Club Malam
hari ini aku akan pergi kebar tempat dimana aku bekerja, hari hari yang ku lewati hanya bekerja sebagai wanita penghibur. panggil saja diriku fatin. kini aku sudah sampai dibar. ketika masuk sudah tercium aroma alkohol dan asap rokok yang berkebul menyeruakkan indra penciuman. aku sudah terbuasa dengan itu semua.
"hai fatin, hari ini kamu harus menemani tuan ang, dia ada diruang VVIP." ucap mucikari padaku. aku hanya mengangguk dan menuju ketempat VVIP dimana pelangganku menunggu. aku menemani tuang ang berminum dan aku pun diberi tip olehnya. selesai menemani tuan ang aku diperbolehkan pulang. datang jam 10 pulang jam 4 pagi itu selalu menjadi kebiasaanku untuk menghidupi keluarga. hehh keluarga? aku hanya dijadikan budak untuk mendapatkan uang cihh, aku benci kata kata keluarga.
"aku pulang." sapaku pada rumah.
prang!!, suara benda yang terlempar kearahku, " dasar anak sialan, pulang jam berapa ini ha?! mana uang yang kau janjikan kemarin?!!." teriak ayahku dari arah ruang tamu. ia begitu marah karena dikuasai oleh minuman beralkohol. aku hanya diam ditempat, dan merasa takut pada ayahku.
lalu aku mengelurkan uang 5 lembar seratusan pada ayahku karena hanya itu tip yang diberikan tuan ang padaku karena aku belum diberi gaji bulanan, dengan tubuh yang bergetar aku menyerahkan uang ini pada ayahku, "brakk!! uang sedikit mana bisa buat berjudi ha?! bayar utang aja masih kurang!! dasar nggak becus!." ayah mengambil cambuk, lalu mencambukku dengan brutal aku hanya bisa pasrah menerima, tak bisa melawan dan hanya merintih kesakitan, "ampun ayah, ampuni aku hikss... ahhkkk sakit ayah ampun." rintihku minta ampunan, ceplasss!! akhirnya ayahku mengakhiri cambukannya. aku berlari menuju kamar dan menguncinya. terperosot jatuh kebawah tepat didepan pintu, meringkuk kedua kaki ku aku menangis sejadi jadinya, merasa perih ditubuh dan rasa sakit hati pada perlakuan ayahku.
"hikss hikss ibu kenapa kau tega meninggalkanku?! ini semua salahmu ibu!!! kau menelantarkan aku dan ayah demi pria kaya!! haaaaa..." rasa sesak didada ketika mengingat masa lalu. aku menjambak rambutku frustasi.
dulu kami adalah keluarga yang harmonis, tapi tak taunya ibuku berselingkuh dengan pria kaya dan memilih menelantarkan aku dan ayah. dari situlah sifat dan perilaku ayah berbeda ia sering pulang malam, mabuk, dan berjudi untuk menghilangkan rasa sakit hatinya. ayah juga sering memukulku karena hal sepele.
pagi menyinari bumi, sayup sayup mata terbuka. ternyata aku tidur didepan pintu. aku membersihkan diri dan mengobati luka disekujur tubuhku. pedih itu yang kurasakan.
hari ini aku memilih libur untuk bekerja, untuk menenangkan hatiku. aku sudah bersiap untuk pergi ketika hendak menutup pintu kamar, namun suara bariton menghentukanku, "mau kemana ha?" ucap ayaku dengan tatapan tajam wajah yang tak terurus itu cukup membuatku takut, " a..aku akan pergi sebentar ayah." jawabku sembari menundukkan kepala.
"pergi kemana?! cari uang?!" aku hanya mengangguk lemah, "bagus, cari uang yang banyak dan buktikan pada wanita rubah matre itu bahwa kita sudah kaya." tukas ayahku dingin dan sinis, aku memejamkan mata lalu pergi dari rumah yang kuanggap neraka itu. aku melajukan mobilku dengan kecepatan rata rata, sudah 2 jam aku berkendara akhirnya sampai ditempat tujuanku. disinilah aku didanau yang indah pas untuk menenangkan hati, aku duduk sembari melihat danau.
"apakah aku tidak bisa sedikit saja merasakan kebahagiaan? kenapa hidupku selalu menderita? kenapa?! aku selalu dituntut untuk mendapatkan uang yang banyak, apakah aku tidak bisa merasakan ketenangan? kenapa tuhan tidak adil padaku!!." aku berteriak didepan danau dengan napas memburu dan air mata yang mengalir deras dipipiku. sesak didada membuatku sulit bernapas.
"tuhan itu adil, hanya saja ia sedang menguji umatnya." suara itu membuatku menoleh, wanita dengan pakaian syar'i berwarna pink itu tersenyum tulus kepadaku.
