"Woi, Sarah, cepetan!, aku tinggal ni." Teriak Dikky sambil masuk kedalam mobil.
"Iya bawel, udah ayo berangkat." Kata Sarah saat masuk mobil.
Dikky dan Sarah adalah pasangan suami-istri baru yang terpaksa. Kenapa? Karena mereka tanpa sengaja terjebak di dalam rumah kosong di desa terpencil. Keduanya terjebak di sana sampai malam hari dan kemudian mereka ditemukan oleh orang desa yang sedang ronda.
"Pak, tolong kami, kami terjebak di dalam sini." Teriak Dikky sambil memukul jendela rumah kosong
"Wit, kok ada suara orang minta tolong ya?" tanya Dadang sambil melihat ke sana kemari.
"Mana aku ndak denger? kamu halusinasi kali inikan malam Jum'at." Ejek Wiwit.
"Beneran, Wit, arahnya dari rumah kosong itu lho." Kata Dadang sambil menunjuk ke rah rumah kosong
Wiwit mulai penasaran dengan hal itu akhirnya ia pun mengajak Dadang ke rumah kosong "Ya udah Dang, ayo kita cek dulu."
Akhirnya mereka mendekat ke rumah kosong itu dan menemukan Dikky dan Sarah.
"Hei, apa yang kalian lakukan di rumah kosong malam-malam begini?" tanya Wiwit mengarahkan senternya ke rumah kosong tepatnya di muka Dikky
"Kami terjebak di dalam sini pak, tolong kami." Pinta Dikky.
"Terjebak? Lalu kenapa gadis itu berpakaian terbuka dan kau tidak pakai baju?" tanya Dadang sinis.
"Itu, karena baju kami basah kena hujan tadi pagi." Jelas Dikky dengan gugup.
"Baiklah kami percaya, tapi kalian harus ikut bersama kami terlebih dahulu." Kata Wiwit sambil membuka pintu rumah kosong itu.
Mereka langsung menuju ke arahnya rumah Kepala desa. Dikky dan Sarah hanya bisa pasrah mengikuti kedua orang yang menyelamatkan mereka.
Sampailah di rumah Kepala desa. Mereka tidak langsung disuruh masuk tapi malah disuruh menunggu di luar. Wiwit masuk kedalam rumah Kepala desa dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Begitulah ceritanya, pak." Kata Wiwit berdiri didepan kepala desa.
"Baiklah aku paham, bawa mereka masuk dan tolong panggil pak Murat kemari." Perintah kepala desa.
Di saat yang sama, di luar rumah kepala desa. Dadang terus menggoda Dikky dengan bahasa fulgarnya. Terlebih lagi dia seorang pemuda yang belum menikah.
"Hei, bagaimana rasanya? enak?" tanya Dadang dengan nada rendah.
"Rasa apa? Apa yang enak?" tanya balik Dikky dengan polosnya.
"Hee, jangan pura-puralah, ayolah ceritakan padaku pengalamanmu bermain." Pinta Dadang dengan senyuman yang menggelikan.
"Bermain? Oh, seru, rasanya aku bebas dan bisa menemukan dunia baru." Jelas Dikky semangat.
"Benarkah?" Seru Dadang semangat ketika mendengarkan penjelasan Dikky.
"Benar, cobalah nanti kau akan merasakan apa yang aku rasakan." Kata Dikky dengan bangga.
"Hmm, baiklah akan aku coba nanti kalau sudah menikah." Jawab Dadang penuh kepercayaan.
Dalam hati Dikky, ia bertanya-tanya 'nikah? apa hubungannya dengan menjelajah hutan? ah, mungkin ia ingin menjelajah bersama istrinya mungkin' ucap Dikky dalam hati sambil mengangkat kedua bahunya.
Tidak lama kemudian Wiwit keluar dari dalam rumah Kepala desa. Lalu ia menghampiri Dadang dan membisikkan sesuatu.
"Baiklah, akan segera aku panggilkan." Kata Dadang dan berlari pergi entah kemana.
"Lalu untuk kalian berdua silahkan masuk." Kata Wiwit dan langsung berjalan kedalam rumah kembali.
