Pagi ini dengan semangat Zara berangkat menuju sekolahnya. Sesampainya di sekolah ada sosok yang tiba-tiba menabrak Zara dari belakang.
"Aduh…." Lirih Zara dengan merapikan buku-bukunya yang terjatuh dilantai.
Zara mendongkrak dan menemukan sosok Agas yang tengah berdiri dengan wajahnya yang tak peduli.
"Apa sih gitu aja ngeluh." Kata Agas lalu pergi meninggalkan Zara tanpa rasa bersalahnya.
"Sumpah ya tuh cowok ngeselin banget." Gerutu Zara dengan kesal sambil mengambil bukunya yang jatuh.
Zara melanjutkan perjalanan menuju kelas XII IPA 2 dengan wajah yang agak kesal.
Setibanya dikelas Zara disapa oleh sahabatnya yang bernama Ana.
"Tumben Ra berangkat pagi." Ucap Ana pada Zara.
"Eh iya nih Na,tadi berangkat bareng mas Zelvin." Jawab Zara.
"Ouh gitu." Ucap Ana.
Guru pun masuk ke kelas mereka dan memulai pelajaran.
Istirahat
Karena Zara dan Ana tengah halangan jadi mereka berdua memutuskan untuk duduk dan memakan biskuit didepan kelas. Diseberang kelas mereka ada dua cowok yang sedang duduk sambil bermain gitar.
"Eh Na,coba deh perhatiin tuh dua cowok masak mereka nggak sholat sih." Tanya Zara dengan memperhatikan kedua laki-laki yang sedang sibuk bermain gitar.
Tiba-tiba tangan Ana mendarat tepat diatas pucuk kepala Zara.
"Eh gue mau jitak ya pala lo mereka kan nonis gimana sih." Ucap Ana dengan kesal yang menjitak kepala Zara.
" Ahh sakit...Ya mana gue tau kirain kan muslim santai aja bisa nggak." Ucap Zara meringis sedikit kesakitan dan mengelus kepalanya yang dijitak Ana tadi.
"Eh lo tau nggak gue lagi deket sama salah satu dari mereka lo." Kata Ana dengan memperhatikan lelaki tersebut dan tersenyum.
"Eh yang mana?." Tanya Zara yang penasaran.
"Itu lo yang makan keripik tempe". Ucap Ana melirik kesal kepada Zara.
"Kalem bisa nggak si gue kan juga nggak tau." Jawab Zara sedikit kesal.
"Eh eh eh...Mereka lihatin balik." Ucap Ana dengan spontan.
Mereka berdua berjalan ke arah Zara dan Ana. Tiba-tiba Dirga menghampiri Ana dan mengajak Ana untuk pergi ke kantin bersama.
"Eh Na pergi ke kantin yuk." Ajak Dirga sambil menarik tangan Ana.
Secara spontan Ana kaget. Zara yang disampingnya juga merasa kaget melihat tangan Ana yang langsung ditarik oleh Dirga.
"Eh apa-apaan sih lo sembarangan narik tangan temen gue nggak sopan banget." Kata Zara dengan kesal melepas tangan Dirga yang menarik tangan Ana.
Agas yang berada disamping Dirga merasa heran dengan sikap Zara barusan.
"Eh lo kalo mau ikut bilang aja nggak usah sinis gitu kali." Bantah Agas melirik pada Zara.
"Eh siapa juga yang mau ikut gue nggak suka aja temen lo sembarangan narik-narik temen gue." Jawab Zara sambil melirik Dirga dan Ana.
"Yaelah biasalah kan mereka sudah saling suka lo iri sama temen lo sendiri." Kata Agas sambil tersenyum smirk.
"Eh apaan sih lo Gas". Jawab Dirga sambil menyenggol tangan Agas dan menahan wajah malu didepan Ana.
"Yaudahlah ayo pergi ke kantin kalo cewek ini nggak mau tinggal aja sendiri disini." Ajak Agas sambil melirik Zara.
Melihat Zara yang sudah kesal Ana mencoba memohon Zara untuk pergi ke kantin dengan tatapannya yang seperti anak kecil yang merengek meminta mainan sama ayahnya. Dengan terpaksa Zara pun ikut pergi ke kantin bersama Agas dan Dirga.