"bisakah aku duduk?." aku memalingkan muka dan menghapus air mataku lalu mengangguk tipis. wanita itu duduk, lalu keheningan mengambil alih diantara kami.
namun suara wanita itu memecah keheningan diantara kami," hai kenalin aku almira, nama kamu siapa?" ia menjulurkan tangan dan tersenyum manis padaku, aku menerima uluran tangan itu, " fatin" ucapku singkat, almira lalu menganggukkan kepala.
"kau tau aku juga sepertimu, ketika aku sedang bersedih aku datang ketempat ini. hanya dengan memandangi danau ini rasa sedihku menghilang." aku hanya menyimak dia berbicara.
"kuberi tau padamu, bahwa tuhan selalu memberi cobaan sesuai dengan kemampuan orang itu." ia memberi jeda pada kalimatnya,
" aku dulunya bukan orang baik, aku adalah seorang pembunuh dimana aku membunuh saudariku hanya karena harta milik kelurgaku, aku hanya ingin menjadi pewaris satu satunya dan merebut kekasihnya, sungguh kejamkan? hahahaha aku memang bodoh." ia menghela napas.aku menatapnya seakan tak percaya apa yang ia ucapkan, wanita alim seperti dirinya mempunyai masalalu yang kelam? sungguh aku tak habis pikir akan hal itu, tetapi aku tetap setia menyimaknya.
" orang tuaku awalnya mengira bahwa saudariku mati karena kecelakaan, tapi itu bukan kecelakaan biasa dan akulah penyebab kecelakaan itu terjadi, awalnya baik baik saja kemudian...kekasih kakakku yang menjadi kekasihku tau akan kebusukanku, lalu aku dipenjara 5 tahun dan diasingkan ditempat terkecil selama 3 tahun" lalu ia melanjutkan ucapanya, aku sungguh terkejut akan masalalunya.
" ketika aku diasingkan aku mulai meratapi kesalahanku dan memperbaikinya? apakah Tuhan masih memberiku kesempatan dan memaafkan kesalahanku? jawabannya ya Tuhan membukakan pintu taubat untukku sehingga aku menjadi seperti ini, tapi" ia menjeda kalimatnya, terlihat ia menghapus air matanya, " orang tua ku tak menganggap aku anaknya lagi, aku dikelurkan dari KK dan diusir dari rumah, tapi aku tak membenci mereka aku malah mendoakan mereka selalu sehat dan bahagia. aku selalu mendatangi makam saudariku untuk meminta maaf padanya, dan menghadiainya Al Fatihah." ia tersenyum padaku, ternyata aku masih bukan apa apa dibandingkan dengan dirinya. aku memeluknya, mulai saat ini aku dan almira berteman aku menceritakan kisahku padanya mulai dari awal hingga akhir.
"apakah aku masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik?" tiba tiba kalimat itu meluncur mulus dibibirku.
"tentu fatin, percayalah Allah Maha Pemaaf dan akan selalu membukakan pintu taubat untuk umatnya." ia tersenyum manis. kami mengakhiri perbincangan dan mengantarkannya pulang.
kini aku sudah bertekat untuk menjadi lebih baik. aku pulang kerumah sudah mendapat kalimat kalimat dari mulut ayahku. dan itu mampu membuatku kembali sakit. aku mengunci kamar ku bubrah semua lemariku dan mencari pakaian yang panjang dan tertutup dan aku menemukannya. aku memakainya serta hijab dikepalaku, aku memang tak bisa memakai hijab tapi ini cukup untuk menutup auratku.
hari ini juga aku berniat datang kebar untuk mengurus pengunduran diriku. tak lama aku sudah sampai dibar.
aku masuk kedalam banyak sekali pasang mata yang menatapku seakan tak percaya, karena seorang wanita penghibur datang kebar dengan pakaian tertutup disertai hijab. sungguh aku seperti mempermalukan diriku. aku tak menghiraukan tatapan itu lalu berjalan menuju ruang menejerku. saat hendak keruangan menejer aku diberhentikan oleh teman penghiburku juga.
"whatt!! fatinn lo kok jadi kek gini sihh!!? omaygat lo udah insaf ha? hahaha geli akhh." ia seperti mengejek diriku, tapi aku hanya diam.
"hahaha...jadi lo udah jadu ukthi ukhti ha? liat dong lo itu cuma wanita murahan, wanita penghibur" ia menekan kata 'wanita penghibur' dan mampu membuatku kesal.
"apa salahnya jika aku menjadi lebih baik? setidaknya aku masih mengingat dosaku."
