"Tambah lagi sausnya Wa!" Aku mengangguk, mengambilkan botol saus untuk Riri.
Hari ini, Aku dan Riri pergi makan bakso di dekat gang rumah. Meski pun hanya semangkok berdua, tapi ini cukup membuat Riri melupakan masalahnya.
"Nashwa goceng, aku goceng." Riri dan Aku kompak mengeluarkan uang lima ribu, uang patungan ini kami gunakan untuk membayar bakso.
Maklum, Anak SMA, jadi uang jajan masih di beri sedikit. Lagi pula kami ini bukan anak orang berada seperti teman kami yang lainnya.
"Minumannya?" tanyaku, Riri menggeleng. Astaga! Kali ini kami akan kepedasan lagi.
"Yaah … tahan aja deh."
Di perjalan pulang, aku dan Riri sibuk bercanda sembari menahan pedas karena tidak membeli minum.
"Tadi sih, uangnya gak cukup buat beli minum.Jadinya kita kepedesan gin-"
ucapan Riri menggantung. "Radit …."
"Hah?"
"Itu Radit!" Telunjuk Riri mengarahkanku pada seorang laki-laki yang duduk di atas motor dekat parkiran.
"Nashwa, Aku masih cantik gak? Aku gak belepotankan?" Dengan heboh Riri bertanya padaku, aku hanya mengangguk.
"Radit!!" Teriak Riri memanggil Radit, laki-laki itu menoleh, lalu tersenyum pada kami.
tidak … lebih tepatnya aku rasa dia tersenyum padaku.
"Haduuh … Gimana aku bisa move on coba, Dianya aja makin hari makin ganteng." Deg! Lagi-lagi Rasanya ada yang sakit di sini, di dada.
Ntah kenapa, saat melihat dia selalu saja aku merasa sesak.
Radit, laki-laki itu kemarin memutuskan hubungannya dengan Riri. Karena itulah seharian ini Riri menangis.
baru hari ini dia tersenyum saat aku mengajaknya makan bakso.
"Aaah … Aku gak ikhlas kalo dia sama yang lain!" Riri terus mengoceh sepanjang jalan, dia terus membicarakan Radit.
Aku hanya diam dan merasa bersalah.
Pagi ini aku dan Riri berangkat ke sekolah berjalan kaki, setiap melewati rumah besar, Riri selalu berkata bahwa itu adalah rumahnya dan Radit kelak.
Kling!
Satu pesan Wa masuk dari ... Radit!
[Udah sampe ke sekolah belum?]
Aku hanya membacanya, tak ada niatan untuk membalasnya lagi.Aku takut, aku takut Riri akan tahu.
"Akhirnya sampe juga!!" Riri berlari menuju kelas, meninggalkanku yang masih di sisi lapangan.
"Pagi Nas!" Aku terjengkit kaget, saat tiba-tiba Radit berdiri di depanku.
"Hmm …."
"Ke kantin yuk!" ucapnya, aku menggeleng, berjalan semakin cepat, berusaha menghindari ajakan Radit.
"Nashwa, Kok gak mau sih?" tanya Radit lagi
"Masih pagi!" jawabku ketus, dia menghela nafas gusar.
"Yaudah, kalo gitu kenapa tadi kamu gak bales chat Aku?" Aku menggeleng, karena sebenarnya aku bingung harus mencari alasan apa.
"Ken--"
"Aku ke kelas dulu!" Potongku cepat, sesegera mungkin berlari.
Aku membuang nafas lega, akhirnya terbebas dari Radit.Tapi sayangnya Hpku tak terbebas dari rajiaan hari senin.
Ya memang, hari senin adalah hari yang paling di hindari.Karena pada hari itu semua hp siswa di rajia, termasuk hpku.
Dan bodohnya, kenapa aku harus membawa Hp ….
Aaaahh … Sial! Chatku dan Radit belum di hapus! Bagaimana jika itu terbaca oleh Riri.
Karena Riri lah yang merampas hp siswa dan dia juga yang memeriksanya.
'Bodoh!' Rutukku dalam hati.
Sepuluh menit menunggu, aku merasa was-was dengan pesan itu, bagaimana jika ….
"Nashwa!" Teriak Riri di depanku, wajahnya dan matanya terlihat memerah.
Dia menangis?
kenapa?
apa karena dia sudah mengetahui chat itu?
perasaanku semakin di landa kegelisahan,
"Kamu jahat Wa!"
"Kamu 'kan tau aku gak bisa move on dari Radit! Kamu kok nikung Aku?!!" ucap Riri lantang, Aku masih membeku di tempat.
Benar saja, pasti Riri sudah membaca chat itu.
"Ri … Ak--aku cum--"
"Cuma apa hah?! Mau belaga sok lugu?! Bingung?! Kamu sama Radit chatan di belakang Aku Nashwa!" Teman-teman di kelas hanya diam memperhatikan, dan ada juga yang berdiri di samping Riri, dia terus membisikan sesuatu ke telinga Riri.
