"Ayah ... ku salamkan rindu ....
Untuk engkau ... yang kini jauh dariku
Ayah ... 'kan ku ingat selalu ....
Pengorbanan ... dan semua jasa-jasamu." Suara merdunya, menghanyutkan setiap orang yang mendengarkan. Penuh penghayatan yang menyentuh hati, membuat titisan air mata mengalir tak tertahankan.
"Ayah ... kuingin engkau di sini ....
Temaniku melangkah kaki ...
Ayah tak bisa aku ingkari
Tanpa eng–engka–u hidupku terasa sunyi."
Terdengar suaranya kian gemetar, isak tangis gadis itu semakin menjadi, ia tak kuasa untuk melanjutkan qasidahnya. Dengan tangan menutup mulut menahan tangis, ia pun turun dari panggung dan berlari entah kemana.
"Ayla ... Ayla, kamu mau kemana, Nak." Jeritan ibunya pun tak ia gubris. Dia terus berlari, sesekali menghapus air matanya.
Sampai di depan sebuah rumah ia berhenti, jongkok bersandarkan pintu, dan menopang kan dagu pada tangan yang terlipat, serta air mata terus mengalir.
"Ayah, Ayla rindu," lirihnya disela tangis.
"Ayla, Nak, kenapa kamu lari?" tanya sang ibu dengan napas yang masih terengah-engah.
"Ayla enggak sanggup, Bu. Ayla jadi tambah rindu sama Ayah. Kira-kira gimana keadaannya di sana, Bu?"
Ibunya hanya tersenyum sembari mengusap air mata di pipi Ayla. "Ayla, kita do'akan yang terbaik untuk Ayah, ya, Nak. Semoga di sana baik-baik saja mencari nafkah untuk kita, selalu diberikan kesehatan. Ayla kan selalu salat, jadi sebutkan Al-fatihah untuk Ayah selesai salat, ya."
Ayla pun mengangguk dan mulai tersenyum kembali.
"Yasudah, sekarang kita masuk, yuk!" ajak ibu membukakan pintu.
Saat tengah malam, ketika suasana yang amat sunyi, Ayla terbangun dari tidurnya. Mengusap mata sembari tangannya meraba meja, didapatkan sebuah jam beker yang menunjukkan pukul satu dini hari.
Dia beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi, menyalakan keran, lalu mensucikan diri dengan berwudu. Selesai wudu, ia masuk kamar salat, memakai mukena dan menata sajadah dengan rapi, Ayla pun siap melakukan sunnah dua rakaat.
Selesai salat, dia tak lupa bertadarus. Lantunan ayat suci Ayla begitu merdu mengisi kesunyian di sepertiga malam. Selepas tadarus, tangannya menengadah berdoa kepada Allah. Dia berdoa dengan khusyuk, hingga airmata menjadi saksi dalamnya kerinduan pada sang ayah.
Pada secarik kertas, ia menuliskan surat berisi kerinduan dan keinginan agar ayahnya pulang. Ini bukan pertama kalinya, tetapi Ayla tak pernah bosan untuk terus mengirim surat untuk sang ayah.
Mentari bersinar sangat terik, membuat peluh tak henti tercucur di wajahnya. Jilbab coklat yang menutup kepala, seakan menambah kegerahan. Perjalanan lima ratus meter terasa berat tak seperti biasa. Ayla pun memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu di bawah pohon.
Sembari menikmati seplastik es teh, ia mengambil buku dan menuliskan sebuah puisi rindu untuk Ayah. Begitu asyiknya menulis tak terasa es teh pun ludes. Ia kembali melanjutkan perjalanan, tapi langkahnya terhenti tatkala netra sipit itu menangkap sosok pria jangkung berwajah terus, memakai baju koko ditemani perempuan berjilbab putih.
"Ayah, itu seperti Ayah," gumamnya sembari tangan merogoh sesuatu. Didapatlah selembar foto ayahnya, lalu dibandingkan dengan pria itu.
"Iya, bener, itu Ayah," ucapnya penuh keyakinan.