Sesampainya di kantin mereka duduk di kursi yang kosong. Dirga memesan makanan untuk mereka bertiga dan dirinya. Setelah memesan makanan Dirga pun berjalan menuju kursi yang diduduki teman-temannya. Dirga duduk disebelah Ana sedangkan kursi disebelah Agas pun masih kosong. Zara yang melihat itu menatap sinis kearah Dirga.
"Na makanannya udah gue pesan." Ucap Dirga sambil menatap Ana dengan malu.
"Eh iya". Jawab Ana yang spontan kaget dan wajahnya berubah menjadi merah merona.
Ana dan Dirga merasa bahagia bersama dikantin sedangkan disisi yang lain Zara menatap sinis tidak suka kepada Dirga yang duduk didepannya.
"Eh cewe ini menarik juga rupanya." Gumam Agas sambil menatap Zara dengan senyuman manisnya.
Makanan pun datang dan pelayan warung meletakkan makanan dimeja mereka. Saat Dirga ingin mengambil bakso pesanannya tidak sengaja kuahnya tumpah mengenai tangan Zara. Spontan Agas langsung menarik tangan Zara dan mengelapnya. Zara merasa kaget terhadap sikap Agas barusan.
"Eh ni anak kenapa sih." Gumam Zara langsung melepaskan tangangnya yang dipegang Agas.
"Lo nggak papa kan." Tanya Agas masih terlihat khawatir dengan kondisi tangan Zara.
"Nggak papa kok." Jawab Zara yang masih heran dengan perubahan sifat Agas yang menyebalkan menjadi perhatian.
Pulang sekolah
Didepan gerbang sekolah Zara sedang menunggu mas Zelvin datang untuk menjemput. Tapi ternyata mas Zelvin ada kegiatan kuliah yang tidak bisa dihindari. Terpaksa Zara harus menunggu bus. Tapi tiba-tiba dari arah belakang Agas datang dengan motornya lalu menawari apakah mau Zara pulang bersamanya.
"Ra pulang bareng gue aja." Tanya Agas berhenti didepan Zara.
"Engga,gue nunggu bus aja." Tolak Zara
"Serius mau nunggu?ini udah mau hujan,mau kehujahan?." Kata Agas sambil menatap awan gelap yang mau turun hujan.
Zara masih menatap kebingungan.
"Tenang gue anak baik-baik nggak perlu takut kek gitu,lagi pula ini motor gue belum pernah dibuat boncengin cewek selain mama." Tutur Agas meyakinkan Zara.
"Masak cowok ganteng kek dia nggak pernah boncengin cewek selain mamanya kayaknya aneh." Gumam Zara dalam batin.
"Gimana?mau apa engga?." Tanya nya lagi.
"Eh iya deh." Akhirnya Zara menerima tawaran Agas.
Agas memberikan helm ke Zara. Zara kemudian naik jok motor Agas. Beberapa detik kemudian Agas melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah.
Selama perjalanan tidak ada perbincangan diantara mereka. Akhirnya Zara sampai di rumahnya dengan selamat tidak lupa juga ia mengucapkan terima kasih kepada Agas.
"Makasih ya Gas udah nganterin gue sampe rumah." Ucap Zara berterimakasih sambil mengembalikan helmnya.
"Iya sama-sama santai aja kali Ra." Jawab Agas sambil menerima helm dari Zara.
"BTW nih Ra,lo nggak ada niatan apa gitu minta nomor wa gue hehehe." Sambung Agas tersenyum dengan gaya sok nya itu.
"Lo kali yang pengen minta nomor gue iya kan." Kata Zara sambil melirik Agas.
"Hmm iya deh kasih dong Ra biar nambah kontak eh nambah temen maksudnya hehehe." Kata Agas sambil tertawa kecil.
"Cari aja sendiri digrub kelas yang pake profil foto Baekyun EXO." Jelas Zara sambil kesal.
"Lucu juga lo Ra jangan jutek-jutek nanti manisnya hilang lo hehehe, yaudah gue pulang dulu ya." Kata Agas sambil menyalakan motornya.
"Hati-hati Gas lo gak pula jalan pulang kan hahaha." Ucap Zara sedikit tertawa dan memperhatikan kepergian laki-laki itu.
Tanpa Zara sadari Agas pergi dari rumahnya dengan wajahnya yang sangat bahagia.
Setelah masuk kedalam kamar Zara memikirkan sikap Agas yang berubah yang menyebalkan menjadi sedikit agak baik dan perhatian kayak tadi.
