Pulang……
BAGIAN SATU
Panas kota palembang seperti tak mampu menghentikan aktivitas penduduknya, kalaupun ada yang beristirahat itupun cuma sejenak selanjutnya mereka kembali berkutat dengan rutinitas masing-masing.
Seperti hari ini, kerjaan kantor yang menumpuk ditambah cuaca kota palembang yang panasnya minta ampun membuatku enggan untuk melanjutkan kerjaan, heran juga kenapa AC dikantor ini seolah tak mampu menahan panasnya cuaca diluar. Kulirik mini kalender di komputerku, 24 Oktober 2008, Huh! Wajar palembang panas musim kemarau telah tiba.Kalau sudah musim kemarau begini jujur aku malah lebih senang mudik ke kotaku yang cuma menempuh waktu kurang lebih 4 jam
Berendam di air jernih yang mengalir lembut di belakang rumahku.
Wuuuhh….. brnar-benar pengalaman yang menyenangkan, tapi demi masa depan dan penghidupan yang lebih baik ( ? ) kutinggalkan semua itu, hidup musti berjalan, dan ga mungkinlah aku menghabiskan waktuku hanya untuk bersenang-senang. Baru beberapa menit aku beranjak dari meja kerjaku, N73 ku berbunyi.
‘Cuy, gek siang balek ke baturajo..kujemput t4 biaso..’
Sms dari Fikri, sahabatku yang sama-sama merantau ke kota palembang, kalau aku kebetulan dapat kerja sebagai accounting di sebuah perusahaan swasta, Fikri malah jadi Dosen di perguruan tinggi palembang.
‘Auuuu…’
Kubalas smsnya dengan cepat. Ah..akhirnya pulang juga ke kota kelahiranku, memang sudah hampir 2 bulan ini aku tak sempat mudik, kerjaan yang menumpuk, di tambah tugas meretrain anak baru benar-benar menyita waktuku.
Tugasku sekarang cuma menyelesaikan sedikit laporan pertanggal 28 Oktober, membuat memo untuk awal bulan, dan laporan bulanan ke pak Johan, atasanku. Setealah itu selesai sudah semua tugasku.
Kebetulan ini hari sabtu, weekend yang tepat untuk mudik, he.he.he.
######
Fikri sudah menunggu di lorong depan kostanku dengan Tigernya.Tak banyak yang kubawa sebagai oleh-oleh hari itu, tasku Cuma ku isi dengan beberapa helai pakaian, air mineral, dan sedikit makanan kecil untuk Davina, keponakanku yang baru masuk TK tahun ini. Sudah bisa kubayangkan betapa gembiranya dia saat aku tiba di rumah nanti.
Sebenarnya aku juga bisa membawa motorku untuk pulang bareng Fikri, tetapi menginngat betapa efisiennya bila pulang bareng dia, hemat tenaga, hemat uang, hemat bensin….siapa yang nolak???
Aku biasanya Cuma tertawa dalam hati, jika mulut fikri manyun, karena terpaksa membawa motor, seperti sekarang ini, wajahnya sudah penuh dengan kerutan ketika aku melangkah menghampirinya.
“ Go!! Waktu kita sempit cuy…” sapaku sebelum dia memulai pembicaraan
“ Go! Go! Mbahmu! Ingat perjanjian ya? Tiap 2 jam sekali gantian bawa motor…”
“ Siap bos!!” jawabku cengengesan
Tak butuh waktu lama untuk meninggalkan kost ku, setengah jam berikutnya kami sudah meninggalkan kota palembang.wuihhh……panas minta ampun, untung semua perlengkapan telah siap di tasku, mulai dari saputangan, kacamata hitam, sarungtangan.
Pukul 14.15 menit kami sudah dijalan lintas menuju kota baturaja, keahlian Fikri membawa motor memang patut diacungi jempol, begitu lihainya dia menyelinap diantara barisan truk-truk maupun bus-bus besar.
