Di siang hari yang cuacanya tidak begitu cerah.
Fia dan Della sedang duduk disebuah cafe untuk makan siang, dan Fia ingin bertemu dengan Delon–pacarnya Fia. Fia ingin memperkenalkan sahabatnya yang bernama Della dengan Delon. Lalu, Fia menghubungi Delon untuk datang ke cafe. Beberapa menit kemudian, Delon pun datang dan Fia memperkenalkan Della kepadanya. Di sana, mereka saling mengenal satu sama lain.
Suatu hari, Fia meminta Della untuk menemaninya pergi ke toko, tak disangka Della meminta Delon datang. Fia pun bingung kenapa Della menyuruh Delon datang? Saat ia datang, Delon seperti lebih dekat dengan Della daripada Fia, padahal Fia adalah pacarnya sendiri tetapi Fia dianggap seperti orang asing diantara mereka.Fia pun kesal melihat tingkah pacarnya yang seolah-olah selalu meminta perhatian dari Della dan Della seolah-olah tidak merasa bersalah kepada Fia karena telah bersikap berlebihan terhadap kedekatannya dengan Delon didepan Fia. Setelah beberapa kali bertemu, Della dan Delon pun kelihatan akrab sekali. Dia terlihat mulai menganggu Della dan merayunya.
Beberapa hari kemudian, Delon menelfon Fia disela-sela pembicaraan ia menanyakan tentang Della kepada Fia. Delon berbicara seperti ingin tau tentang Della lebih dalam. Perasaan Fia sedikit risih dan gelisah, entah apa yang membuat pacarnya ingin tau semua tentang Della, tapi Fia tetap mencoba berpikir positif walau sebenarnya itu menyakitkan.
Fia pun bertanya kepada Delon, "kenapa Kamu, bertanya tentang Della kepadaku, karena jujur itu membuat aku cemburu. Tak seharusnya, Kamu ingin lebih dekat dan mengenal orang lain dari pada diriku." Karena kecewa dengan sikap Delon, akhirnya Fia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan penuh rasa kesal. Fia tak menyangka kalau Delon bisa setega itu kepada dirinya.
Keesokan harinya, saat Fia dalam perjalanan, ia bertemu dengan Delon dan Della. Sontak Fia kaget melihat apa yang ada didepan mata. Delon yang melihatnya langsung mengalihkan pandangandari Fia. Fia pun hanya diam dan dalam hati Fia berfikir, "sahabatnya sendiri tega melakukan hal itu kepada dirinya." Dia kecewa terhadap sikap Della, sahabat yang selama ini dibanggakan, yang selalu menemani dan selalu setia mendengarkan semua ceritanya ternyata sungguh mengecewakan.
Tatiya bertanya kepada Fia, "sebenarnya apa yang terjadi antara Delon dan Fia?"
Lalu Fia pun bercerita kepada Tatiya tentang apa yang dia alami, bahwa Fia kecewa terhadap perlakuan Della dan Delon. Fia tidak menyangka bahwa Della akan begitu kepadanya.
Tatiya pun hanya bisa menguatkan Fia, ia bersyukur masih memiliki sahabat yang bisa mengerti keadaannya.
Hari demi hari pun Fia lewati, tanpa menunjukkan kekecewaan kepada Della karena Fia tidak ingin memperburuk keadaan, lagi pula Della sahabatnya sendiri. Fia juga tidak ingin memaksakan keegoisan , karena Fia yakin bahwa yang sudah ditakdirkan untuknya pasti akan datang, walau entah kapan waktunya tiba.
Jam istirahat sekolah pun terdengar, Fia dan Della duduk di bangku depan kelasnya.tiba-tiba Della bercerita tentang Delon, kalau Delon sering menghubunginya dan Della merasa senang dengan perhatian itu. Entah, kenapa ... perasaan Fia saat Della bercerita langsung berubah. Fia hanya bisa tersenyum dan menahan emosinya.
Tatiya yang melihat Fia murung langsung bertanya, "ada apa dengan Fia?"
Akhirnya, Fia bercerita tentang apa yang dia rasakan saat Della bercerita tentang Delon kepadanya tadi. Saat Fia bercerita, Tatiya pun hanya diam, Fia bingung dengan sikap Tatiya, jika Fia lihat dari raut wajah Tatiya, sepertinya Tatiya sedang merahasiakan sesuatu. Tetapi Fia tidak tau itu dan tidak terlalu memikirkannya.
