sif malam lagi. Jadi ia bisa bangun kesiangan. Ibunya dari luar kamar sudah gupek memanggil manggil Fero agar cepat bangun.
"Fero bangun Nak udah siang."
"Semenit lagi Bu, Fero masih ngantuk."
"Fero, fero!" tiba tiba Ibunya sudah masuk dan duduk di pinggir ranjangnya.
"Ayo bangun anak malas!"
"Aduh Ibu bentar lagi deh." ucap fero mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal agar tidak mendengar ocehan ibunya.
"Eh anak ini, itu ada pacar kamu udah nungguin kamu diluar."
"Hah?" Fero melongo setelah membuang bantal yang menutupi wajahnya ke sembarang arah. Pacar? Pacar siapa? Fero?. Fero kan tidak punya pacar.
Gadis itu langsung terbangun dan berlari keluar penasaran melihat pacar yang ibunya maksud tadi.
"Kak Nando?" Pria itu tersenyum, sangat manis.
"Fero." Gadis itu buru buru mengambil handuknya di kamar dan berlari masuk ke kamar mandi. Lima menit kelar. Ia langsung ganti baju dan berdandan sebentar beres. Ia kembali ke ruang tamu. Ibunya dan Nando sudah duduk berhadap hadapan.
"Fero cepetan sini. Nak Nando udah lama nungguin kamu ini."
Eh kok ibunya bisa baik banget ya sama pria yang baru dikenalnya.
"Udah sana pergi, tapi pulangnya jangan sore sore ya." Ucap ibu lagi menggeret Fero dan Nando keluar rumah.
"Loh kok ibu aneh banget sih, tumben banget biasanya kalau ada cowok ngapel boro boro suruh pergi keluar, masuk ke rumah aja enggak bakalan." Batin Fero aneh. Tapi ia senang. Ia jadi bisa jalan dengan kak Nando. Mereka masih berjalan menyusuri jalanan kaki lima.
"Kita mau kemana Kak?"
"Terserah kamu aja."
"Kita ke taman aja yuk Kak!"
"Boleh."
Mereka berjalan menuju taman dekat zebra cross itu. Mereka duduk di kursi taman. Tumben hari ini tidak terlalu ramai. Padahal ini hari minggu. Tapi malahan suasananya bisa terasa lebih romantis. Di ujung jalan sana ada toko es krim terlihat ramai anak muda nongkrong di depan toko itu. Nando berinisiatif membelikan es krim untuk Fero.
Tak butuh waktu lama Nando datang membawa sebuah es krim rasa vanila kebetulan es krim Vanila adalah kesukaan Fero.
"Loh Kak kok cuma satu?"
"Iya aku gak suka es krim."
"Oh mending tadi gak usah beli Kak. Gak enak makan sendiri."
"Gak papa. Buat kamu aja, kan mubasir udah di beli gak di makan."
"Hehe iya juga ya Kak."
"Cepetan di makan keburu meleleh."
"Makasih ya Kak." Sambil tersenyum manis pria itu mengusap usap rambut Fero pelan.
Deg
Jantung Fero berdebar debar. Baru pertama kali ini ada pria yang mengusap rambutnya begitu. Sampai dia makan es krimnya belepotan. Eh pria itu menjulurkan tanganya menyentuh bibir Fero. Tangan yang dingin sedingin es krim yang ia makan. Oh hati Fero sudah benar benar jatuh, jatuh ke pelukan pria yang baru ia kenal. Pria itu kembali tersenyum hingga menunjukkan lesung pipitnya. Ngomong ngomong soal lesung pipit, Fero jadi ingat perkataan Tiwi tadi malam. Ia memberanikan bertanya soal itu pada pria disampingnya ini.
"Kak, emang kakak pernah ke tempat kerjaku?"
"Iya pernah."
"Kapan?"
"Hari jumat kemarin."
"Ngapain?"
"Beli pulsa. Tapi kamu gak kelihatan, biasanya kamu duduk di depan kasir."
"Emang Kakak sering dateng ke konter?"
"Ya beberapa kali, semenjak aku ngekos disini. Aku lagi KKN soalnya. Ngajar di SMA."