"haa? dosa lo bilang?heehh gue gak yakin sama lo, palingan cuma sehari doang terus langsung jadi wanita penghibur lagi kan?." ia terus mengejek diriku. aku tak mau tersulut emosi lagi dan langsung pergi meninggalkan mereka yang tertawa mengejek itu.
tok tok tok
aku masuk setelah dipersilahkan. dengan tampilanku yang sekarang membuat menejerku terkejut, "astaga fatin kah?" ucap menejerku linglung.
aku mengangguk lalu menjelaskan maksudku datang menemuinya malam ini.
"aku ingin keluar."
"haa? astaga kamu udah taubat ya?" menejerku tersenyum mengejek padaku. aku hanya bisa mengangguk, lalu ia memeberikan surat pengunduran diri.
aku pun pergi dari tempat itu.
pagi ini, aku ingin kemasjid secara aku ingin belajar sholat dan berwudhu. jujur aku lupa cara bersolat, aku sangat malu kepada anak kecil yang sering datang kemasjid untuk sholat. aku yang lebih tua ini bahkan lupa akan gerakan sholat.
setelah sampai di masjid ku edarkan pandanganku dan menemukan ustadzah lalu aku berbincang mengenai masalahku dan ia dengan senang hati membantuku. ia mengajarkanku wudhu dan gerakan sholat.
"alhamdulilah fatin kamu mau berubah demi orang tua mu, jujur aku sangat salut akan dirimu." ustadzah yang bernama zahra itu tersenyum.
"terima kasih zahra kau mau membantuku."
"tak masalah aku akan selalu membantu orang yang berada pada jalan Allah."
"amin amin.. terimakasih kembali."
hari sudah sore aku berniat untuk pulang. kubuka pintu rumah ku dan terlihat ayahku sudah berkacak pinggang sambil membawa cambuknya. tubuhku sudah gemetar ketakutan aku tak tau lagi harus apa, " wow, siapa ini." dengan tersenyum mengejek ayahku berjalan mendekat, aku hanya bisa mundur dan menunduk. tiba tiba ayah mencekram leherku kuat kuat, "dengan kamu berpakaian seperti ini mampu memberikanku uang berapa ha? kuperingatkan padamu fatin kau cukup berikan aku uang yang banyak untukku berjudi dan membayar hutang kau mengerti!." aku tersungkur ketika ayahku menghempaskan aku, ia menarik kerudungku kuat aku hanya bisa menangis dan teriak, "uhukk...uhukk...ahkkk cukup ayah..hiks jangan tarik kerudungku akhhh ayah hiks." aku terus memegangi kerudungku agar tidak lepas. sesak napas akibat cengkraman ayahku membuatku tambah tersiksa.
"kau pikir aku peduli ha!? dasar anak tak berguna!! pembawa sial!!" ceplass! ceplasss. ayahku terus mencambukku. 10 menit ayaku mencambukku terlihat wajahnya yang terengah engah dengan keringat didahinya. sedangkan darah punggungku mengalir deras perih sakit sungguh sakit.
aku berjalan sempoyongan kekamar, menangis tersedu sedu, bahkan aku sudah tak merasakan pedihnya punggungku, aku terus menangis dan menangis, apakah jalan menuju hijrah sesusah ini? harus dihalangi restu ayah.
aku mulai membersihkan luka ku yang kembali membuka. selesai kuobati luka aku berjalan kekamar mandi untuk mengambil wudhu. aku menggelar sajadah dan memakai mukena. aku mulai mekakukan ibadah sholat.
"Ya Allah ampuni dosa ayah dan ibuku, jadikanlah hamba anak yang penurut, dan jadikanlah hamba orang yang sabar untuk menghadapi sikap ayah, dan tuntunlah hamba kejalan yang benar. Ya Allah bukakan pintu hati ayah Ya Allah, Engkaulah yang Maha Membolak Balikkan Hati, hamba memohon ampunanmu Ya Allah...Amin...Amin" aku menangis diatas sajadahku, aku tak tau harus apa tapi yang kumau hanyalah ketengan hati, aku meminta padaNya untuk menenangkan hati.
*****
pagi ini aku berniat untuk mengunjungi rumah almira, karena sudah lama aku tak datang menemuinya. aku sudah melupakan rasa sedihku kemarin malam, dan aku juga sudah mengobati luka ku.
tibalah aku dirumah almira, Deg aku sempat terpaku, didepan rumahnya terdapat bendera kuning. dengan kaki yang bergetar aku masuk kedalam rumah yang sudah banyak orang. air mataku mengalir kalah melihat tubuh temanku terbujur kaku diruang tamu dengan banyak orang yang mengelilinginya. aku berlari dan memeluk almira aku menangis karena tak kuasa melihat dirinya, teman yang sudah membuatku bertekat untuk merubah diriku.