“ada cewek di depan!!!” jerit fikri tiba-tiba
“Wats!!!” Kagetku tak kepalang tanggung, motor yang mengerem tiba-tiba membuat helmku beradu cukup keras dengan helm Fikri.
Tak memperdulikan betapa jengkelnya aku dengan tingkahnya barusan, Fikri melambatkan laju sepeda motornya.Menjejeri sebuah sepeda motor disampingnya.
Kulirik kesamping.
Ahhh…Sebuah senyuman manis, dengan alis hitam dipadu kerudung berwarna biru muda, menyambut lirikanku.Mungkin karena posisi kami sama-sama di belakang mau tak mau ku balas senyumannya.
Disamping kami, mengendarai Yamaha mio berwarna hitam, duduk berboncengan dua orang gadis, kutaksir dari penampilannya kedua gadis itu tak jauh berbeda umurnya dengan kami. Yang mengendarari motor sepertinya kurang senang dengan tingkah Fikri yang menjejerinya, perlahan dia menurunkan laju sepeda motornya. Aku tersenyum, ingin tahu apa yang akan dilakukan Fikri, namun tatapanku masih bertukar senyum dengan gadis berkerudung biru dibelakang.
Fikri bukannya mendahului, malah dia semakin memperlambat laju sepeda motornya.
“ Apaan sih?” Gadis yang didepan, menggerutu seraya menoleh dengan sinis kearah kami
Dalam jarak sedekat itu, sikerudung biru masih menebar senyum manisnya kearahku ( atau kearah Fikri?) dapat kulihat betapa putih wajahnya, ada butiran keringat yang berkumpul didahinya, memang cuaca sedemikian panas saat itu.
“ Ae cewek…mau kemana?” Sapa Fikri, menggoda gadis didepan
Bukannya menjawab, Si gadis malah membuka kaca helmnya, rambutnya panjangnya berkibar-kibar ditiup angin, Wehhh aku baru sadar kalo rambutnya dicat warna pirang, memakai jaket hijau ketat, sepadan dengan celana jeans ketat juga..
“ Mau apa???” Bentaknya
“ Weh galak bener..” jawab Fikri cengengesan
Kalau dilihat penampilannya sepertinnya dua orang gadis itu memiliki perbedaan yang sangat kontras, gadis didepan dengan dandanan yang serba ketat dan warna yang sangat mencolok sementara dibelakangnya duduk dengan anggun seorang gadis dengan dandanan yang sangat santun.
Terkadang aku jadi berpikir sendiri, aku yakin sekali orang-orang seperti gadis yang membawa motor itu pasti mengerti dan paham akan batasan-batasan berdandan seorang wanita yang baik, Cuma kebanyakan banyak yang tahu tetapi pura-pura tidak tahu, malah banyak katanya mau ikut syariaat nabi, memakai jilbab tetapi ketatnya bak ketupat…persis sperti ketupat.
Yahhh lagi-lagi pendapat yang diwujudkan dengan salah kaprah.
“Berdua aja ne..” gombal fikri terus selanjutnya.
Bukannya menjawab, Gadis yang disapa malah melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil xenia didepan kami.Si kerudung biru kaget sekali, hampir saja ia terlonjak kebelakang.
Dari jauh kuperhatikan kerudung biru menepuk-nepuk pundak gadis berbaju ketat didepannya, entah apa yang mereka bicarakan.
Fikri tertawa ngakak, aku bingung apanya yang lucu dengan kejadiaan itu?
Keisengan Fikri bukannya reda sampai disitu, dia malah melaju kencang mengejar 2 gadis tadi, tak butuh waktu lima menit kami kembali sudah beriringan bahkan kembali berjejer lagi.
Dan sepertinya gadis berbaju ketat sudah mulai agak sedikit lunak bahkan terkesan cuek dengan kami, mengendarai motor seolah-olah tidak ada orang lain disana. Sikerudung biru kembali beradu pandang denganku!!!