"Eh Agas kenapa ya kok dia udah berubah tidak semenyebalkan tadi hmm... entahlah gue engga mau mikirin ngapain mikirin dia nggak penting juga." Gumam Zara sambil masih memikirkan Agas.
Sesampainya dirumah,Agas segera masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya. Dan setelah selesai mengganti pakaian dia langsung mengambil hp ditasnya sambil tiduran disofa.
"Eh gue cari nomernya Zara digrub ah tadi dia bilang ada di grub." Kata Agas sambil menggeser-geser layar hpnya.
Sampai akhirnya Agas ketemu nomernya Zara. Dia pun langsung menghubungi Zara.
Didalam kamar Zara sedang menatap pemandangan luar rumah dari jendela kamarnya. Seketika hpnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Zara pun langsung mengambil hpnya diatas meja. Dilayar hpnya terlihat nomer yang tidak kenali Zara.
"Eh nomer siapa ini." Tanya Zara sambil membuka kunci hpnya.
Dia pun langsung membalas pesan yang tadi masuk.
*CHAT*
Agas:
"Ra"
Zara:
"Siapa?"
Agas:
"Orang yang cinta
sama lo hehehe".
Zara:
"Hah?siapa
sih?"
Agas:
"Coba tebak"
Zara:
"Apasih main
tebaktebakan!
gue block nih"
Agas:
"Eh jangan,iya
gue Agas cowok
paling ganteng hehehe"
Zara:
"Dih najis"
Agas:
"Hehehe...eh besok berangkat
bareng gue jemput ya"
Zara:
"Iya terserah"
Agas:
"Okey malam Zara"
Chat mereka pun berhenti.
Pagi yang cerah pun tiba. Zara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah semua sudah siap Zara segera keluar dari rumah.
Dilihatnya dari pintu depan rumah ada seseorang yang membawa motor. Zara menatap bingung melihat cowok yang ada didepan rumahnya tersebut. Dia langsung menghampiri cowok itu.
"Eh lo siapa?." Tanya Zara.
Si cowok tersebut langsung membalikkan badannya dan tak lain cowok itu adalah Agas.
"Lo Gas ngapain pagi-pagi udah ada disini?." Tanya Zara kebingungan.
"Lo udah lupa ya ajakan semalam gue." Kata Agas sambil menaikkan sebelah alisnya.
Zara pun mengingat-ngingat kejadian tadi malam dan akhinya ingat.
"Hmm...oh iya aku lupa hehe maaf." Jawab Zara sambil tersenyum malu.
"Dasar udah pikun". Kata Agas sambil menyalakan motornya.
"Ih iya iya kan aku udah bilang maaf." Ucap Zara sedikit kesal.
"Yaudah naik." Kata Agas sambil memberikan helm kepada Zara.
Sekitar perjalanan 15 menit ke sekolah akhirnya mereka tiba disekolah. Ana dan Dirga sudah menunggu didepan gerbang sekolah.
"Lama banget sih lo Ra." Ucap Ana sedikit kesal.
"Maaf." Jawab Zara tertunduk.
"Eh ngapain lo marahin Zara dah lah ayo masuk nanti terlamat." Ucap Agas sambil melajukan motornya masuk ke halaman sekolah.
"Eh kayaknya si Agas udah tertarik kepada Zara ya." Ucap Ana sambil senyum-senyum.
"Hmm...emang udah tertarik dari dulu dia sama Zara." Jawab Dirga sambil menyalakan motornya.
"Hah!... maksudnya?." Tanya Ana sontak kagetnya.
"Udahlah ayo masuk nanti telat." Kata Dirga melajukan motornya.
Ana masih bingung mendengar ucapan yang dilontarkan Dirga.
Sesampainya didalam kelas mereka duduk ditempatnya masing-masing. Tapi beda halnya dengan Agas dia berpindah tempat duduk di samping tempat duduk Zara. Sontak membuat Zara kaget dan heran akan sikap Agas. Guru pun masuk dan pelajaran pun dimulai.
Lonceng sekolah sudah berbunyi tandanya waktu istirahat sudah tiba.
"Ra ke kantin yuk." Ajak Agas sambil menarik tangan Zara.
Zara pun tersentak kaget melihat tangannya ditarik oleh Agas.
"Iya iya sabar kita tunggu Ana sama Dirga." Jawab Zara sambil mengikuti langkah kaki Agas keluar kelas.
