"jangan bersuara! Saat kau mendengar suara gemerincing ondong, jangan membuka pintu atau sekeder mengintip dan melihat nya! Atau kematian akan menjemputmu! "
***
Saat matahari mulai tenggelam semua warga yang tinggal di desa 'KERAMAT' menutup Rapat pintunya. Bagaikan desa mati.Tidak ada yang berani membuka pintu untuk warga lain meskipun orang yang di kenal sekalipun.Mereka di gemparkan oleh kedatangan Ondong Nyai Lirokol yang meneror desa mereka.
Sebuah rumah sewa yang menjorok kedalam dengan sinar lampu yang redup.Terbuka dengan lebar pintunya. Mereka adalah anak-anak maha siswa KKN yang di tugaskan untuk melihat perkembangan desa tersebut.
"Ben, tutup pintunya.. katanya warga sekitar desa ini lagi di terror ondong Nyai Lirokol , lu gak takut apa"Kesya menatap Beni yang sedang meminum susu beruang.
" Hahahha.. terus lu percaya gitu aja?Lemah lu jadi cewek"Beni tertawa terbahak bahak sambil sesekali memukul pahanya.
"Gua bukan lemah.. gua cuman takut ada apa-apa sama kita, lu mau tanggung jawab Brengsek" Satu tinjuan Kesya hampir mengenai Beni kalau saja tidak di tahan Ana.
"Udah lah kalian kelahi mulu! Biarin aja kali key, Lagian percaya amat lu sama cerita desa ini.. kita kan gak ada sangkut pautnya" Ana ikut membela Beni, membuat Kesya memutar bola matanya sudah pasti Ana yang notabenenya sebagai pacar Beni harus membela Beni. Beni dan Ana pacaran baru-baru ini kesya tau gimana brengseknya cowok itu, ceweknya tidak bisa di hitung jari terdampar dimana-mana. Sudah berulang kali Kesya memberi tauh Ana namun tidak ada yang didengarkan oleh gadis itu.
"Gua setuju sama Kesya mending tutup aja pintunya gua juga takut ada apa-apa sama kita" Raka berdiri menutup pintu namun belum sepenuhnya pintu tertutup tangan nya sudah di cekal Beni.
"Gua lagi ngerokok buka aja pintunya,Jangan bilang lu juga takut , Ka" Beni berucap di akhir kalimat meremehkan membuat Kesya mengepalkan tangan nya kuat.Berbeda dengan Raka yang hanya menatap bengong.
"gak usah takut lagian kita gak ada sangkut paut apapun dengan Ondong Nyai Lirokol atau apalah itu" Ana berbicara santai mengundang tatapan tajam kesya.
"Kita bisa saja jadi tumbalnya kalau gak ngikutin nasehat mereka, gua gak mau yah mati konyol di saat KKN gini! terserah lu lah gua malas berdebat mending gua tidur dari pada ribut dengan kalian yang tidak pernah sejalan pikiran kita" Raka menatap bingung mereka bertiga, entah kenapa dia harus masuk di kelompok yang jalan nya tidak pernah searah.
"Sorry gua juga ngantuk mau tidur !semangat pacarannya, Ben jangan kasih kendor"Raka berucap di iringi tawaan Ana dan Beni.
Desa itu terlihat seperti desa mati . Tidak seorang pun yang keluar atau sekeder mencari udara segar di teras rumah mereka terkecuali dua insan yang tengah berpelukan di dinginnya malam.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar di pintu depan
TOK... TOK..
Beni dan Ana menatap aneh ke depan mereka namun tidak melihat siapapun mereka sedang di ruang depan dengan pintu terbuka.
" Siapa sih ketuk tengah malam gini"Ana berucap kesal sambil melangkah kakinya ke pintu Beni hanya mengangkat bahunya acuh.
"Sayang aku ke atas deluan ! Jangan lupa habis itu ke kamar " Beni mengedipkan matanya satu membuat Ana terkekeh pelan dia hanya mengangguk kemudian melangkah kan kakinya keluar.
Tidak ada siapapun Ana tidak melihat apapun selain udara yang dingin dan pohon-pohon yang bergoyang kecil membuat bulu kuduk Ana berdiri seketika.
Udara yang begitu dingin membuat Ana tidak tenang . Perasaannya mulai aneh . Seketika jantung nya mulai berdetak kencang. Semilir angin tiba-tiba berhembus menerpa wajah dan rambutnya.
"Kok gua jadi merinding gini yah"Ucap nya sambil tetap melihat keluar.
Ana beraba tenguknya yang mulai berdiri lembut. Ana yang ingin menutup pintu seketika terhenti.