Dikky dan Sarah pun akhirnya mengikutinya dari belakang. Di dalam mereka di suguhi teh hangat sambil menunggu kepala desa keluar. Tidak lama kemudian Kepala desanya keluar
"Sebelumnya, saya mau menjelaskan sedikit masalah yang akan kalian hadapi." Jelas Kepala desa sambil duduk.
Setelah Kepala desa mengatakan itu, suasana menjadi hening. Hawa dingin menusuk, dan terasa banyak tatapan mata yang menuju ke arah mereka.
"Masalah? apakah kami melanggar peraturan desa ini dan arwah leluhur marah?" tanya Sarah memecah keheningan.
"Eh?" dalam hati kepala desa 'ini anak kebanyakan nonton horor kali ya?' sambil meminum teh untuk memecah rasa ingin tertawanya "Ah, bukan begitu maksudnya, nak, tapi kalian akan di nikahkan malam ini juga," kata kepala desa setelah meminum tehnya "Dang, tolong ambilkan gula, ini tehnya pahit banget." Kata Kepala desa.
Ketika kepala desa mengatakan Dikky dan Sarah akan di nikahkan malam ini juga. Bagaikan di dalam ruangan yang sunyi tiba-tiba ada yang kentut.
"Maaf, pak, bisa bapak jelaskan apa maksudnya?" tanya Dikky.
Kepala desa menjelaskan secara perlahan dan berputar-putar membuat mereka tambah pusing. Oleh karena itu akhirnya di gantikan Dadang yang menjelaskan masalah tersebut.
Di desa terpencil itu ada aturan tidak tertulis yaitu apabila ada sepasang laki-laki dan perempuan di malam hari di tempat sepi maka mereka akan di nikahkan saat itu juga.
"Tapi pak, saya masih punya orang tua, masih punya ayah, jadi tidak mungkin kami bisa menikah tanpa ada persetujuan dari mereka." Alasan Sarah untuk menolak peraturan tersebut.
"Untuk itu jangan khawatir, bisa tolong kamu telpon ayahmu?" tanya Kepala desa.
"Maaf tapi saya tidak punya pusla." Kata Sarah.
"Kalau begitu telpon lewat whatsap, jangan bilang kamu tidak punya paket juga." Ejek Kepala desa dengan senyuman mengejek pula.
"Ahaha, tapi memang begitu kenyataannya." Balas Sarah dengan tertawa janggung.
"Dasar anak muda, henpon saja yang bagus tapi ternyata miskuen, sini pakai wifi saya saja." Ejek Kepala desa dengan nada merendahkan.
'Dih, kampret ini orang, cuma ngeles juga malah di hina.' dalam hati Sarah terus memaki Kepala desa.
Kemudian Sarah pun menelpon ayahnya. Setelah berbicara sebentar handphonenya di minta oleh Kepala desa. Kepala desa dan ayah Sarah berbicara panjang kali lebar di luar ruangan. Inti percakapan mereka adalah menjelaskan kondisi yang sedang terjadi.
Penjelasan yang di berikan oleh Kepala desa bisa di mengerti oleh ayah Sarah dan menyetujui pernikahan tersebut bahkan ia yang menikahkan mereka lewat video call.
Malam itu merupakan malam paling bersejarah bari Dikky dan Sarah yang tidak akan pernah mereka lupakan.
[2 bulan kemudian]
"Dikky, kamu gak ada niatan menceraikanku?" tanya Sarah sambil menonton TV di samping Dikky.
"Jaga ucapanmu, aku sudah berjanji kepada kedua orang tuamu dan orang tuaku untuk tidak akan pernah menceraikanmu apapun alasannya." Jelas Dikky sambil makan popcorn.
"Memangnya kamu gak punya seseorang yang kamu suka?" tanya Sarah sambil mempersiapkan diri apapun jawaban Dikky nantinya.
"Ada, orang itu sangat tidak peka walaupun berapa kali pun aku terang-terangan menyatakan perasaanku, tapi, walaupun begitu aku tetap menyukainya." Jelas Dikky sambil terus makan popcorn dan nonton film di TV.
"Begitu, ya." Entah kenapa tiba-tiba hati Sarah terasa sakit.
"Dan kamu sendiri? Apa kamu suka punya seseorang yang kamu suka?" tanya Dikky menengok ke arah Sarah.