Melihat tingkah Tatiya yang seolah-olah tidak senang saat Fia bercerita tentang Della dan Delon, dia merasakan sesuatu kejanggalan pada Tatiya. Namum, ia tidak terlalu ambil pusing tentang sikap Tatiya, walaupun sebenarnya Fia penasaran.
Sepulang sekolah, Fia mengerjakan tugas fisika dirumah Tatiya, saat Tatiya sedang mengambil minum, Fia tak sengaja melihat buku diary Tatiya diatas meja belajarnya. Karena Fia pikir bahwa isinya tidak terlalu berpengaruh dan penting terhadap Fia, lalu is pun membacanya. Dia terkejut saat membaca dan mengetahui bahwa Tatiya selama ini menyimpan perasaan terhadap Delon. Fia tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan, karena ternyata kedua sahabatnya menyukai orang yang sama. 'Pantas saja saat dia cerita tentang Della dan Delon, raut wajah Tatiya berubah,' gumamnya dalam hati.
Tatiya tidak pernah menunjukkan bahwa dia menyukai Delon didepan Fia, berbeda dengan Della yang selalu ingin menunjukkan kalau dia menyukai Delon.
Fia tau, bahwa Tatiya sebenarnya ingin menjaga perasaan Fia dengan tidak terlalu menunjukkan bahwa ia menyukai Delon. Fia kagum dengan Tatiya, karena bisa menjaga perasaannya dan tidak membuatnya merasa sakit hati. Tatiya lebih bisa menjaga perasaan Fia dibandingkan Della.
Sekarang, Fia hanya bisa tersenyum menerima kenyataan bahwa kedua sahabatnya sama-sama menyukai orang yang dia sayangi selama ini. Fia masih berpura pura tidak tau didepan Tatiya kalau sebenarnya Tatiya menyukai Delon.
Kemudian, Fia kembali membuka hatinya. Fia berpikir, untuk apa dia terus memikirkan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuknya dan belajar menerima bahwa tidak semua yang kita anggap baik akan membuat kita menjadi baik.
Tiba-tiba Tatiya menghampiri Fia, dan berkata jujur tentang perasaannya, bahwa selama ini Tatiya memendam perasaan terhadap Delon. Tatiya meminta maaf karena telah menyukai orang yang selama ini Fia sayangi. Tetapi, Fia mengerti perasaan Tatiya, lagi pula Fia sudah tahu itu cukup lama. Fia sama sekali tidak marah kepada Tatiya. Fia mencoba menghibur Tatiya yang merasa bersalah kepadanya.
Sebenarnya, Fia lebih setuju kalau Delon bersama dengan Tatiya, dibandingkan dengan Della karena saat ini status Della sudah punya pacar. Tidak seharusnya, Della juga ingin menjadi pacarnya Delon. Fia takut jika Delon nanti bersama Della, dia akan tersakiti. Tapi, semua itu tergantung keputusan Delon, jika ia lebih merasa nyaman dengan Della dibandingkan Tatiya, yah ... apa boleh buat? Fia hanya bisa menguatkan Tatiya agar dapat menerima kenyataan, bahwa semua yang kita kagumi tidak harus kita miliki, cukup melihatnya bahagia itu sudah cukup.
Sekarang Fia sudah mengerti, bahwa sesuatu itu tidak dapat dipaksakan, Fia berpikir untuk apa dia bersedih setelah tau kedua sahabatnya menyukai Delon. Karena, sekarang Fia sudah cukup bahagia dengan orang yang selalu membuat dia tersenyum. Yah ... walau bukan berstatus sebagai pacar tapi Fia menyayanginya lebih dari itu.
Persahabatan lebih penting, daripada keegoisan kita untuk memilih pacaran. Persahabatan bisa hancur karena cinta. Pacar boleh hilang, tapi sahabat ... stay in my heart. Bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat sahabat dan orang yang kita sayang bahagia, itu akan membuat kita ikut bahagia.
Jangan biarkan persahabatan runtuh, hanya karena status pacaran atau pun penghianatan seorang teman. Yakinlah! Bahwa kamu akan bahagia jika melihat sahabatmu bahagia begitu juga orang yang kamu sayang bahagia, walaupun bukan bersama kamu ikhlaskan, jangan simpan dendam dan kecemburuan, maka itulah yang namanya cinta sejati!
SELESAI ....