Demi melindungi aib Ibunya dia Rina Rela mengorbankan kejiwaannya demi sebuah kerahasiaan
Ditengah-tengah suasana ruang tamu yang dipenuhi akan box-box kardus berisi pakaian dan juga perabotan rumah yang berserakan dilantai,dua orang wanita terlihat tengah saling berdebat.
“Bu,rumah ini satu-satunya peninggalan dari almahrum Ayah,kenapa Ibu tega menjualnya!” Ucap wanita itu dengan penuh kesal kemudian wanita itu mendekati anaknya dan mengelusulus pundaknya.
“Tenang Rina,Ibu melakukan ini demi kebaikkan kita bersama,”
“Ibu ngerti kamu pasti merasa sangat sedih dan kecewa untuk meninggalkan rumah ini.rumah yang dipenuhi akan kenangan almahrum Ayahmu.”
“Tapi kita harus benar-benar pindah dari sini,sebab komplek ini sudah tidak aman lagi untuk kita tinggali,”Tiba-tiba Rina pun menangis dan wanita itu pun memeluk anaknya.
Sebuah mobil terlihat sedang bersinggah dihalaman rumah beton bewarna hijau dengan disinari cahaya matahari senja,Rina dan Ibunya keluar dari dalam mobil itu lalu mereka pun memidahkan barang-barang yang ada dibegasi mobil ke teras rumah.disaat mereka sedang memidahkan barang tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan pakaian kameja bewarna biru serta memakai tas punggung.kemudian lelaki itu menghampiri Ibu Rina.
“Permisi Bu,bolehkah saya membantu?”
“Oh iya,silahkan,”
Kemudian lelaki itu pun membantu mereka memidahkan satu-persatu barang yang ada,beberapa lama kumudian disaat semua barang selesai dipindahkan ke teras Rina pun memberikan senyuman manis kearah lelaki itu dan lelaki itu juga ikut tersenyum,
“Terimakasih ya atas bantuannya tapi maaf saya gak bisa ngasih apapun ke kamu,”
“Gak apa apa Bu,saya ikhlas kok,”
“Rumah kamu jauh ya?
“Gak Bu,itu rumah saya yang ada diseberang yang warnanya oren,”Ucap lelaki itu sambil menunjuk kearah rumahnya sontak Ibu Rina pun terkejut
“Astaga!disitu ternyata rumah kamu,kirain orang jauh,”
“Gak bu,saya sudah lama tinggal dikomplek ini,”
“Saya pulang dulu ya Bu.”
“Oh Iya silahkan.”lalu Lelaki itu berjalan menuju rumahnya.
Malam harinya terlihat seorang wanita sedang sibuk menggoreng daging ayam didapur tidak lama kemudian datanglah seorang remaja laki-laki memakai baju kaos hitam lalu dia pun duduk dimeja makan sambil bermain handphone.
“Eh!Aris.”Ucap wanita itu lalu ia duduk didepan laki-laki itu,
“Tadi sore Ibu ngelihat kamu lagi ngebantuin orang seberang rumah ngangkat barang,”
“Kamu ngelakuin itu pasti karna wanita itu memilki anak yang cantik kan?” Tanya Ibu Aris sambil menatap anaknya yang lagi bermain Handphone lalu Aris meletakkan handphonenya dimeja.
“Ibu benar,dia memang cantik tapi bukan itu alasan utamaku membantu mereka,”
“Aku ngebantu karna aku kasian melihat mereka cuma berduaan mindahin barang”
“Tapi kalo kamu mau mendekati wanita itu,Ibu setuju kok,”Ucap Ibu Aris kemudian Aris pun tersenyum.
“Ngomong-ngomong Ayah kenapa lama banget pulangnya Bu?”
“Siang tadi Ibu dapat telpon dari ayahmu katanya dia hari ini lembur sampai jam 10 malam,”
“Kalo gitu aku makan duluan bu,”
“Tunggu bentar,nasinya belum matang,”Ucap Ibu Aris sambil melihat kearah ricecooker lalu Aris pun kembali memainkan handphonenya.
Sinar matahari menembus ruangan kamar dan menyinari wajah Rina hingga Rina pun terbangun dari tempat tidurnya kemudian Rina mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.beberapa lama kemudian Rina keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju kaos putih serta handuk dikepala.
“Tumben Rin,bangunnya telat,kamu kacapean ya?”Ucap ibu Rina sambil mencuci piring.
“Iya Bu,aku kecapean,” jelas Rina kemudian dia memperhatikan kantong plastik yang ada di atas meja makan.
“Bu,kantong plastik itu untuk apa?”
“Oh ini.Ibu mau kepasar buat beli bahan dagangan nasi kotak,”
“Bu,kenapa sih kita masih jualan nasi kotak?”
“Ibu kan uangnya banyak?”Tanya Rina.lalu Ibunya menatap wajah anaknya serta meletakan kedua tangan dipundaknya.
“Dengar ya sayang,kita berdagang agar semuanya nampak baik baik saja,tidak peduli apakah dagangannya laku atau tidak yang penting kita selamat,”
“Kamu ngertikan maksud Ibu?Lalu Rina pun menganggukkan kepala.
“Ibu mau kepasar dulu,jaga rumah baik-baik dan satu hal lagi jangan pernah menerima tamu laki-laki disaat ibu tidak berada dirumah,”
“Iya bu,”Ucap Rina kemudian dia pun berjalan masuk kedalam kamar.
Aris terus menatap kearah rumah Rina dari balik kaca jendela rumahnya sementara itu Ibunya yang sedang menyapu lantai melirik kearahnya.
“Jika kamu ingin bertemu dengan wanita itu lagi,bawakan saja dia kue,”
“Ibu sudah bicarakan tentang hal itu dengan Ayahmu malam tadi,”
“Tentang apa Bu?” Tanya Aris dengan rasa penuh penasaran.
“Tentang bahwa kamu suka dan ingin mendekati wanita itu dan Ayahmu setuju,”
“Kenapa Ibu bisa tau?”
“Normal nak,seorang cowo yang lama menjomblo seperti kamu pasti sangat mudah jatuh cinta dengan seorang wanita cantik” Aris pun tertawa mendengarkan perkataan Ibunya.
Rina dan ibunya sedang mengluarkan beberapa bahan belajaan dari dalam kantong plastik dan menaruhnya keatas meja makan.
“Rin tolong bantuin ibu ngelipat kertas nasi yang ada diatas meja ruang tamu,Ibu mau masak dulu,”
“Baik Bu!”
Disaat Rina sedang melipat kertas kertas itu menjadi kotak tiba-tiba seseorang menekan bel Rumah,Rina pun membuka pintu sementara itu Ibunya berjalan menuju ruang tamu.
“Siapa itu Rin?”
“Cowo kemarin yang ngebantuin kita ngakat barang Bu,”
“Oh,suruh dia masuk!” Ucap Ibu Rina lalu duduk di kursi tamu.
Aris pun masuk kedalam rumah Rina dengan membawa bungkusan ditangannya sambil tersenyum kearah Rina lalu dia pun duduk dikursi.
“Ada keperluan apa ya jadi datang kemari?”
“Saya mau ngasih kue coklat ini Bu,” Ucap Aris sambil memberikan bukusan ditangannya ke Ibu Rina.
“Terimakasih ya,”Ucap Ibu Rina lalu meletakkan bungkusan itu keatas meja.
“Oh iya Bu,sebagai tetangga saya lupa memperkenalkan diri,”
“Perkenalkan nama saya Aris Bu saya mahasiswa semestar dua.”Tiba-tiba Rina mengulurkan tangannya kemudian bersalaman dengan Aris.
“Perkenalkan namaku Rina Angelina panggil saja aku Rina.aku seorang pendagang nasi kotak keliling,” Rina melepaskan salaman tangannya,sementara itu Ibu Rina menatap kosong ke wajah ArIs.lalu Rina pun menepuk pundak Ibunya..
“Bu,kenapa jadi bingung gitu?”
“Gak apa-apa kok nak,kalian silahkan ngobrol aja dulu,Ibu mau kembali dulu ke dapur,”Ibu Rina pun menganggkat badannya dari kursi lalu berjalan ke dapur.