"Oh gitu, berarti Kakak calon guru ya?" Mereka berbincang bincang banyak hal. Tapi yang banyak bicara disini adalah Fero. Nando hanya menjadi pendengar yang baik. Nando memang baik, ia adalah pria yang banyak tersenyum. Dari kejauhan seorang gadis naik motor tengah berhenti di lampu merah. Loli tengah menunggu orang orang menyebrang. Apa ia tak salah lihat? Bukankah yang duduk di kursi taman itu adalah Fero temannya. Tapi kenapa dia ada sendirian disana? Rasa penasaran Loli semakin menjadi jadi. Ketika melihat Fero tertawa. Ah mungkin ia lagi melihat video lucu di yutub. Makanya tertawa seperti itu. Tapi kenapa tidak di rumahnya saja sih, malah di taman sendirian. Kan jadi kelihatan seperti orang gila 'anyaran' kalau seperti itu. Tin tin. Suara klakson mengagetkan gadis tembem itu. Ternyata sudah lampu hijau, ia bergegas menyalakan motornya pergi sebelum jadi bulan bulanan orang di
belakangnya.
Hampir setengah hari Fero dan Nando berada di taman. Mereka sudah bertukar nomer. Bahkan mereka mengambil foto dengan badut berbentuk mickey mouse di taman. Ketika hari mulai terasa terik mereka memutuskan untuk pulang. Sambil berjalan kaki Fero dan Nando bergandengan tangan. Entah apa setatus mereka saat ini. Yang author tahu mereka sudah sama sama saling jatuh cinta sekarang.
Mereka sampai di depan rumah Fero. Gadis itu masuk ke halaman rumahnya. Ia bahkan berjalan mundur takut pria itu tiba tiba pergi lagi. Nando tersenyum sambil terus melambai lambaikan tangan. Hingga sampai depan pintu. Fero terus melambai ke arah Nando seakan akan itu adalah pertemuan terakhir mereka. Ia takut jika ia berpaling gadis itu tidak bisa melihat kekasihnya itu lagi.
Benar, mereka berdua sudah resmi berpacaran. Nando menembaknya saat di taman tadi. Setelah hilang dari balik pintu, Fero segera berbalik masuk ke dalam kamarnya. Ia segera meraih hp yang ada didalam dompet hp yang ia bawa tadi. Ia segera mengetik pesan untuk kekasihnya.
Kak Nando? ~ Fero
Setelah beberapa menit pesan itu berbalas.
Iya Fero Sayang ~ Nando
Udah sampai rumah? ~ Fero
Sudah, jangan lupa makan siang ya. Jaga kesehatan gak boleh sakit ya Sayang 😚 ~ Nando
Iya Kak, Kakak juga jangan lupa makan. Fero sayang Kak Nando 😚😍 ~ Fero
Aku juga sayang Fero Sayang ❤ ~ Nando
Oh nampaknya mereka tengah di mabuk cinta. Setelah membaca pesan terakhir dari Nando
Fero bergegas keluar untuk makan siang bersama ibunya di meja makan. Setelah selesai, Fero kembali ke kamar dan tidur siang. Hari sudah menunjukan pukul 3 sore. Fero pun baru saja terbangun. Ia bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, ia bersiap siap pergi bekerja. Setelah pamit pada ibunya. Ia berjalan keluar rumah. Hingga sampailah di zebra cross langganannya. Karena ia sering lewat situ. Saat itu para penyebrang jalan lumayan banyak. Fero nampak mencari cari seseorang. Siapa tahu ia akan bertemu kekasihnya disana. Ia sedikit kecewa karena orang yang ia tunggu tak muncul juga. Tapi ia tetap berpikir positif, mungkin saja pria itu memang tidak lewat di daerah itu. Memikirkan hal itu Fero sampai tertinggal oleh para penyebrang yang lain. Menyadari hal itu ia bergegas berlari menyebrangi zebra cross.
Sore ini Fero datang lebih awal. Bu Bosnya juga masih duduk di depan kasir. Para pegawai sif siang pun masih terlihat di dalam konter. Melihat Fero sudah datang, bosnya menyuruh mereka pulang.
"Tumben udah dateng, kesambet apaan?"
"Hehe lagi pingin rajin aja Cik."
"Ya udah gantiin saya nunggu kasir, saya mau tiduran dulu di dalam. Badanku sakit semua."