Ku tahu dia pasti sedang memanas-manasi Riri.
"Dengerin dulu Ri! Aku tuh gak ada maksud bales chat Radit, di--dia chat Aku duluan dan nanyain kamu,"
"Di--dia terus chat Aku, ta--tapi Aku gak bales lagi kok, cum--''
"Cuma apalagi hah?!"
"Cuma kamu bales lagi sampe kamu lupa kalo aku ! --temen-- kamu gak bisa lupain Radit?!" Riri terus menghardikku, menekankan kata teman, ya Aku tahu! Aku memang salah! Tapi tak sepenuhnya Aku juga yang salah!!
"Ri … Maaf …." ucapku memohon, memegang tangannya yang basah, mungkin karena air mata.
"Gak! Dasar penghianat! Munafik!!" Riri menghempaskan tanganku, matanya menatapku sinis.
"Maaf Ri, maaf …." Lagi, Aku meminta maaf dengan tangisan yang tak berhenti mengucur.
Hari ini, Aku mundur, membiarkan Riri tenang dulu.
Seminggu setelah kejadian itu, Aku dan Riri tak pernah saling menyapa.Apalagi makan bakso patungan lagi.
Dia dingin, seperti orang yang tak pernah mengenalku ….
Rasanya Aku masih tak percaya, persahabatan kami harus berakhir di sini.Hanya karena seorang laki-laki.
Bukan Aku tak berusah meminta maaf, semua sudah ku lakukan demi mendapatkan maaf darinya.
Namun dia bersikap seolah Aku ini orang asing yang sedang mengemis.
Riri tak seperti dulu, dia dingin, tak acuh, dan … Urakan.
Radit? Jangan tanyakan dia!
Aku sudah bersikap seperti Riri bersikap padaku.
"Aku tahu kamu terluka, tapi kamu juga tahu Aku tak sepenuhnya salah.Di sini tidak ada yang salah, yang salah hanya hati kita yang gagal mempertahankan pertemanan kita hanya karena seorang laki-laki seperti Radit." ucapku saat berpapasan dengan Riri di kantin, dia hanya mendengkus lalu melewatiku begitu saja.
"Ri … Apa kamu gak mau dengerin penjelasanku sekali lagi? Apa kamu masih mau membenciku? Apa kamu tahu perasaanku bagaimana?" ujarku panjang lebar, berhasil! Riri menoleh, dia mendekatiku.
"Heh! Lo pikir gue bego?! Lo temen terbaik gue sebelum akhirnya semua terbongkar, lo munafik!" Begitulah jawabnya, ketus.
Dia memandangku dari atas ke bawah.
"Padahal lo dekil, kucel, burik lagi! Tapi si Radit mau aja sama lo."
"Ahahahaaa!!! Anak dekil …."
"Hahahaaa kesian ya,"
"Gila, si Nashwa di permaluin sama temennya sendiri." Tawa di kantin pecah, semua menertawakanku.
Aku malu, aku sakiit ….
"Riri! Kamu gak bisa giniin aku, iya aku ngaku aku salah.Tapi gak semua salah aku juga!" Teriakku lantang, semua terdiam.
Hening.
tak satu pun bersuara, yang terdengar hanyalah deru nafasku tak teratur.Menahan amarah.
jika dia bukan sahabatku, mungkin saja aku sudah menamparnya.Tapi di sini aku juga bersalah, kenapa hari itu aku harus menyukai Radit kembali? Kenapa aku harus membalas chatnya?
Di sini, apakah aku satu-satunya orang yang bersalah? Ya tuhaan … Jika Radit tak kembali hadir di hidupku dan Riri, mungkin semua takan seperti ini.
Dahulu, aku bertemu dengan Riri dan Radit saat masih Smp.Kemudian kami berpisah, dua tahun berlalu, kami bertemu lagi di Sma ini.Radit pindahan dari sekolahan lain, diam-diam aku dan Radit berpacaran.
tapi hanya bertahan seminggu, setelah aku tahu Riri juga menyukai Radit.Riri terlihat sangat menyukai Radit, setiap hari yang dia ceritakan hanya tentang Radit.
sampai aku memutuskan untuk memohon pada Radit agar dia mau memacari Riri, dia setuju, karena dia bilang itu demi aku.
semua kacau, Radit memutuskan Riri.
dia sudah tak tahan pada sikap Riri yang Possesif.Dan pada akhirnya semua ini terjadi.Radit menghubungiku, dan Riri tahu, kemudian kami bertengkar.
hubungan kami semakin merenggang, bahkan seperti orang tak saling mengenal.
Aku tersenyum kecut, dari semua ini Aku tahu, bahwa persahabatan wanita sangatlah rapuh! Kebanyakan itu semua karena uang dan Laki-laki-.
SELESAI ....