Ana seperti mendengar suara yang begitu samar, Ana memasang telinganya lebar-lebar dengan mata yang mulai berpendar kesegala arah.
Krincing.. krincing.. kerincing!
" Suara apa sih itu"gumam Ana yang penasaran.Ana melihat sebuah bayangan putih seakan lewat di depan matanya dengan cepat Ana mengikuti arah bayangan itu dan seketika raut wajah Ana menciut, warna kulitnya berubah pucat pasi. Bibir Ana bergerak lambat seolah tidak dapat berkata-kata.
Kedua bola matanya tercekat lama.Ana seperti terhipnotis saat melihat wajah wanita menangis dengan selendang di tangannya. Jantung Ana berhenti berdetak saat wanita dengan mata hitam dan darah yang mengalir dari ujung matanya menatap nya lekat.
dalam hitungan menit kemudian Ana berteriak histeris " Arghhhh... Argghhh...Argghhh setan..setan"Ana meringkuk dengan tubuh yang bergetar hebat. Seketika setelah itu Ana mencium bau busuk yang menyengat hingga Ana terbatuk batuk.
Kedua bola mata Ana terbelalak sudut matanya mulai berair Ana tidak dapat menggerakkan badannya sedikitpun ia hanya meringkuk di bawah tak berdaya.
Suara ondong kereta terdengar di telinga Ana , suara ringkikan kuda terdengar nyaring . Bola mata Ana seketika memutih pandangannya mulai kosong badanya seakan tidak bertenaga. Ana bangun dengan tatapan kosong kedepan kemudian menutup pintu rapat suara ondong yang menjauh tidak dapat Ana dengar lagi.
Ana melangkahkan kakinya ke tangga dengan lirih. Tiba-tiba semilir angin berhembus ke dalam membuat mata kosong Ana seketika memutar ke atas dengan badan Tercondong kedepan bagai seseorang yang kemasukan energi jahat rambut nya ter acak-acakan menutupi sebagian wajahnya akibat tubuhnya yang terguncang hebat seakan tersengat aliran listrik.
Selang beberapa menit kemudian tubuh Ana lanjut melangkah ke atas dengan posisi rambut yang acakan. Sebuah senyum mengerikan terbit di bibirnya.
"Ana..Lama bangat dari bawah ngapain aja lu" Kesya berucap saat merasakan kehadiran Ana namun tatapannya masih ke laptopnya.
"Cari angin" Suara serak tersebut membuat Kesya merinding seketika dan mengalihkan tatapan ke arah Ana.
Kesya menatap Ana kesal"Gua kan udah bilang kalau lu ada apa-apa gimana ha!Lu gak tau betapa takutnya warga sini keluar di malam hari dan lu seberani itu keluar "Kesya mengeluarkan unek-unek nya. Kekesalan yang tadi sempat dia tahan akhirnya bisa keluar dengan legah.
" Uhmm"Ana hanya menatap kesya dengan senyum yang menurut Kesya berbeda dari biasanya.
"Lu kenapa sih" Kesya menatap Ana mulai tegang saat angin tiba-tiba masuk entah dari mana kesya pun tidak mengerti yang di rasakannya saat ini bulu tenguknya mulai berdiri lembut.
Tidak ada jawaban hanya seuntai senyum mengerikan di wajah Ana membuat Kesya berdiri seketika.Ana mengalihkan tatapannya kemudian mulai membaringkan tubuhnya di kasur. Kesya berlari dengan cepat keluar ke kamar Raka dan Beni. Di dalam rumah sewa tersebut hanya ada dua kamar saja.
Brak.. Brak
"Raka..Beni,buka pintunya buruan" Kesya memanggil nama Raka menggebrak pintu dengan sekuat tenaga.
"Apaan sih ganggu aja lo" Raka keluar dengan mata yang masih tertutup . Kesya masuk dengan cepat membuat Raka mengerutkan dahinya bingung melihat tingkah kesya saat ini Raka menutup pintu dan menguncinya.
"Gua tidur di sini" Kesya berbaring di sofa dengan degub jantung yang berpacu dengan cepat.
"Di kamar lu sama Ana ada apaan emang" Kesya tidak menjawab dia menutup matanya rapat. Tidak mendapat jawaban apapun dari kesya Raka mengangkat bahunya acuh. Dan mulai menidurkan dirinya di kasur.
***
Pagi hari
Kesya menatap Ana dengan lekat saat ini mereka tengah sarapan bersama di meja makan tatapan Kesya tidak sedikitpun beralih dari Ana membuat pria di samping nya tiba-tiba merangkul pundak Ana.