Ahhhhhhhhhhhhhh…..!!!!!!!!! ada apa dengan mata itu? Sepasang mata indah di naungi alis hitam yang tebal benar-benar menghipnotisku saat itu. Mata itu mengingatkanku pada Rossa, Cewek paling cantik dikampusku dulu.Entahlah… aku paling tak bisa berkutik bila berhadapan dengan sosok mahluk bernama cewek dengan mata indah di naungi alis yang tebal. Jantungku serasa berhenti berdetak jika selalu berdekatan dengan Rossa, sayangnya Rossa tak pernah tahu bagaimana perasaaanku kepadanya. Akupun lebih memilih memendam sukaku daripada mengatakannya, intinya aku takut kecewa, takut gagal dan takut di tolak….
Waktu itu aku lebih memilh menjadi pemuja rahasia Rossa, hingga selesai semua studyku..
Tetapi sepertinya Rossa berbeda dengan kerudung biru ini ( ops, aku lebih suka memanggilnya kerudung biru karena jelas aku belum tahu namanya ) Yang paling jelas perbedaaannya adalah Rossa tidak memakai jilbab seperti gadis dihadapanku, dan itulah yang benar benar menarik perhatianku….
Tiba –tiba Fikri menghentikan laju motornya
“sebentar, ada yang nelpon..” ucapnya kemudian, seraya menepikan motornya kepinggir jalan
Ku perhatikan kembali kedua gadis yang kami jejeri tadi, gadis berbaju ketat sepertinya bahagia sekali melihat kami berhenti dan menepi kepinggir jalan, terlihat betapa antusiasnya dia menjalankan sepeda motornya, Sikerudung biru kembali tersenyum, untuk seperkian detik kembali kami beradu pandang.
Ahhhhhh…..ada yang bersorak di hatiku saat itu, kerudung biru menganggukkan kepalanya, kubalas senyum dan anggukannya dengan cepat.Tiba tiba terselip sebuah doa dihatiku “semoga kita ketemu lagi”
Yamaha Mio itu pun melaju sebelum akhirnya hilang di sebuah tikungan kecil..
Masih kuperhatikan jalan itu…
“ Woyyy….turun dari motor!!!” ucap fikri tiba-tiba
Aku tergagu sesaat sebelum akhirnya turun dari motor, Fikri melangkah kearah sebatang pohon rindang, mengambil hpnya yang sedari tadi menjerit-jerit!
“Iya sayang, ini lagi dijalan…..” ucapnya kemudian
Heh! Sayang manalagi tuh pikirku, entah berapa banyak kekasih dosen muda pengajar mata kuliah psikologi ini, aku tak bisa memastikan apa Dian, Siska, atau Ranti yang di sayang-sayanginya kali ini.
Ah kurang kerjaan benar kalo nguping pembicaraan Fikri dan ‘sayang’nya, lagian Fikri juga sudah diposisi tidak bisa di sadap pembicaraannya, terlalu jauh dari jangkauan he.he.he.
Kukeluarkan air mineral dari tasku, kuteguk dan kunikmati segarnya karunia Allah ini, sambil mempehatikan beberapa kendaraaan yang lalu lalang.
Selang limabelas menit kemudian, Fikri selesai dengan kegiatannya, melangkah dengan sumringah kearahku.
“ngapain cengar-cengir?” ucapku
“Bro, ntar malam aku bakal jalan bareng Linda….Asyikkkk!!!”
“Linda? Budak mano? Cak namo kucing aku “ejekku
“ha..ha..ha..si jomblo lagi sirik!” balasnya
Tak kudengar ejekannya, Fikri keburu melemparkan kunci motornya kearahku, itu tandanya giliranku sekarang yang membawa motor, hmmmm kesempatan pikirku, aku jadi bisa mengejar Kerudung biru tadi, entah kenapa ejekan Fikri dan senyuman Kerudung biru tadi benar-benat tak bisa lepas dari ingatanku.
Kami melanjutkan kembali perjalanan, sepuluh menit berjalan tak ada tanda-tanda kalau kedua gadis tadi ada didepan kami.
Hingga..