“Ini kan hari jum’at,kamu gak kuliah?” Tanya Rina sambil melipat kertas nasi.
“Aku kuliah masuk jam 1 siang,”
“Oh..masuk siang,”
“Sini aku bantuin!”
“Emangnya kamu bisa?”
“Ya,diajarinlah,”kemudian Rina pun mengajari Aris cara melipat kertas nasi.
“Oh,Kaya gini ya Rin,sampai kertasnya jadi kotak.”Ucap Aris sambil melipat kertas lalu Rina pun mengacungkan jempolnya,
“Berapa harga satu kotaknya Rin?”
“Sepuluh ribu,”
“Besok pagi antarin ya kerumahku,aku mau beli,”
“Ok kalo begitu,tapi rumah kamu dimana?”
“Itu,diseberang sana yang warna cat rumahnya oren,”Lalu dari balik kaca rumah dia melihat ke rumah Aris.
Suara hempasan orang membuka pintu rumah terdengar sangat keras terlihat Rina keluar dari dalam rumahnya lalu menuju keselokan depan rumah dan dia pun muntah-muntah,
“Ini baru pagi dan aku sudah muntah-muntah,”Lalu Rina muntah lagi keselokan.
“Sial!”Ucap Rina lalu dia muntah lagi.
“Pagi ini kita kedatangan tamu,soalnya aku udah pesan nasi kotak dari Rina buat sarapan,” “Rina siapa?”
“Itu lo Bu,cewe cantik yang ada diseberang rumah,”
“Dia jualan nasi kota ya ris?” Ucap ayah Aris sambil membaca koran dimeja makan.
“Iya yah,dia membantu ibunya jualan,”
“Oh,Kalo gitu ayah mau beli juga,”
“Baguslah kalo gitu,artinya hari ini Ibu gak perlu menyiapkan sarapan untuk kalian,”Ucap Ibu Aris kemudian seseorang menekan Bel rumah.
NING...NONG...NING...NONG...!
Aris membuka pintu rumahnya dan terlihat Rina berdiri didepan pintu dengan wajah yang begitu cantik hingga membuat Aris menatap kagum.
“Dua kotak ya rin,” Lalu Rina memberikan dua kotak nasi ke Aris dan Aris pun memberikan uangnya ke Rina.
“Makasih ya Ris,kamu pelanggan pertamaku hari ini,”
“Kamu lagi sakit ya?”
“Hah,gak kok!”
“Tadi pagi aku ngelihat kamu muntah-muntah,”
“Oh itu,aku gak sengaja kemakan kue coklat basi,”
“Kue yang aku kasih kemarin,basi?”
“Nggak!”
“Kemarin kuenya masih bisa aku makan tapi karna Ibuku lupa naruh dikulkas jadinya kue itu basi Ris,” Ucap Rina ia lalu tersenyum.
Ketika matahari mulai terbenam dan suasana jalanan komplek mulai dipenuhi dengan remang-remang cahaya lampu jalanan,Aris dan Ibunya sedang bersantai diruang tamu dengan ditemani secangkir teh hangat dan juga kue kering.
“Ayah hari ini lembur lagi ya Bu?”
“Nggak Ris,Ayahmu hari ini menginap dirumah temannya,besok Minggu dia baru pulang,”
“Oh,kirain Ayah lembur,Bu boleh gak besok pagi aku ngebantuin Rina jualan nasi kotak?”
“Silahkan,Ibu gak bisa ngelarang kamu berbuat baik.”lalu Ibu Aris menghabiskan teh yang tersisa di gelasnya,
Didalam ruangan kamar yang dipunuhi buku-buku diatas meja serta beberapa pakaian tergantung ditembok,Aris menatap kearah rumah Rina dari balik kaca jendela kamarnya,tidak lama kemudian dia menutupi kaca jendela kamarnya dengan gorden.
NING...NONG....NING....NONG...!
Seketika Aris pun terbangun dari tempat tidurnya lalu berjalanan menuju pintu,ketika dia membuka pintu rumahnya tidak ada satupun orang diluar yang ada hanyalah hembusan angin malam.lalu dia menutup pintu dan kembali ke kamar dengan keadaan yang masih mengantuk.
“Bu,tengah malam tadi ada yang menekan bel rumah kita,waktu aku lihat gak ada orangnya,”
“Hhmm!gak usah dipikirkan anggap saja ada yang jahil,”Ucap Ibu Aris sambil meyiapkan sarapan keatas meja kemudian Aris duduk dimeja makan sambil bermain handphone.
NING...NONG...NING....NONG...!
“Bukain Ris!” Aris pun bejalan ke pintu lalu dia membuka pintu.
“Pagi Ris,”
“Pagi Yah,”Lalu dia masuk kedalam dan menghampiri istrinya yang sedang menyuci tangan.
“Tahu gak Bu,pagi tadi pas Ayah mau pulang,ada gerombolan orang dan juga polisi ngumpul didekat tepi sungai yang ada didekat komplek rumah kita.”
“Emang ada apa yah?” Tanya Ibu Aris lalu dia dan suaminya duduk dimeja makan.
“Katanya ada mayat laki laki sih Bu dan tangan kanan si mayat udah gak ada lagi,”
“Duh ngeri banget Yah!Ibu gak habis pikir,ada ya orang membunuh dengan cara setega itu.”
“Bu,Jangan-jangan yang nekan bel malam tadi arwah si mayat itu,dia mau minta tolong”Ucap Aris menatap wajah Ibunya.
“Hhuss!jangan ngomong sembarangan,”
“Hahaha canda kok bu,”Ucap Aris kemudian Aris dan keluarganya menyantap makanan yang ada diatas meja.
Mayat tanpa lengan kanan tersebut dibawa langsung oleh Polisi dan juga Dokter kerumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lalu Polisi itu terlihat sedang menunggu didepan ruang pemeriksaan dan beberapa saat kemudian Dokter itu keluar dari dalam ruangan.
“Bagaimana dengan hasilnya,Dok?”
“Hasil sementara dalam pemeriksaan saya menunjukkan bahwa mayat tersebut telah dibunuh dengan cara yang sama seperti korban-korban sebelumnya.”
“Berarti ada kemungkinan bahwa pelaku adalah orang yang sama,”
“Saya juga memiliki firasat yang sama,Pak Herman,”
“Mungkin wanita itu masih ada di Komplek pramata.siapa tau dia mempunyai petunjuk yang lainya,”
“Itu ide yang bagus Dok,saya akan meminta keterangan kesaksian dia satu kali lagi.”
Dibawah terik cahaya matahari dan sepinya jalanan komplek terlihat Aris dan juga Rina tengah berjalan bersama dengan membawa sisa dagangan.
“Terimaksih ya Ris kamu sudah ngebantuin aku jualan hari ini,”
“Iya Rin,besok aku ngebantuin kamu lagi,”
“Emang kamu gak cape,besok siang kan kamu kuliah,”
“Gak masalah kok Rin,”
“Biasanya Ibu ngelarang aku didekatin cowo tapi anehnya itu tidak berlaku untuk kamu,”
“Bagus kalo gitu,artinya besok kita masih bisa bertemu.”Ucap Aris lalu ia tersenyum.
Sebuah mobil bewarna hitam bersinggah didepan halaman rumah Rina dengan cahaya pagi menyinari teras rumah Rina, seorang pria dengan jaket bewarna hitam menekan-nekan bel rumah,tidak lama kemudian ibu Rina membukakan pintu dan mempersilahkan pria itu masuk dan duduk diruang tamu.
“Akhirnya saya menumukan rumah Ibu.”
“Iya Pak Herman,sudah lama kita gak jumpa pa,ada keperluan apa ya jadi datang kemari?” “Gini Bu,Ibu pastinya tau kan dengan kabar mayat ditemukan didekat komplek sini?”
“Iya,saya tau pak,”
“Setelah kami melakukan pemeriksaan ternyata korban dibunuh dengan cara yang sama,”
“Si korban juga kehilangan lengan kanannya.”
“Wah yang benar Pak!”sontak Ibu Rina dengan kagetnya.