Sesampainya di luar kelas Agas tidak menunggu Ana dan Dirga tapi langsung pergi ke kantin meninggalkan mereka. Zara pun langsung mengikuti Agas.
Sasampainya di kantin Agas dan Zara memilih kursi yang kosong.
"Eh Ra lo mau makan apa biar gue pesenin." Tanya Agas kepada Zara.
"Terserah kamu aja deh aku ikut." Jawab Zara.
"Ya udah aku pesan dulu ya kamu duduk disana." Kata Agas sambil menunjuk kursi yang masih kosong.
Agas pun meninggalkan Zara dan memesan makanan. Ana dan Dirga pun sudah sampai ke kantin dan duduk di samping tempat duduk Zara dan Agas.
"Eh kenapa kalian nggak gabung aja ke sini?"." Tanya Zara menatap Ana dan Dirga.
"Nggak papa kita duduk disini kamu sama Agas saja." Jawab Ana sambil tersenyum.
Agas pun datang membawa makanan yang dia pesan dan duduk di depan Zara.
"Ni makan buat kamu Ra makan ya." Ucap Agas menorehkan makanan buat Zara.
"Eh iya." Kata Zara sambil menerima makanan yang diberikan Agas.
Ana dan Dirga yang duduk di sebelah tempat duduk Zara dan Agas melihat mereka sambil tersenyum.
Setelah istirahat selesai mereka kembali ke kelas.
lonceng sekolah sudah berbunyi tandanya waktu sekolah sudah berakhir.
"Ra pulang bareng aku lagi yuk,tapi temenin aku dulu ke suatu tempat." Ajak Agas.
"Oh ya udah tapi emang mau kemana sih." Tanya Zara.
"Ikut aja nanti kamu juga bakal tahu." Balas Agas.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan sekolah dan menuju suatu tempat yang dimaksud oleh Agas.
Setelah sampainya ke tempat tersebut Zara terlihat merasa kebingungan melihat tempat apa yang dimaksud oleh Agas.
"Gereja." Gumam Zara dalam hati yang merasa kebingungan.
"Gas ini digereja?." Tanya Zara yang masih kebingungan.
"Iya..kamu temenin aku dulu ya." Kata Agas lalu menggandeng tangan Zara.
"E-emang boleh?." Ucap Zara hati-hati.
"Boleh tapi kamu didepannya aja." Sambung Agas dan dibalas anggukan kepala Zara.
Agas masuk kedalam sedangkan Zara menatapnya dan menunggu dari luar.
Agas menyatukan kedua tanganya dan mengepal dan tak lupa ia memejamkan matanya dan berdoa didalam hatinya.
"Tuhan jika memang perempuan yang dibelakang sana untukku maka satukanlah kami,bukankah kau menciptakan perbedaan diantara kami untuk saling melengkapi?aku sungguh mencintainya Tuhan tolong izinkan aku untuk bersamanya."
Setelah Agas sudah melakukan ibadah nya kemudian Agas kembali menghampiri Zara.
"Udah?." Tanya Zara yang dibalas anggukan kepala Agas.
"Ra..aku mau ngomong sesuatu boleh?." Tanya Agas
"Apa?." Jawab Zara.
"Ra..aku udah lama suka sama kamu,sejak awal kita satu kelas." Tutur Agas yang membuat Zara sontak kaget.
"Tapi Gas kita beda…." Jawab Zara yang merasa bingung dan kaget.
"Bukankah perbedaan ada untuk saling melengkapi?." Kata Agas.
"Iya Gas..tapi apa ini nggak salah?." Tanya Zara hati-hati.
Agas hanya tersenyum dan berkata
"Jadi apa kamu mau jadi pacar aku?"
Zara hanya memberi jawaban dengan mengangguk dan tersenyum.
Tapi di sisi lain terlihat seorang perempuan yang tengah memperhatikan keduanya. Kemudian Agas pun mengajak Zara pulang.
Setibanya dirumah Zara,Agas langsung pulang menuju kerumahnya.
*Telfon*
Agas:"Ra udah makan?"
Zara :"Udah"
Agas:"Serius?ga usah bohong"
Zara:"Hehe iya nanti aja"
Agas:"Tunggu ya aku kesana"
Zara:"Ngapain?"
Agas:"Emang ketemu calon mertua engga boleh?"
Agas langsung mematikan sambungan teleponnya.
20 menit kemudian Agas sudah sampai di depan rumah Zara.