Tepat 200 meter didepan kami, ada keramaian…Deg! Jantungku berdetak aneh, ada perasaan yang luar biasa tak enak menyelinap di hatiku.
Ku hentikan motorku, tak kupedulikan cekalan tangan Fikri yang mencoba menahanku untuk tidak mendekati keramaian itu.
Ya Allah!!!! Lututku lemas sudah, dari sela-sela orang-orang yang berdiri itu kulihat Yamaha Mio yang sudah tidak berbentuk lagi, ringsek di sana-sini.
Setengah berlari aku mendekati keramaian itu, Tubuhku bergetar, jantungku berdetak sangat cepat, apa yang kutakutkan menjadi kenyataan.
Tak jauh dari Yamaha mio hitam yang rusak tak berbentuk itu terkapar sesosok cewek dengan kondisi yang sangat menyedihkan, darah dimana-mana, pakaiannya yang memang sudah sedemikian minim semakin tak berbentuk bahkan nyaris telanjang, ada beberapa luka yang sangat parah, melihat keadaannyang seperti itu aku bisa memastikan gadis berbaju ketat itu sudah tidak bernyawa lagi, innalillahi wa inna illahirojiun!
Beberapa orang menutupi tubuh gadis itu seadanya dengan Koran, kupejamkan mataku sesaat.
Kerumunan itu semakin ramai, tak kutemukan Fikri di sana, aku masih berdiri lemas melihat semua kejadian itu, entahlah kita memang tidak pernah tahu kapan tuhan akan memanggil kita, seandainya saja tuhan mau menginformasikan kepada gadis berbaju ketat itu bahwa dia akan menemui ajalnya siang ini, mungkin sekali gadis berbaju ketat itu tidak akan dijalan seperti ini, pasti dia telah bersiap-siap dirumahnya, pamit kepada orangtuanya, sanak keluarga, teman-temannya, memperbanyak amal salihnya, dan pasti tidak akan pernah mengenakan baju seketat itu..
“ Tolong!Temannya masih bernafas!!!” tiba –tiba ada yang berseru di sisi kanan kami
Aku bergerak laksana kilat kearah suara, Kudapati Sikerudung biru mulai siuman, dibantu beberapa wanita yang ada disana, dia didudukan, pandanganya masih nanar melihat sekelilingnya, ada darah yang mengucur disela-sela kerudung birunya, Masya Allah keadaan gadis ini berbeda sekali dengan temannay yang berbaju ketat, tak satupun dari pakaian gadis ini yang robek atau terbuka.
Pandangannya membentur pandanganku, mulut sikerudung biru terbuka hendak mengatakan sesuatu, bukan kata-kata yang keluar tetapi batuk kecil yang disertai muntahan darah segar, reflek aku berjongkok menahan tubuhnya yang mulai limbung jatuh ketanah.
“Ya Allah, maafkan aku menyentuhnya yang bukan muhrimku..” doaku dalam hati, ketika menyentuh lengannya baru kusadari ada luka lebar yang menganga dilengannya, Kubuka jaketku, beruntung waktu itu aku tidak memakai jaket kulit, korobek beberapa bagian jaketku sebelum akhirnya kulilitkan kearah luka yang menganga itu, menahan agar rembesan darah berhenti keluar.
Mulutnya kembali membuka, seperti hendak mengatakan sesuatu, namun cepat kutahan agar dia tidak bersuara,
“ Ya Allah, dia kembali tersenyum kepadaku..”ucapku dalam hati, senyumnya kali ini begitu indah
Sayang senyum itu sirna ketika perlahan dia menutup matanya, Panik muncul tiba-tiba
“ Apa yang kalian tonton!!!!! Cepat bawa dia ke mobil!! Mana rumah sakit terdekat!!!!”
teriakku kalap.
“ Dia cuma pingsan mas” satu suara ibu-ibu menenangkanku
“Rio apa-apaan? Gadis itu istri kamu apa?” tiba-tiba Fikri sudah ada disebelahku, berbisik perlahan, aku terkejut, benar-benar terkejut baru sadar akan lingkungan sekitar dan siapa aku. Kutundukkan Kepala sambil melihat beberapa yang mengangkat tubuh gadis berbaju ketat ke mobil ambulans yang telah datang.