"Ayah ...." Teriakan Ayla mampu membuat pria tersebut menoleh. Ia tampak gugup dan gelisah melihat Ayla, seperti ada sesuatu yang tidak baik.
"Ayla," lirihnya pelan.
Langkah Ayla kian dekat, tapi tanpa ia duga pria itu justru melangkah mundur dan lari bersama perempuan yang menggandengnya.
"Ayah ... jangan lari! Ini Ayla, Ayah." Ia pun terus mengejar, melambai agar ayahnya kembali. Ayla fokus berlari tanpa disadari sebuah mobil sedan melaju dari arah belakang.
"Awas ...." Seorang pemuda mendorong Ayla ke tepi jalan.
'hiks, hiks, hiks.'
"Hey, Kamu mau cari mati? Udah diklakson beberapa kali masih saja di tengah jalan," tanya pemuda itu.
"Tidak, Kak, aku minta maaf!" jawab Ayla dengan menunduk. "Aku sedang mengejar Ayah," lanjutnya lagi.
"Di mana?" Pemuda itu bertanya kembali.
"Di sa—" Ayla menghentikan ucapannya karena pria yang tadi ia kejar sudah tidak ada. "Ke mana Ayah pergi?"
"Sudahlah, lebih baik Kamu pulang! Bahaya di jalan raya!" titah pemuda itu dan dibalas anggukan oleh Ayla.
"Ibu ...," lirihnya langsung berhambur ke pelukan sang ibu.
Ibunya yang merasa bingung melihat Ayla menangis hanya mampu membalas pelukan. "Ayla kenapa nangis?"
"Ayah jahat, Bu, Ayah jahat!"
"Kamu ngomong apa sih, Nak?"
"Tadi Ayla lihat Ayah. Waktu Ayla kejar Ayah malah lari, bersama perempuan, lagi," jelasnya melepas pelukan.
"Ayla salah lihat kali?"
"Enggak, Bu. Itu beneran Ayah ... apa mungkin Ayah punya keluarga baru?"
"Hust. Ayla jangan mikir yang aneh-aneh!"
"Ayah emang gak sayang sama aku. Buktinya sudah lima tahun dia tidak pulang, bahkan puluhan surat dariku tak pernah dibalas. Ayah jahat!"
"Ayla ... gak boleh gitu, Nak," ujar ibu dengan lembut sembari mengusap punggung tangan Ayla.
"Ayla benci sama Ayah!" gertaknya menghempaskan tangan sang ibu, berlari masuk kamar.
Sudah dua minggu Ayla berdiam diri di rumah. Ia tidak mau sekolah, bermain bersama teman, bahkan tidak membantu ibunya berjualan. Semenjak bertemu dengan ayahnya, Ayla hanya bisa murung dan menangis. Tak jarang ia kerap mencoba bunuh diri, tapi syukur ibunya berhasil mencegah.
Ketika Ayla duduk termenung di ranjang, ia mendengar sirine ambulance menuju ke rumahnya. Dia pun bergegas ke ambang pintu depan. Deg! Ambulance itu berhenti tepat di depan rumahnya, diikuti para tetangga dari belakang.
'Siapa yang meninggal?'
Seorang perawat pria turun dari mobil menghampiri Ayla. "Apa benar, ini rumah Ibu Ambar, istrinya Bapak Sumono?"
"I–iya, benar." Ayla menjawab dengan gugup.
"Begini, kami dari pihak rumah sakit Mitra Sejahtera, ingin menyerahkan jenazah Bapak Sumono untuk dimakamkan oleh pihak keluarga. Karena, ini permintaan almarhum sebelum meninggal."
"Tidak! Tidak mungkin Ayah meninggal ... ini pasti bukan Ayah." Ayla berlari masuk ambulance, membuka penutup muka jenazah itu. Betapa terkejutnya dia, hatinya seperti tersambar petir, bulir hangat mengalir seketika.
"Ayah," lirihnya, "Ayah, Ayah, bangun, Yah. Ayah cuma tidur, kan. Ayah enggak boleh pergi ... Ayah ..." teriaknya sembari mengguncang tubuh ayahnya.