*Chat*
Agas:"Ra aku udah sampe dirumah kamu".
Zara:"Yaudah bentar".
Zara langsung di kamar dan melihat Agas yang sudah duduk dan dengan kedua bingkisan yang ia bawa di ruang tamu.
"Ciee adek mas udah gede." Ledek Zelvin yang melihat Zara keluar kamar.
"Apasih mas." Ucap Zara.
Kini pipi Zara menjadi merah merona menahan malu. Zara pun lanjut menuruni tangga menuju ruang tamu yang sudah ada Bunda dan Agas disana. Zara merasa malu kepada Bundanya. Zara duduk disamping Zelvin. Zelvin yang hanya terdiam melihat adiknya sedang bercinta itu.
Agas berbincang-bincang dengan Bunda dan kakak Zara. Setelah cukup lama berbincang-bincang Bunda dan kakak Zara meninggalkan Zara dan Agas berdua diruang tamu. Mereka pun bercanda tawa bersama.
Agas memperhatikan rumah Zara. Agas membandingkan isi rumahnya dan rumah Zara. Dirumah Zara banyak sekali tulisan-tulisan kaligrafi,gambar mekah,tulisan Arab yang berbau islam dan lain-lainnya. Sedangkan dirumahnya Agas ada patung bunda maria dan lambang salib. Kini Agas sadar betapa berbedanya mereka.
Setelah malam sudah semakin larut,Agas meminta ijin untuk pulang kerumah dan bersalaman kepada Bunda dan kakak Zara.
"Bun Agas mau pulang." Ucap Zara.
"Loh udah mau pulang aja,engga mau solat isya' dulu?." Tanya Bunda.
Kini Agas dan Zara saling menatap kebingungan.
"Nan-nanti dirumah aja Bun,soalnya udah ditunggu mama." Bohong Agas gugup.
"Oh ya udah kalo gitu." Jawab Bunda.
Zara mengantarkan Agas kedepan pintu rumah.
"Ra... semoga kita bisa selalu bersama dan bahagia." Kata Agas sambil memegang tangan Zara.
"Iya Gas." Ucap Zara dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Agas pun pergi meninggalkan halaman rumah Zara.
Sesampainya dirumah Agas melihat Grece dan mama nya yang tengah berbincang.
"Maa…." Ucap Agas.
"Eh Agas udah pulang,dari mana kamu?." Tanya Mama.
"Dari rumah Zara Ma." Kata Agas.
"Siapa Zara?pacar kamu?." Tanya mama lagi.
"Iya ma." Jawab Agas.
"Dia muslimkan." Kata mama membuat Agas sontak kaget dan bingung.
"Dari mana mama tau?." Tanya Agas yang menatap sinis ke Grece.
"Grace yang memberitahu mama." Jawab mama.
Agas tidak menyangka bagaimana Grece sampai tau Zara. Dia menatap Grece dengan tatapan mautnya. Dia merasa geram dengan Grece selama ini.
"Mama mau kamu memutuskan pacar kamu Gas." Ucap mama membuat sontak kaget Agas.
Grece yang melihat itu dia pun tersenyum bahagia.
"Tidak bisa ma aku sangat mencintai Zara." Bantah Agas.
"Kamu sebenarnya sudah tau kamu dan Zara berbeda agama bagaimana kalian bisa menjalin hubungan." Kata mama dengan tegas.
"Tapi maa…." Jawab Agas.
"Kamu mau membantah mama." Ucap mama membuat Agas tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Agas langsung pergi menuju kamarnya. Dia merenung bagaimana dia menjelaskan semuanya ke Zara.
"Bagaimana aku bisa mengatakan semua ini kepada Zara pasti nanti dia sangat terluka. Aku sudah merasa mengkhianatimu Zara maaf." Gumam Agas sambil menatap langit-langit rumahnya yang kosong. Tanpa sadar air mata Agas terjatuh. Agas pun langsung tidur.
Keesokan harinya Agas tidak berangkat sekolah bersama Zara dikarenakan dirinya yang harus pergi beribadah bersama Grece karena permintaan mama.
Kini motor Agas sudah terparkir dihalaman Gereja.
----------------------------------------------------------****------------------------------------------------------------
Rumah Zara
"ZARA KAMU BERANI BOHONGIN MAS!!!DENGAN MENJALIN HUBUNGAN BERSAMA ORANG YANG TIDAK SEIMAN!!!." Kini Zelvin memarahi Zara penuh amarah sedangkan Bunda hanya diam dan memberikan semua tanggung jawab kepada Zelvin.