"Lu suka sama Ana" Kesya mendelik jijik
"Gila lu"
"Abis dari tadi lu liatin Ana mulu" Kesya mengepalkan tangannya kesal atas tuduhan Beni padanya.
"Lagi makan juga! ribut mulu kalian berdua" Raka menimpali menatap Beni dan Kesya bergantian.
"Ana lu tadi malam ngalamin apa aja pas nyari angin di luar" Kesya menatap Ana mulai curiga saat wajah Ana berbeda dari sebelumnya entah apa yang berubah Kesya tidak mengerti.
"gak ada apa-apa" masih fokus dengan roti di tangannya menjawab tanpa menoleh ke arah Kesya.
"Lu apaan sih interogasi pacar gua gitu" Beni menatap tidak suka ke arah Kesya.
"Lu yang apaan ngomong mulu dari tadi! Heran gua"
"Lu yang sensian tiap kali gua ngomong"
Raka menatap Keduanya kesal"Bisa gak sehari aja kalian gak kelahi! "
"Gua mau kekamar" Semua mata menatap Ana bingung, gak biasanya?.
"Ngapain di kamar sayang" Beni memegang tangan Ana sebentar namun seketika melepaskannya saat di rasakan tangan Ana dingin seperti mayat.
"Lu sakit.. tangan kamu kok dingin bangat"
"Gak apa-apa" Ana melangkah menghilang di sudut ruangan menyisakan mereka bertiga di ruang makan.
"Ana kok aneh gitu" Raka mengerutkan dahinya bingung.
"Kecapean kali.. Lu pikir setiap hari keliling desa gak capek apa" Beni menatap Raka sengit.
"Gua rasain Ana mulai berbeda dari tadi malam" Kesya memajukan wajahnya dengan berbisik kecil.
"Maksud lu" Raka dan Beni bertanya seketika tidak mengerti.
"Gak!Lupain aja" Kesya tidak bisa membicarakan tentang Ana pada mereka sekalipun dia bercerita mereka belum tentu percaya padanya.
Kesya melangkahkan kakinya ke kamar dengan ragu pertama kali yang Kesya lihat Ana yang sedang duduk tanpa melakukan apapun tatapan kesya beralih ke tangan Ana yang sibuk menggulung rambutnya kemudian melepaskan nya lagi menggulung lagi dan begitu seterusnya membuat kesya yakin ada yang tidak beres dengan Ana saat ini.
"Lu diam aja tanpa ngelakuin apa pun? Gak bosan lu" Kesya berucap sambil duduk di bangku rias mengambil sisir kemudian mulai menyisir rambutnya perlahan.
Tidak ada jawaban Ana hanya berdiam sambil memainkan rambutnya Kesya lagi-lagi terheran-heran menatap perubahan Ana .
Kesya menatap cermin kemudian mulai menyisir rambutnya kesya melirik Ana lewat cermin seketika mata Kesya membatu saat Ana menatap nya juga dengan bola mata dengan darah yang mengalir turun ke pipinya mulut yang terbuka lebar mata hitam dan wajah yang pucat penampakan itu membuat lidah Kesya tercekat tidak dapat mengeluarkan suara apapun.
seperdetik kemudian Kesya tersadar "Se.. setan arghhhh" Kesya berteriak histeris. Dia bukan Ana! Tapi ada orang lain yang ada dalam tubuhnya lalu dimanakah Ana.Apa sudah mati?Apa tadi malam Ana melihat Ondong nyai Lirokol itu!.
Ana tiba-tiba mencekik Kesya yang membuat sang empu tercekak sakit tangan yang sangat besar tenaganya aura Ana bener-bener menakutkan.
"Mati!! Kalian semua harus mati ! "Suara serak mengerikan terdengar di telinganya Kesya membuat Kesya merinding . Kesya mendorong Ana hingga terbentur dinding kemudian Kesya berlari sekuat tenaga keluar dari kamar terkutuk itu. Dan berhasil kini Kesya tengah menuruni tangga menuju ruang makan tempat Beni dan Raka berada.
"Lu semua harus pergi dari sini! Ana bukan lagi teman kita dia sudah di masukin energi jahat! "Kedua teman nya menatap nya bingung kemudian tawa menggelegar seisi rumah.
" Lu kebanyakan nonton flem horror! "Beni dan di akhiri tawa menggelegar sesekali memukul paha Raka seakan perkataan Kesya konyol baginya.
" bener bangat lu sampai jadi parnoan kayak gini"Raka tertawa renyah.