Aku berdiri, Fikri masih disampingku, mencekal tanganku dengan erat, takut kalau-kalau aku berbuat sesuatu yang lebih aneh lagi.
Tubuh sikerudung biru sudah diangkat juga ke mobil ambulans, ikatan jaketku dilengannya masih tetap terpasang, aku Cuma berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Kuperhatikan mobil ambulans yang mulai bergerak perlahan meninggalkan tempat naas itu.
Fikri mengambil kunci motor dari tanganku, menyeretku untuk segera meninggalkan tempat itu, Aku tahu sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin diajukan Fikri kepadaku selama perjalanana itu, namun melihat bahwa aku kelihatan lebih banyak diam, Fikri memilih diam juga, Perjalanan pulang kebaturaja sore itu di isi Cuma dengan pikiran kami masing-masing.
BAGIAN DUA
Malam ini tepat malam kedua aku liburan di rumahku, kejadian dijalan lintas itu telah lupa dari ingatanku. Besok aku harus kembali ke palembang jatah weekend sudah habis, aku tak mau, pak johan menyambutku dengan muka masam lantaran aku besok telat datang kekantor.
Semua orang pada ngumpul di rumah mang Junai, adik mama yang baru saja merenovasi rumah barunya, jadi ada syukuran kecil dirumahnya, semua pada kesana, tadinya aku memang berminat gabung tapi mengingat besok aku akan jalan lagi ke palembang terpaksa ku batalkan.
Pukul 21.00 belum ada yang pulang, kesal juga nungguin rumah sendirian, mau nonton tv acaranya dangdut semua, ah..kumatikan televisi mending tidur aja. Baru saja aku mau beranjak ke kamar, bunyi kendaaraan tiba-tiba berhenti didepan rumah, tak lama bel pun berbunyi.
“assalamuallaikum…” satu suara perempuan terdengar
“Waallaikum salam…” jawabku,” pasti bukan mbak anya,yang datang soalnya suaranya ga semerdu suara ini”pikrku
Bergegas aku kedepan.
Dihadapanku berdiri seorang gadis semampai. Dengan jilbab putih lebar menutupi bahunya, menatap kearahku dengan malu-malu.
“ kkkkamu…” ucapku gagap
“ aku Alifa, masih ingat?” ucapnya kemudian
“ iya, iya jawabku kagok, tanganmu sudah sembuh?” tanyaku canggung, senyumnya yang khas dengan alis hitam yang lebat tak kan pernah bisa kulupakan
“ Alhamduliliah, rumahmu mudah di cari ya Rio, sepertinya semua orang kenal dengan kamu “
“ Ah Cuma kebetulan aja, memang sama siapa nyarinya?”
“ Kebetulan ada temenku juga tinggal disini, jadi sekalian minta anter kerumah kamu”
“owh, kenapa ga diajak masuk? Ops lupa silahkan duduk dulu “
“ Terima kasih, aku ga punya waktu banyak, terima kasih jaketnya, maaf kalo jahitannya jelek” ucapnya seraya menyodorkan sebuah bungkusan kearahku.
“ lho? Kok di balikin? “ tanyaku heran
“ Kan kalo kita meminjam sesuatu harus secepatnya di kembalikan “ ucapnya lagi dengan senyum yang benar-benar membuat degup aneh didadaku
Aku Cuma tersenyum, bingung mau ngomong apa lagi
“ Ehm itu aja ya, maaf kalo sudah ngerepotin kamu…”
“ Biasa aja, eh mau kemana? “ kataku saat melihat dia hendak berbalik
“ Ga enak sama temen, ntar kelamaan dia nunggu di mobil..” jawab Alifa sambil melangkah kecil keluar daru teras, wangi farfum yang di pakainya benar- benar membuat semerbak tempat itu, aku sepertinya belum pernah mencium wangi seperti itu.