“Iya itu benar,dalam kasus sebelumnya kami juga sudah mencari ciri-ciri fisik pelaku yang pernah ibu sampaikan ke kami.tapi kami tidak pernah menemukan orang dengan ciri-ciri fisik seperti itu,”
“Apakah ibu mempunyai petunjuk dengan wajah si pelaku atau fisik yang lainnya?”
“Agar saya dan tim kepolisian bisa menemukan si pelaku,”
“Maaf pak,kesaksian saya cuma itu saja,waktu itu jalalan komplek pramata lumayan gelap dan juga sepi jadi wajah serta fisiknya tidak terlihat begitu jelas,”
“Yang saya ingat hanyalah seorang wanita berambut panjang membawa pisau penuh darah dengan muka penuh keriput dan juga bintik-bintik hitam dipipi kanannya.” “Saya takut pak,karena wanita itu juga sempat melihat wajah saya dan itu sebabnya saya pindah kesini demi menyelamatkan diri dan juga anak saya dari ancaman.”
“Sekarang saya merasa tidak aman setelah mengetahui adanya korban didekat sini,”
“Jangan khawatir Bu,kami akan berusaha untuk mencari si pelaku.”Rina menghampiri Ibunya dan dia mecium tangan Ibunya.
NING...NONG...NING...NONG!
Kemudian Rina membukakan pintu dan terlihat Aris sedang berdiri didepan pintu.
“Bu,aku berangkat dulu,”ucap Rina sambil menutup pintu.
“Iya nak,hati-hati dijalan.”
Cahaya matahari menyinari di sepanjang jalanan komplek dengan tiupan angin menemani langkah perajalan Rina dan Aris,sesaat mereka bersinggah didepan rumah pembeli,kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
“Tadi itu Ayah kamu?”Tanya Aris sambil menatap Rina yang tengah berjalan.
“Bukan,Ayahku sudah lama meninggal.”Ucap Rina sambil menundukkan kepala.
“Eh,Maaf Rin,aku benaran gak tahu kalo Ayah kamu sudah meninggal.”
“Iya gak papa,” “lalu itu siapa?”
“Itu Polisi.”
“Polisi!Ibu kamu kena masalah apa,jadi polisi datang kerumah?”
“Nanti aku ceritain,setelah kita pulang dari berjualan.”
“Ok,”
Didalam suasana ruang dapur terlihat Ibu Rina sedang mengaduk-ngaduk masakannya yang telah mendidih dengan sesekali Ibu Rina membaui aroma masakannya,
“Mmmm,aromanya enak sekali!”
“Aku yakin Rina pasti suka dengan masakanku ini!”Lalu ia mecicipi masakannya,
Didalam ruangan yang dipenuhi akan berkas-berkas laporan yang nampak berserakkan diatas meja,Pak Herman dan seorang Dokter terlihat sedang membaca satu persatu berkas yang ada diatas meja itu.
“Apakah kamu sudah menemui wanita itu pagi tadi?”
“Sudah Dok,percuma saja dia tidak memiliki bukti kesaksian yang lainnya.”
“Oh iya,bagaimana dengan hasil Autopsinya,dok?
“Ini dia”Dokter itu memberikan sebuah berkas laporan.
“Baiklah,saya lihat dulu,”lalu Pak Herman membuka berkas laporan dan membacanya, “Apa!DNA dan sidik jari pelaku tidak ditemukan!”Ucap Pa Herman dengan kagetnya.
“Ya begitulah pak,hasil data Autopsi sebelumnya juga tidak ditemukan DNA ataupun sidik jari si pelaku,kita hanya menemukan cara-cara si pelaku membunuh.”
“Ya Tuhan,kapan kasus ini menemukan titik terang.”Ucap Pak Herman sambil membolakbalik halaman berkas,
Rina dan juga Aris terlihat tengah berjalan bersama menelusuri jalanan komplek dttemani dengan hembusan angin dan juga beberapa orang yang lewat disekitarnya,
“Wah!uang hasil dagangan hari ini lumayan banyak,Ris!”Ucap Rina yang tengah menghitung uang hasil dagangannya.
“Syukurlah kalo gitu,artinya orang-orang dikomplek mulai menyukai nasi kota kamu.”
“Oh iya,bagaimana dengan Polisi tadi Rin?”
“Polisi itu sudah lama kenal sama Ibuku semenjak dia menjadi saksi kasus pembunuhan.”
“Tapi sayangnya pihak polisi sampai sekarang tidak pernah menemukan ciri-ciri fisik pelaku sesuai dengan keterangan kesaksian Ibuku.”
“kira-kira begitulah yang aku dengar dari percakapan polisi itu dengan Ibuku pagi tadi,”
“kalo gitu berarti pelakunya masih berkeliaran dong?”
“Benar sekali,bahakan Polisi itu bilang kondisi mayat yang ditemukan didekat komplek kita sama persis seperti kondisi mayat yang pernah ditemukan didekat komplek rumahku dulu.”
“Itu artinya pembunuhnya adalah orang yang sama,”
“Entahlah,yang jelas sekarang aku merasa takut.”
“Takut kenapa Rin?”
“Kau tau,Ibuku bilang pelaku itu sempat melihat kearah wajahnya,itu sebabnya kami pindah kesini.”
“Sekarang aku hanya bisa berdoa pelakunya bukannlah orang yang sama.”
“Tenang Rin semuanya akan baik-baik saja,percayalah.”Ucap Aris sambil menatap Rina.
Disuasana sore menjelang malam dengan beberapa cahaya lampu jalanan yang mulai menyala disetiap sudut jalanan komplek.dia Aris tengah berdiri didepan kaca jendela kamar sambil menatap kerumah Rina dengan wajah penuh kekhawatiran.
TENG...TENG...TENG.......!
Jam rumah Rina berdentang pada pukul 12 malam tepat,terlihat ibu Rina yang sedang bercermin dikaca kamarnya.lalu ia keluar dari dalam kamar dan mengambil makanan didapur lalu ia masuk kedalam kamar anaknya.
“Bu,JANGAN!aku gak mau makan daging manusia lagi!”
Ibu Rina pun langsung mencekik leher anaknya,saat melihat anaknya kesulitan bernapas ia pun melepaskan cekikkannya.
“Dengar ya sayang,kalo kamu tidak makan ini kamu akan mati,Ibu sayang kamu Rina.”
“Hiks..hiks..hiks!”Isak tangis Rina.
“SADAR BU!”Lalu Ibu Rina memegang leher anaknya dan dengan cara paksa dia menyuapi anaknya dengan potongan jari manusia.
“KUNYAH DAN TELAN!” Rina pun mengunyahnya dengan isak tangisan.
Rina tengah terbangun dari tempat tidurnya disaat sinar matahari pagi mulai menyinari kamarnya.lalu ia keluar dari dalam kamar dan menuju keselokan yang ada didepan rumah dan tiba-tiba ia mulai muntah-muntah ke selokan.
“Ya Tuhan!”Ucap Rina kemudian ia muntah lagi.
Tok..tok..tok...!
“Silahkan masuk!”Ucap Pak Herman yang tengah duduk di meja kantornya lalu Polisi itu pun masuk kedalam ruangan dan meletakan berkas laporan keatas meja.
“Saya dan tim sudah melakukan pemeriksaan dengan orang-orang disekitar komplek,”
“Bagaimana dengan hasilnya?”
“Hasilnya sama saja Pak,tidak ditemukan orang dengan ciri fisik sesuai dengan keterangan saksi.”
“Apa,lagi-lagi tidak ditemukan!”Ucap Pa Herman lalu menghela napas
“Ini cuma firasat saya pak,mungkin selama ini wanita itu telah memberikan kesaksian palsu,”
“kamu benar,saya juga memiliki firasat seperti itu dan sepertinya dia telah menyembunyikan sesuatu selama ini.”
“Baiklah sore ini kita akan melakukan pengeledahan dirumah wanita itu,jika firasat kita benar setidaknya kita menemukan sesuatu yang akan menjadi bukti ataupun petunjuk.”
“Siap pak!”
Rina dan Aris terlihat tengah duduk bersama ditepi sungai dekat komplek,sesekali Aris melemparkan batu yang ada ditangannya kesungai kemudian Rina menatap wajah Aris.
“Tumben Ris,kamu membawa aku kesini?”