Kesya menatap kesal keduanya. Bodoamat! dengan hidup mereka saat ini menyelamatkan dirinya"Terserah kalian "Kesya melangkahkan kakinya keluar menulikan kedua telinganya saat Raka dan Beni bergantian memanggil namanya. Kesya sudah memperingati jika tidak di dengarkan bukan urusan Kesya. Entah se ekstream apa terror di desa ini hingga salah satu teman nya menjadi korban nya seharusnya tadi malam kesya menutup pintu dan menyuruh teman-temannya tidur namun mau hendak di apa? Semua sudah terjadi.
Kesya berlari ke rumah mbak jum. Teman perkenalan pertamanya di desa Keramat ini meskipun mbak jum sudah memiliki suami dia masih bisa berteman dengan gadis di bawah umurnya seperti, kesya.
" Jadi kamu berantem dengan teman kamu"mbak jum berbicara setelah beberapa menit Kesya bercerita. Tentu saja tentang berantem dengan teman-temannya itu bohong! tidak mungkin Kesya menceritakan kejadian sebenarnya karena orang-orang desa hampir semuanya parnoan akan cerita Ondong nyai Lirokol. Menurut cerita hanya dua orang korban Ondong nyai Lirokol tapi kenapa korban selanjutnya harus teman nya sendiri! kenapa!.
"Yasudah Neng Kesya tidur di kamar utama saja" ucap mbak jum sambil melangkahkan kakinya kedapur mengangkat piring kotor ke belakang sehabis makan malam.
"Saya langsung tidur ya mbak sudah ngantuk soalnya" Mbak jum hanya mengangukan kepala nya.
Kesya menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana kemana-mana memikirkan nasib teman-temannya saat ini.
Tok.. tok
Kesya memasang telinga"mbak jum? "
Kesya melangkahkan kakinya pelan. menongolkan kepalanya sebentar. Sepi dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mbak jum. Buru-buru kesya menutup pintu Namun, sekelebat bayangan seseorang terlihat di ekor matanya.
Deg!
Ketiga temannya duduk di kursi tidak jauh dari kamar tempat dia berada.
"Kesya..."
Kesya mengamati ketiga sosok di sana.
"Bagaimana bisa kalian di sini"
"Kami tidak bisa kembali kesya"
Enggan untuk mendekat . Ada ketakutan dalam hatinya yang menolak untuk melangkah mendekati teman-temannya.
"Ada apa dengan kalian sebenarnya"
"Kami ingin pulang Kesya" Ucap Ana lirih
"ingin pulang maksudnya? "
"kami minta maaf tidak mendengarkan nasihat dari mu" Seketika tangis ketiganya pecah. Isak tangis tersebut membuat bulu kuduk Kesya merinding seketika.
"Kami ingin kembali" Suara mereka kini mulai berbeda.
bagai tersentak, Kesya tersadar . Jika ketiga sosok di depannya bukanlah teman-temannya. Tiba-tiba Air mata mereka berubah menjadi darah yang mengalir dari pelopak mata. Bibirnya berkerut-kerut. Seakan tenggorokannya tercekat dan kering.
"ONDONG NYAI LIROKOL"Teriak kesya kencang.
Tubuh kesya bergetar hebat . Guncangan lembut bagai menyadarkan nya.
" Neng kesya bangun!"Seketika Mbak jum berjongkok di depannya.
"Gua seperti bermimpi tapi seakan nyata" Gumam kesya mencoba mengingat kejadian yang baru dialaminya tadi.
"Ada kabar buruk! Kedua teman neng meninggal di duga bunuh diri. Allhamdulilah neng Ana tidak apa-apa.
Deg!
Jantung Kesya seakan berhenti berdetak saat ini juga.Bagai di sambar petir di siang bolong.
" kepolisian sudah mengurus jenazahnya! Sini saya antar neng Kesya melayat "Mbak jum berjalan dan di ekori Kesya di belakangnya.
Beberapa menit kemudian mbak jum dan kesya telah sampai di pemakaman seketika air mata kesya jatuh seketika. Meskipun mereka tidak terlalu akur namun merekalah yang senantiasa menjaganya dua minggu ini.
Kesya tidak percaya mereka akan mati konyol hanya karena permainan Ondong pocong Nyai Lirokol itu.
Seketika kesya menatap Ana yang tengah menangis di ujung sana tiba-tiba sekilas air mata Ana berubah menjadi Darah yang mengalir di pelopak matanya.
Jantung Kesya berhenti berdetak kala matanya berpapasan dengan mata Ana yang melihat kearahnya dengan senyum mengerikan yang membuat kesya merinding. Gerakan mulut tanpa suara membuat Kesya menatap ngeri dan bulu kuduk nya berdiri lembut.
' Selanjutnya giliranmu' Senyum mengerikan terlihat di wajah Ana.
END
salam manis Marny:)