"Ayla," panggil sang ibu dengan mata yang nampak basah.
"Ibu ... Ayah belum meninggal kan, Bu?" tanyanya memeluk ibu.
"Kita harus ikhlas, Nak, supaya Ayah tenang di sana," titah ibu.
"Tapi, Bu ... Ayah itu belum meninggal dia hanya tidur. Nanti juga bangun."
"Sayang, Ayah sudah kembali pada penciptanya. Kita, harus segera memakamkan dengan layak, agar Ayah dapat beristirahat dengan tenang. Ayla gak mau kan, kalau Ayah di sana ikut sedih melihat putri cantiknya ini sedih?" ujar ibu mencoba menenangkan. Dibalas dengan gelengan Ayla.
"Sekarang, kita lakukan prosesi pemakaman, ya?"
"Iya, Bu," lirihnya.
Setelah tiga jam, kini tubuh pria yang Ayla rindukan telah tertimbun tanah, hanya nisan bernama yang bisa Ayla cium, dan pusara yang dapat ia peluk.
Ketika semua orang sudah pulang tinggal Ayla dan ibu, perempuan yang waktu itu bersama ayahnya datang. Memancing emosi Ayla, karena ia masih menganggap dia selingkuhan sang ayah.
"Ngapain Kamu ke sini?"
"Ayla, gak boleh gitu, Nak ...."
"Dia, wanita yang waktu itu bersama Ayah. Dia wanita simpanan Ayah, Bu."
"Dek, saya ini, suster yang merawat Ayahmu dari sebulan yang lalu," terangnya dengan lembut.
"Ibu Ambar, ya? Begini, Bu, sebenarnya pak Sumono, mengalami sakit kanker paru-paru sudah setahun yang lalu. Beliau bercerita, bahwa tidak pernah memakai masker saat bekerja, padahal kerjanya banyak menimbulkan asap. Dia beralasan, karena tidak nyaman. Dia juga jarang makan katanya, sayang uangnya untuk keluarga," jelasnya.
"Ya Allah, Bapak," lirihnya sembari mengusap batu nisan. Airmata berlinang kembali.
"Ini, Bu, amanat dari Bapak, untuk menyerahkan uang hasil kerjanya selama ini." Suster itu mengulurkan amplop coklat.
"Terima kasih, Sus."
"Adek, ini surat balasan dari Ayah yang ditulis sebelum beliau meninggal." Sebuah amplop putih diambil dari sakunya.
Ayla menerima dan membacanya.
"Anakku, Ayla sayang ... maafin Ayah, ya. Bukan maksud Ayah tak sempat membacanya, tapi saat Ayah ingin membalas, Ayah selalu menangis, tak sanggup, ingin rasanya Ayah pulang. Namun, pekerjaan Ayah tidak dapat ditinggal. Kondisi Ayah juga sedang sakit, Ayah tak mau merepotkan kalian. Sayang, jadilah anak yang baik, berbakti kepada ibumu, ya. Ayah telah mempersiapkan tabungan pendidikan untukmu, belajarlah yang rajin, agar kelak jadi orang sukses. Ayah juga rindu sama kamu. Tenang ya, Ayah akan pulang menemui kalian. Ayah sayang sama Ayla—putri cantik—Ayah." Buliran hangat berhasil meluncur ke pipi selesai membaca surat itu. Ayla langsung memeluk nisan sang ayah.
"Dan teringat ... saat kepergian mu
Ku taburi bunga mawar untukmu
Dan berdoa ... untuk melepaskan mu
Ayah ... berlinang air mataku." Ayla menyanyikan lagu rindu ayah lirik terakhir versi Tasya Rosmala dengan tulus.
Dia mencengkram tanah makam dengan kuat sembari berkata, "Ayah, terima kasih atas kasih sayang yang tulus. Maaf! Ayla sempat membenci Ayah. Ayla akan turuti nasihat Ayah. Serta, Ayla janji 'kan terus menyalamkan rindu untuk Ayah melalui untaian doa di sepertiga malamku. Love you Ayah." Ayla mencium nisan itu.
SELESAI ....