"hikss almiraa bangun hikss jangan tinggalin aku almira hikss kamu masih punya janji dengan diriku hiksss mana janji yang kau ucapkan hikss untuk melihatku berubah mana almira mana huaa hiksss." semua orang menatapku, karena memang mereka tak mengenal diriku, tiba tiba ada tangan seorang wanita yang menyentuh bahuku.
akupun menoleh, dan wanita paruh baya itu mengisyaratkan untuk berbicara diluar. kami telah sampai diluar, wanita itu menoleh dan memulai berbicara,
"siapakah dirimu nak? bagaimana kau bisa mengenal almira?" tanya wanita itu sedikit heran.
aku tersenyum manis sembari mengusap air mataku, "aku teman almira bu" wanita itu mengerutkan dahinya.
"teman? setau saya dia tak memiliki teman, dia hanyalah seorang pembunuh" aku tersentak mendengar ucapannya.
"bu kau tau almira sudah berubah, memang masalalunya sangat buruk bahkan kejam tapi, dia sungguh menyesali perbuatannya, ibu tau? dia selalu pergi kemakam saudarinya untuk meminta maaf dan selalu mendoakan ibu dan suami ibu." ibu almira terhenyak tapi ekspresinya kembali normal.
"hehhh apa kau percaya omongan seorang pembunuh? hanya karena harta ia buta." ujar ibu almira sinis.
"mantan pembunuhlah yang telah merubahku seperti ini. aku adalah seorang wanita penghibur wanita yang kotor dan memiliki ambisi mendapatkan uang yang banyak, tetapi suatu ketika aku dipertemukan dengan almira, dan almira lah yang membuat aku seperti ini, menjadi wanita yang lebih baik" ucapku sembari tersenyum hangat.
"tolong maafkan kesalahan almira bu, dia sudah benar benar bertaubat, ia sudah menyesali perbuatannya, Allah saja Yang Maha pemaaf mampu memaafkan hambanya sedangkan kita yang hanya makhluknya tidak mau memaafkan sesama makhluk?" ibu almira terdiam, lalu bulir bulir air membasahi pipinya ia menangis tersedu sedu, lalu aku memberanikan diri untuk memeluknya, wanita itu tak menolak malah memelukku dengan erat, seketika hatiku menjadi tenang pelukan seorang ibu yang hangat membuat diriku teringat akan sosok ibu kandungku.
*****
sekarang aku sudah sampai dirumah tempat yang kuanggap neraka, tapi anehnya rumah seperti terlihat sepi, dimanakah ayahku? atau jangan jangan terjadi masalah? dengan segera aku menuju kamar ayahku. tetapi aku terdiam ditempat melihat pandangan yang tak biasa. air mataku kembali mengalir tersirat rasa bahagia, apakah ini jalanku yang baru ya Allah?
"Allahu Akbar" suara takbirotul ihrom yang diucapkan ayahku membuatku terduduk, aku menangis meringkuk kaki didepan tembok kamar ayahku, mendengarkan ia sedang beribadah.
"Ya Allah ampunilah dosa hamba dan anak hamba Ya Allah, hamba khilaf Ya Allah, hanya karena diringgal orang yang hamba sangat cintai hamba malah menjadi orang yang buruk, bahkan anak hamba yang tak tau apa apa menjadi pelampiasan hamba Ya Allah, Ya Allah pantaskah hamba mendapat maaf? apakah hamba masih bisa menjadi ayah yang baik Ya Allah? hamba bersungguh sungguh untuk bertaubat, hamba ingin menjadi ayah yang baik Ya Allah...Aminn...Aminn.." suara serak tangis ayahku membuat hatiku sakit, aku tak menyangka ayahku juga ingin bertaubat.
krekkk, suara pintu kamar dibuka wajah sembab ayaku melihat diriku dengan sendu,ia tersenyum lalu menelukku dengan erat ayah selalu mengucapkan kata 'maaf' aku menangis dipelukan ayahku.
"maafkan ayah fatin, maaf karena ayah dirimu harus menjadi pelampiasan hiks"
"hiks tidak ayah, aku juga salah maafkan aku ayah maaf hikss" kami saling melepas rasa sesak didada.
*****
"selamat tinggal kota, dimana masalaluku ada disini, dan pertemuanku dengan almira, selamat tinggal almira dan semua kenangan buruk yang ada." batinku sembari menggeledek koper.
"sudah?"
"sudah ayah." aku tersenyum manis pada ayah. lalu kami masuk kemobil, dan ayah melajukan mobil.
"lupakan masalalu fatin." aku hanya tersenyum manis dan melihat luar jendela mobil.
~TAMAT~
"jangan kenang masalalu, tapi jadikan masalalu sebagai pelajaran untuk menjalani hidup barumu"
fatin