Ku ikuti langkahnya hingga ke pintu pagar, sebelum naik ke dalam mobil, Alifa berbalik sebentar, jilbab lebarnya berkibar tertiup angin malam
“ Rio..Sekali lagi makasih ya, jangan lupa kalo ke Palembang lagi mampir ke rumahku..” ucapnya pelan
“ Insya Allah, alamatnya dimana..?”
“ Prabumulih, jalan mawar no.32a,…”
“ Insya Allah, Hati-hati dijalan..” ucapku sambil melirik kedalam mobil, ada dua orang perempuan yang usianya sama dengan Alifa duduk didepan, keduanya memakai jilbab putih, cantik cantik sekali, keduanya tersenyum kubalas dengan senyuman juga.
“ Assalamuallaikum warohmatulahiwabarokatuh…” ucap Alifa seraya menyusun kesepuluh jarinya didepan dada
“ Waalaikumsalam warohhmatullahiwabarokatuh..” jawabku dengan gerakan yang sama
Alifa membuka pintu mobil, sesaat masih terlihat senyum manisnya sebelum kaca mobil menutup perlahan. Aku mengangguk, membiarkan mobil itu melaju perlahan meninggalkan rumahku.
Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang saat itu, tapi entah apa, yang ingin kulakukan adalah cepat-cepat tidur hingga besok masih punya waktu untuk mampir di rumah Alifa.
BAGIAN TIGA
Bukan hal mudah mencari rumah Alifa, sudah hampir setengah jam aku dan Fikri keliling kota Prabumulih, tak satu pun ketemu. Setelah hampir putus asa akhirnya rumah yang kami cari ketemu juga.
Rumah mungil berwarna hijau dengan dua pohon lenkeng didepannya itu tampak asri, namun sepertinya kedatangan kami kurang tepat waktunya. Karena sepertinya banyak sekali orang-orang yang berkumpul diterasnya.
Melihat kami yang celangak-celinguk didepan rumah, seorang ibu mendatangi kami, ibu itu anggun sekali, jilbabnya berwarna hijau muda sangat serasi dengan busananya.
“ Ada apa nak, ada yang bisa saya Bantu…?’” tanyanya kemudian
“ Maaf bu kami mencari rumah teman, Ibu kenal Alifa? Alamatnya jalan mawar no.32a..” jawabku sopan
“ Alifa? Benar ini rumahnya, anak berdua siapanya Alifa?” Tanya ibu itu terbata-bata
Aku dan Fikri berpandangan sebentar, bingung mau jawab apa
“ Kami berdua temannya dari Baturaja, semalam Alifa main kerumah saya dengan teman-temannya..” jawabku jujur
“ Apa????” suara ibu itu tercekat
Orang-orang yang berada disana, melihat perubahan sikap ibu itu mulai mendekati kami
“ Tidak mungkin!!! Tidak mungkin!!” ucap ibu itu dengan suara terputus-putus, air matanya tiba-tiba jatuh berderai
“Alifaa…Alifaaa….” Ucap ibu itu dengan terisak-isak hebat, ibu-ibu yang ada disekitar sana mencoba menenangakan. Yang terjadinya akhirnya ibu itu jatuh pingsan, beruntung semua orang sigap menggotong tubuh ibu itu kedalam ruangan.
Aku dan Fikri termangu dan saling berpandangan heran, sesaat kemudian seorang lelaki separuh baya menghampiri kami, ada gurat kesedihan yang masih membayang diwajahnya.
“ Ibu Alifa nampaknya masih belum siap menerima kenyaataan ini..” ucapnya sambil menatap kami sayu
“ Maksud bapak? “ Tanya fikri perlahan
“ Alifa sudah 2 hari meninggal karena kecelakaan…”
Ucapan berikutnya dari bapak itu seperti bergaung ditelingaku, dan perlahan-lahan menjauh, menjauh dan menjauh…
Dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
***
Selesai di Martapura
Jum’at Oktober 2008