"Ada, dia keren, pinter main basket, suka bantu orang lain, walaupun gak ganteng-ganteng banget sih, tapi aku suka, yah, walaupun aku tidak tahu dia suka dengan ku juga atau tidak." Jelas Sarah sambil melihat ke atas seolah membayangkan orang itu.
Keduanya pun akhirnya saling diam dan menonton film. Waktu berlalu begitu lambat malam itu. Keduanya sama-sama pergi di dunianya masing-masing. Akhirnya filmnya yang menonton kisah mereka.
[3 bulan kemudian]
Dikky dan Sarah sekali lagi menjelajah hutan yang 5 bulan lalu menjadi tempat mereka menikah.
"Sar, kamu yakin mau ke sana lagi?" tanya Dikky terus mengemudi.
"Ya, ada yang ingin aku pastikan disana." Jelas Sarah melihat-lihat jalanan yang mereka lewati.
Perjalanan mereka lancar bahkan bisa di sebut tanpa hambatan sama sekali. Perjalanan mereka tempuh sekitar 5 jam karena jaraknya memang sangat jauh dari mereka tinggal. Setelah mereka sampai, mereka menyiapkan perbekalan dan masuk hutan yang dulu pernah mereka lewati.
Di dalam hutan, hubungan mereka semakin merekat. Saling menolong bahkan Dikky sering menggendong Sarah apabila ia sudah merasa kelelahan.
Sebenarnya tujuan Sarah adalah kembali ke desa terpencil yang membuatnya dan Dikky menjadi terikat benang yang tak terlihat.
Sekitar 5 jam perjalanan yang mereka tempuh. Berjalan kaki di dalam hutan membuat keduanya sama-sama kelelahan dan akhirnya mereka pun sampai ke tujuan yaitu desa kecil di dalam hutan.
Warga desa itu terkejut ketika melihat mereka kembali lagi ke desa itu setelah semua yang mereka alami ketika mereka ada disana. Semua bertanya-tanya apa yang membuat mereka datang berkunjung bahkan Kepala desa pun mempertanyakan hal tersebut. Menjawab semua pertanyaan itu Dikky dan Sarah membuat alasan mereka berkunjung ke sana adalah sedang berpetualang di hutan dekat desa itu jadi mereka mampir untuk menginap di sana dari pada harus tidur di tengah hutan.
Keesokan harinya, mereka berbaur dengan warga desa. Bercanda dengan anak kecil bahkan bermain. Ketika sudah menjelang siang keduanya kembali ke rumah Kepala desa.
Dikky dan Kepala desa saling berbagi cerita. Dari cerita Kepala desa, Dikky mengetahui bahwa di dekat desa itu ada bukit yang bernama bukit senja. Konon katanya, apabila seseorang menyatakan perasaannya pada orang yang ia suka, maka kemungkinan diterima akan lebih besar dan apabila datang di sore menjelang malam suasana di sana akan sangat romantis dan cocok untuk menyatakan perasaan.
Setelah membulatkan tekad Dikky mengajak Sarah ke bukit itu. Di sana mereka sampai matahari masih tinggi jadi mereka membuat tenda untuk menunggu terbenamnya matahari.
Waktu berlalu dengan cepat. Waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan perasaan yang campur aduk Dikky menyatakan perasaannya.
"Sarah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, selama ini aku sangat men- mencintaimu, aku sadar aku banyak kekurangan, tidak bisa romantis, selalu dingin terhadapmu, tapi aku harap kamu menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki." Kata Dikky dengan menatap mata Sarah.
Perasaan Sarah menjadi sangat-sangat bahagia. Perkataan yang ia tunggu-tunggu akhirnya ia dengar dari orang yang ia suka. "Aku juga sangat menyukaimu, sudah lama aku mencintaimu bahkan sebelum kita menikah." Jawab Sarah dengan hidung dan pipi merona.
"Kamu juga mencintaiku? aku tidak salah dengarkan?" Tanya Dikky dengan wajah sok tidak dengar.
"Iya, aku mencintaimu..." ucap Sarah pelan.
"Apa? Aku tidak mendengarmu?" tanya Dikky sambil tertawa.
"Iya, aku sangat mencintaimu, Dikky!" Teriak Sarah sambil melompat dan memeluk Dikky.
Keduanya pun saling tertawa bahagia dan malam itu menjadi malam paling bahagia yang mereka alami dan tidak pernah mereka lupakan.
***
By : Shuren.