“Biasanya kita langsung pulang kerumah masing-masing.”
“Santai aja Rin,ini kan baru jam 11 siang.”
“Lalu ngapain kamu ngajak aku kesini?” Tanya Rina menatap wajah Aris.
“Ada yang ingin aku sampaikan kekamu,”
“Iya ada apa Ris?”
“Sebenarnya A..aa..aakuu...Rin...eee!”Ucap Aris lalu ia menggaruk-garuk kepalanya.
“hahaha!kenapa kamu jadi grogi gitu,”Ucap Rina sambil menepuk pundak Aris.
“Kau tau Ris,aku dan kamu tidak perlu saling menyatakan perasaan karna aku merasa kamu sudah memiliki diriku.”Ucap Rina lalu dia tersenyum.
“Jadi kamu merasa bahwa kita udah jadian Rin?”
“Iya,benar sekali,”
“Tunggu-tunggu,kok bisa tanpa menyatakan perasaan?”
“Itu tidak perlu,bagiku menyatakan perasaan adalah hal yang menjijikan.”
“Oh gitu,tapi Jangan bilang semua ini hanya mimpi karna selama aku hidup baru kali ini ada cewe yang mau jadi pacarku.” Tiba-tiba Rina menarik telinga Aris.
“Aaaaa!sakit Rin,”
“Ini nyata!” Aris pun langsung berdiri dari tempat duduknya lalu dia melempar-lemparkan batu kesungai dengan perasaan yang sangat gembira.
Lampu disepanjang jalanan komplek satu persatu mulai menyala.kemudian terlihat Aris yang tengah berjalan sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 18:00 tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya ketika dia sampai didepan halaman rumah dan melihat kearah rumah Rina yang disinggahi mobil polisi.beberapa orang polisi terlihat sedang keluar dari dalam rumah Rina dan masuk kedalam mobil sementara itu Pak Herman menatap kearah Aris lalu berjalan mendekatinya.
“Halo Dek,kamu orang yang menekan bel rumah Ibu Rina pagi itu kan?”
“Iya itu saya pak.”
“Kalo boleh tau kamu siapanya Rina?”
“Saya kekasihnya pak,”
“Oh iya pak,emangnya ada apa dengan Rina dan juga Ibunya,jadi Polisi berdatangan?”
“kami sedang melakukan pengeledahan dirumahnya”
“Penggeledahan,untuk apa?”
“Jadi gini,Ibu Rina itu telah kami curigai sebagai pelaku kasus pembunuhan.yang ada didekat komplek ini,itu sebabnya kami melakukan pengeledahan,”
“Lalu bagaimana dengan hasilnya?”
“Hasilnya tidak ditemukan barang-barang yang mencurigakan dirumahnya.”
“Kalo begitu Ibu Rina terbebas dari kecurigaan kan pak?”
“Iya Dek, Ibu Rina sudah kami bebaskan dari kecurigaan kami,”
“Oh syukurlah,yaudah pak saya pulang dulu.”Ucap Aris kemudian dia pulang kerumahnya.
Aris berjalan masuk ke kamar dan menaruh tasnya diatas meja belajar kemudian Ibunya juga masuk kedalam kamar dan melihat kearah rumah Rina dari balik kaca jendela kamar,lalu ibunya menengok anaknya yang sedang merapikan tempat tidur.
“Ris,Ibu lihat tadi ada mobil Polisi datang kerumah Rina.”
“Iya bu,aku tahu itu,baru aja tadi aku ketemu dan ngobrol langsung sama polisinya”
“Emang Rina dan Ibunya kena masalah apa?”
“Ibu Rina dicurigai sebagai seorang pelaku kasus pembunuhan didekat komplek kita Bu,”
“Itu sebabnya Polisi itu melakukan penggeledahan dirumahnya..”
“Apa!kalo gitu kamu jangan pernah dekatin dia lagi!”
“Hah!kenapa sih Bu tiba-tiba ngomong kaya gttu?”
“Entahlah,hanya saja Ibu merasa khawatir sama kamu,karna kamu dekat dengan anaknya,”
“Tenang Bu,polisi itu bilang Ibunya Rina sudah terbebas dari kecurigaan Polisi setelah tidak ditemukan hal-hal mencurikan dirumahnya,” Ucap Aris kemudian ibunya tersenyum,
“Syurkurlah,tapi kamu tetap harus behati-hati,nak,”lalu Ibu Aris keluar dari kamar,
Rina terlihat sedang makan malam dengan Ibunya dengan beberapa jenis makanan diatas meja lalu Ibu Rina tersenyum sambil menatap anaknya yang sedang makan.
“Andaikan saja kamu makan daging manusia selahap ini,Ibu pastinya tidak perlu repot-repot memaksa kamu untuk memakannya.”Rina tiba-tiba behenti makan dan menatap wajah ibunya dengan cemberut,
“kau tau nak,Ibu sudah kehabisan daging,jadi ibu harus mencari korban lagi,”
“Bu,aku mohon berhentilah!”
“Dengar ya sayang,Ibu tidak akan pernah berhenti,sampai ibu mendapatkan kesempurnaan,”
“kamu pastinya sudah tahu kan,jika Ibu lama tidak memakan daging manusia maka wajah ibu akan kembali keriput dan berbintik-bintik hitam.
“Bu,bagaimana dengan polisi?”
“Tenang sayang,Polisi itu tidak akan pernah mencurigai Ibu lagi,”lalu Rina kembali makan.
Beberapa orang tengah ramai berkumpul didekat pohon trotoar jalanan kemudian terlihat polisi dan juga petugas rumah sakit sedang menganggakat kantong jenazah lalu membawanya ke mobil ambulance.
“Bagaimana Dok hasil pemeriksaan mayat yang ditemukan dekat pohon trotoar pagi tadi?” “Hasilnya sama saja Pak.seperti kasus sebelumnya”lalu pa herman menghela napas.
“Saya lelah Dok,semenjak ditutupnya penyelidikan kasus kematian Ibu Adel beberapa tahun yang lalu,kasus rumit yang lainnya justru bermunculan hingga saat ini.”
“Sial!sampai saat ini saya dan tim belum menemukan bukti kuat yang mengarah ke pelaku,”
“Sabar Pak,saya yakin suatu saat kasus ini pasti akan terpecahkan ”Lalu Dokter itu meletakan berkas laporan keatas meja kantor Pak Herman.
Aris dan Rina terlihat sedang duduk berduaan dikursi yang ada dipimggiran jalanan komplek.
“Yank,emang kamu gak bosan apa ngebatuin aku jualan mulu?”
“Ya gak dong Rin,”
“Oh iya Rin boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh sayang,silahkan mau nanya apa kamu?”
“kapan Ayahmu meninggal?”
“Oh itu..Ayahku meninggal ketika aku masih SMP,”
“Setelah Ayahku meninggal aku pun behenti sekolah demi membantu ibuku berjualan,”
“Ayahmu meninggal karna apa?”
“Gak tau,”
“Kok gak tau,kan kamu anaknya?”
“Ya karna sebelum dia meninggal,dia itu sudah menceraikan Ibuku dan pergi begitu saja,”
“Dia adalah sesosok Ayah yang paling brengsek!”
“Jangan gitu,seburuk apapun sifat orang tua kita dia tetaplah orang tua,”
“Kamu benar Ris,walaupun dia seperti itu dia tetaplah sesosok Ayah yang aku rindukan,”lalu Rina mengluarkan air matanya.
“Eh,jangan nangis,”
“Aku sangat merindukan dia,Ris,”Ucap Rina dengan isak tangis.
“Yaudah sini bersadarlah dipundakku,”Lalu Rina menyandarkan kepalanya kepundak Aris.
TENG...TENG...TENG...! jam rumah Rina berdetang dimalam hari.
Ibu Rina berjalan masuk kedalam kamar anaknya dan membangunkannya.
“Akhrinya kamu bangun,ayo sayang saatnya kita makan daging manusia,”
Tiba-tiba Rina berdiri dari tempat tidurnya dan berlari dengan rasa peuuh ketakutan ke rumah Aris lalu dengan gemetarnya ia menekan-nekan bel rumah,Ibunya langsung menarik tubuhnya dan membawanya bersembunyi kesamping rumah.