"Tapi maass." Ucap Zara lirih.
"APA?!KAMU MERASA HEBAT?!APA KAMU ENGGA TAKUT!!INI SOAL AGAMA ZARA!!!." Suara Zelvin semakin mengelegar memenuhi seisi rumah dan Zara menangis sejadi jadinya.
"Agas dia baik mas…." Kata Zara yang masih menangis.
"MAS LIHAT DIA MASUK KEDALAM GEREJA ZARA!!!." Kata Zelvin.
Membuat Zara merasa sontak kaget dan hatinya semakin tercabik-cabik.
"PUTUSIN DIA!!ATAU KAMU PERGI DARI RUMAH INI!!." Ucap Zelvin penuh amarah.
Zara pun langsung berlari menuju kamarnya yang masih menangis.
Keesokan harinya tepat waktu perpisahan kelas XII. Semua murid melakukan acara demi acara yang sudah di jadwalkan. Setelah semuanya sudah selesai. Kini anak-anak kelas tersebut istirahat.
"Kita ke kantin yok." Ajak Agas pada Dirga.
"Maaf Gas apa lo lupa kalo gue udah jadi mualaf." Ucap Dirga.
"Oh iya maaf gue lupa." Jawab Agas.
"Engga masalah bro Yaudah gue mau sholat dulu ya." Sambung Dirga.
Kini hati Agas terasa tercabik-cabik setelah mengetahui bahwa temannya berpindah agama. Apa dia harus melakukanya juga?tetapi dia tidak ingin menghianati Tuhannya.
Setelah semua murid selesai melaksanakan sholat ini saatnya mereka berfoto bersama satu kelas. Prosesi berfoto sudah selesai dan saatnya pulang namun tadi ada pengumuman bahwa ada satu acara lagi. Semua murid duduk diaula bingung menatap Agas yang sudah berada diatas panggung dengan gitar favoritnya.
"Ini untuk seseorang yang sempat hadir meski sekejam,yang pernah mengisi kekosongan hati ini." Ucap Agas dengan menatap Zara.
Zara pun bingung menatap Agas. Semua murid terdiam. Agas mulai memetik gitarnya.
Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada ditulis hati kuingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku
Benteng begitu tinggi sulit tuk kugapai
Huuuu…
Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin
Iman kita yang berbeda
Agas sudah tak sanggup melanjutkan lirik lagu tersebut. Zara menangis tersendu sendu hingga tubuhnya ingin roboh. Semua murid bahkan Ana dan Dirga merasa terharu dan merasakan betapa sakitnya hati Agas. Agas pun melanjutkan kata-katanya.
Tuhan memang satu
Kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta takkan bisa pergi
Bukankah cinta anugerah
Berikan aku kesempatan
Untuk menjaganya sepenuh jiwa
Agas berjalan menghampiri Zara,menatap dan mengatakan sesuatu kepada Zara.
"Ra...maafin aku...semua selesai sampai disini,semoga kamu mendapatkan imam yang cocok buat kamu...maaf aku engga bisa jadi imam kamu." Ucap Agas yang membuat Zara semakin menangis.
Lalu lekaki itu menyodorkan kalung salibnya pada Zara.
"Ra..simpen ini ya sebagai kenangan dan bukti bahwa kita sempat menjalani hubungan yang berbeda ini. Kenang aku lelaki yang selalu menyembunyikan kalung salib ketika memasuki rumahmu". Ucap Agas bergitu lirihnya.
Zara menerima kalung salib pemberian Agas ditangannnya melihat kalungnya sebentar dan melihat Agas.
"Aku akan menjaganya dan tidak akan aku pakai. Aku akan mengingat selalu kenangan yang kita lakukan Gas. Semoga kamu selalu bahagia." Lirih Zara menatap Agas penuh dengan cinta.
"Percayalah Ra jika kita jodoh kita akan dipersatukan nanti. Semoga kamu selalu bahagia. Aku mencintaimu Ra. Maaf aku pergi." Ucap Agas dengan senyuman manisnya agar Zara bisa mengikhlaskan kepergiannya.
Agas dan Zara saling menatap satu sama lain dengan rasa penuh cinta. Mereka percaya bahwa jodoh sudah diatur oleh Tuhan dan akan datang pada waktunya.