"Beres Bu Bos." wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya. Fero duduk di depan meja kasir. Ketiga temannya pun baru datang. Fero tak menyadari kalau teman temannya sudah datang. Ia masih menatap layar hpnya sambil tersenyum. Yang membuatnya sangat bahagia saat itu adalah fotonya bersama Nando di taman dengan badut mikey mouse. Melihat hal itu Tiwi berfikir jahil untuk mengagetkan temannya itu.
"Dooorrr." teriak Tiwi sambil menggebrak meja kasir depan Fero.
"Astaga naga, ya ampun Tiwi ngagetin aja sih!"
"Hahaha habis senyum senyum sendiri kayak orang gila."
"Huh apaan sih gak jelas."
"Kamu itu yang gak jelas, hayo ngaku habis ngapain kok kelihatannya seneng banget?" tanya Tiwi kepo.
"Ada deh."
"Eh Fer gue pas dari main tadi siang lihat kamu di taman ngapain?" tanya Loli masih penasaran dengan yang ia lihat tadi siang.
"Lagi jalan."
"Sama siapa?" sambung Tiwi.
"Sama cowok lah masa sama hantu, aneh deh lo."
"Tapi kok aku gak lihat ya tadi?" tanya Loli tak percaya.
"Mungkin orangnya lagi beli es krim."
"Oh."
"Crita crita dong sama kita kita." pinta Tiwi yang ngebet banget ingin tahu siapa laki laki yang berhasil naklukin hati dingin seorang Fero.
"Tau gak sih, tadi siang tuh aku jalan sama cowok yang kemarin kamu ceritain Tiw. Katanya dia udah suka sama aku pertama kali lihat aku disini. Terus hari jumat itu dia mau ngajakin kenalan tapi aku gak ada."
"Apa?" Tiwi dan Loli sontak terkejut. Beruntung sekali Fero bisa jalan dengan cowok seganteng pria itu.
"Terus terus?"
"Iya kita jadian."
"Wah selamat ya Fer, akhirnya lo punya pacar juga. Pacar lo ganteng lagi." ucap Tiwi girang melihat temannya bahagia.
"Iya M2M ya besok. Kita rayain hari jadian lo." timpal Loli lagi. Di sudut sana Ririn duduk termenung, tak seperti biasanya ia muram. Kemudian ia melayani seorang pembeli Yang ingin membeli pulsa. Mereka kembali melayani para pembeli yang datang. Cukup ramai hingga hampir jam 9 malam baru para pembeli pergi. Mereka berempat baru bisa duduk bersantai. Ririn masih diam dengan kemuramannya. Ada masalah apa sampai membuat gadis itu sedih seperti itu. Fero mendekati Ririn mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Cerita cerita ngapa Rin kalau lagi ada masalah." Ucap Fero sambil menyentuh bahu temannya itu setelah duduk di kursi samping Ririn.
"Eh, Fero. Ah bukan apa apa."
"Bukan apa apa apaan. Muka elo tuh muram banget dari tadi."
"Sebenernya gue cuma kepikiran sama temen abang gue Fer."
"Emang ngapa temen abang lo Rin?"
"Sedih banget ceritanya." Ririn mulai bercerita panjang lebar. Awalnya Fero sangat antusias mendengarnya. Tapi lama lama gadis itu mulai merasa tak enak perasaannya. Ia menitikan air mata. Hatinya sangat sakit dan terluka. Teman abangnya Ririn sama dengan nama kekasihnya yaitu Nando. Ceritanya pun sama seperti yang Nando ceritakan saat bertemu dengannya di taman siang tadi. Ia yang ngekos, lagi sibuk KKN, menyukai gadis yang kerja di konter, lalu ingin menembaknya. Tapi yang membuat jantungnya seperti di tusuk belati adalah pria itu meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ia di jambret saat melewati zebra cross lalu ditusuk pisau di perutnya ketika akan pergi menemui gadis yang ia sukai. Pria itu meninggal seketika karena kehabisan darah.
"Cukup Rin, cukup gue gak sanggup dengernya hiks hiks hiks."
"Loh loh kok elo malah nangis sih Fer? Gue jadi gak enak kan, lo jadi sedih begini."