“kamu ngapain kesini lagi,Ibu sayang kamu,”Ucap Ibu Rina sambil membungkam anaknya,
Dalam suasana pagi yang masih sepi Ibu rina terbangun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ruang tamu kemudian ia duduk dan melamun,beberapa tahun yang lalu Ibu Rina dan anaknya bersinggah disebuah kursi pinggir jalanan komplek.
“Nak,Ibu cape kita istirahat aja dulu disini,”Lalu mereka berdua duduk dikursi.
“Bu,mulai aku SD hingga saat ini aku tidak pernah bertemu dengan Ayah lagi,”
“Ibu pasti tau kan dimana ayah tinggal,ayo bu kita berangkat menumui Ayah,”
“Ibu tau kamu sangat merindukan Ayahmu tapi ibu membencinya semenjak dia menceraikan ibu hanya karna wajah ibu berubah jelek seperti ini.”
“Sampai kapan pun Ibu bersumpah tidak akan pernah melihat wajahnya lagi.” “Ibu harap kamu bisa mengerti dengan rasa sakit yang ibu alami hingga saat ini.”
“Ibu sayang kamu Rina,”Ibu Rina pun memeluk anaknya.
Tidak lama kemudian datanglah seorang nenek dengan pakaian usang menghampiri Rina dan Ibunya.
“Selamat malam bu,”
“Iya,ada apa nek?”
“Nenek lapar sekali,boleh nenek minta makanan.” Ibu rina pun langsung memberikan nasi kotak dagangnya ke nenek itu.
“Ini nek,makanlah,”
“Terimakasih,wajah kamu kenapa?”
“Gak tau nek,beberapa tahun yang lalu wajah saya tiba-tiba berubah seperti ini.”
“Oh,besok cobalah untuk datang ke rumah nomor 13 block C yang ada dikomplek Intan.”
“Dia adalah paranormal yang sudah banyak menyembuhkan segala penyakit.”
“Hahaha!nenek ini lucu sekali,emangnya peranormal dokter kecantikan,”
“Ya,kamu coba saja dulu berobat dengan orang itu siapa tau bisa sembuh,”kemudian nenek tua itu pergi.
Disuasana malam hari dengan turunnya gerimis Ibu Rina dan anaknya menekan bel rumah benomor tiga belas lalu tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu pagar dan mereka berdua pun masuk kedalam.
“Ibu mau berobat kan?”tanya wanita muda yang membukakan pagar.
“Iya saya mau berobat,”
“Ayo kemari bu,saya akan antar ibu menuju ke kamar orang yang akan mengobati ibu.” Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan naik keatas lantai dua.
Tok..tok..tok!
“Masuk!”
“Tunggu,wanita remaja itu jangan ikut masuk,Ibunya saja yang boleh masuk.”
“Iya nyonya.”
“Silahkan masuk bu dan adek silahkan tunggu ditangga.”
“Saya permisi dulu bu,”
“terimakasih ya sudah ngantarin saya kesini,”Lalu wanita itu pun pergi dan Ibu Rina masuk ke dalam kamar sementara itu anaknya duduk ditangga lantai dua.
“Jika saya perhatikan penyakit diwajahmu,sepertinya itu bekas teluh dari orang lain,”
“Apa!bekas teluh,”
“Sial!saya yakin ini pasti perbuatan wanita brengsek itu,gara gara dia saya jadi bercerai dengan suami”Ucap Ibu Rina yang tengah menahan amarahnya
“Tenang,penyakit itu bisa saya sembuhkan,”
“Berapa biaya penyembuhannya?”
“Tidak perlu bayar,hanya saja ada syaratnya.”
“Apa syaratnya bu?” Tanya Ibu Rina dengan rasa penuh penasaran.
“Dengarkan baik-baik syarat-syaratnya”
“Pertama-tama kamu harus meminum air yang ada dibotol ini dulu,”Ucap Paranormal itu lalu ia memberikan botol berisikan air putih ke Ibu Rina.
“Jika kamu minum air itu maka penyakit yang ada diwajahmu dijamin akan sembuh,”
“Tapi kamu harus ingat,syarat yang harus kamu lakukan setelah mendapatkan kesembuhan dari air di botol itu Ialah dengan memakan daging lengan kanan manusia”
“Tidak hanya itu,anakmu juga harus ikut memakan daging manusia karna jika tidak anakmu akan mati,”
“Apa!saya gak mau menjadi keluarga kanibal Bu,”Ucap Ibu Rina dengan tubuh gemetaran.
“Terserah kamu mau meminum itu atau tidak,saya tidak memaksa,”
“Apa yang akan terjadi jika saya sembuh tapi saya tidak mengikuti syaratnya?”
“Wajahmu akan kembali seperti itu dan anak kesayanganmu akan mati”
“Namun yang harus kamu tau penyembuhan itu hanyalah bersifat sementara.”
“Itu artinya kamu harus memakan daging lengan kanan manusia lagi disaat wajahmu mulai mengluarkan bintik hitam.”
“Apa itu artinya saya akan menjadi kanibal untuk selamanya?”
“Kamu akan berhenti menjadi kanibal dan bintik-bintik hitam diwajahmu tidak akan pernah muncul lagi setelah kamu memakan daging korban yang kedua puluh sembilan.
“Namun jika kamu memakan daging korban yang ketiga puluh maka wajahmu tidak akan pernah menua meskipun nanti kamu sudah menjadi seorang nenek-nenek .”
“Tapi untuk mendapatkan lengan kanan korban ketiga puluh bukalanlah hal yang mudah.”
“Karna aku punya firasat dia memliki seorang pelindung dan juga aura yang khusus,”
“Iya bu saya ngerti tapi masalahnya saya tidak mungkin membunuh orang.”
“saya takut ketahuan Polisi,”
“Tenang saja,setelah kamu meminum itu,kamu akan memiliki keberanian dan kekuatan untuk bisa membunuh orang serta kamu akan mendapatkan imbalan uang dari dalam botol itu”
“Tapi lakukanlah dimalam hari dan ditempat yang sepi.”
“Percayalah Polisi juga tidak akan bisa menangkapmu,”
“Terimakasih bu.saya akan membawanya pulang,”
“Tapi saya pikir-pikir dulu untuk meminumnya.”
“Silahkan,” Kemudian Ibu Rina bersalaman tangan dengan paranormal itu.
Rina berjalan keluar dari dapur menuju keruang tamu sambil membawa dagangannya kemudiam ia menupuk pundak Ibunya yang sedang melamun lalu sontak Ibunya pun kaget,
“Rina!kamu ini bikin ibu jantungan saja.”
“Ibu si pagi pagi udah ngelamun aja.”
“Yaudah Bu,aku pamit pergi dagang sama Aris dulu ya bu,”
“Iya nak,hati-hati dijalanan.”Rina pun mencium tangan Ibunya lalu ia pergi.
Tok.. tok...tok...!
“Silahkan masuk!”Orang itu pun masuk kedalam ruangan dan meletakan beberapa foto diatas meja kantor Pak Herman.
“Ini foto apa?”Tanya Pak herman sambil melihat foto-foto yang berserekan diatas meja.
“Ini hasil cetak foto-foto yang pernah kita ambil dari dalam rumah Ibu Rina,”
“Saya menumukan adanya kejanggalan Pak,coba perhatikan foto yang satu ini,”Ucap orang itu sambil menunjukkan salah satu foto yang ada lalu Pak Herman mentap tajam kearah foto itu.
“Tunggu!ini kan laki-laki yang ada di bingkai foto rumah almahrum Ibu Adel dulu!”
“Ya benar sekali Pak,”
“Mungkin saja Pak wanita itu memiliki keterkaitan dengan kasus pembunuhan Ibu Adel.”
“Entahlah,saya juga kurang yakin,apakah ia benar-benar pembunuhnya atau tidak,”
“Tapi yang jelas besok saya akan menemui wanita itu lagi untuk meminta keterangan.” Ucap Pak Herman sambil memperhatikan foto-foto yang lainnya.
Rina dan Aris tengah duduk berduaan dikursi pinggiran komplek lalu Rina mentap Aris dengan wajahnya yang cemberut.
“Kenapa cemberut gitu Rin?”
“Ini Lo Ris,uang dagangan hari ini cuma segini,”Ucap Rina sambil memperlihatkan uangnya.
“Oh,ya syukurin aja dulu,”
“Syukurin syukurin emangnya kamu pernah besyukur gitu!”Ucap Rina dengan kesal “Aku sangat bersyukur dengan apa yang telah Tuhan ciptakan untuk dunia ini beserta...”
“Beserta Apa?”Tanya Rina dengan tatapan penuh penasaran.
“Beserta adanya dirimu,” Lalu Rina pun tersenyum dan tersipu malu.
“Ciee!udah bisa ngegombal,tapi jangan keseringan ya,”
“Emang kenapa Rin?”
“kalo keseringan,itu menjijikan,”
“Hahaha!”Rina dan aris pun tertawa bersama.
Pak Herman meletakan sebuah foto diatas meja ruang tamu rumah Ibu Rina lalu Ibu Rina menatap tajam ke foto itu.
“Ini kan foto almahrum suami saya yang ada didinding kamar anak saya.”
“Emangnya ada apa dengan foto ini pak?”
“Lelaki ini sangat mirip dengan foto yang pernah kami temukan didinding rumah almahrum Ibu Adel,”
“Sepertinya ibu telah memiliki keterkaitan dengan kematian Ibu Adel,”
“Saya benaran tidak tau dengan berita kematian dia Pak yang saya tau dia wanita jahat yang telah menghancurkan rumah tangga saya.”
“Meskipun begitu saya tidak mungkin membunuhnya,”
“Tapi kamu memiliki motif yang sangat kuat untuk membunuh Ibu Adel,”
“Saya tidak mungkin melakukannya,”Lalu Pak Herman menghela napasnya.
“Andaikan tim saya menemukan sidik jari atau hal yang lainnya didalam kasus kematian Ibu Adel saya pasti akan memasukanmu kedaftar tersangka.”
“Namun hal tersebut tidak pernah kami temukan hingga kasus itu ditutup,”Lalu Pak Herman memasukkan foto itu kedalam saku.
Ditengah malam yang sepi suara isak tangis Rina pecah didalam kamarnya karena Ibunya terlihat sedang menyuapinya dengan beberapa potongan jari manusia.kemudian Ibu Rina mengusap-usap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Jangan nangis dong sayang Ibu tidak mau kehilngan kamu,”
“Ibu harap kamu tetap merahasiakan ini semua,”
“Karna jika tidak kita berdua bisa kena masalah besar.kamu pahamkan dengan maksud Ibu?” Rina pun menganggukkan kepalanya dengan berlinang air mata.
Disebuah tepi sungai terlihat Aris yang tengah berjoget-joget dan bertingkah seperti orang yang konyol didepan Rina yang sedang melamun.
“Potong bebek angsa masak dikuali...”
“Hahaha!Kok tiba-tiba kamu jadi kaya gini Ris?”Kemudian Aris duduk disamping Rina.
“Kamu si dari tadi ngelamun mulu,emang lagi mikirin apa si rin,cerita dong,”
“Aku bosan Ris,kita pacaran tapi kamu gak pernah ngajak aku jalan-jalan,”
“Kan kita tadi udah jalan-jalan,jalan keliling komplek sambil jualan,”
“Kamu gak ngerti banget si!”Ucap Rina dengan kesalnya
“Iya Rin,aku ngerti kok tapi ,jangan marah gitu,”
“Besok malam aku akan membawamu berkencan kesuatu tempat,”
“Yang benar Ris,kamu gak boong kan?”Tanya Rina dengan rasa penuh gembira
“Tenang,aku gak boong,” Ucap Aris sambil menepuk-nepuk pundak Rina.
Disebuah ruangan kantor terlihat Pak Herman sedang merapikan beberapa berkas yang ada diatas meja tidak lama kemudian seorang polisi masuk kedalam ruangan dan polisi itu meletakan sebuah berkas diatas meja.
“Ini dia,berkas laporan autopsi sementara korban yang kami temukan kemarin,”Kemudian Pak Herman mengambil berkas laporan itu dan membacanya lalu dia membuang berkas itu dengan penuh emosi.
“Sabar Pak Heman!”
“Saya benaran stres Pak Budi menghadapi kasus ini!”
“Jika dihitung.maka korban yang ditemukan kemarin adalah korban yang ke29 tanpa lengan kanan,”
“Banyangkan saja pak selama bertahun-tahun kita menghadapi kasus ini.sudah ada 29 korban tanpa lengan kanan dan sampai sekarang kita tidak pernah tau siapa pelakunya.”Ucap Pak Herman sambil mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja.
“Bagaimana dengan foto yang saya kasih kemarin itu Pak?”
“Itu foto mantan suami Ibu Rina dan ternyata almahrum Ibu Adel itu adalah istri muda dari mantan suami Ibu Rina.”
“Berarti dia memiliki motif yang kuat untuk membunuh Ibu Adel,”Ucap Pa Budi.
“Benar sekali dia memang memiliki motif yang kuat untuk membunuh Ibu Adel,”
“Tapi masalahnya kita tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa dia adalah pelakunya.”
“Karna selama saya menjadi Polisi saya tidak pernah menangkap pelaku tanpa sebuah bukti,”
“Ya setidaknya ada bukti forensik,kan bapa tahu sendiri kasus yang kita tangani selama ini tidak memiliki bukti apapun,” Ucap Pak Herman kemudian dia mengambil berkas laporan yang ada dilantai dan meletakannya ke atas meja.
“Oh iya Pak Budi,Saya akan menutup sementara penyelidikan dalam kasus ini,beritaukan juga dengan rekan-rekan yang lainnya,”
“Siap pak!”Ucap Pa Budi.
Beberapa tahun yang lalu Ibu Rina dan anaknya berkunjung kerumah Ibu Adel,ketika itu Ibu Adel sedang sendirian dirumah lalu Ibu Rina pun menanyakan dimana mantan suaminya itu namun Ibu Adel dengan tenangnya mengatakan bahwa dia sudah dimakamkan satu bulan yang lalu setelah dia berhasil meracuninya.seketika Ibu Rina pun marah dan mencekik leher Ibu Adel hingga tewas.
Disuasana malam yang dingin Rina dan Aris terlihat memakai jaket hitam dan tengah duduk saling berhadapan disebuah warung makan dipinggir jalan dengan ditemani beberapa makanan yang ada diatas meja.
“Maaf ya Rin aku...cuma bisa ngajak kamu kencan diwarung makan ini.”
“Ya gak papa,asalkan sama kamu aku senang kok,” Lalu Aris pun tersenyum sambil menatap Rina yang sedang makan.
“Tidak kusangka Tuhan telah menitipkan perempuan secantik kamu untukku,”
“Tuh kan ngegombal lagi,”
“Bukan gombalan itu.lebih tepatnya sebuah kejujuran karna kamu memang cantik,”
“Kau tau,diriku memang ditakdirkan Tuhan untuk terlahir menjadi perempuan yang cantik.”
“Benar sekali,”Ucap Aris sambil mengacungkan jempolnya
Rina mengambil eskrim yang ada diatas meja lalu dia memakannya.setelah dia memakan eskrim itu Aris pun membersihkan bekas sisa-sisa eskrim yang ada dipinggiran mulut Rina dengan tisu.lalu dia pun tersenyum dan menatap kagum kewajah Aris.
“Aku lagi bingung,Ris,”
“Bingung kenapa?”Ucap Aris sambil merapikan piring-piring yang ada diatas meja. “Dulu banyak lelaki tampan dekat sama aku tapi entah kenapa aku malah memilih kamu,” “Ya!mulai main fisik,” Ucap Aris dengan tatapan sinis ke Rina.
“Hahaha!walaupun begitu kamu tetap yang terbaik untukku,”Ucap Rina lalu ia tersenyum.
NING...NONG..NONG...! Seorang wanita menekan bel pintu rumah Aris.
Aris keluar dari dalam kamarnya lalu dia membukakan pintu dan terlihat seorang wanita bediri didepan pintu sambil membawa tas punggung dan juga buku ditangan.