"Eh Rin lo apaan Fero?" tiba tiba Tiwi sudah di dekatnya.
"Sumpah deh gue gak apa apaain dia, gue cuma curhat masalah temen abang gue. Eh tapi dia malah nangis.
" Jangan bohong lo!" paksa Loli ia sampai mendorong bahu Ririn dengan tangannya. Fero malah tambah menangis tersedu sedu. Seperti ada batu besar melesat masuk ke dadanya. Sesak. Fero memukul mukul dadanya berkali kali. Membuat ketiga temannya jadi kebingungan. Entah dengan cara apa agar fero bisa berhenti menangis. Tangisan Fero sampai menarik perhatian para pembeli yang baru datang. Gadis itu pun pingsan karena kelelahan menangis.
😭😭😭😭😭😭
Di malam yang gelap, tapi langit terlihat sangat indah. Bulan bersinar sangat terang dengan bintang bintang bertaburan di sekitarnya. Fero tengah berdiri diujung zebra cross. Begitu pun dengan seseorang laki laki berdiri di seberang zebra cross juga. Fero melangkah maju ke depan, laki laki itu pun sama. Mereka bertemu ditengah tengah. Mereka saling memandang, pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah keduanya. Mereka saling jatuh cinta.
"Kak Nando?"
"Iya Sayang."
"Apa Kakak bener bener sayang sama Fero?"
"Tentu saja."
"Tapi kenapa Kakak ninggalin aku?"
"Ini sudah takdir kita berdua Sayang. Mungkin memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Tapi aku bahagia sekarang, ternyata cintaku sudah berbalas. Aku tahu bahwa kamu juga cinta sama aku itu saja cukup buatku. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."
"Maaf Kak, hiks hiks maafin Fero. Semuanya salah Fero, kalau aja hari itu Fero gak sakit, Kakak gak akan..."
"Sssssssstttt, jangan menyalahkan dirimu Sayang. Ini sudah takdirku, aku menerima itu. Jangan menangis ya. Kalau kamu ingin aku pergi dengan tenang jangan menangis oke."
Fero mengangguk berkali kali tapi matanya tak bisa berbohong, cairan bening itu terus mengalir seperti mata air yang tidak pernah kering.
"Jangan lupa makan, selalu jaga kesehatan. Kakak gak mau kamu sakit. Setelah ini Kakak harap kamu bisa lupain Kakak, lanjutkan hidupmu. Kamu pantas bahagia Sayang."
"Kak Nando bolehkan aku peluk untuk yang terakhir kali." sambil tersenyum Nando memeluk Fero sayang. Oh author gak kuat nulisnya.
😭😭😭
Setelah Nando mencium kening Fero, mereka berpisah, tangan mereka masih saling berpegangan. Lama kelamaan Nando berjalan mundur dan hilang di balik cahaya putih yang menyilaukan.
"Selamat tinggal Fero Sayang."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kak Nandoooooo......"
Fero duduk terbangun dengan napas yang terengah engah. Gadis itu membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Mencoba tegar tapi tak bisa. Ia terus menangis menderu deru. Ibunya sampai bingung dengan apa yang terjadi dengan putrinya. Beliau telah lupa dengan pemuda yang bernama Nando yang pernah berkunjung ke rumahnya. Begitu dengan temannya pun bingung. Setelah Fero pingsan semalam teman temannya membawanya pulang ke rumahnya. Pagi ini mereka sengaja menjenguk Fero di rumah. Melihat keadaan gadis itu. Masih memprihatinkan. Yang membuat mereka tambah kaget adalah Fero minta diantarkan ke makam teman abangnya Ririn.
Dengan di temanin oleh abangnya Ririn, Fero, Ririn, Loli, dan Tiwi pergi ke pemakaman Nando. Mereka berlima mendoakan Nando agar tenang disana dan semual amalnya di terima di sisi yang Maha Kuasa. Setelah menabur bunga di atas makan Nando. Mereka pergi dari sana, setelah Fero menatap nisan betulisan nama Nando sesaat. Gadis itu membatin.
"Selamat tinggal Kak, aku akan berusaha ikhlas. Semoga kamu bahagia disana, aku pun bahagia disini. Hingga kelak kita dipertemukan lagi di surga, Amin."
TAMAT