“Vina?”
“Maaf Ris aku datang kesini pagi-pagi,”
“Iya gak papa,emangnya ada apa vin?”
“Jadi gini Ris,aku kan belum bisa ngerjain tugas kampus dari dosen psikologi kita,kamu mau gak bantuin aku,”
“Tunggu bentar ya aku ganti baju dulu.”Vina pun menganggukan kepala dan Aris pun masuk kedalam lalu tidak lama kemudian Aris keluar dari dalam rumah dan menumui Vina yang tengah duduk diteras,
“Ngerjain tugasnya dipinggiran sungai aja ya”
“Kenapa gak didalam rumah kamu aja ngerjainnya?” “Aku gak berani Vin soalnya aku lagi sendirian dirumah,”
“Oh,ngomong-ngomong Ayah sama Ibu kamu kemana?”
“Mereka lagi berada dirumah nenek,”
“Yuk kita berangkat.”Aris dan Vina pun berjalan menuju tepi pinggiran sungai.
Saat Aris dan Vina tengah mengerjakan tugas kampus dipinggiran sungai tanpa mereka sadari Rina sedang mengintip dari arah kejauhan.
“Ditunguiin rupanya malah disini sama wanita lain,”Ucap Rina lalu dia cemberut
“Arrgghh!awas ya kau Ris lihat saja nanti!” Ucap Rina lalu menghentakan kakinya dengan punuh kesal.
NING..NONG..NING..NONG...!
Ibu Rina membukakan pintu lalu Rina pun memberikan uang hasil jualan ke Ibunya dan pergi ke kamar tanpa berbicara apapun.
“Rin kalo ada masalah cerita sama Ibu.”Ucap Ibu Rina yang tengah kebingungan.
Disuasana pagi menjelang siang Rina dan Aris terlihat tengah duduk bersama dipinggiran sungai sesekali dia menatap wajah Rina.
“Rin Kok dari tadi kamu diam terus si?”
“Kan aku sudah minta maaf,kemarin itu aku lupa ngasih tau kamu gak bisa ngebantuin kamu jualan karna aku lagi ngebatuin teman ngerjain tugas kampus,”
“Teman kamu itu pasti cewe kan?”Tanya Rina dengan kesal.
“Eh,tau darimana kamu?”
“Jelas taulah aku,kemarin aku lihat kamu berduaan sama dia mesra banget!”
“Sumpah Rin,aku cuma ngebantuin dia ngerjain tugas.”
“Ah!Bilang aja kamu suka sama dia!”Ucap Rina lalu ia cemberut
“Kamu cemberu ya?”
“Tau Ah!mulai sekarang jangan pernah menemui aku lagi!” Lalu Rina pun berdiri dan pergi meninggalkan Aris.
“Eh Rin Kok gitu si!”
Disuasana sore menjelang malam Aris sedang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar Rina dari luar kemudian dia berjoget-joget sambil bernyanyi dihadapan Rina yang tengah berada didalam kamar.
“Potong bebek angsa masak dikuali...”Rina pun tertawa kemudian ia keluar dari dalam kamar dan menghampiri Aris.
“Rin maafin aku,aku benaran sayang sama kamu.”Rina pun langsung memeluk Aris.
“Iya Ris,aku maafin,”
“Aku harap hubungan kita tidak pernah berakhir,”
“Aku juga,”Ucap Rina kemudian dia melepaskan pelukannya
Ketika malam tiba Rina dan Ibunya terlihat sedang melipat-lipat kertas nasi diruang tamu sesaat Rina melihat kerumah Aris dari balik kaca rumah.
“Aku udah maafin Aris bu,”
“Oh ya,bagus kalo gitu,”Ucap Ibu Rina lalu tersenyum
“Bu,ngomong-ngomoong korban yang Ibu cari tinggal berapa?”Tanya Rina sambil menatap tajam kewajah Ibunya
“Tinggal satu korban nak dan dia adalah korban yang terakhir”
“Oh!tinggal satu,syukulah dengan begitu kita terbebas menjadi kanibal,”
“Tapi tau gak siapa yang akan jadi korban terakhir?”
“Siapa Bu?”
“Aris,”
“Apa!” Sontak Rina pun terkejut
“Bu,jangan bercanda gitu,gak asyik bu!”
“Ibu serius Rina,”Jawab Ibu Rina dengan nada suara lembut.
“Pertama kali Aris datang kerumah ini Ibu sudah tau kalo dia adalah korban yang terakhir?”
“Kenapa harus Aris bu,yang jadi korban terakhir!” Lalu Rina menatap kerumah Aris dengan penuh kekhawatiran.
“Karna sebelumnya Ibu sudah melihat bahwa dia memiliki aura yang akan menjadi korban
terakhir,”
“Meskipun begitu aku tidak akan membiarkan Ibu membunuh Aris!”
“Jadi kamu lebih mementingkan dia daripada Ibumu sendiri!” Lalu Rina pun meninggalkan Ibunya dan pergi kekamar.
“Ingat ya Rin,jangan pernah coba-coba untuk menghalangi Ibu!”
Rina pun menangis dan tersandar lesu ketembok kamar lalu sesakali dalam tangisannya dia memukul-mukul tembok.
“Hiks..hiks..hiks!Maafin aku Ris,seharusnya kamu tidak perlu mengenali diriku” Isak tangis Rina dalam penuh penyesalan.
Dalam suasana pagi yang cerah Aris melihat Rina tengah berdiri didepan halaman rumahnya sambil membawa dagangan kemudian dia pun menghampirnya,saat diperjalanan Rina terlihat melamun,
“Kasih tahu gak ya,”Ucap Rina dalam hatinya sambil menatap Aris.
“Rin!kok bingung gitu,kamu sakit ya?”
“Eh!gak kok ris,aku sehat,” Ucap Rina lalu ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
“Oh,syukurlah kalo gitu,”
“Oh iya malam ini aku mau ngajak kamu ke warung makan waktu itu,kamu mau kan?”
“Jangan malam ini Ris,malam besok aja ya,”
“Ok,”
“Oh Iya,aku baru ingat besok pagi aku ada tugas kelompok jadi aku gak bisa bantuin kamu jualan,”
“Iya,gak papa kok,”kemudian Aris dan Rina bersinggah kerumah orang sambil menawarkan dagangan.
NING...NONG...NING...NONG...!
Aris pun membuka pintu rumahnya dan terlihat Rina tengah berdiri didepan pintu dengan menggunakan pakaian celana jeans dan juga hoodie bewarna hitam,
“Eh!yank pipi kamu kenapa merah gitu?”
“Oh ini,habis digigit nyamuk tadi,aku garuk-garuk jadinya gini,”
“Yuk Ris kita berangkat.biar pulangnya nanti gak terlalu kemalaman,”
“Bu!aku sama Rina pergi dulu ya.”
“Iya nak hati-hati dijalan!” Ucap Ibu Rina yang berada diruang tamu.
“Oh iya jangan lupa oleh-olehnya ya nak,”
“Siap bu,” kemudian Aris pun menutup pintu dan pergi bersama Rina.
Gerimis turun dimalam hari dengan kilatan-kilatan cahaya yang menembus kaca jendela kamar,dia Rina dengan penuh kekhawatiran melihat rumah Aris dari kaca jendela kamarnya kemudian dia terkejut melihat Aris keluar dari dalam rumah sendirian,dia pun berlari kedapan pintu rumah dan tidak lama kemudian Ibunya datang dengan membawa pisau ditangan.
“Rin!Jangan menghalangi Ibu!” Ucap Ibu Rina dengan matanya yang mendelik sementara itu Rina masih menghalangi pintu dengan tubuhnya,
“Aku Mohon jangan,Bu!” Ucap Rina dengan isak tangis.lalu Ibu Rina dengan amarahnya yang tidak terkendali membenturkan kepala Rina berulang kali kepintu.
“Malam kemarin Ibu sudah mengizinkan kamu pergi kencan dengan orang itu!”
“TAPI SEKARANG KENAPA KAMU MENGHALANGI IBU!”
“MENJAULAH!” lalu Ibu Rina pun berusah menarik tubuh anaknya menjauh dari pintu akan tetapi dia tetap bersandar kepintu dengan tubuh yang gemetaran.
Disuasana pagi menjelang siang.Aris dan Rina tengah duduk berudaan ditepi sungai sambil memakan eskrim.
“Yank,tahu gak besok hari ulang tahunku,” ucap Rina sambil memegang eskrim
“Oh ya,kalo gitu besok aku akan memberikan kamu hadiah,” Lalu Aris pun mengusap-usap rambut Rina sambil tersenyum.
“Eh!kok yank kepala kamu ada benjolan?” Lalu Rina pun langsung memegang kepala.
“Oh Ini,bekas malam tadi kepalaku gak sengaja kebentur pintu ris,”
“Tapi kamu benaran gak apa-apa kan?”
“Iya Ris,aku baik-baik saja,”Ucap Rina kemudian dia pun tersenyum lalu makan eskrim.
Ketika hari mulai gelap dan didalam kamar terlihat Aris sedang duduk didepan laptopnya sambil mengscoll-scroll halaman online shope.
“Hadeeh!mau beliin dia apa ya” Ucap Aris dalam hatinya sambil menggaruk-garuk kepala.
NING..NONG..NING..NONG..!
Kemudian Rina membuka pintu rumahnya dan terlihat Aris tengah berdiri didepan pintu dengan cahaya matahari senja menyinari tubuhnya.
“Selamat ulang tahun Rina,”
“Ini untukmu,”Ucap Aris lalu dia memberikan sebuah boneka panda.
“Eh lucu baget!makasih banyak ya,” Ucap Rina lalu ia memeluk boneka itu,
“Kamu suka?”
“Iya aku suka banget,”
“Syukurlah kalo kamu suka,”
“Coba deh sekarang kamu tepuk pantat boneka itu!”lalu Rina pun menepuk pantat boneka itu dan boneka itu mengluarkan cahaya warna warni.
“Wah!jadi tambah lucu” Ucap Rina menatap kagum boneka itu.
“Oh ya Ris,masuk kedalam dulu yuk!”
“Eh,gak usah Rin,aku bentar aja disini,soalnya aku ada tugas kampus yang harus dikerjakan,”
“Oh,yaudah gak papa,”
“Aku pulang dulu ya,”
“Iya Ris,sekali lagi makasih ya bonekanya,” Aris pun menganggukkan kepala lalu dia pergi.
Disuasana malam yang sepi dan cerah terihat Rina sedang memeluk boneka panda sambil melihat kerumah Aris dari kaca jendela kamarnya.lalu tiba-tiba dia keluar dari dalam kamar dan bejalan dengan tergesa-gesa menuju kedepan pintu rumah sambil membawa boneka panda itu.tidak lama kemudian Ibu Rina datang dengan membawa pisau ditangan.
“Rina sayang,ini kan hari ulang tahunmu,”
“Ibu mau merayakannya dengan makan daging korban terakhir,”
“Ibu mohon menjauhlah dari pintu itu!”
“Jangan bunuh Aris bu!”Ucap Rina yang tengah menyandarkan tubuhnya kepintu sambil memeluk boneka itu.
“Bu ingat,bintik-bintik hitam diwajah Ibu sudah tidak muncul lagi,”
“Bintik-bintik hitam diwajah Ibu memang tidak muncul lagi namun Jika Ibu memakan daging lengan kanan Aris maka ibu tidak akan pernah menua,”
“sekarang MENJAULAH!”Lalu dia berusaha menarik tubuh Rina menjauh dari pintu namun dengan sekuat tenaga Rina tetap mempertahankan dirinya.
“Jangan bu,Ibu sudah cantik!”
“KURANG AJAR!”Lalu Ibu Rina pun mebenturkan kepala Rina berulang kali kepintu.
Disuasana pagi hari yang cerah terlihat Pak Herman sedang mengobrol bersama Pak Budi diruangan kantornya dengan ditemani kopi dan juga laptop diatas meja.
“Ini aneh,semenjak kasus itu ditutup sekarang sudah tidak ada korban lagi.”Ucap Pak herman lalu dia meminum kopi.
“Syurkurlah,berarti pelakunya sudah taubat Pak,”
“Hahaha!meskipun begitu dia tetap harus bertanggung jawab atas kejahatan yang pernah dia lakukan,”Ucap Pak Herman lalu dia membuka laptop.
Disuasana pagi menjelang siang terlihat Aris dan Juga Rina duduk bersama dipinggiran sungai sambil melempar-lemparkan batu kesungai.
“Rin,kok dari tadi muka kamu pucat gitu,”Lalu Aris pun meraba jidat Rina.
“Aku,gak sakit kok Ris,”Ucap Rina dengan raut wajah yang datar.
“Kalo ada masalah ceritain dong sama aku,”
“Gak ada masalah,”
“Hanya saja boneka panda yang kamu kasih waktu itu sudah tidak mengluarkan cahaya lagi,”
“Oh itu,mungkin baterainya sudah habis.nanti sore ini aku kerumah kamu ngambil boneka itu biar nanti aku ganti baterainya.”
“Ok,” Ucap Rina lalu ia mengacungkan jempolnya.
Disuasana sore hari menjelang malam Aris masuk kedalam kamarnya lalu dia meletakkan boneka panda keatas meja belajar kemudian dia membuka bagian box baterai boneka itu dengan obeng dan mengluarkan sebuah perangkat kccil dari dalam boneka itu,lalu dia meletakan perangkat kecil itu diatas meja dan mengganti baterai boneka itu dengan yang baru.ketika boneka panda itu berhasil di hidupkan kembali Aris pun keluar dari dalam kamar dan mengembalikan boneka panda itu kepada Rina.
Ketika malam hari tiba terlihat Aris sedang duduk dimeja belajar kemudian dia membuka laptopnya dan mengluarkan sebuah memory card dari dalam perangkat kecil itu lalu dia pun memasukan memory card itu kedalam laptopnya,dia mulai memasang earphone ketelinga dan memutar file yang ada di memory card itu.
“Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan Rina,”Ucap Aris dalam hatinya lalu dia perlahan demi perlahan mempercepat pemutaran suara.
Sampai akhirnya dia pun berhasil mendengarkan sebuah rekaman suara Rina dan Ibunya pada malam itu.lalu tiba-tiba dia melepaskan earphone dari telinganya.keesokkan harinya sepulang dari kuliah Aris pun mengunjungi kantor polisi dan melaporkan rekaman suara itu kepada pihak polisi dan akhrinya Aris pun dipertemukan dengan Pak herman didalam ruang kantornya.
“kalo tidak salah kamu ini kekasihnya Rina waktu itu kan?” Ucap Pak Herman.
“Iya pak itu saya,”
“Oh iya,terimakasih atas bukti yang telah diberikan,tapi kita tunggu dulu tim saya mengecek keaslian rekaman suara itu.” Tidak lama kemudian Pak Budi masuk kedalam ruangan.
“Lapor Pak,setelah kami periksa hasil rekaman suara itu ternyata memang benar itu adalah suara Ibu Rina dan juga anaknya,”Ucap Pa Budi.
“Baiklah besok kita mulai melakukan penangkapan kepada Ibu Rina dan juga anaknya.” “Siap pak!”
“Pak,apakah Rina juga dimasukkan kedalam penjara?”
“Iya dek,sesuai dengan peraturan yang berlaku dia akan dipenjara tapi hanya sembilan bulan masa tahanan karna dia telah menyembuyikan kejahatan Ibunya.” Ucap Pa Herman.
Disuasana gerimis dipagi hari terlihat Aris sedang berdiri didepan kaca jendela kamarnya dan menyaksikan Ibu Rina dan juga Rina dibawa keluar oleh Polisi dari dalam rumah dengan posisi tangan diborgol kemudian dibawa masuk kedalam mobil Polisi.
Sembilan bulan telah berlalu Aris terlihat sedang menyirami tanaman-tanaman dihalaman rumahnya dan tidak lama kemudian Rina datang menghampirinya.
“Aris!”
“Eh,Rina!” Ucap Aris lalu ia meletakan penyiram tananaman ke tanah.
“Aku rindu kamu Ris,” Kemudian Aris pun memeluk Rina dan Rina pun tertawa bahagia.
TAMAT